TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 24



...▪▪▪...


Kyuhyun pikir setelah merasakan bagaimana nikmatnya tubuh Hyun-Ra waktu itu, kegilaannya akan mereda dan kesintingannya akan lenyap dengan sendirinya.


Tetapi ternyata tidak, yang terjadi malam itu justru menimbulkan kegilaan baru di diri Kyuhyun, kesintingan yang lebih lagi bahkan kali ini terasa mengerikan.


Selama beberapa hari ini Kyuhyun berada di luar negeri untuk melakukan konser kolaborasi dengan penyanyi terkenal dunia. Namun selama itu pula, Kyuhyun tak bisa mengendalikan pikirannya untuk melupakan Hyun-Ra meski hanya sejenak saja. Gadis itu terus menghias di kepalanya, menjadi pendorong Kyuhyun untuk berlatih dan menciptakan penampilan yang memukau supaya ia cepat pulang dan melihat gadis itu lagi, menjadi titik fokus saat Kyuhyun memejamkan mata dan wajah Hyun-Ra akan menjadi suatu ilusi yang dengan ajaib membuat Kyuhyun mampu mencapai apa yang seharusnya terasa sulit baginya.


Bayangan Hyun-Ra membantunya, tapi juga mengacaukannya.


Dan kemarin, tiba-tiba ibunya menelepon dengan kabar yang tidak diinginkannya, kabar buruk bagi Kyuhyun yang dalam seketika ia harap takkan pernah terjadi dalam dunianya.


"Kakakmu akan segera bertunangan, Kyu, kapan konsermu selesai dan kau pulang ke Korea? Kau harus ada di sini saat nanti acaranya dilangsungkan." Itu kata ibunya kemarin lalu, membuat Kyuhyun lemas seolah kekuatannya dicabut seketika.


Hyun-Ra akan bertunangan dengan Daehyun, dan mampukah ia menyaksikannya?


Karena sekarang ia sudah sadar dan yakin, bahwa ia memang telah mencintai kekasih kakaknya tanpa pernah sekalipun ia rencanakan.


Dan setelah ibunya, semalam justru Daehyun sendiri yang memintanya pulang.


"Lusa aku akan bertunangan dan kau harus pulang. Aku perlu bantuanmu dalam beberapa hal, dan besok kau sudah harus ada di rumah." 


Maka di sinilah Kyuhyun sekarang, di dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Korea, kembali melihat gadis impiannya untuk kemudian menyaksikan kepahitannya.


Kyuhyun akan datang ....


Meski semua terasa menghancurkannya.


Dan demi mendung yang sekarang sedang menyelimuti, ia tidak menyangka bahwa ia akan mengalami jatuh cinta hingga sesulit ini.


Ia ingin Hyun-Ra,


Jauh lebih besar dari apapun yang pernah dibayangkannya.


...▪▪▪...


Malam itu hujan turun dengan derasnya, tercurah dari langit membentuk garis putus-putus yang tiada henti. Hyun-Ra lelah setelah seharian mengikuti Daehyun membeli gaun untuk ia kenakan esok hari, hendak memejam dan terlelap, sebelum kemudian ia mendengar bunyi ketukan di pintu depan.


Niat Hyun-Ra untuk tidur tertunda, ia turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu, menemukan sosok Daehyun yang basah kuyup berdiri di teras rumahnya.


Pria itu tampak kacau, membuat Hyun-Ra mengernyit dan langsung diliputi perasaan khawatir.


"Dae, kenapa hujan-hujanan?"


Daehyun tidak menjawab, hingga Hyun-Ra maju lalu dengan cemas menyentuh wajahnya.


"Daehyun?" gumamnya lagi, dan pria itu langsung menggenggam tangannya, menyorotnya dengan pancaran membara.


"Apa kau lupa kalau wajah ini ada dua?" Pria itu tiba-tiba bersuara. "Apa kau lupa ... kalau wajah ini juga menginginkanmu?"


Apa kau lupa?


Hyun-Ra membeku dalam beberapa saat, mencerna, dan petir yang tidak mau berhenti kembali mengisi keheningan. Ia menatap keluar pagar, lalu menyadari bahwa yang terparkir di pekarangannya bukanlah mobil Daehyun, tetapi sebuah motor sport.


Karena Daehyun tidak pernah menaiki motor.


Dengan cepat Hyun-Ra melepas genggaman pria itu dan mundur syok.


"K—Kyuhyun?" Gumamnya memastikan.


"Ya, aku Kyuhyun, bukan Daehyun."


Benar, ini Kyuhyun, bukan Daehyun.


Dan kenapa akhir-akhir ini ia jadi sulit membedakan kedua pria kembar itu?


Hyun-Ra berbalik hendak masuk, namun Kyuhyun menangkap tangannya, menariknya dengan paksa dan membuatnya terdorong hingga terjatuh ke pelukan pria itu.


Dalam keadaan terkejut Hyun-Ra mencoba meronta, tetapi Kyuhyun semakin mengeratkan dekapannya.


"Please, peluk aku, Hyun-Ra, kali ini kau boleh menganggapku sebagai Daehyun. Peluk aku ...."


"Lepaskan aku, Kyu!" Hyun-Ra mendorong Kyuhyun sekuat tenaga hingga dekapan pria itu melonggar dan ia langsung melepaskan diri. "Cukup memperlakukanku seperti ini! Aku bukan perempuan seperti yang bisa kau perlakukan sesukamu!"


Kyuhyun terpaku.


Karena ia bahkan berlaku seperti ini hanya kepada Hyun-Ra.


"Aku mencintaimu," ungkap Kyuhyun.


Petir bergemuruh membuat Hyun-Ra terkejut. Namun ia hanya bisa membeku, seolah apa yang Kyuhyun ucapkan terasa lebih menggelegar dari kerasnya suara petir.


Aku mencintaimu


Dan akhirnya kata itu terlontar dari mulut Kyuhyun.


"Aku mencintaimu, Hyun-Ra, entah sejak kapan, atau mungkin sejak awal aku melihatmu. Setiap saat aku menanggungnya dan ini yang memicuku ingin selalu mendekatimu. Aku mencintaimu dan aku ingin kau bersamaku."


Hujan masih mengguyur dengan deras tetapi tidak meredupkan pengakuan itu untuk tercurah dengan lantang.


Kyuhyun mencintainya?


"Kau sadar apa yang telah kau katakan?" gumam Hyun-Ra dalam kemarahan, dalam rasa syoknya. "Apa kau sadar, Cho Kyuhyun, aku akan bertunangan dengan Daehyun dan kau tidak seharusnya mengatakan semua itu padaku?"


"Aku tahu. Tapi aku ingin kau memilihku, aku ingin kau bersamaku."


"Semua itu hanya harapan kosongmu yang tidak akan pernah terjadi!"


"Hentikan kata-kata itu, Cho Kyuhyun, hentikan mengucapkannya padaku!"


"Kalau begitu katakan padaku bagaimana cara melenyapkannya, katakan padaku. Aku mencintaimu dan aku tidak bisa mengendalikannya."


"Berikan perasaanmu pada perempuan lain!"


"Kau pikir ini barang yang bisa aku pindah-pindah?"


"Lebih baik sekarang kau pulang dan pergi dari sini!"


"Aku mencintaimu."


"Hentikan, Cho Kyuhyun!!"


"Aku mencintaimu!"


PLAK!!


Tangan Hyun-Ra melayang begitu saja menampar pipi Kyuhyun, menghentikan ucapan pria itu.


Kyuhyun tertegun, begitupun dengan Hyun-Ra yang tidak menduga dengan gerakan tangannya sendiri.


Hening.


Kesunyian menyelimuti keduanya dalam beberapa saat.


"Aku bilang berhenti, tapi kau tidak mau menghentikannya." Hyun-Ra terengah menahan kemarahan. "Aku bilang pulang, dan kau juga tidak mau menurutinya."


Kyuhyun tergelak miris, merasakan pipinya panas akibat tamparan Hyun-Ra.


"Apa kau takut dengan pengakuanku? Kau takut dengan perasaan cintaku?"


Hyun-Ra tidak menjawab, wajahnya merah padam.


"Atau kau takut akan merasakan hal yang sama padaku lalu aku akan merebutmu dari Kakakku? Setengah mati aku menanggung siksaan ini, Hyun-Ra, dan sekarang kau dengan kejamnya menyuruhku untuk berhenti?"


Hyun-Ra berbalik kasar hendak memasuki rumah namun lagi-lagi Kyuhyun tidak membiarkannya, menahan lengannya.


"Kau pikir bisa menghindar begitu saja setelah mengacaukan hati dan pikiranku?"


"Lepaskan aku, Cho Kyuhyun!!" Hyun-Ra menjerit, suaranya nyaris mengalahkan derasnya hujan. "Tidak ada gunanya kau menemuiku apalagi mengatakan semua itu! Tidak ada gunanya! Lebih baik kau pergi!" Hyun-Ra menyentak lengannya dengan keras kemudian berlari ke dalam rumah menghindari Kyuhyun, menutup pintunya rapat-rapat.


Ia tertegun di pintu, syok dengan apa yang terjadi.


Besok ia akan bertunangan, dan sekarang adik dari kekasihnya mengatakan kalau mencintainya.


Kenapa harus seperti ini?


Oh, Tuhan ... skenario apa yang Kau berikan ini?


Sementara Kyuhyun hanya bisa terpaku menatap pintu yang tertutup itu, dadanya sesak, dan rasanya begitu sakit di dalam hatinya.


Ia mendekat ke pintu.


"Aku akan mendapatkanmu dengan cara apapun, Hyun-Ra, dan aku tidak peduli sekalipun aku harus menentang semua orang. Aku akan mendapatkanmu dan kau akan jadi milikku."


Kyuhyun tahu Hyun-Ra ada di balik pintu itu, ia tahu Hyun-Ra pasti mendengar ucapannya.


Kyuhyun berbalik menuju motor sportnya, namun ia berhenti di tengah halaman lalu kemudian mendongak, menatap hujan yang turun dari langit dan membiarkan guyuran derasnya menerpa wajah tampannya.


Ternyata cinta rasanya semenyakitkan ini ....


Ternyata cinta itu ... sakitnya semenyesakkan ini.


Ia tidak pernah merasakannya dan ia tidak sanggup menanggungnya.


"AKU MENCINTAIMU, HYUN-RA, AKU MENCINTAIMU!!!" Kyuhyun berteriak di tengah dahsyatnya air hujan meluapkan perasaannya. "KENAPA KAU BEGITU KEJAM MEMBIARKANKU SEPERTI INI??? KENAPA??!!"


Hyun-Ra mengisak dan tubuhnya merosot di daun pintu, mendengar teriakan Kyuhyun membuat dadanya bagai ditusuk sembilu.


Tidak seharusnya Kyuhyun merasakan itu padanya, karena ia akan bersama Daehyun dan Kyuhyun akan menjadi iparnya ....


Tidak seharusnya Kyuhyun mengucapkan itu padanya ....


Petir kembali bergemuruh dan Hyun-Ra tersentak dalam isakannya, membuatnya terhenti dari tangisnya. Ia menegakkan tubuh, mencemaskan Kyuhyun yang masih berada di luar rumahnya.


Tanpa sadar Hyun-Ra bangkit dan membuka pintu begitu saja, melihat Kyuhyun jatuh berlutut dalam keadaan tertunduk, basah kuyup di bawah hujan. Ia mencelos, air mata tersisa di pipi cantiknya tapi ia membiarkannya. Buru-buru Hyun-Ra mengambil payung lalu mendekati Kyuhyun yang tak bergeming, memayunginya dari hujan yang tak berhenti mengguyur bumi.


Mata Kyuhyun membuka merasakan air hujan tak lagi menerpa tubuhnya. Ia mendongak, menatap Hyun-Ra.


"Kau bisa sakit kalau terus berada di sini." Hyun-Ra berkata dingin, tapi Kyuhyun tahu kekhawatiran itu nyata dan tidak dibuat-buat. Hyun-Ra mencemaskannya.


Betapa senangnya Kyuhyun.


Ia bangkit dengan tatapan penuh puja, dengan perasaan yang terselubung luka, dan gerakannya begitu tiba-tiba hingga Hyun-Ra terkejut dan payung itu terlepas dari tangannya.


Kyuhyun memeluknya.


"Kepalaku pusing." Pria itu bergumam lirih dan semakin meningkatkan kecemasan Hyun-Ra. Tubuh Kyuhyun benar-benar basah dan dia bisa sakit.


Hyun-Ra melepas pelukan Kyuhyun lalu meraih payung yang terjatuh, kembali memayungi pria tinggi di hadapannya.


"Aku akan membuatkanmu minuman hangat."