TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 19



...▪▪▪...


Nyonya Cho berdiri di ambang pintu teras belakang, mengamati putra bungsunya yang sedang termenung di kursi sana. Ini hal yang tidak biasa, karena Kyuhyun tidak pernah melewatkan waktu hanya dengan melamun seperti itu, lebih sering di luar rumah bersama teman-temannya di saat tidak ada jadwal seperti sekarang.


Tapi ....


Kapan Kyuhyun pernah tidak ada jadwal?


Nyonya Cho mendekat, mengernyit heran ketika Kyuhyun tetap di posisinya, seperti tidak menyadari kehadirannya.


"Kyu?" Beliau menyentuh bahu Kyuhyun, dan tanpa disangka Kyuhyun justru terkejut, seolah terenggut paksa dari menungannya. "Ada apa denganmu? Sedari tadi eomma perhatikan kau melamun sambil murung? Apa ada masalah?"


Kyuhyun menggeleng, tidak langsung bersuara, dan ia tidak mungkin mengatakan pada sang ibu apa yang kini menyiksa pikirannya.


Ia menjawab, "Tidak ada apa-apa, Eomma."


"Jangan menutupi apapun dari ibumu, Eomma tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Kalau memang ada sesuatu yang mengganggumu, coba ceritakan pada eomma, mungkin saja ada yang bisa eomma bantu?"


Dan Kyuhyun tidak yakin ibunya akan membantu.


"Coba ceritakan," bujuk Nyonya Cho lagi.


Kali ini Kyuhyun mendesah, terasa berat, seolah ia sedang melepaskan suatu kesesakan yang menyesaki dadanya.


"Eomma," gumamnya kemudian. "Kalau aku melakukan suatu kesalahan, apa Eomma akan memarahiku?"


"Eomma bahkan sudah sering memarahimu tapi kau tetap saja mengulangi kesalahan."


Kyuhyun tersenyum lemah, terlihat jauh dari kata semangat.


"Dan apakah ini tentang perempuan?" tebak ibunya.


Kyuhyun diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan, sedih, seolah tak punya harapan, membuat Nyonya Cho merasa cemas. Kyuhyun tidak pernah semurung ini apalagi hanya karena perempuan. Perempuan adalah hal biasa dan bahkan sering menjadi mainannya.


"Jadi siapa perempuan itu, Kyu? Eomma ingin tahu siapa dia."


Kyuhyun menggeleng.


"Aku tidak bisa mengatakannya, Eomma."


"Kenapa?"


"Tidak bisa saja."


"Apakah perempuan itu dari golongan artis?"


"Bukan." Kyuhyun tahu pasti apa yang selalu dicemaskan ibunya. "Dia bukan dari entertain, bukan dari agency, bukan model ataupun pemain film, dan dia juga bukan temanku. Dia hanya gadis biasa."


"Apa dia seperti Hyun-Ra?"


Bukan hanya seperti, tapi ini adalah Hyun-Ra.


"Dia baik seperti Hyun-Ra."


Seketika Nyonya Cho mendesah lega. Karena beliau tidak ingin Kyuhyun memacari perempuan yang salah.


Jadi siapa perempuan itu? Lagi-lagi pertanyaan muncul di benak Nyonya Cho. Karena Kyuhyun menampakkan sesuatu yang berbeda, beliau berpikir mungkin perempuan kali ini lebih istimewa.


"Apa kau menyukainya?"


"Ya, Eomma."


"Dan apa perempuan itu tidak menyukaimu?"


"Aku tidak tahu,"


"Lalu kenapa kau tidak mencari tahu? Atau paling tidak, ungkapkan perasaanmu padanya."


Kyuhyun mendesah berat, menatap ibunya yang duduk di samping.


"Dia sudah dimiliki pria lain. Begitu sulit mendapatkan hatinya dan sepertinya sudah tidak ada harapan buatku."


Nyonya Cho terdiam, pandangannya terus mengamati Kyuhyun dengan seksama.


Jadi, anaknya ini sedang jatuh cinta tapi terhalang karena gadis yang disukai sudah ada yang punya?


Kyuhyun kembali menunduk, kembali murung, jauh berbeda dari Kyuhyun yang biasanya.


Tanpa tahan Nyonya Cho beranjak mendekat, berdiri di samping putranya dan mengelus sayang agar bersandar di dadanya, menenangkannya dengan penuh kasih.


"Kalau memang dia sudah memiliki pasangan, kau tidak boleh mengganggunya."


"Tapi sulit, Eomma, aku tidak bisa melupakannya."


"Lalu apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku ingin merebutnya, aku ingin dia meninggalkan pacarnya dan menjadi milikku."


"Kyu," Nyonya Cho menarik wajah Kyuhyun, mendongakkannya. "Kau tidak boleh melakukan itu, kau tidak boleh memisahkan mereka yang saling mencintai."


"Tapi bagaimana kalau dia juga menyukaiku? Apa aku boleh merebutnya?"


Nyonya Cho menggeleng, namun sebenarnya beliau tidak bisa menjawab apa-apa. Kyuhyun kembali menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.


"Mungkin kau harus mencoba melupakannya, Kyu ...."


"Tidak bisa, Eomma, aku kesulitan. Aku lebih sering terdesak untuk mendatanginya daripada melupakannya. Perasaan ini menekanku."


"Dan apa itu berarti kau begitu menyukainya?"


"Aku bahkan berpikir kalau aku menggilainya." Benak Kyuhyun terbayang Hyun-Ra. "Eomma tahu aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Semuanya mendadak, dan aku tidak bisa untuk sekedar berlari ataupun menghentikannya. Aku ingin dia."


"Tapi dia sudah bersama pria lain ... dia sudah memiliki kekasih."


"Aku tahu ...."


"Coba usahakan jangan bertemu lagi dengannya, dengan begitu perlahan-lahan kau akan melupakannya."


Dan bagaimana ia tidak bertemu Hyun-Ra kalau gadis itu sering datang kemari bahkan akan menjadi kakak iparnya?


"Eomma tidak tahu bagaimana sulitnya." Kali ini nada Kyuhyun terdengar lelah. "Semua keadaan tidak mendukungku, aku terus saja bertemu dengannya."


"Dan apakah eomma boleh tahu siapa orangnya?"


"Tidak."


"Ciri-cirinya?"


"Tidak."


"Inisial namanya?"


"Tidak, Eomma."


Nyonya Cho menghela napas.


Kyuhyun memejam ketika ia kembali merasakan sesak, tertindas oleh perasaannya.


Ia merindukan Hyun-Ra.


"Dan mungkin ini adalah hukuman buatmu karena selama ini kau terlalu sering mempermainkan perempuan, ini cara Tuhan menegurmu."


Kyuhyun terdiam merenungi kata-kata ibunya.


Mungkinkah ini memang teguran darimu, Tuhan?


Mungkinkah aku memang harus mengalami kegilaan ini tanpa bisa memilikinya?


"Tapi apapun itu, seberapa sering kau melakukan kesalahan dan membuat eomma harus memarahimu, eomma pasti akan selalu memaafkanmu."


Sang ibu mengecup puncak kepala Kyuhyun, merasa ikut bersedih dengan kemurungan yang terjadi pada putra bungsunya. Kyuhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya, sekalipun. Karena Kyuhyun biasa dikejar wanita, biasa dipuja dan didamba, tetapi sekarang dia justru mengalami kepedihan dengan menginginkan seorang wanita namun tidak bisa memilikinya.


Ternyata cukup indah cara Tuhan menegur anaknya.


Dan Nyonya Cho berharap, semoga keadaan ini akan membawa Kyuhyun pada kepribadian yang lebih baik lagi.


...▪▪▪...


Gadis itu bernama ....


Aku tidak bisa menyebutnya. Padahal rasanya damai saja saat menyebut namanya. Apalagi kalau aku bisa menyebutnya sebagai milikku.


Tapi aku memberinya nama lain ....


Petite


Tahu artinya apa?


Kecil mungil


Dia memiliki mata cokelat yang indah, memukau, bagaikan sinar matahari senja. Dan seperti nama yang kuberikan, dia gadis mungil, mempunyai bibir yang manis, wajahnya kecil, rambutnya lurus namun ditata sedikit bergelombang. Dan kalau sudah memasang raut cemberut, dia seribu kali lebih menggemaskan.


Dan alasan kenapa aku menyukainya ....


Dia satu-satunya perempuan yang berani menolakku. Di saat perempuan lain tak berkedip dalam menatapku, dia justru berpaling ....


Lalu kemudian kabur


Menakjubkan!


Seolah aku adalah wabah, seolah aku mengandung zat beracun dan akan melumpuhkannya dengan sesuatu yang tidak dia sangka-sangka.


Tapi kemudian aku akui, aku memang ingin melumpuhkannya, menaklukkan hatinya ....


Entah dengan cara apapun.


Aku memujanya ....


Namun aku tidak bisa merengkuhnya


Aku mendambanya ....


Namun aku tidak mendapatkan perasaan yang sama


Aku menginginkannya ....


Dan sekali lagi,


Aku tidak bisa memilikinya


Lalu ....


Untuk apa Tuhan melimpahkan rasa ini jika pada akhirnya hanya menyiksa hambanya?


Kyuhyun menatap hampa deretan kalimat yang barusaja diketiknya. Bahkan dalam tekanan jarinya di atas keyboardpun, Kyuhyun tak bisa menyebut nama Shin Hyun-Ra secara terang-terangan. Seolah ada yang melarangnya, ada yang menahannya, dan hanya memperbolehkan mengurai dan menyebutnya di dalam hati dan pikiran saja.


Kyuhyun menghempaskan tubuhnya telentang di kasur, ia sedang malas melakukan apapun, malas keluar, dan juga malas untuk makan. Padahal pagi tadi ia hanya sarapan sepotong roti dan tidak menyentuh makanan lainnya. Ia benar-benar berada di level malas yang paling tinggi. Bahkan sebentar lagi ada jadwal latihan di agency yang menaunginya, dan ia pun juga malas melakukannya.


Kyuhyun hanya ingin tidur dan menghabiskan waktu di kamar, menulis lirik, menciptakan aransemen lagu, sekaligus memikirkan Hyun-Ra.


Kyuhyun mendesah.


Sepertinya sebentar lagi ia akan mengalami depresi akut lalu menjadi gila, hingga kemudian bunuh diri seperti yang terjadi pada kebanyakan artis negara.


Dan kalau ada yang harus disalahkan, orang itu adalah Shin Hyun-Ra. Gadis itulah yang membuatnya jadi mengenaskan seperti ini, gadis itu yang akan ia hantui jika hidupnya harus berakhir dengan penuh siksaan seperti ini, dan gadis itu jugalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia alami selama ini.


Kyuhyun termenung dengan mata menerawang ke arah langit-langit kamar, memikirkan nasib hatinya sekarang.


"Melamun lagi?" Suara seseorang tiba-tiba menginterupsi menungan Kyuhyun.


Ia menoleh ke ambang pintu dan menemukan Daehyun bersandar di sana, membuatnya dengan cepat meraih tombol off, mematikan laptop untuk menyembunyikan apa yang tadi ditulisnya.


"Aku tidak melamun," dengusnya, kembali pada posisinya dan kali ini sambil menutupi wajah dengan sebelah lengannya.


Daehyun mendesah. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu, Kyu, tapi aku tidak suka melihat wajah murungmu itu. Apa kau barusaja ditolak perempuan?"


"Mana ada perempuan yang bisa menolakku, Dae?!"


Kecuali Shin Hyun-Ra.


"Karena kau sekarang terlihat seperti pria yang sedang patah hati."


"Jangan sok tahu!"


"Lalu kalau begitu apa masalahmu?"


"Tidak ada."


"Tidak ada yang perlu aku tahu?"


"Tidak. Kau datang mengganggu istirahatku, itu yang jadi masalah sekarang."


"Aku yakin pasti salah satu dari artis itu akhirnya berhasil membuatmu galau hingga uring-uringan seperti itu."


"Aku tidak galau soal mereka!"


"Bohong!"


"Pergi dari sini atau aku akan mencumbumu!"


"Sialan kau!" Daehyun meraih boneka besar yang teronggok di pojok samping lalu melemparnya ke arah Kyuhyun.


Kyuhyun langsung bangkit mendengar bunyi laptopnya yang terkatup keras. Ia menatap khawatir ke arah benda itu.


"YA TUHAN, CHO DAEHYUN!! LAPTOPKU!!!"


Sedangkan tersangkanya sudah menghilang dari sana membuat Kyuhyun jadi geram.


Dasar kakak sialan!!