TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
Bab 26



...▪▪▪...


Keesokan harinya langit tampak mendung, namun tidak turun hujan. Kesibukan di kediaman keluarga Cho terus berjalan untuk mempersiapkan acara pertunangan putra sulung, dengan beberapa mobil yang lalu lalang keluar masuk rumah megah itu. Mobil bunga dan mobil katering, serta berbagai petugas kebutuhan lainnya.


Dalam beberapa jam rumah itu telah disulap menjadi tempat pesta yang begitu indah dan elegan, dengan para wartawan yang terus mencari celah untuk meliput persiapan itu hingga acara inti dilangsungkan. Dan ini akan menjadi berita hangat yang akan menjajari peringkat teratas, bahwa kakak kembar dari Pianis Jenius Cho Kyuhyun, bertunangan. Karena para wartawan selalu tahu apa yang biasanya membuat netizen merasa lapar.


"Di mana Daehyun?" Nyonya Cho bertanya pada beberapa pelayan yang sedang sibuk di lantai atas.


Mereka membungkuk hormat. "Ada di ruang bawah bersama beberapa perias, Nyonya."


"Kyuhyun?"


"Tuan Kyuhyun belum keluar kamar sedari pagi, kami tidak berani mengganggu."


"Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?"


"Kami tidak tahu, Nyonya, Tuan Kyuhyun hanya berpesan jangan ada yang mengganggunya."


Dahi Nyonya Cho berkerut heran.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian." Beliau berlalu dan berniat mengecek keadaan Kyuhyun, karena tidak biasanya Si bungsu seperti itu.


Ketika pintu kamar Kyuhyun dibuka, yang beliau temukan adalah ruangan temaram karena gorden jendela tidak dibuka, juga sedikit berantakan dengan selimut dan beberapa bantal yang jatuh dari tempatnya.


Nyonya Cho mendekat, melihat Kyuhyun masih tertidur dengan posisi telungkup.


"Kyu, bangun." Nyonya Cho berjalan ke jendela dan menyingkap tirainya. Cahaya terang langsung masuk menerpa wajah Kyuhyun, membuat pria itu mengernyit terganggu. "Sampai kapan kau akan tidur? Ini sudah siang, dan harusnya kau berada di bawah membantu Kakakmu." Nyonya Cho memunguti bantal dan selimut yang tergeletak di lantai.


Kyuhyun menggeliat perlahan, ia telentang dan kemudian memejam lagi. Sang ibu duduk di pinggir ranjang.


"Aku masih mengantuk, Eomma ... aku tidak mau turun."


"Sebentar lagi acara pertunangan Kakakmu, kau harus turun."


"Masih nanti sore 'kan? Aku akan turun tepat waktu."


"Tidak, tidak." Nyonya Cho menarik lengan Kyuhyun hendak membangunkannya, untuk kemudian berubah cemas merasakan suhu badan Kyuhyun yang tinggi. "Kyu? Badanmu panas! Kau sakit? Apa kau pusing?"


"Aku tidak apa-apa, Eomma ... aku hanya butuh tidur."


"Kau demam!" Nyonya Cho menyentuh kening Kyuhyun, hingga kemudian bangkit dan meraih ponselnya di dalam saku. "Eomma akan menghubungi Dokter!"


"Eomma ...."


"Jangan membantah!"


Kyuhyun berdecak, ibunya memang seperti itu, cemasnya terlalu berlebihan. Kyuhyun mengabaikan dan memilih untuk melanjutkan tidurnya.


Karena sejujurnya ia tidak ingin turun apalagi menghadiri acara.


...▪▪▪...


Hyun-Ra mengamati pantulan dirinya di cermin dengan gaun indah yang membalut tubuh rampingnya, tampak begitu memukau dengan tatanan rambutnya yang dihias indah, membuat kecantikannya semakin memancar. Kantong hitam di bawah matanya berhasil disembunyikan berkat keahlian perias yang dikirim keluarga Cho ke rumahnya, dengan semua kebutuhan Hyun-Ra yang terpenuhi tanpa kurang sedikitpun.


Ia merasa diperlakukan bagai putri kerajaan dengan sang ibunda ratu yang sebentar lagi akan menjemputnya sendiri.


"Ayolah, Cantik, kenapa kau terlihat sedih?" Si penata rias yang beberapa saat lalu memperkenalkan dirinya dengan nama Yo Han, menarik dagu Hyun-Ra. Yo Han adalah pria gemulai yang keahliannya dalam merias tidak perlu diragukan lagi. Bahkan ia sering menjadi perias para artis dan istri-istri pejabat tinggi karena kemampuannya yang luar biasa. Yo Han mengernyit. "Seharusnya sekarang kau tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan menjadi tunangan pangeran sulung keluarga Cho yang kaya raya. Apa yang membuatmu jadi murung, hm?" Yo Han meraih kuas bedak di sampingnya lalu membetulkan riasan wajah Hyun-Ra.


Gadis itu hanya berdiam, membiarkan Yo Han melakukan apapun pada dirinya. Ia ingin menjawab, tapi ia tidak yakin apa yang seharusnya menjadi jawabannya.


Ia memikirkan Kyuhyun.


Karena entah kenapa sejak semalam Kyuhyun pergi, ia jadi tidak tenang dan tidak bisa tidur, selalu memikirkan apa yang sudah terhampar di hadapannya.


Dada Hyun-Ra kembali sesak, dan tiba-tiba air matanya menggenang di pelupuk mata.


"Hei," ujar Yo Han dengan raut terkejut. "Kau tidak boleh menangis, Cantik, riasanmu sudah selesai dan air mata itu bisa mengacaukan semuanya."


"Maaf." Hyun-Ra bergumam lirih lalu mengambil tisu yang ada di depannya. "Aku tidak bermaksud merusak hasil kerjamu ...."


Yo Han mengangguk sabar, merasa penasaran dengan apa penyebab kesedihan gadis cantik ini. Dia bahkan akan bertunangan dengan Cho Daehyun, salah satu pria yang menjadi khayalan semua perempuan, hal yang seharusnya membuat Hyun-Ra bahagia tiada tara. Kenapa gadis ini malah bersedih?


"Apa kau ingin bercerita untuk meringankan bebanmu?" Bujuk Yo Han. "Aku siap menjadi pendengarmu. Tapi please, jangan menangis, atau Tuan Daehyun akan menggantungku nanti."


Hyun-Ra tersenyum lemah dengan candaan Yo Han, berusaha mengusir segala kesesakan di dalam dadanya.


"Aku baik-baik saja, Yo Han, tidak ada apapun dan kau jangan khawatir."


"Kau yakin?"


"Ya."


"Baiklah kalau begitu, meskipun aku tahu kau pasti berbohong. Tuan Daehyun yang begitu tampan akan mengikatmu dengan pertunangan ... dan kau justru murung, itu sangat mengherankan."


"Aku hanya sedikit tidak fit saja, sungguh, aku tidak apa-apa."


Yo Han mendesah, mengerti kalau mungkin Hyun-Ra tidak mau bercerita.


Beberapa saat terdengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan, hingga kemudian Nyonya Cho muncul di ambang pintu kamar lengkap dengan senyum hangat keibuannya.


"Bagaimana semuanya? Apa kalian sudah selesai?" Beliau mendekat, dan Hyun-Ra bangkit dari duduknya membuat Nyonya Cho terkagum-kagum. "Cantik, cantik sekali. Daehyun pasti sudah tidak sabar ingin melihatmu." Nyonya besar itu merapikan hiasan rambut Hyun-Ra lalu membetulkan gaun indahnya yang sedikit tersingkap. "Apa kau sudah siap? Semuanya sudah menunggumu."


"Ya, Eomma, saya sudah siap ...."


Hyun-Ra menampakkan senyumnya membuat Nyonya Cho semakin berbinar. Beliau meraih tangan Hyun-Ra dan menepuk-nepuknya.


"Kau akan menjadi anak perempuanku, bukan hanya sekedar menantuku. Eomma berharap, pertunangan kalian akan harmonis sampai menikah nanti, berharap Kyuhyun cepat menyusul dan juga mendapatkan gadis cantik yang baik sepertimu."


Berharap ....


Kyuhyun akan mendapatkan gadis cantik yang baik sepertimu


Hyun-Ra terpaku, tidak menyangka dengan ucapan terakhir ibu Daehyun. Ia menelan ludah.


Dan bagaimana jadinya kalau semua orang tahu tentang apa yang pernah terjadi antara ia dan Kyuhyun?


Hyun-Ra kembali memaksakan senyum baiknya pada wanita yang sudah ia anggap ibu itu.


"Apa riasannya sudah selesai?" Kali ini Nyonya Cho berbicara pada Yo Han yang sibuk membereskan peralatannya. "Kami akan berangkat sekarang karena acaranya dimulai sejam lagi."


"Sudah, Nyonya, lihat saja calon menantu Anda ini sudah begitu anggun. Cantik alaminya memudahkan pekerjaan saya. Dia tidak perlu dipoles berlebihan."


Nyonya Cho jadi tersenyum.


Yo Han menambahkan, "Sekali lagi selamat ya, Cantik, semoga acaranya lancar dan hubungi aku untuk pernikahanmu nanti. Aku senang menghias gadis secantik dirimu."


"Terima kasih, Yo Han ... kau terlalu berlebihan." Hyun-Ra jadi merona malu, membiarkan Nyonya Cho merangkulnya dan membawanya keluar rumah.


Baiklah, semangat untukmu, Hyun-Ra, ia berbisik pada dirinya sendiri. Meski sebenarnya ia tidak tahu harus bagaimana saat nanti bertemu Kyuhyun di sana.


"Aku akan mendapatkanmu dengan cara apapun, Hyun-Ra, dan aku tidak peduli sekalipun aku harus menentang semua orang. Aku akan mendapatkanmu dan kau akan jadi milikku."


Tiba-tiba Hyun-Ra jadi cemas dan jantungnya mulai berdegup luar biasa.