TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 20



...▪▪▪...


Akhirnya pesta perayaan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gedung lantai 5 perusahaan telah disulap menjadi tempat pesta dan tampak begitu mewah. Semua tamu undangan akan diantar oleh pengawal yang berpenampilan elegan dengan senyum ramahnya, membuat siapapun merasa senang.


Seo Jin sudah berada di dalam ruangan dengan riasan cantiknya dan tampak celingukan mencari Hyun-Ra. Tempat itu sudah mulai penuh, cukup kesulitan menemukan temannya di tengah orang-orang yang berkerumum dengan penampilan dan tata riasnya yang tidak tanggung-tanggung. Para tim kameraman juga tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam meliput acara.


"Aku akan mencari Hyun-Ra ke sebelah sana," pamit Seo Jin pada teman-temannya.


"Aku temani kau mencarinya." Beberapa temannya mengikuti langkah Seo Jin yang keluar dari kerumunan orang-orang.


Dan sebenarnya Hyun-Ra ini kemana?


Seo Jin cemberut. Ditelepon tidak diangkat, pesan-pesannya juga tidak dibalas. Tidak mungkin kalau Hyun-Ra sampai tidak datang ke pesta perusahaan kali ini.


"Seo Jin!"


Hampir saja Seo Jin terjungkal ke belakang saat teman di depannya tiba-tiba berhenti mendadak sambil menahan tubuhnya.


"Kau mengagetkanku!" sungut Seo Jin.


"Jangan injak gaunku, Naeun!"


"Astaga, Eun Bi, kakimu mengenai sepatuku!"


"Kau berdiri terlalu dekat!"


"Bodoh! Kita akan mencari Hyun-Ra!"


"Sstt, jangan berisik! Lihat siapa yang ada di sana!"


Semua mata langsung mengarah pada pemandangan yang ditunjuk salah satu perempuan itu, lalu dalam sekejap raut mereka berubah tersihir.


"Itu Tuan Kyuhyun!" pekik perempuan lainnya dengan suara tertahan. Mereka melihat Kyuhyun di ujung lorong, dengan jas malamnya yang begitu indah dan elegan, dengan tatanan rambut yang dibuat acak seperti biasanya, tampak berjalan santai menuju arah mereka.


Semua perempuan itu jadi membeku, mematung bagai es dan tinggal menunggu detik-detik waktu untuk kemudian meleleh lalu lenyap dalam pijakan kaki Kyuhyun.


"Ya Tuhan ... Tuan Kyuhyun sangat tampan ..., kapan aku bisa menjadi kekasihnya?" ratap perempuan yang sedikit gendut sambil menggigit jarinya.


"Jangan kebanyakan bermimpi."


"Diam saja kau!"


"Kalian berisik!"


Lalu semua tampak sibuk membetulkan gaun dan tatanan rambutnya, berharap Kyuhyun akan terpesona dengan riasannya, untuk kemudian merasa kecewa ketika tiba-tiba Kyuhyun berbelok ke arah lift dan masuk ke dalamnya.


Binar di raut wajah para perempuan itu langsung lenyap, seakan keberuntungan sedang tidak memihak pada semuanya, seakan tak ada harapan untuk mereka bisa dekat dengan kembar bungsu itu yang dikenal dengan aura mematikannya.


...▪▪▪...


Pada akhirnya mereka kembali ke tempat pesta dengan tetap tidak menemukan keberadaan Hyun-Ra. Seo Jin menggerutu sebal, tidak yakin kalau Hyun-Ra tidak hadir di acara perusahaan tanpa kabar seperti sekarang. Seharusnya tadi ia ke rumah Hyun-Ra saja untuk menjemputnya.


Perhatian mereka langsung tersihir saat kemudian Presiden Direktur Utama perusahaan—atau yang biasa mereka panggil dengan Presdir Besar Cho—memasuki ruangan beserta dua pangeran yang mengikuti di belakang, juga ada Nyonya Besar Cho yang mendampingi beliau, begitu cantik walau kulit keriputnya mulai terlihat karena dimakan usia. Dan ini adalah suatu keindahan luar biasa yang begitu sayang jika dilewatkan meski hanya sedetik saja. Cho Daehyun dan Cho Kyuhyun tampak sempurna, dengan setelan jas elegan masing-masing seolah mereka adalah berlian yang berkilau-kilau di tengah hamparan pasir manusia, menjadi warna utama yang begitu terang dan yang lainnya hanya hitam putih tak bermakna, terlihat memukau, mempesona, membuat siapapun yang melihat penasaran untuk lebih dekat sekaligus merasa takut, seolah dua pangeran kembar itu memiliki asap pelumpuh yang dengan kekuatan cepat bisa langsung membunuh korbannya.


Tidak perlu muluk-muluk dengan bisa menyentuhnya, melihat mereka dengan semua kesempurnaannya sudah membuat siapapun merasa melayang.


Cho Daehyun dan Cho Kyuhyun benar-benar bentuk mimpi dari semua perempuan.


Tuan Cho memulai sambutannya.


"Selamat malam untuk semua yang hadir di acara ini, salam sejahtera untuk kita semua. Saudara-saudara para Direksi Anak Perusahaan, Pimpinan Unit beserta seluruh karyawan dan karyawati Cho's Corporation yang saya banggakan di manapun Anda berada."


"Puji Tuhan yang Maha Esa, pada hari ini Cho's Corporation  telah genap berusia 50 tahun. Suatu usia yang cukup panjang bagi sebuah perusahaan sekaligus usia yang membuat Cho's Corporation semakin matang karena diterpa berbagai tantangan dan hambatan sejak awal berdirinya."


"Perjalanan panjang Cho's Corporation mengalami beberapa fase penting dalam era pengelolaannya. Pada awal berdirinya, Cho's Corporation fokus pada 3 core business, yaitu : agro, perdagangan, dan farmasi— "


Kyuhyun menahan rasa jengah selama mendampingi ayahnya berpidato, dan lampu blitz yang sedari tadi menyilaukan, semakin membuatnya ingin segera meninggalkan pesta.


Demi apa, ini bahkan barusaja dimulai dan ia sudah seperti akan mati bosan.


Berbeda dengan kakak kembarnya itu, Cho Daehyun justru tampak serius dalam menyimak sambutan ayahnya dan terlihat jelas kalau kakaknya itu begitu mencintai perusahaan ini, totalitas dalam hal mengelola dan mengembangkan, sehingga Kyuhyun berpikir bahwa Daehyun memang pantas memegang amanah ini.


"Saya merasa bangga dengan 3 tahun kepemimpinan putra pertama saya, Cho Daehyun, telah membuat kemajuan yang cukup pesat bagi perusahaan ini. Dan tak lepas dari kerja keras para Direksi Anak Perusahaan, Pimpinan Unit beserta seluruh karyawan dan karyawati Cho's Corporation, sehingga kita menjadi lebih kuat dan terus berkibar sampai sekarang. Dan putra kedua saya, Cho Kyuhyun, akan segera bergabung bersama kakaknya untuk semakin melebarkan sayap sehingga perusahaan ini bisa terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi kemajuan perekonomian bangsa dan negara."


Kyuhyun mendengus sebal di tengah tepuk tangan para tamu dengan ucapan mengklaim ayahnya yang bisa ia katakan tanpa persetujuannya. Memangnya kapan ia bersedia bergabung dengan perusahaan? Ayahnya benar-benar curang!


Kyuhyun melirik Daehyun, dan kakaknya itu tampak menahan senyum geli sambil menunduk dari sorotan lampu kamera,  membuat Kyuhyun merasa lebih sebal lagi. Pasti Daehyun sedang ingin menertawakannya.


Kakak sialan!


"Marilah bersama-sama kita meningkatkan kinerja kita, kerja keras, kerja cerdas, dan daya saing yang lebih berkualitas. Karena kata kunci untuk kemajuan mendatang adalah : competitiveness atau daya saing, para ahli manajemen telah mengatakan bahwa era ke depan adalah era hyper-competition. Selain itu— "


"Hei, berkediplah!"


Seo Jin mengerjap kaget saat tiba-tiba ada yang menyikut lengannya.


"Hyun-Raaa!" pekik para perempuan tadi dengan suara tertahan. "Kau kemana saja? Kami mencarimu!"


"Oh My God, kau cantik sekali, Hyun-Ra!"


"Sedari tadi kau dari mana saja?"


"Apa memang kau baru datang?"


"Sstt!!" Seo Jin menyuruh teman-temannya agar tidak heboh. "Kalian berisik sekali! Kalau sampai Tuan Besar Cho terganggu, kita bisa dipotong gaji!"


"Ya, ya, ya."


"Jadi, Hyun-Ra, kau kemana saja?" tanya Seo Jin. "Aku menghubungimu tapi kau mengabaikanku!"


Hyun-Ra meringis tidak enak. "Aku masuk beberapa menit yang lalu, dan aku melihat kalian begitu serius memperhatikan Tuan Besar Cho."


"Bukan aku, tapi Seo Jin saja. Aku yakin yang dia simak dan perhatikan buka pidato Presdir Besar Cho, tapi keberadaan kedua pangeran itu."


"Kau pikir apalagi yang lebih menarik dari itu?" protes Seo Jin.


"Dan aku tidak menyangka Hyun-Ra akan secantik ini," ucap Naeun mengamati penampilan Hyun-Ra penuh minat. Temannya itu terlihat begitu anggun dan elegan, terlihat berkelas dan luar biasa. Riasan wajahnya tampak natural tapi begitu cantik. Dan gaunnya ... Naeun yakin kalau itu adalah jenis gaun perempuan kaya dengan harganya yang pasti mencekik dan bikin mati tiba-tiba. "Kau benar-benar indah, kau tahu!"


"Jangan melebihkan." Hyun-Ra merasa malu dengan pujian temannya dan jujur saja ia tidak percaya diri.


"Tapi mau bagaimanapun dia memang cantik meski tanpa gaun ini, membuatku iri."


Sementara Hyun-Ra hanya tersenyum kikuk menerima setiap pujian teman-temannya.


Lalu pandangan mereka kembali pada Tuan Besar Cho dan kedua putra kembar di depan sana.


"Coba lihat semua perempuan yang ada di sini, mereka juga menampakkan tampang bodoh dengan pandangan terhipnotis pada Tuan Daehyun dan Kyuhyun." Seo Jin melirik para perempuan di sekeliling yang tampak fokus ke depan dengan pandangan memuja. "Kira-kira perempuan seperti apa ya, yang nanti akan beruntung menjadi pasangan mereka? Ya Tuhan ... aku ingin .... "


Hyun-Ra hanya bisa membisu mendengar setiap nada mendamba yang dilontarkan Seo Jin. Dan ia akui, kedua pria kembar itu memang luar biasa memukau, sempurna.


"Dan ngomong-ngomong, kalau kau disuruh memilih antara Tuan Daehyun dan Tuan Kyuhyun, kau akan lebih memilih siapa?" Obrolan Seo Jin semakin merambat ke mana-mana, bukan membahas tentang perusahaan yang kini sedang dirayakan, namun justru kedua pangeran Cho yang terlihat begitu mengagumkan. "Kalau aku malah tidak bisa memilih, aku ingin keduanya, aku ingin memiliki semuanya." Seo Jin cekikikan.


"Dasar tamak!"


"Aku pilih Tuan Kyuhyun."


"Aku Tuan Daehyun."


"Aku Tuan Kyuhyun saja."


"Tuan Kyuhyun milikku!"


"Aku Tuan Kyuhyun."


"Aku juga mau Tuan Kyuhyun."


"Sstt!!" Rasanya Seo Jin ingin menjitak teman-temannya. "Kalian selalu saja heboh sendiri!"


"Dan kenapa lebih banyak yang pilih Tuan Kyuhyun?"


"Dia lebih menggoda saja."


"Apa karena dia artis?"


"Bukan. Tapi aku memang lebih suka dia."


"Padahal Tuan Kyuhyun dikenal playboy."


"Tapi aku tetap menyukainya sekalipun dia seperti itu."


Kali ini Hyun-Ra berpaling mendengar teman-temannya membahas Kyuhyun, entah kenapa ada rasa tidak suka. Dan saat tadi ia akhirnya melihat Kyuhyun lagi—setelah beberapa hari—ingatan tentang yang terjadi di kamar hotel malam itu menyempil kembali.


Bagaimanapun memukaunya kembar bungsu itu, dia tetaplah pria brengsek!


Namun kemudian semua suara jadi menghilang ketika tiba-tiba Tuan Besar Cho mengucapkan sesuatu, membuat siapapun jadi tercengang di tempatnya.


"Dan di hari membanggakan ini, saya juga ingin mengumumkan acara pertunangan putra sulung saya, Cho Daehyun, bersama kekasihnya yang akan dilaksanakan 10 hari lagi. Kami sekeluarga berbahagia dengan kebahagiaan putra kami, berharap hubungan mereka selalu dilimpahkan keharmonisan sampai nanti melaksanakan pernikahan."


Semua orang tampak riuh dan saling berbisik, merasa penasaran dengan siapa perempuan beruntung yang akan menjadi calon istri Cho Daehyun.


Dan rasa penasaran mereka akan segera terjawab ketika tiba-tiba Daehyun bergerak turun dari panggung ruangan, berjalan menembus keramaian orang-orang dengan semua mata yang mengikuti langkahnya.


Hyun-Ra langsung membeku, tubuhnya kaku, bahkan Seo Jin dan para perempuan itu tampak menegang seperti batu.


"K—kenapa Tuan Daehyun m—menuju kemari?" Seo Jin tidak bisa menyembunyikan suara bergetar dan detakan jantungnya yang menggila.


Hingga kemudian, ia serta teman-temannya berubah syok saat Daehyun justru berhenti di depan Hyun-Ra, tersenyum kepada gadis itu dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Aku akan membawamu," bisik Daehyun, tangannya terulur dengan telapak yang menghadap ke atas, meminta Hyun-Ra agar menyambutnya. "Kemarilah, dan aku mohon jangan tolak aku."


Aku mohon jangan tolak aku


Hyun-Ra merasa minder, merona, terharu dan bahkan malu menyadari semua mata mengarah padanya, seluruh orang di dalam ruangan, dengan lampu yang menyilaukan dan kamera yang tersorot tajam.


Ia tidak menyangka kalau Daehyun akan mempublikasikan hubungan mereka di hari ini, dengan cara dan keadaan seperti ini.


Hyun-Ra menerima uluran pria itu dengan gugup, dadanya berdebar liar, dan Daehyun dengan erat langsung menggenggam tangannya.


Ia tidak berani melirik kanan-kiri untuk tahu bagaimana reaksi orang-orang, ia menunduk ketika Daehyun membawanya ke depan dan membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.


Tuan dan Nyonya Cho tersenyum melihat keserasian putra sulung dan kekasihnya, sementara Kyuhyun tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaannya yang ingin meledak sekarang.


Demi apapun, hatinya panas membara dan serasa benar-benar akan meledak.


Akan meledak!