TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 13



...▪▪▪...


Pagi ini mood Hyun-Ra sangat buruk, ia masih saja teringat sikap Kyuhyun yang selalu kurang ajar padanya bahkan kadang berusaha mendapatkan ciumannya dengan ancaman.


Pria itu memang jahil dan iseng, tapi ini sudah begitu keterlaluan.


Rasanya ia ingin mengadukan semua perbuatan Kyuhyun kepada Daehyun, tapi ia sadar itu pasti akan menjadi sesuatu yang buruk atau bahkan bisa terjadi pertikaian.


Ia tidak ingin itu terjadi.


"Hyun-Raa!!"


Ia tersentak kaget mendengar suara melengking Seo Jin dan perempuan itu menghampirinya dengan napas terengah.


"Hilangkan kebiasaanmu yang suka berteriak-teriak, Seo Jin, kau membuatku terkejut!" Hyun-Ra langsung mengomel ketika temannya itu sudah berada di depan meja kerjanya.


"Apa kau tadi berangkat bersama Presdir Muda Daehyun, atau aku yang salah lihat?" Seo Jin tidak terpengaruh dengan kekesalan Hyun-Ra. "Teman-teman juga melihatnya dan mereka yakin kalau itu kau. Apa itu benar-benar kau?"


Hyun-Ra langsung panik dengan pertanyaan Seo Jin, ia jadi kelimpungan untuk menjawab. Ini pasti gara-gara ia yang terlambat bangun, Daehyun masih harus menunggunya bersiap sehingga mereka sampai kantor kesiangan. Biasanya mereka akan tiba lebih awal sebelum ada staff yang melihat dan pulang lebih lambat setelah para karyawan sudah sepi. Lagipula biasanya Daehyun menggunakan mobil dengan kaca gelap sehingga tidak ada yang menyadari siapa orang yang berada di dalamnya. Dan sekarang Hyun-Ra baru sadar, Daehyun tadi memang menggunakan mobilnya yang lain.


Kenapa mereka bisa seceroboh ini?


"Hyun-Ra, jawab!" desak Seo Jin karena Hyun-Ra malah termenung. "Apa benar yang di mobil Tuan Daehyun tadi itu kau?"


Hyun-Ra menggeleng. "I—itu bukan aku, kalian pasti salah lihat."


"Tapi aku yakin itu kau." Mata Seo Jin memicing curiga. "Kau berbohong, ya? Atau jangan-jangan kau ada hubungan dengan Tuan Daehyun?"


"S—siapa bilang! Jangan sembarangan!"


"Buktinya kau terlihat panik. Biasanya kalau sudah begitu kau sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu."


"Jangan sok tahu!" Hyun-Ra merengut. "Lebih baik kau pergi ke ruanganmu dan jangan menggangguku! Aku banyak kerjaan!" Lalu Hyun-Ra meraih map-map yang ada di depannya dan mencoba menyibukkan diri dengan kertas-kertas di sana.


"Dan biasanya kalau kau jadi marah begitu berarti tebakanku benar."


"Seo Jin!" Hyun-Ra mulai terpojok dan ia jadi kesal. "Aku bilang pergi atau aku akan mencubitmu!"


Seo Jin manyun.


"Ya, baiklah, aku akan pergi." Seo Jin menyerah, namun tatapannya masih tampak mencurigai Hyun-Ra. "Tapi kalaupun sekarang kau berbohong padaku, pasti nanti aku akan tetap tahu kebenaranmu." Kemudian Seo Jin berbalik dan mulai pergi dari meja Hyun-Ra, setelah sebelumnya memberikan sorotan; aku akan cari tahu kebenarannya!


Hyun-Ra mendesah lega meski kepanikannya belum mereda. Ia sekarang jadi cemas. Bagaimana kalau nanti semua pegawai kantor tahu tentang hubungannya dengan bos mereka? Seperti apa tanggapannya? Apakah seperti yang dikatakan Kyuhyun kalau mereka akan memaki bahkan membencinya lalu melemparinya dengan telur-telur busuk? Atau mungkin lebih parahnya, mereka akan menganggapnya perempuan murahan yang menggoda Daehyun?


Hyun-Ra meringis, dan ia jadi semakin panik.


Ia harus ke ruangan Daehyun setelah ini.


...▪▪▪...


Ketika waktu makan siang tiba, Hyun-Ra tergesa-gesa memasuki lift dan naik ke ruangan kekasihnya. Bahkan di sepanjang jalan, beberapa pegawai sudah mulai memandangnya aneh sambil berbisik-bisik, seolah ia adalah perempuan perebut suami orang dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Hyun-Ra mengetuk pintu ruangan Daehyun, membukanya perlahan ketika pria di dalam menyuruhnya masuk. Ia menemukan kekasihnya itu sedang duduk di kursi besarnya dan terlihat sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Hyun-Ra masuk dengan gugup, rautnya cemas, dan keresahannya tidak bisa ia sembunyikan.


Daehyun menatapnya dengan alis berkerut.


"Mau makan siang bersama?" tanya pria itu.


Hyun-Ra menggeleng. "Bukan itu."


"Lalu?" Daehyun menyipit, ia memundurkan tubuhnya bersandar di kursi besarnya. "Kemarilah. Dan kenapa kau terlihat panik?"


Hyun-Ra mendekat dan Daehyun bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja lalu bersandar di pinggirannya. Ia meraih Hyun-Ra, mengamati raut wajahnya yang terlihat tidak tenang.


"Ada apa, Sayang?" Daehyun merangkul pinggang Hyun-Ra. "Ceritakan padaku, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


Hyun-Ra membasahi bibirnya, kemudian menelan ludah.


"S—sepertinya semua orang sudah mulai menyadari hubungan kita, Dae," ucapnya dengan cemas. "Tadi Seo Jin bertanya padaku kenapa aku satu mobil denganmu. Aku ... menyangkalnya. Aku tidak mengaku. Bagaimana kalau semua orang tahu tentang hubungan kita?"


"Dan memangnya kenapa kalau mereka tahu? Ini kehidupan kita berdua, bukan urusan mereka. Kenapa kau harus sepanik ini?"


"Masalahnya ... banyak perempuan kantor yang menyukaimu, dan pasti mereka akan membenciku kalau tahu aku bahkan ... menjadi pacarmu."


Daehyun tersenyum tenang, tangannya terulur mengusap puncak kepala Hyun-Ra.


"Kupikir memang sudah saatnya semua orang tahu hubungan kita, karena keinginanmu untuk menyembunyikan hubungan tidak cukup beralasan menurutku. Hanya karena banyak perempuan kantor yang menyukaiku, kau sampai merahasiakan diri. Harusnya yang kau lakukan adalah mengklaimku agar tidak ada perempuan yang mendekatiku."


"Aku ingin kau mengakuiku di manapun, Hyun-Ra, sebagai kekasihmu," lanjut Daehyun. "Aku ingin semua orang tahu bahwa kau tidak sendirian, ada aku yang memilikimu."


"Tapi aku tidak punya kepercayaan diri untuk melakukan itu, Dae, aku sadar siapa aku ...."


"Karena kau perempuan yang begitu cantik, jadi aku tidak pantas mendapatkan pengakuanmu, begitu?"


Hyun-Ra menggeleng keras, bagaimana mungkin justru Daehyun yang berpikir begitu?


"Bukan kau, tapi aku. Aku yang tidak pantas mendapatkan pria menawan sepertimu. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya perempuan biasa tapi kau begitu sempurn—"


"Sstt," Daehyun menghentikan ucapan Hyun-Ra, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan hangat. "Sayang, dengarkan aku. Sudah berkali-kali aku katakan kalau aku tidak suka kau mempunyai pikiran seperti itu. Kau tidak perlu khawatir apapun, tidak perlu takut apapun. Aku yang mencintaimu, aku yang memilihmu dan aku yang ingin bersamamu. Memangnya siapa yang berani melarangku? Kalaupun ada yang tidak suka dengan hubungan kita, ya biarkan saja, itu urusan mereka. Dan aku tidak akan biarkan kalau sampai ada yang menyakitimu."


Hyun-Ra kembali diam, hanya menatap Daehyun yang sedang berusaha memberinya keyakinan.


"Lagipula sebentar lagi kita akan bertunangan, dan semua orang akan tetap tahu dengan hubungan kita." Daehyun mengelus tangan lembut Hyun-Ra, bibirnya membentuk senyum ketika hendak mengatakan; "Aku sudah memutuskan ... kita akan melangsungkan pertunangan dua minggu lagi. Aku sedang mempersiapkan semuanya."


Kali ini Hyun-Ra mulai ternganga, matanya mengerjap beberapa kali.


Bertunangan?


"D—dua minggu lagi?"


"Ya, dua minggu lagi. Dan aku tidak akan melarang kamera untuk masuk menyorot acara pertunangan kita."


Jadi, kau harus menyiapkan dirimu dari sekarang. Setelah itu kau bisa menghadapi semua perempuan dengan status barumu, tunanganku, dan kau tidak perlu takut untuk menunjukkan dirimu kepada siapapun.


Ingat, Hyun-Ra, kau tidak bisa menyembunyikan hubungan kita terus menerus, tidak ada alasan, dan itu pun kalau kau memang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.


Hyun-Ra kembali ke ruangan kerjanya sambil mengingat semua ucapan Daehyun. Ia tahu sudah melukai kekasihnya itu dengan keinginan anehnya. Hanya karena merasa rendah dan tidak pantas mendampingi, ia sampai membuat Daehyun merasa tak diakui. Karena sejauh yang ia tahu, Si miskin akan sulit bersatu dengan Si kaya, terlalu banyak perbedaan yang terhampar, terlalu banyak pihak yang tidak terima, dan terlalu banyak halangan yang akan menghadang. Karena saling cinta saja tidak cukup jika orang-orang sekitar tidak memberi dukungan.


Karena saat Si miskin mencintai Si kaya, pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Entah masalah itu datang dari sudut yang mana.


Terlebih, ia tidak ingin membuat Daehyun malu karena memiliki kekasih yang biasa-biasa saja, bukan perempuan luar biasa seperti yang seharusnya.


Hyun-Ra menutup wajahnya dengan benak terbayang pada ekspresi sedih kekasihnya. Demi apa, ia tidak pernah berniat membuat Daehyun seperti itu, tidak pernah sedikitpun.


"Melamun, eh? Pasti memikirkan Tuan Daehyun?"


Hyun-Ra mengerjap mendengar suara Seo Jin menginterupsinya yang sedang termenung. Temannya itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan mejanya lengkap dengan picingan curiganya.


Hyun-Ra mendesah, tidak menyangka dengan sikap pantang menyerah sahabatnya itu.


"Kau selalu saja menuduhku!"


"Jadi kau masih tetap tidak mau mengaku kalau yang di mobil Tuan Daehyun tadi adalah kau?"


"Mau mengaku bagaimana kalau itu memang bukan aku?"


"Aku tidak percaya."


"Kau bisa tanyakan langsung pada Tuan Daehyun!"


"Dan apa susahnya sih kau tinggal mengaku saja?"


"Dan kenapa kau hanya menuduhku? Bisa saja itu adalah perempuan lain di kantor ini?"


Seo Jin mendesah.


"Karena jelas-jelas itu memang kau tapi kau yang tidak mau mengaku, Hyun-Ra."


"Tidak ada alasan aku berada di mobil Tuan Daehyun!"


"Siapa bilang? Kau 'kan cantik, banyak pria di perusahaan ini yang mengajakmu berkencan. Mungkin saja Tuan Daehyun juga menyukaimu dan kalian ada hubungan?"


"Aku tidak ada apa-apa dengan Tuan Daehyun! Berapa kali harus aku bilang? Tanyakan saja pada Tuan Daehyun!" Hyun-Ra cemberut kesal, mengamati Seo Jin yang memicing padanya membuatnya lebih kesal lagi.


Dan bagaimana kalau Seo Jin benar-benar bertanya pada Daehyun? Kekasihnya itu sepertinya tidak begitu ambil pusing hal yang membuatnya panik ini?


"Baik lah, kali ini kau selamat dan aku tidak akan memaksa," putus Seo Jin akhirnya. "Tapi tetap, aku akan cari tahu kebenarannya kalau mungkin kau memang ada hubungan dengan bos kita."


"Terserah kau saja."


Hyun-Ra membelakangi Seo Jin dan kembali pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


Ternyata, mempunyai hubungan dengan seorang bos itu tidak semudah yang dikira.