
...▪▪▪ ...
Pada akhirnya hari itu Hyun-Ra memutuskan tidak masuk kerja, ia kacau, dan kau bisa bayangkan bagaimana perasaan seorang gadis yang baru saja diperkosa, terlebih itu oleh calon adik iparnya.
Rasanya sakit,
Di badan dan juga hatinya.
Rasanya Hyun-Ra ingin pergi dan mengasingkan diri.
Rasanya ia ingin berlari meninggalkan keterpurukan ini.
Kenapa semua harus terjadi?
Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, Daehyun memanggil dan seketika Hyun-Ra ingin menangis lagi. Namun sekuat tenaga ia tahan atau Daehyun akan curiga lalu mencemaskannya. Ia tidak bisa menceritakan apa yang dialaminya pada Daehyun, ia khawatir, takut kalau semua akan berakibat pertikaian, lalu ikatan Daehyun dan Kyuhyun hancur karena dirinya.
Mungkin ... separah apapun Kyuhyun memperlakukannya, ia tidak akan bisa mengadukannya pada Daehyun.
Hyun-Ra mengangkat panggilan itu.
"H—halo?"
"Sayang, kau di mana? Aku mengetuk pintu depan tapi kau tidak ada keluar."
Hyun-Ra memejam. "Kau masuk saja, Dae, pintunya tidak dikunci."
"Kau belum siap?"
"Hari ini aku ... tidak masuk kerja."
"Kenapa?"
"Tidak enak badan ...."
"Kau sakit?"
"Tidak, hanya merasa sedikit lelah. Mungkin aku perlu istirahat seharian."
Terdengar bunyi ceklek di seberang sana dan sepertinya Daehyun sudah masuk ke dalam rumah. Hyun-Ra tetap bergelung di balik selimut.
Sambungan terputus, lalu pintu kamarnya terbuka menampakkan Daehyun yang begitu tampan sudah rapi dengan jas kantornya.
"Sayang?" Kerutan dahi Daehyun langsung terlihat cemas. Ia mendekat, duduk di pinggir ranjang dan menyentuh kening Hyun-Ra. "Aku akan membawamu ke Dokter sekarang."
"Tidak, Dae, aku baik-baik saja, tidak perlu Dokter."
"Kalau begitu aku akan merawatmu."
"Jangan, kau harus ke kantor."
"Kau lebih penting bagiku. Aku tidak akan ke kantor, aku akan di sini."
"Dae, sungguh, aku tidak apa-apa dan aku akan segera membaik setelah tidur seharian."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu." Daehyun bangkit dan menyingkap selimut Hyun-Ra. Gadis itu berjengit, seolah jika selimut itu diangkat, Daehyun akan bisa mengetahui apa yang telah dialaminya. Hyun-Ra menarik selimutnya lagi hingga ke leher. "A—aku dingin ...."
"Hyun-Ra, aku benar-benar khawatir. Kalau kau tidak bisa bangun, aku akan panggil Dokter kemari."
"Jangan!" Hyun-Ra menahan lengan Daehyun ketika pria itu hendak berbalik. "Aku tidak ingin Dokter, please, aku tidak akan membantah kalau kau ingin di sini menemaniku, tapi jangan ada Dokter."
Daehyun merunduk, tangannya mengusap pipi Hyun-Ra. "Sakitmu tidak akan membaik kalau kau selalu menolak Dokter."
"Aku akan membaik, percaya padaku, aku benar-benar hanya butuh tidur yang cukup."
"Hyun-Ra— "
"Please ...."
Daehyun mendesah, mencoba mengalah. Ia tahu Hyun-Ra memang penakut terhadap jarum suntik, dan bahkan kekasihnya itu akan lebih memilih sembuh lama daripada harus merasakan tusukan jarum dokter.
"Baiklah," putus Daehyun akhirnya. "Aku akan menurutimu." Ia membuka jas dan kembali duduk di dekat kekasihnya. "Badanmu tidak panas. Apa kau sudah makan?"
Hyun-Ra menggeleng.
"Dan apa kau akan menolak obat juga?"
Hyun-Ra kembali menggeleng. "Aku ... akan minum obat."
Tapi obat apa?
"Kalau begitu tunggu di sini, aku akan keluar sebentar mencari obat dan makanan."
"Maaf aku jadi merepotkanmu."
"Aku akan marah kalau kau mengatakan hal seperti itu lagi."
"Maaf ...."
"Tidurlah dulu, aku tidak akan lama."
Hyun-Ra mengangguk.
Daehyun beranjak keluar kamar dan pergi mencari kebutuhan Hyun-Ra.
Sepeninggal Daehyun, Hyun-Ra termenung dengan perasaan sedih. Daehyun begitu baik dan sekarang ia semakin merasa tidak pantas menjadi pendampingnya. Mungkin Daehyun bisa menerima dirinya yang rendah dan hanya kelas bawah, tapi tentu akan sulit menerimanya jika tahu ia sudah tidak perawan.
Terlebih itu karena perbuatan adik kembarnya sendiri.
Tanpa terasa air mata Hyun-Ra mengalir lagi, mengingat bagaimana Kyuhyun merentangkan kedua pahanya dengan memaksa, lalu menerobos masuk dengan kejamnya.
Ia tidak akan pernah memaafkan Kyuhyun, sampai kapanpun!!
...▪▪▪...
Sudah lewat tengah hari ketika Hyun-Ra terbangun dari tidurnya dan langsung mencari Daehyun. Ia menemukan pria itu sedang sibuk di ruang tamu dengan beberapa berkas di tangannya, bergelut dengan laporan-laporan yang harus ditanda tanganinya.
Hyun-Ra mematung mengamati Daehyun. Kekasihnya itu begitu baik sampai harus membawa semua kerjaannya demi bisa menemaninya di sini, menyuapinya saat tadi ia perlu makan, dan melayaninya seperti suami yang merawat istrinya. Ia merasa sudah merepotkan Daehyun dan menjadi bebannya.
Hyun-Ra berjalan ke dapur untuk membuatkan Daehyun kopi karena kekasihnya itu memang suka kopi.
Hyun-Ra tersenyum sedih, bahkan hal sekecil ini saja Daehyun begitu memikirkan. Karena memang hari ini Hyun-Ra berencana berbelanja untuk mengisi kulkas sebelum kejadian buruk itu menimpanya.
Hyun-Ra kembali ke ruang tamu dengan segelas kopi dan camilan untuk menemani Daehyun menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu mendongak ketika menyadari kehadiran Hyun-Ra.
"Sayang, sudah bangun? Bagaimana tubuhmu sekarang?"
Bagaimana tubuhku sekarang?
Hyun-Ra menelan ludah.
Tubuhku sudah kotor, Dae, tubuhku hancur.
Ia meletakkan nampan yang dibawanya dan berusaha memberikan senyum terbaiknya.
"Aku sudah lebih baik, bahkan aku sudah bisa memasakkanmu untuk makan siang."
"Tidak, tidak." Daehyun menggeleng tidak setuju. "Kau tidak boleh melakukan apapun hari ini, kau harus istirahat. Aku bisa memesan makanan di restoran untuk kita berdua, dan kau cukup temani aku saja."
Awalnya Hyun-Ra hendak membantah mengingat dirinya masih cukup kuat untuk melayani Daehyun makan, tapi ia berubah cemas melihat kekasihnya itu mengernyit pegal sambil bersandar di kepala sofa.
Ia duduk di samping Daehyun, membiarkan pria itu melingkarkan lengan di pinggangnya.
"Berhentilah dulu, jangan memforsir dirimu seperti ini. Kau bisa jatuh sakit."
"Aku lebih kuat darimu."
"Tapi aku khawatir kau kelelahan."
"Sebenarnya semalam aku kurang tidur."
"Kenapa?"
"Eomma mencari Kyuhyun dan membangunkanku. Kyuhyun tidak ada di kamarnya dan entah dia menginap di mana. Selalu saja anak itu membuat orang rumah khawatir."
Hyun-Ra mengarahkan pandangannya ke sisi lain saat nama Kyuhyun disebut, tidak ingin mendengar apapun tentang pria brengsek itu.
"Aku ada sesuatu untukmu." Tiba-tiba Daehyun merogoh sesuatu dari saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak hitam lalu membukanya di depan Hyun-Ra.
Hyun-Ra mengerjap.
"Kalung?"
"Ya, kalung, aku sengaja memesannya untukmu dan kuharap kau akan suka."
Hyun-Ra mengamati kalung itu, bvlgari yang cantik dan mewah. Meski tidak pernah memilikinya, tapi Hyun-Ra tahu jenis kalung itu. Perhiasan yang dikenal dengan harganya yang cukup fantastis.
Seketika Hyun-Ra menggeleng keras-keras.
Ia tidak bisa menerima barang mewah itu, ia buruk dan kotor, dan ia tidak pantas menerima pemberian itu.
"Kalung ini sangat mahal dan aku tidak bisa menerimanya."
"Hyun-Ra ...." raut Daehyun tampak kecewa. "Aku akan membuangnya kalau kau tidak mau menerimanya."
"Tapi, Dae, aku— "
"Please," Daehyun memotong. "Atau kau tidak suka dengan model kalungnya? Ini bisa ditukar dan aku akan memesankan sesuai yang kau suka."
"Bukan karena itu. Kalung ini begitu cantik dan aku sangat suka. Tapi ... aku tidak pantas menerimanya."
"Kenapa?"
"Karena aku ...." Hyun-Ra tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia menunduk.
Daehyun mengangkat dagunya. "Kurasa kita harus cepat menikah supaya kau tidak lagi berpikir kalau kita berbeda. Sebentar lagi kita akan melangsungkan pertunangan." Daehyun meraih kalung dalam kotak itu lalu membuka kaitannya, memasangnya di leher Hyun-Ra dan tidak ingin mendengar apapun bentuk penolakan gadis itu.
"Dae ...," lirih Hyun-Ra dengan lemah.
"Kau cantik." Daehyun berbisik, mencondongkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Hyun-Ra. "Kalung ini sangat cocok berada di lehermu. Kau cantik."
Hyun-Ra menunduk menyentuh kalung itu, meraba permukaannya.
"Terima kasih," ucapnya dengan tulus. "Tapi lain kali kau harus bilang dulu jika ingin membelikanku sesuatu."
"Baiklah, lain kali aku akan meminta izinmu, meskipun kurasa itu sama sekali tidak perlu."
"Dae!" tegur Hyun-Ra. "Jangan selalu menghamburkan uangmu!"
"Lalu aku harus menggunakan uangku untuk apa lagi? Aku hanya ingin membahagiakanmu."
Meskipun aku sekarang sudah ternoda?
Batin Hyun-Ra merintih.
Meski aku tak lagi sebaik yang kau kira?
Dan andai saja kau tahu ... apa kau masih akan bersikap semanis ini padaku?
Hyun-Ra terkejut ketika tiba-tiba Daehyun menariknya untuk tenggelam di pelukannya, membuatnya diam pasrah, walau jauh di lubuk hatinya ia menangis penuh kepedihan.
Andai saja ia tidak bodoh dengan mengira Kyuhyun adalah Daehyun, mungkin kejadian semalam tidak akan pernah terjadi ....
Dan andai saja Kyuhyun tidak sebrengsek itu ....
Oh Tuhan ....
Hyun-Ra jadi teringat pada Daehyun yang pernah liar dan penuh sikap sensual padanya, padahal Daehyun yang ia tahu selalu bertingkah sopan dan tidak pernah melakukan sesuatu yang di luar batas. Daehyun terkesan lebih menjaga dan merawatnya, bukan justru merusaknya.
Apakah yang ia temui beberapa hari lalu itu adalah Kyuhyun? Pria brengsek itu menyamar sebagai Daehyun memang dengan niat untuk menjerumuskannya?
Jadi kalau begitu, bukan hanya kemarin saja Kyuhyun bertingkah menjadi Daehyun dan menyamar di hadapannya?
Emosi Hyun-Ra langsung memuncak hingga ke ubun-ubun, dan sekuat tenaga ia harus meredamnya.
Cho Kyuhyun benar-benar lelaki biadap!