TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
Kakak Kelas



BAB 2 : Kakak Kelas


"Re, ayo bangun!" Seorang wanita paruh baya terlihat memanggil-manggil anaknya dari balik pintu dengan pakaian yang sedikit kotor karena baru saja selesai memasak. Sedari tadi wanita itu terus menggedor-gedor pintu kamar anaknya. Namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana.


"Ini udah jam berapa, Re?" teriaknya lagi.


"Dasar kebo!" Wanita itu menggeram kesal, lalu membuka pintu kamar anak gadisnya dengan keras, malah terdengar seperti mendobrak. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat anaknya masih tertidurย  dengan selimut hingga menutupi kepalanya.


"Bangun, elah!"


Vina menyingkap kasar selimut yang menutupi tubuh anaknya itu dengan emosi. Sedangkan, Rere malah menggeliat sambil menguap lebar.


"Hoaamm, jam berapa sekarang?" tanya Rere khas orang baru bangun tidur. Dia mengubah posisinya menjadi duduk bermalas-malasan, sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha untuk mengumpulkan nyawanya kembali.


"Jam 7 kurang 10" jawab Vina dengan jutek.


"What?" Mata Rere yang tadi hanya terbuka setengah, kini terbuka lebar.


Dia menepuk keningnya sendiri.


"Mati gue!"


"Kak Nico mana, ma?" tanya Rere kemudian.


"Tuh, lagi sarapan dibawah. Bentar lagi mau berangkat."


"Pokoknya mama harus cegah Kak Nico supaya berangkat lebih lama ya ma, please....Suruh dia tungguin Rere" Rere berkata dalam satu tarikan napas. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan menyambar handuknya dengan cepat.


Dukk!!!!


Saking panik dan cepatnya, Rere sampai menabrak pintu kamar mandi. Dia mengaduh sambil mengusap-ngusap keningnya sedangkan mamanya hanya terkekeh pelan melihat tingkah laku anak gadisnya itu.


"Dasar ceroboh" gumam Vina lantas keluar dari kamar Rere.


5 menit kemudian.


Rere sudah selesai mandi dan berpakain, meskipun dengan gaya yang sedikit acak-acakan. Dia berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga dan langsung pamit mencium punggung tangan papa dan mamanya.


"Cepetan adek. Abang udah lumutan tahu, gak?" teriak Nico yang sudah menyalakan mesin. Rere segera menghampiri kakaknya, dia memakai helm kemudian naik di atas motor ninja merah kakaknya.


"Re, bekalnya ketinggalan" Vina meneriaki anaknya dari dalam rumah.


"Keburu telat ma" balas Rere berteriak karena Nico sudah melajukan motornya keluar rumah dengan kecepatan tinggi. Membuat Rere terpejam sambil memeluk erat kakaknya.


Nico terus melajukan motornya membelah jalanan yang padat dengan lihai. Tak dipedulikannnya teriakan ketakutan Rere.


"PELAN-PELAN ABANG! RERE TAKUT!!" Rere menepuk pundak Nico dengan lumayan keras membuat Nico meringis kesakitan.


"Dikira gue abang tukang ojek apa?" gumam Nico pelan. Seolah tak peduli dengan perkataan adiknya, Nico malah menambah kecepatan motornya.


"RERE BELUM MAU MATI BANG! RERE MASIH PENGEN HIDUP!!" bentak Rere.


"KALAU GAK CEPAT, KITA BISA TELAT! LAGIAN, INI SEMUA GARA-GARA LO YANG TIDURNYA KEK KEBO!!" balas Nico berteriak.


"TAPI YA GAK KAYAK GINI JUGAA...INI NAMANYA CARI MATI!!" Nico hanya memutar bola matanya malas. Dia lebih memilih mengalah dan menurunkan kecepatan motornya.


"Kok pelan banget sih, bang? Nanti kita bisa telat!" protes Rere. Kepala Nico mau meledak rasanya. Dia tak habis pikir dengan kemauan cewek. Tadi cepat, disuruh pelan. Sekarang pelan, disuruh cepat. Ap sih, maunya?


"Tadi disuruh pelan, lo gimana sih dek?"


"Ya gak pelan-pelan amat! Ini mah kayak jalannya siput!"


"Salahin aja terus! Salahin gue!" Nico berkata emosi.


"Emang cowok itu takdirnya selalu salah!" balas Rere sengit.


"Sekali lagi lo ngomong, gue turunin lo!" ucap Nico terdengar mengancam. Dia sudah sangat kesal dengan adiknya yang tidak berhenti mengoceh.


"Ya udah, turunin aja!" Tantang Rere. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam kakaknya dari balik spion.


"Yakin lo?" Pertanyaan Nico seolah meremehkan Rere.


Rere mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya berkata dengan lantang.


"YAKIN" Apa boleh buat. Akhirnya Nico menurunkan Rere di tepi jalan. Sebenarnya ia tidak tega dengan adiknya, namun karena sudah terlanjur kesal, Nico membiarkan saja. Toh, ini memang keinginan adiknya sendiri.


'Lah, beneran ini gue diturunin?' batin Rere.


"Awas nanti lo, digrepe-***** sama preman di jalan." goda Nico. Rere hanya menatap kakaknya dengan tatapan pembunuh.


'Aduhh, semoga kakak gue bercanda'


"Udah sana pergi!" kata Rere dengan raut wajah galak.


'Please bang, jangan tinggalin gue ya ampunnn. Gue takut disini sendirian.'


Rere sudah merasa panik ketika Nico mulai menyalakan mesin motornya lagi. Tapi dia terlalu gengsi untuk meminta maaf dan meminta dibonceng oleh kakaknya lagi. Mau ditaruh dimana mukanya kalau dia minta naik ke motor kakaknya lagi, padahal dia sendiri yang tadi minta untuk diturunkan. Ya, cewek memang gengsinya terlalu tinggi.


"Ok, gue pergi. Bye-bye adek cantik." ucap Nico melenggang pergi meninggalkan Rere.


'Seriusan ini?'


'Terus gue harus gimana?'


"Dasar abang laknattt!" maki Rere pada kakaknya yang sudah meninggalkannya sendirian tanpa perasaan.


"Punya kakak satu kok gak guna banget!" Rere terus mengumpat kesal sambil menendang botol aqua dan benda apapun yang ada di depannya. Tak ada satupun taxi atau angkutan umum yang lewat. Dia terlantar di jalanan sendirian tanpa tujuan yang pasti.


Belum lagi jika perkataan kakaknya mengenai preman itu. Bagaimana kalau hal itu benar terjadi? Tamatlah riwayatnya! Dalam hati, Rere merutuki kebodohannya sendiri.


"Lo ngapain disini sendirian?" Sontak, Rere menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki berseragam SMA sama seperti yang dikenakannya tengah mengendarai sebuah mobil berwarna hitam dengan pelan, seolah menyejajarkan langkah kakinya.


"Kak Galih?" tanya Rere sambil mengerjap-erjapkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bagaimana mungkin, seorang ketua osis yang tampan juga cerdas di sekolahnya itu, masih berkeliaran di jalanan di jam segini?


'Apa dia baru saja ingin berangkat sekolah? Artinya, dia telat juga dong?' batin Rere.


"Lo pikir siapa?" lanjut Galih pelan.


"Tukang ojek." Rere meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berusaha untuk menetralkan kegugupannya. Entah kenapa tatapan Galih kepadanya berhasil membuat dirinya salah tingkah.


"Hah?" kata Galih kaget. Tidak menyangka jawaban yang dilontarkan oleh Rere.


"Hehe," tawa Rere terkesan garing.


"Kok sendiri?" Galih bertanya kembali.


"Ditinggal."


"Ditinggal?"


"Iya tuh, kakak sialan emang!" umpat Rere secara terang-terangan di hadapan Galih, membuat cowok itu mengernyit.


"Jadi lo bareng sama kakak lo tadi?" Rere mengangguk.


"Iya, tapi malah ditelantarin disini." Rere menunduk sambil memainkan ujung dasinya. Dia terlihat begitu gugup. Bahkan untuk menatap lawan bicaranya saja, ia tak bisa. Tubuhnya bergetar. Panas dingin bercampur menjadi satu.


'Gue kenapa sih?' tanyanya dalam hati.


Galih yang melihat tingkah laku Rere hanya bisa menahan senyuman di bibirnya. Menurutnya, Rere begitu lucu. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan dengan kegugupannya.


"Hahaha" Galih tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dia tak habis pikir, kenapa gadis di depannya itu terus menunduk.


'Malah ketawa,' Rere membatin.


"Ya udah bareng gue aja yuk?" ajak Galih. Dia tersenyum menatap Rere yang kini tengah memainkan jarinya.


"Beneran?" tanya Rere memastikan. Galih mengangguk.


Rere masih berdiri di tempatnya. Tak beranjak barang sesenti. Dia menatap Galih dengan tatapan heran.


"Ehm, kak" kata Rere pelan, namun masih bisa di dengar oleh Galih.


"Kenapa?"


"Kakak telat juga?" Akhirnya, pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di hati Rere, berhasil dia sampaikan. Dilihatnya, Galih terdiam mematung di tempatnya. Dia terlihat begitu panik.


"Astagaa, gue sampe lupa." Galih menepuk jidatnya sendiri.


"Ayok cepetan naik!"


**********


ใ€€


ใ€€


Gimana? Gimana? Gimana?


Jangan lupa vote ya kawann๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


ใ€€


ใ€€


*TBC


(Yeni Rahmawati)


ใ€€


ใ€€


ใ€€


ใ€€