
BAB 6 : Gelisah
Disinilah Rere dan Aldi sekarang. Sedang bersantai menikmati pemandangan sekolah dari atap rooftop.
Karena Rere tidak mau dijemur di bawah tiang bendera sendirian, juga tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya, Rere mengikuti Aldi untuk bersantai di rooftop.
Ya, Aldi memang bukan tipe siswa yang pintar, apalagi penurut. Dia lebih sering membuat masalah dan melanggar peraturan. Tak jarang cowok itu keluar masuk BK hanya untuk mendengarkan ceramah dari guru BK. Namun tentu saja itu tidak membuatnya kapok untuk berulah lagi.
"Al" desis Rere pelan. Aldi hanya berdehem menjawab panggilan Rere.
"Kalau nanti ketahuan guru, gimana?" Entah sudah yang ke berapa kali Rere menanyakan hal itu pada Aldi.
"Re, lo udah tanya itu berapa kali sih, ke gue?" ucap Aldi kesal.
"Ya kan gue takut, Al." jawab Rere sedikit merasa was-was. Aldi yang melihat itu memutar bola matanya jengah.
"Elah, lebay banget. Orang cuma guru doang." Aldi menjawab enteng, seolah menggampangkan ketakutan yang dirasakan oleh Rere.
"Lo itu kenapa sih selalu menyepelekan suatu hal?" protes Rere, merasa tidak terima dengan sikap Aldi yang selalu santai dengan semua hal yang dihadapinya. Bahkan mungkin malah sangat santai.
Aldi menghela napas menatap Rere.
"Gue gak menyepelekan, gue cuma bawa santai aja" ucapnya mengedikkan bahu tidak peduli.
Rere memutar bola matanya. Merasa malas menanggapi ucapan cowok itu. Walau bagaimanapun juga, Aldi selalu bisa menjawab ucapannya. Ya, tipe-tipe cowok yang tidak mau mengalah.
"Terus, kita mau ngapain disini?" tanya Rere kemudian.
"Ya, gak ngapa-ngapain. Emangnya lo mau gue apa-apain?" Aldi tersenyum tengil sembari menaik-turunkan kedua alisnya menggoda Rere.
"Ya gaklah." jawab Rere cepat.
"Lo itu kebiasaan ya, pikirannya mesum mulu!" lanjutnya kesal.
"Alah bilang aja, lo seneng gue mesumin, kan?" goda Aldi lagi.
"Amit-amit dahh," Rere menatap Aldi dengan tatapan jijik yang malah membuat cowok itu tertawa terbahak-bahak.
Beberapa menit kemudian, tidak ada percakapan diantara keduanya. Rere sibuk mengamati pemandangan sekolah yang terlihat jauh lebih menarik saat dilihat dari atas. Sedang Aldi malah tersenyum menatap Rere. Ya, menurutnya semenarik apapun pemandangan dari atas sini, tetap lebih menarik Rere di matanya.
"Ehm, Al. Gue mau cerita nih," kata Rere kemudian. Dia mengalihkan pandangannya menatap Aldi.
"Cerita apaan?" Aldi menaikkan sebelah alisnya menatap Rere.
"Lo tahu gak, kakak kelas cewek kita yang namanya Nala?" Aldi terlihat menautkan kedua alisnya berpikir.
"Nala? Nala yang mana? Banyak kali nama Nala"
"Yang mana ya? Gue juga gak tahu nama lengkapnya sih. Yang jelas namanya Nala." terang Rere.
"Emangnya kenapa sama Si Nala?" lanjut Aldi kembali bertanya.
"Dia kemarin ngelabrak gue. Ngancem-ngancem gue gitu. Katanya hidup gue gak bakalan tenang di sekolah ini." ucap Rere menjelaskan.
"Haha, gilee....kayak film horror aja, gak bakalan tenang." Aldi tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Rere. Dia menatap Rere dengan tatapan tidak percaya.
"Gue serius, Al." Rere menatap Aldi tajam.
"Oke, oke" ucap Aldi menghentikan tawanya.
"Kok dia bisa ngancem-ngancem lo? Emang lo ada masalah apa sama dia?" Kali ini Aldi bertanya serius.
"Ya gak ada sihh, cuma kemarin...." Rere menjeda kalimatnya.
"Kenapa?" Aldi bertanya tak sabaran.
"Ya udah lo jangan deket-deket sama Galih lagi. Beres kan?" Aldi mencoba memberi saran dengan gaya santainya.
"Gak bisa, Al." ucap Rere membantah ucapannya.
Aldi lantas mengerutkan dahinya heran.
"Kenapa gak bisa?"
"Ya gak bisa. Soalnya Galih kemarin bilang sama Nala kalau gue ini pacarnya" Rere menghela napas pelan, lantas menutup kedua matanya. Berusaha menghilangkan bayang-bayang Galih dan Nala dalam pikirannya. Entah mengapa dirinya menjadi gelisah tak menentu ketika memikirkan kejadian kemarin.
"Pacar?" tanya Aldi heran, sementara Rere hanya mengangguk mengiyakan.
"Emangnya lo pacaran sama dia? Kok gue gak tahu?" lanjut Aldi penasaran. Ya, biasanya Rere selalu bercerita tentang apapun pada Aldi. Mendengar jika Galih menyebut Rere sebagai pacarnya, tentu saja membuat Aldi sangat penasaran sekaligus curiga.
"Ya gaklah." tukas Rere cepat.
"Lha terus?"
"Ya dia kemarin tiba-tiba bilang gitu aja tanpa persetujuan gue." Rere mengerucutkan bibirnya kesal jika mengingat kejadian kemarin. Dirinya masih merasa tidak terima dengan pernyataan Galih yang menyebut dirinya sebagai pacar didepan Nala. Ya, meskipun dia sendiri juga berharap bisa menjadi pacar cowok itu.
"Ya elah, gak jelas banget sih tuh cowok!" gumam Aldi pelan.
"Terus gue harus gimana, Al?" tanya Rere bingung.
"Aduhh, pokoknya gue males banget deh berurusan sama tuh cewek" lanjut Rere terdengar frustrasi. Aldi hanya melirik Rere sekilas, lantas mengangkat kedua bahunya acuh.
"Itu kan masalah lo. Gue lagi males mikir ya, jadi jangan suruh gue buat kasih saran." jawab Aldi terdengar tidak peduli. Mendengar hal itu, Rere semakin merasa kesal. Aldi benar-benar cowok yang tidak berperasaan. Dirinya sedang kesulitan seperti ini cowok itu malah tidak peduli.
"Ihhhh, sebel banget deh gue!" Rere menggigit pundak Aldi dengan keras hingga menyebabkan cowok itu mengerang kesakitan.
"Aduhhh, sakit pundak gue geblek!" Aldi mengomel. Cowok itu menjauhkan kepala Rere dari pundaknya lantas memegang pundaknya sambil mengaduh.
"Elo sih bikin gue kesel"
"Lagian gue lagi kesusahan gini, lo malah gak peduli. Gue jadi heran deh, lo itu sebenarnya sahabat apa bukan sih?" lanjut Rere terdengar emosi.
"Kalau misalkan Si Nala itu beneran neror gue kayak di film-film horror gimana? Gue gak mau yaa, masa-masa SMA gue yang indah jadi suram gara-gara satu cewek yang namanya Nala itu" Rere terus-menerus mengoceh. Sementara Aldi hanya menatap cewek itu dengan tatapan sinis.
"Al, kok lo diem aja sih. Kasih saran kek!" Rere kembali berucap.
"Ya udah, lo gak usah takut. Kan lo punya gue." jawab Aldi sembari menaik-turunkan alisnya.
Rere mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Maksudnya?"
Aldi menatap Rere lekat-lekat. Lantas memegang kedua pundak cewek itu dengan tatapan meyakinkan.
"Gue akan selalu jagain lo dari siapapun yang berani ganggu lo."
**********
*TBC
Yeni Rahmawati