
BAB 4 : Siapa Nala?
"Ehm...berduaan aja nih,"
Rere terhenyak kaget. Apa yang tadi ada di pikirannya menghilang seketika, saat mendengar suara seseorang yang menyapa dirinya dan Galih. Dia mengedarkan pandangannya dan mendapati seorang perempuan dengan pakaian SMA sama seperti dirinya serta dandanan yang sedikit menor. Di sampingnya, ada 2 orang lagi temannya dengan gaya yang hampir sama. Persis seperti seorang dayang yang mengawal ratu mereka.
"Apa urusan lo?" tanya Galih tak suka. Dia mengalihkan tatapannya dari cewek itu, seperti bersikap acuh tak acuh.
Cewek itu terkekeh pelan memandang Rere dan Galih bergantian.
"Jadi, siapa cewek ini?" tanya cewek itu sinis. Menatap penampilan Rere dari atas hingga bawah.
"Dia?" tunjuk Galih pada Rere.
"Pacar gue" Rere membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Galih. Apa-apaan ini? Kenapa Galih tiba-tiba mengatakan ke cewek itu bahwa dia adalah pacarnya? Apa dia tidak salah dengar?
"Pacar?" Cewek itu tertawa hambar.
"Sayang, kamu ini gimana sih? Pacar kamu itu kan cuma aku seorang. Nala Permata Sari yang cantik jelita juga mempesona" ucap cewek itu dengan nada manja yang dibuat-dibuat. Bahkan Rere sendiri merasa jijik mendengarnya.
Galih memutar bola matanya jengah. Merasa malas untuk menanggapi hal yang tidak penting tentang cewek itu.
"Nala, lo denger gue baik-baik ya. Kita itu udah putus. P-U-T-U-S. Udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi terserah gue dong, mau pacaran sama siapa. Itu bukan urusan lo!" balas Galih sengit. Dilihatnya, Rere masih terdiam tanpa sepatah katapun.
Galih menatap Rere sebentar, kemudian menggenggam tangan Rere dengan hangat.
"Sayang, kamu kenapa?" Galih menunjukkan perhatiannya pada Rere, agar Nala benar-benar percaya apa yang dikatakannya.
"Aku...eng...gak papa kok" jawab Rere masih ragu-ragu.
Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.
"Galih, come on! Gak usah buat drama deh! Aku tahu kok kalau cewek ini cuma suruhan kamu buat jadi pacar bohongan!" Nala masih tak mau menyerah. Dia terus menyerang Galih dengan berbagai argumennya.
"Gue udah bilang yang sebenarnya. Kalau lo gak percaya ya udah. Intinya, jangan pernah ganggu gue sama Rere lagi. Gue cinta sama dia." Galih berkata lugas. Kali ini dia mencium punggung tangan Rere di depan mata Nala. Membuat emosi Nala meledak.
Nala tersenyum sinis menatap Rere.
"Apa yang udah lo kasih ke Galih sampai dia bisa milih lo? Badan lo?" Nala berteriak keras. Membuat orang-orang yang berada di restoran itu menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik.
"Saya bukan orang yang seperti itu kak!" ujar Rere membela dirinya. Tentu saja dia tidak terima dengan tuduhan menjijikkan yang dilontarkan oleh Nala.
"Jaga mulut lo ya! Rere bukan cewek murahan seperti yang elo pikirin! Terima aja kenyataan kalau gue emang udah bisa move on dari lo! Gue udah gak cinta sama lo!" tambah Galih.
Wajah Nala merah padam, serta dadanya naik turun menahan emosi. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Sabar La...Sabar. Ini tempat umum" kedua teman Nala berusaha menenangkan ratu mereka yang sebentar lagi akan mengamuk.
"Lihat aja nanti, gue gak akan biarin kalian berdua hidup tenang! Dan lo, gue pasti akan rebut Galih lagi dari lo! Lo bakal nyesel udah berurusan sama gue!!!" Nala berkata pelan namun ancaman nya begitu menusuk.
Rere menegang seketika. Dia tak tahu harus menjawab apa. Ingin rasanya menjelaskan semuanya, tapi dia begitu takut jika nanti Galih marah kepadanya.
"Girls, cabut!" Nala memberi instruksi. Dia kemudian melenggang pergi bersama kedua temannya meninggalkan Galih. Juga Rere yang masih mematung di tempatnya.
**********
Rere dan Galih sudah sampai di depan rumah Rere. Setelah kejadian itu, mereka tidak jadi makan dan memutuskan untuk pulang.
Rere masih termenung di dalam mobil, padahal dia sudah sampai di rumahnya. Melihat hal itu, Galih hanya bisa menghela napas pelan.
"Gak usah terlalu dipikirin" kata Galih menyentuh kepala Rere pelan.
"Besok gue ceritain semuanya ke lo" lanjutnya lagi.
Karena tak melihat respon dari Rere, Galih sempat berpikir bahwa gadis itu tertidur. Dia berniat membantu Rere untuk melepas sabuk pengaman. Namun ternyata Rere masih terjaga.
Hal itu membuat Rere kaget seketika. Dia menjauhkan badan nya dari Galih.
"Makasih kak" ucapnya sebelum keluar dan menutup pintu mobil. Galih mengamati Rere hingga masuk ke dalam rumahnya. Ada rasa bersalah pada gadis itu. Karena telah melibatkannya dalam masalahnya. Namun apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur.
Galih menggelengkan kepalanya. Dia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Rere.
Sedangkan Rere memasuki rumah dengan tampang sedikit kesal. Membuat ibunya terheran-heran dengan sikap anak gadisnya itu.
"Siapa Re?" tanya Vina yang saat itu tengah memotong-motong sayuran di dapur.
"Kakak kelas ma." Jawabnya singkat.
"Kakak kelas?" Ulang Vina dengan kening berkerut.
"Hooh, temannya Kak Nico. Tadi nganterin Re pulang" terang Rere.
"Ganteng gak Re?" Tanya Vina lagi. Rere mengernyit menatap mamanya.
"Ihhh...mama genit deh" katanya kesal kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.
Rere menghempaskan tubuhnya di ranjang. Tanpa melepas seragam sekolahnya. Dia mencari radio, lalu memutar musik kesukaannya. Memejamkan matanya menikmati suasana.
Lagu milik Afgan dan Raisa yang berjudul percayalah mengalun merdu di kamarnya.
Selamanya kita akan bersama
Melewati segalanya dan tak terpisahkan
Kita berdua
Selamanya kita akan bersama
Takkan ada keraguan kini dan nanti
Percayalah
"Tok...tok...tok..."
Suara ketukan pintu membuat Rere tersadar ke dalam dunianya kembali.
"Masuk, gak dikunci" teriak Rere dari dalam kamar.
"What's going on?" tanya Nico berbahasa inggris sambil berlagak cool. Rere hanya diam, tak berniat menanggapi pertanyaan kakaknya.
"Oyy! Gue tanya monyet!" Karena merasa diacuhkan, Nico memukul kepala adiknya menggunakan bantal. Membuat Rere mendengus kesal.
"Kenapa sih lo?" tanya Nico lagi. Rere mengganti posisi yang tadinya tidur telentang menjadi duduk.
"GUE GAK PA-PA. PUAS?" Rere berteriak keras, membuat Nico reflek menutup telinga.
"Mulut mercon! Bisa budeg gue denger lo teriak kayak gitu!" ucap Nico tak terima.
"Lagian lo bikin gue emosi, sih!" balas Rere.
Nico mengernyit. Emosi bagaimana maksudnya? Dia hanya menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap adiknya sendiri. Bukannya terimakasih atau cerita, malah teriakan emosi yang di dapat. Hahh...dirinya tidak mengerti. Cewek memang susah dipahami.
"Oh ya Re, gimana tadi?" Nico mencoba mengganti topik pembicaraan. Berharap adiknya mau berbagi cerita.
"Gimana apanya?" tanya Rere masih dengan nada jutek.
"Lo sama Galih" Nico menaik-turunkan alis menggoda adiknya.
"Ya, gak gimana-gimana" Rere menjawab malas.
"Lagian lo tahu darimana kalau tadi gue pulang sama Kak Galih?" lanjut Rere.
"Tadi Galih chat gue. Katanya, pinjem adiknya yang cantik bentar yaa"
Rere mencibir.
"Oh ya, sebenarnya sih...tadi gue gak lagi ngerjain tugas di rumah temen."
"Terus?"
"Ya gitu. Gue terpaksa bohong sama lo, karena Galih mau ajak lo pulang bareng"
"Apaan dehh"
"Apaan-apaan! Ini gue ngomong serius bangke!" ucap Nico sedikit emosi karena Rere yang menyepelekan perkataannya.
"Ihhh, kok lo malah ngegas sih?" balas Rere tak terima.
"Ya, lo daritadi jawabnya jutek gituu"
"Terserah. Pokoknya gue masih marah sama lo karena lo udah ninggalin gue sendirian di tepi jalan tadi pagi"
"La kan elo sendiri yang minta, gimana sih? Salah lagi gue?" Nico menggeram kesal.
"Tau ahh bang. Lo itu gak peka jadi cowok! Pantesan jomblo terus!" kata Rere mengejek.
"Eh eh eh, ngaca lo. Ngaca! Lo punya pacar aja enggak!" Nico balas mengejek.
"Terseraaahhh." kata Rere tak peduli.
"Lagian ya, sebagai kakak yang baik, gue juga gak akan tega ninggalin lo sendirian di tepi jalan kalikk, ya walaupun lo yang minta sendiri." ucap Nico. Rere masih acuh tak acuh dengan ucapan kakaknya.
"Nih, denger ya. Gue tadi balik lagi mau ngajak lo. Eh, lo malah udah masuk ke mobilnya Galih."
"Jadi, lo gak beneran ninggalin gue tadi pagi?" tanya Rere.
"Ya gaklah. Kan gue kakak yang bertanggung jawab." kata Nico sok cool.
"Terus, lo sama Galih tadi ngapain aja?" lanjut Nico bertanya.
"Gak ngapa-ngapain"
"Ahhh...masaa" Nico menyenggol pelan lengan adiknya.
"Apaaan sih lo...gak jelas!" kata Rere kesal. Nico malah senyum-senyum sendiri menatap Rere.
Melihat kakaknya yang terus senyum-senyum sendiri tidak jelas seperti itu membuat Rere seketika merinding.
'Jangan-jangan kakak gue kerasukan lagi?' batinnya.
"Udah sana! Keluar dari kamar gue! Ganggu aja deh, lo!" Rere menyeret paksa kakaknya keluar dari kamarnya.
"Aaaa...mamaaa...Rere sekarang sudah main cinta-cintaan..." teriak Nico dengan keras. Rere hanya memutar bola matanya malas. Sepertinya kakaknya memang sedang kerasukan makhluk halus sekarang.
Setelah Nico keluar, barulah Rere menutup pintu kamar. Kemudian berniat menelepon sahabatnya, Dhea. Untuk menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya bersama Galih. Namun sialnya, Rere tidak menemukan keberadaan ponselnya dimana pun.
"Aduhhh, ponsel gue mana sih?" tanyanya frustasi.
Dia mengingat-ingat kejadian apa saja yang telah dilaluinya hari ini. Seperti mendapat video pemutaran ulang, Rere akhirnya ingat. Dia sempat menaruh ponselnya di dashbor mobil Galih. Rere mendesah pasrah.
"Pasti ketinggalan di mobilnya Kak Galih."
**********
Jangan lupa vote💋
*TBC
Yeni Rahmawati