
...▪▪▪...
Keesokan harinya Hyun-Ra terbangun oleh dering ponsel yang berbunyi nyaring, menyentaknya dan merenggut paksa dari tidur nyenyaknya. Ia meraih benda itu dan melihat pesan video yang dikirim Daehyun, membuatnya jadi terjaga sepenuhnya.
Kekasihnya itu terlihat segar dan tampan di dalam video, duduk di taman indah dengan secangkir teh di hadapannya.
"Selamat pagi, Sayang ..., aku tahu kau pasti baru bangun setelah mendapat pesan ini. Dan sebenarnya kalau tidak melanggar aturan, aku ingin kesana dan membangunkanmu dengan ciumanku, tapi aku takut lepas kendali dan melakukan hal yang tidak-tidak."
Hyun-Ra mengerjap syok dengan kata-kata Daehyun. Sejak kapan kekasihnya jadi mesum seperti itu?
Daehyun tampak tertawa indah dan Hyun-Ra jadi tersenyum melihatnya, bersyukur bahwa pria sempurna itu adalah miliknya.
"Kau pasti belum membuka pintu depan 'kan? Aku mengirim sesuatu untukmu, ambillah, dan aku ingin malam nanti kau memakainya."
Meski Hyun-Ra masih bingung karena efek baru bangunnya, namun ia segera beranjak mencari benda yang dimaksud Daehyun. Dan benar saja, ia menemukan sebuah kotak berwarna biru tergeletak di teras pintu depan.
Hyun-Ra kembali pada ponselnya.
"Kuharap kau tidak menolak dan akan menyukainya, Sayang, aku ingin melihatmu mengenakan itu, nanti, saat aku menjemputmu untuk kubawa kepada orang tuaku."
Jantung Hyun-Ra langsung berdegup nervous. Jadi Daehyun serius dengan niatnya?
Malam nanti?
Ia sudah bersiap memencet tombol call tapi pesan Daehyun belum selesai, pria itu kembali berbicara.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, orang tuaku menerimamu, aku sudah menceritakan semua tentangmu dan mereka ingin bertemu denganmu. Jangan cemas, keluargaku adalah orang-orang baik."
Ya, ia tahu itu, dan ia yakin keluarga Cho memang orang yang baik. Tapi tetap saja ia merasa takut dan tidak siap. Bagaimana jika nanti ia justru bertingkah memalukan di hadapan orang tua Daehyun?
"Mandilah, pasti sekarang masih ada sisa liur di pipimu yang cantik itu."
Hyun-Ra menyentuh pipinya dengan panik, kemudian sadar kalau Daehyun ternyata hanya mengusilinya. Ia manyun.
"Tidak ada liur!" sungutnya, tapi senyum gelinya tetap terukir.
Ia meraih kotak di kakinya lalu membawanya ke sofa ruang tengah. Dua buah gaun sutra yang begitu anggun langsung terhampar ketika Hyun-Ra membongkarnya, beserta tas dan sepatu setelannya dengan warna senada. Hyun-Ra mengangkat gaun itu dengan raut terperangah, melihat betapa cantiknya setelah kini menjuntai di tangannya. Ada sabuk tipis dari taburan berlian di bagian pinggang, juga pengait bahunya yang juga dilapisi berlian. Dan Hyun-Ra tidak ingin pusing memikirkan berapa karat berlian itu dan siapa perancangnya yang begitu menakjubkan.
Yang ia pikirkan sekarang, bagaimana caranya mengatasi perasaan minder saat nanti ia harus memakainya?
Ya Tuhan, bantu aku menjalani yang harus kulakukan nanti ....
Aku takut kehadiranku akan membuat Daehyun berada dalam masalah.
Karena ia sadar, siapa dirinya yang rendah ini.
...▪▪▪...
Malam itu Kyuhyun berada dalam kebimbangan apakah harus di rumah dan melihat sang kakak yang akan membawa kekasihnya, atau lebih baik menghindar saja mencari hiburan. Ia juga malas mendengar rentetan ayahnya yang sering mengatakan kalau apapun tentangnya harus sama dengan kakaknya. Kyuhyun tidak suka. Karena meski mereka serupa, tapi watak dan kesenangan jelas jauh berbeda.
Namun ternyata ia sekarang tetap di sini, bersama ayah dan ibunya di ruang keluarga menunggu Daehyun yang sebentar lagi akan sampai.
Kyuhyun membolak-balik halaman majalah di tangannya dengan tak semangat, moodnya buruk dan sebenarnya ia ingin tidur saja di kamar, bergelung di bawah selimutnya yang hangat.
"Kyu," tiba-tiba ibunya bergumam memecah keheningan. "Apa kau mempunyai hubungan dengan penyanyi yang bernama Jang Soon Young?"
Kyuhyun mendongak dari majalahnya, mengernyit, lalu kemudian mendengus bosan.
"Aku tidak mempunyai hubungan dengan perempuan manapun, Eomma."
"Tapi lagi-lagi beritamu muncul dengan perempuan baru, dan selalu dengan perempuan berbeda." Ibunya mulai mengomel. "Eomma tidak suka kalau kau berhubungan dengan perempuan seperti itu, pakaiannya tidak sopan dan sikapnya juga tidak baik. Eomma tidak mau kau dekat-dekat dengan perempuan itu."
"Aku tidak dekat dengannya."
"Kalau memang tidak, kenapa muncul gosip kau berhubungan?"
"Eomma seperti tidak tahu kelakuan wartawan saja. Aku hanya mengobrol sebentar di belakang panggung, tapi mereka membuat berita heboh yang dilebih-lebihkan."
"Mereka seperti itu pasti karena melihat hal-hal yang mencurigakan. Pokoknya jangan sampai kau dekat dengan penyanyi itu."
"Ya, ya, ya, Eomma tenang saja, aku juga sama sekali tidak berminat padanya."
"Dan cari perempuan baik-baik kalau nanti ingin kau kenalkan pada kami," timpal ayahnya. "Tidak perlu sempurna, yang penting sopan dan memiliki moral."
"Aku belum berpikir untuk memiliki kekasih, Appa, tidak ada dari mereka yang membuatku tertarik."
"Dan tidak ada juga dari mereka yang eomma suka untuk pantas jadi pacarmu, tidak karena sifat-sifatnya."
Kyuhyun mendesah, pusing mendengar rentetan orang tuanya. Kalau sang ayah cerewet dalam hal menekannya masuk ke perusahaan, namun ibunya justru cerewet untuk urusan ia memilih pasangan. Sebenarnya keinginan ibunya tidak susah, hanya mencari perempuan baik yang sifatnya tidak seperti kebanyakan artis di sekelilingnya, karena memang seperti itu juga yang ia inginkan untuk pendamping hidupnya. Lagipula ia akui, perempuan bernama Jang Soon Young itu memang terlalu seksi dalam berpakaian, sifatnya sombong bahkan sering memandang rendah pada orang-orang yang berada di bawahnya.
Dan benar juga kata ibunya, tidak satupun dari artis-artis itu yang pantas mendapatkan cintanya.
Saat itulah bel pintu utama berbunyi dan sang ibu langsung menegakkan tubuhnya. Beliau tampak berbinar, lenyap aura mengomelnya. "Mereka datang," gumamnya, lalu beranjak ke ruang depan.
Tuan Cho menunggu dengan antusias, sementara Kyuhyun kembali dililit rasa tidak nyaman dalam dirinya, hingga detik-detik kehadiran Hyun-Ra berada di tengah-tengah ruangan, rasa tidak nyaman itu semakin kuat membelenggunya.
Ia tidak relaks, tidak bisa merasa santai sekaligus tidak ada ketenangan.
Rasa di dalam dadanya benar-benar kacau.
Tiba-tiba bayangan Hyun-Ra yang mungil dan menggemaskan memenuhi benaknya, dengan raut kesal gadis itu yang selalu menghiburnya, ditambah bibir manis yang membuatnya tergila-gila. Kyuhyun kacau, dan memikirkan itu semua membuatnya lebih kacau lagi. Terlebih dengan paras cantik Hyun-Ra ketika mengenakan gaun anggun di tubuh rampingnya, seakan mendorong Kyuhyun untuk menjadi lebih gila.
Dan apakah ia memang sudah mulai kehilangan kewarasannya?
Bagaimana mungkin Shin Hyun-Ra menjelma secantik itu di pandangannya?
"Yeobo," suara ibunya yang memanggil sang ayah membuat Kyuhyun kembali ke alam sadarnya. Itu bukan hanya sekedar jelmaan, tapi Shin Hyun-Ra benar-benar berdiri di sana dengan gaun anggun yang membalut indah tubuhnya. "Lihatlah siapa yang datang."
Daehyun membawa Hyun-Ra mendekat, bersama ibunya yang sudah menyambutnya di pintu depan.
Tuan Cho bangkit, dan Hyun-Ra membungkuk hormat ketika sudah berada di hadapan beliau.
"Selamat malam, Presdir Besar Cho ...." Hyun-Ra menyapa sopan, dan Tuan Cho mengerutkan kening sambil mengingat-ingat, hingga kemudian senyumnya mulai merekah.
"Selamat malam, dan selamat datang di rumah kami."
"Terima kasih, Presdir ...."
"Dan bukankah dia yang menemanimu di meeting kemarin?" Tuan Cho menatap Daehyun yang kemudian mengangguk malu.
Tuan Cho kembali pada Hyun-Ra. "Aku tidak menyangka kalau kau gadis yang diceritakan Daehyun, terima kasih sudah mau berkunjung kemari."
"Saya yang harusnya berterima kasih, Presdir, Anda sekeluarga sudah begitu baik menyambut saya ...."
"Dan juga tidak menyangka kalau pacar Daehyun ternyata secantik ini," sela Nyonya Cho, membuat Hyun-Ra tersipu malu. "Dan kenalkan, ini anak kami yang kedua, Cho Kyuhyun, adik kembar Cho Daehyun." Nyonya Cho mengulurkan tangan, menyuruh Kyuhyun yang masih tetap duduk agar berdiri. "Kyu, bangunlah," tegur ibunya.
Kyuhyun mendesah lalu bangkit malas dari duduknya, ia berdiri di samping sang ibu.
"S—selamat malam, Tuan Kyuhyun ...." Hyun-Ra menyapa lebih dulu, membungkuk hormat, tidak ingin mengingat kekesalannya pada pria pengganggu itu asal Kyuhyun bersikap baik dan tidak melecehkannya lagi.
Kyuhyun mengangguk. "Selamat malam, senang bertemu denganmu lagi ...," gadis menggairahkan. Ia mencoba untuk segera menghindar dari wajah Hyun-Ra agar tidak terpenjara, namun ternyata sia-sia. Gadis itu membelenggunya dengan aura cantiknya.
Seperti Dewi.
Dewi cinta.
Kyuhyun mengernyit,
Dewi cinta?
"Bagaimana kalau kita langsung ke meja makan?" ajak Nyonya Cho. "Makanan sudah siap dan ini sudah waktunya makan malam." Beliau mendekati Hyun-Ra dan mengajak dengan akrab. "Eomma memasak sendiri untukmu, semoga kau suka dan tidak bosan datang kemari. Apalagi kalau semuanya sudah sibuk dan eomma sendirian, rasanya rumah ini sunyi dan eomma kesepian. Sering-seringlah datang kemari temani eomma, kau bersedia 'kan?"
"Terima kasih atas kebaikan Nyonya, saya pasti akan menemani Anda semampu saya agar tidak kesepian lagi."
Nyonya Cho tersenyum senang. "Dan jangan panggil Nyonya, kau bukan pelayan atau tukang kebun di sini. Panggil saja eomma."
Hyun-Ra merasa tersentuh dengan kata-kata ibu Daehyun, sudah lama ia mendambakan sosok orang tua untuk ia sayangi dan ia jaga, dan sekarang Nyonya besar ini memintanya supaya memanggilnya ibu. Betapa Hyun-Ra merasa bersyukur dengan penerimaan keluarga itu. Ternyata Daehyun tidak bohong, semua keluarganya adalah orang-orang baik dan ia tidak perlu mencemaskan apapun.
Meski rasa khawatir di hatinya tetap saja masih ada.
Kecuali adik kembar Daehyun, Hyun-Ra tidak akan memasukkannya ke dalam daftar orang-orang baik menurut versinya. Kyuhyun justru menduduki urutan pertama jajaran orang-orang buruk dan suka mengganggu.
Bahkan ketika acara makan malam berlangsung, Tuan dan Nyonya Cho terus mengajak Hyun-Ra mengobrol agar gadis itu merasa nyaman dan betah, menceritakan hari-hari Daehyun dan Kyuhyun, juga makanan kesukaan ataupun kegemaran mereka yang berbeda. Dan Daehyun mengamati Hyun-Ra dengan pancaran penuh cintanya, membuatnya bertambah yakin tidak salah pilih dan Hyun-Ra lah gadis terbaik yang diinginkannya. Gadis itu mudah beradaptasi dan menguasai kehangatan dengan sikap lembut dan menyenangkannya, membuat Tuan dan Nyonya Cho semakin menyukainya.
Sedangkan Kyuhyun lebih banyak diam, pura-pura menikmati makannya yang sebenarnya sudah tidak selera. Ia terus mencoba menelaah hatinya, memahami kekacauan di dalam dirinya. Dan semakin ia berusaha mengartikannya, ia justru terjatuh ke dalam kebingungan yang lebih menguasainya.
Kyuhyun merasa terganggu dengan perasaan seperti itu karena sebelumnya ia tidak pernah mengalaminya.
Apa sebenarnya yang terjadi dengannya?
Apakah ia menginginkan Hyun-Ra?
Tidak mungkin!
Bagaimana bisa ia sekarang menginginkan seorang perempuan? Seharusnya perempuan lah yang menginginkannya. Karena sejauh ini ia biasa didamba, bukan mendamba.
Apakah dunia ini sudah terbalik?
Atau justru kewarasannya yang sudah terbalik?
Semuanya kembali ke ruang keluarga setelah makan malam usai. Nyonya Cho menghela Hyun-Ra agar duduk di sampingnya, sementara Daehyun dan Kyuhyun duduk bersebelahan di seberang lainnya. Hyun-Ra sempat melirik Kyuhyun dan entah bagaimana tatapan pria itu tampak horror, terlihat seperti pria dingin membeku yang kejam dan suka melindas, jauh berbeda dari sikap mengesalkan dan tukang ganggu yang biasa pria itu tunjukkan. Apakah kejadian terakhir bersama Kyuhyun di lift, membuat pria itu tidak menyukainya sekaligus tidak setuju Daehyun menjalin hubungan serius dengannya?
Pelayan datang menghidangkan beberapa camilan hangat di atas meja, warnanya cerah dan bentuknya menggoda, entah kue apa namanya yang jelas Hyun-Ra yakin, itu pasti makanan orang kaya. Jiwa suka memasak Hyun-Ra langsung bergejolak, ingin tahu bagaimana cara membuatnya.
"Hyun-Ra suka memasak seperti Eomma," tiba-tiba Daehyun berceletuk. "Aku sering makan masakannya dan rasanya sangat enak. Dia bisa masak apa saja."
"Benarkah?" Nyonya Cho tampak terperangah. "Padahal jaman sekarang sangat jarang anak muda yang suka memasak."
"Hanya bisa di beberapa masakan saja, Eomma," ralat Hyun-Ra. "Tidak semuanya bisa dan bahkan masih harus banyak belajar."
"Kalau begitu eomma akan mengajarimu memasak sesuai ilmu yang eomma miliki." Nyonya Cho jadi bersemangat, beliau paling suka jika membahas tentang memasak dan ada orang yang satu pemikiran dengannya, bahwa memasak memang sangat menyenangkan.
Dan setelah itu Hyun-Ra kembali terlibat dalam perbincangan mengasyikkan bersama ayah dan ibu Daehyun, sementara kekasihnya itu hanya mengamati dalam kekaguman.
Hingga kemudian, gerakan Daehyun di seberang sana menarik perhatian semua. Pria itu berdiri dari duduknya sambil menatap Hyun-Ra, mendekat perlahan, terlihat mempesona dan penuh rencana, membuat Hyun-Ra berdebar-debar.
Seketika Daehyun berjongkok di bawahnya, meraih jemarinya dan mengecupnya dengan agung, membuatnya merona malu menyadari pandangan semua keluarga mengarah padanya.
"Hyun-Ra," Daehyun mulai berkata. "Sebelumnya kau sudah pernah menolakku, tapi kali ini aku harap kau tidak akan melakukannya lagi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan dari semua kecemasanmu, orang tuaku merestui kita. Jadi ...." Daehyun tersenyum penuh harap. "Maukah kau menikah denganku?"
Tuan dan Nyonya Cho tersenyum haru melihatnya, sedangkan Kyuhyun meraih ponsel di sakunya, memainkan benda itu dengan rasa dongkol yang mendadak menderanya.
Karena entah kenapa ia jadi tidak suka melihat adegan yang ada di sana.
Hyun-Ra menatap ayah dan ibu Daehyun bergantian, ada senyum penuh dukungan dari mereka dan Hyun-Ra merasa bahwa ia benar-benar diterima.
Tetapi ketika tatapannya beralih pada Kyuhyun dan mendapati sikap acuh tak acuh pria itu, Hyun-Ra jadi merasa kalau semua restu belum ia dapatkan. Kyuhyun terlihat tidak menyukai kehadirannya dan tidak menyukai apa yang Daehyun lakukan sekarang.
"Aku akan menunggu seperti ini sampai pagi kalau kau tidak juga menjawab lamaranku." Hyun-Ra mengerjap mendengar gumaman Daehyun di bawahnya, membuatnya kembali menatap. "Jawab aku, Sayang, maukah kau menikah denganku?"
Hyun-Ra menelan ludah. "A—aku ... aku ...."
"Jangan tolak dia," Nyonya Cho berbisik. "Eomma tidak ingin melihatnya patah hati karena kau menolak lamarannya."
"Jawablah, Hyun-Ra ...." sambung Tuan Cho.
Hyun-Ra mengamati wajah Daehyun yang terus berjongkok di bawahnya, melihat pancaran mendamba dan penuh harapnya, membuat Hyun-Ra tidak mampu untuk menolaknya.
Dan ia tidak menyangka Daehyun akan melamarnya di hadapan ayah dan ibunya.
Hyun-Ra akhirnya mengangguk, menerima.
"Y—ya, Daehyun, aku mau menikah denganmu."
Aku mau menikah denganmu
Kyuhyun beranjak dengan gerakan tiba-tiba berdiri dari duduknya, melontarkan; "Aku ke toilet dulu," hingga kemudian berlalu cepat dari sana.
Hyun-Ra memandang kepergian pria itu dengan perasaan cemas, yakin kalau Kyuhyun memang tidak menyukai kehadirannya.
"Kemarikan tanganmu."
Lagi-lagi suara Daehyun menginterupsi Hyun-Ra, membawanya kembali pada pria itu. Ia menemukan Daehyun sudah memegang sebuah cincin, tampak berkilau-kilau begitu indah, menarik tangannya karena ia tidak segera menyodorkan jarinya.
"Cincin ini mengikatmu dan kau hanya milikku." Daehyun kembali membawa tangan Hyun-Ra ke bibirnya, mengecup bagian di mana cincin itu melingkar. "Jangan biarkan pria lain mendekatimu, Sayang, cukup aku, hanya aku yang menjadi pemilikmu." Daehyun mendongak, menunggu kesiapan Hyun-Ra. "Berjanjilah padaku,"
Jangan biarkan pria lain mendekatimu.