TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 17



...▪▪▪...


Malam itu Kyuhyun tidak bisa tidur, tidak tenang memikirkan Hyun-Ra dan entah bagaimana ia merasa cemas dengan keadaan gadis itu. Karena setelah perkosaan yang ia lakukan, ia jadi takut terjadi sesuatu pada Hyun-Ra.


Kyuhyun mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan gelisah, beberapa kali mengecek jam tangannya sambil berpikir apakah harus pergi ke rumah gadis itu untuk memastikan keadaannya atau tidak. Dan bahkan kakaknya saja belum pulang ke rumah semenjak pagi tadi berangkat ke kantor. Apa Daehyun sedang berada di rumah Hyun-Ra? Tapi kenapa sampai selarut ini? Apakah Hyun-Ra baik-baik saja?


Tanpa tahan Kyuhyun meraih jaket kulit dan kunci mobilnya, memutuskan untuk mendatangi Hyun-Ra dan mulai tidak peduli kalaupun gadis itu akan mengadukan kejadian tadi pada kakaknya.


Ia akan menghadapi resiko dari perbuatannya.


Ketika membuka pintu utama, Kyuhyun langsung berhadapan dengan kakaknya yang baru pulang, menghentikan langkah Kyuhyun yang hendak keluar.


"Kyu?" Daehyun memicing. "Kau mau kemana malam-malam begini?"


Kyuhyun mengernyit, kenapa Daehyun tidak menghajarnya? Apakah berarti Hyun-Ra tidak mengatakannya?


"Aku bosan di rumah, ingin keluar sebentar."


"Tapi ini sudah larut, lebih baik kau kembali ke kamar dan istirahat."


"Dan kau sendiri dari mana saja baru pulang?"


"Aku menemani Hyun-Ra dan tidak ke kantor, Hyun-Ra tidak enak badan jadi aku mengkhawatirkannya."


Jantung Kyuhyun langsung mencelos. "Dia sakit?"


"Tidak. Dia bilang hanya kurang fit dan butuh istirahat."


"Apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu?"


"Sesuatu apa?"


Berarti tidak


"Maksudku ... kenapa dia sampai seperti itu?"


"Mungkin karena kelelahan bekerja. Aku bahkan sudah menyuruhnya berhenti saja tapi dia menolaknya."


Kyuhyun mengangguk, sedikit banyak ia sudah mengerti bagaimana sifat Hyun-Ra.


"Dan sekarang kenapa kau tinggalkan dia sendirian?"


"Dia yang menyuruhku, dia bilang sudah baik-baik saja dan memintaku istirahat. Besok pagi aku akan kembali ke sana."


Berarti ini kesempatannya menemui Hyun-Ra.


Kyuhyun merasa lega karena ada celah.


"Kalau begitu kau istirahatlah," ucap Kyuhyun.


"Kau akan tetap pergi?"


"Ya, tidak akan lama. Aku hanya butuh udara segar."


"Jangan macam-macam di luar sana." Daehyun memperingatkan. "Jangan main-main dengan perempuan atau wajahmu itu akan terus terpampang di semua media."


"Aku tahu. Dan aku sedang tidak ingin bermain-main." Kyuhyun melanjutkan langkahnya menuruni teras namun kemudian berbalik lagi. "Katakan pada Appa dan Eomma kalau mereka mencariku."


"Jangan lama-lama."


"Mungkin hanya sampai pagi."


"Kyu!"


"Ya, ya, ya."


Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya dan langsung melesat dari sana.


Pikiran Kyuhyun mulai dipenuhi wajah Hyun-Ra, apalagi saat Daehyun mengatakan kalau gadis itu sedang tidak enak badan, Kyuhyun merasakan suatu kecemasan yang begitu dalam. Ia tahu setelah kejadian itu Hyun-Ra pasti tidak akan baik-baik saja.


Apakah tubuh gadis itu merasa sakit bekas sentuhannya kemarin?


Kyuhyun menginjak pedal gas dan mengebut di jalanan.


Dan ketika sampai di rumah Hyun-Ra, lampu di dalamnya sudah gelap. Kyuhyun memarkir mobil dengan pelan,  berdiri di depan pintu rumah itu dan merasa ragu untuk mengetuknya.


Apakah Hyun-Ra sudah tidur?


Namun tetap Kyuhyun tidak bisa menahan, ia butuh melihat keadaan Hyun-Ra.


Beberapa kali Kyuhyun mengetuk, akhirnya ia mendesah lega saat lampu di ruang tamu menyala dan pintu kemudian terbuka. Gadis itu tampak terkejut dengan kedatangannya, bergegas menutup pintunya kembali sebelum kemudian Kyuhyun bergerak cepat menahannya.


"Hyun-Ra, aku mohon jangan tutup pintunya."


"Pergi kau dari sini!"


"Tolong beri aku kesempatan."


"Aku benci melihat laki-laki biadap sepertimu!"


"Aku tahu." Kyuhyun semakin menguatkan tekanannya saat Hyun-Ra terus mendorong. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, biarkan aku masuk, aku janji tidak akan macam-macam padamu."


"Pergi!!"


"Aku mohon, Hyun-Ra ...."


"Pergi, Cho Kyuhyun!!"


"Tidak." Kyuhyun mulai tidak sabar harus saling dorong seperti itu dan ia mengeraskan kekuatannya. Ia mendorong pintu sambil memperhitungkan agar tekanannya tidak membuat Hyun-Ra terjatuh.


Berhasil. Gadis itu tentu saja kalah dan pintu akhirnya terbuka.


Hyun-Ra merah padam karena marah.


"Mau apa kau kemari?!!"


"Aku mengkhawatirkanmu."


"Tidak usah sok baik! Kau sudah menghancurkan hidupku, Cho Kyuhyun, dan aku tidak menyangka kau sejahat itu!!"


"Karena kau tidak tahu apa yang selama ini aku rasakan ...."


"Aku tidak peduli!"


"Hyun-Ra ...."


"Lepas!" Hyun-Ra menepis tangan Kyuhyun ketika pria itu meraih lengannya. "Jangan sedikitpun menyentuhku lagi!" 


"Maafkan semua perbuatanku."


"Gampang sekali kau mengatakan maaf? Apa kau pikir kata maafmu itu akan memperbaiki semuanya? Tidak, Cho Kyuhyun! Kau sudah merusakku!" Air mata Hyun-Ra menggenang, hingga tanpa bisa dicegah mengalir begitu saja membasahi pipi cantiknya. "Apa salahku padamu? Kenapa kau berbuat sekejam itu padaku? Kenapa kau memperlakukanku seperti perempuan lain di luar sana yang bisa kau perlakukan sesukamu?"


Hanya kau yang membuatku jadi seperti itu, Hyun-Ra, tidak dengan perempuan lain ....


"Aku tahu aku salah, dan aku bersedia menanggung resiko apapun. Tapi aku mohon maafkan aku, atau aku akan bersimpuh di kakimu kalau itu yang kau inginkan." Kyuhyun mengucapkan dengan setulus hati dan entah bagaimana ketulusan itu tersampaikan kepada Hyun-Ra.


Gadis itu diam, namun kemudian ia berpaling, tidak ingin menatap Kyuhyun.


"Maafkan aku," ulang Kyuhyun, ia mencoba meraih Hyun-Ra namun gadis itu kembali menghindar, tidak ingin disentuhnya. "Apa kau tidak bisa memaafkanku? Tidak ada sedikitpun pintu maaf untukku? Apa yang harus aku lakukan?"


Kali ini Hyun-Ra menatap dengan pancaran yang penuh dengan bara kebencian.


"Pergi dari sini dan jangan pernah tunjukkan dirimu lagi di depanku, itu yang harus kau lakukan."


Kyuhyun terpaku sedih, hendak membantah tetapi ia mengurungkan niatnya.


Dan bagaimana ia bisa menjauhi gadis ini?


"Aku sudah berbaik hati tidak mengadukan semua perbuatan bejatmu pada Daehyun dan keluargamu. Jadi tolong, penuhi keinginanku dan biarkan hidupku tenang."


"Bahkan setelah apa yang terjadi di antara kita, kau tetap menyuruhku pergi?"


"Ya. Aku akan berusaha menganggap kalau semua itu tidak pernah terjadi."


"Dan apa kau pikir aku bisa beranggapan seperti itu?"


"Itu bukan urusanku. Aku hanya ingin kau pergi dari hidupku. Aku tidak mau melihatmu lagi."


Kyuhyun tertegun.


"Apakah dengan begitu kau akan memaafkanku?"


"Ya."


Aku tidak mau melihatmu lagi


Kyuhyun mengangguk pedih, entah bagaimana ia jadi lemah sekarang. Ia terus menatap Hyun-Ra meski gadis itu kembali berpaling dan tidak mau memandangnya.


"Tapi sebelumnya, bolehkah aku minta sesuatu?"


"Katakan apa maumu lalu pergi dari sini."


"Kau akan menurutinya?"


"Katakan saja!"


"Cium aku."


Hyun-Ra menatap cepat. "Apa?"


"Cium aku."


"Kau sudah gila?!!"


"Hanya itu yang aku inginkan, lalu aku akan pergi seperti keinginanmu."


"Aku tidak akan menuruti keinginanmu!"


"Berarti aku juga tidak perlu menuruti keinginanmu."


Hyun-Ra berbalik marah namun Kyuhyun mencekal lengannya.


"Jangan sentuh aku!" Hyun-Ra menghentak kasar tangan Kyuhyun. "Dan aku tidak akan memenuhi keinginan gilamu!"


"Kalau begitu aku akan terus menampakkan wajahku di hadapanmu, kapanpun, sesuka hatiku."


Dan apakah Kyuhyun sedang ingin mempermainkan emosinya?


Kemana kata maaf yang tadi pria itu mohon-mohon darinya?


"Kau benar-benar lelaki brengsek, Cho Kyuhyun," desis Hyun-Ra dalam kemarahannya. "Kau benar-benar tidak bermoral."


"Ya, aku tahu itu." Dan aku jadi begini karena gadis menggairahkan sepertimu. "Cium aku, hanya itu, dan aku tidak akan mengganggumu lagi."


Hyun-Ra terdiam dengan merah padam, namun kali ini ia mulai berpikir. Ia tidak mau Kyuhyun terus mendatanginya dan pada akhirnya Daehyun akan memergokinya. Ia tidak ingin menyakiti Daehyun dan membuatnya kecewa.


Meski mungkin kekecewaan Daehyun tidak akan dapat dihindari saat nanti kekasihnya itu tahu ....


Hyun-Ra bimbang, putus asa, dan Kyuhyun tahu Hyun-Ra mulai goyah untuk sebentar lagi memberikan apa yang diinginkannya.


Kyuhyun mencoba sekali lagi meraih Hyun-Ra, menyentuh lengannya. Dan ketika tidak ada penolakan dari gadis itu, Kyuhyun beralih ke pinggang Hyun-Ra menariknya mendekat. Mungkin Hyun-Ra tidak akan melakukannya kalau bukan dirinya yang memulai lebih dulu.


Dengan berani Kyuhyun mendekap pinggang Hyun-Ra, menyentuh dagunya dan mendongakkannya. Melihat bibir indah itu dari jarak sedekat ini, membuat gejolak di dalam dirinya jadi tak terkendali. Ia merunduk perlahan seolah memberi kesempatan untuk Hyun-Ra menolak, namun gadis itu hanya diam membeku tanpa bergerak sedikitpun. Kyuhyun tahu Hyun-Ra mengizinkannya.


Dengan lembut Kyuhyun menyentuhkan bibirnya, berhati-hati, seperti takut melakukan kesalahan lagi dan gadis itu akan melepas pagutan ini. Bibir itu selalu menggugah seleranya, membuatnya ingin terus menyentuhnya, dan bahkan rasanya jauh lebih nikmat dari tampilannya.


Sentuhan Kyuhyun berubah jadi ******* yang menghanyutkan, tangannya terangkat ke leher gadis itu dan menekannya dengan perasaan, menempelkan tubuhnya dan semakin memperdalam ciuman. Mata Hyun-Ra tiba-tiba terpejam, mulai terbawa arus ciuman Kyuhyun dan itu memicu Kyuhyun semakin membuat tautannya lebih membara tanpa mengurangi kelembutan. Ia ingin Hyun-Ra tidak pernah melupakan ciuman kali ini, ia ingin Hyun-Ra terus mengingatnya dan bahkan kalau perlu, ia ingin agar Hyun-Ra merindukan ciuman ini hingga nanti akan menyiksa kewarasannya.


Ia ingin Hyun-Ra mengalami apa yang selama ini dirasakannya.


Kyuhyun menelusupkan lidahnya ketika bibir Hyun-Ra terbuka memberi celah, gadis itu seperti terkejut dan membuka mata tiba-tiba, namun tangan Kyuhyun terangkat mengusap mata Hyun-Ra agar kembali pada pejamannya. Kyuhyun menjelajahi setiap sudut mulut Hyun-Ra, mencari-cari lidahnya, membelitnya dengan penuh kelihaian saat ia berhasil menemukannya.


Ciuman Kyuhyun benar-benar membuat Hyun-Ra terhanyut hingga ia terlena dan gelagapan dalam menerimanya.


"Terima kasih," bisik Kyuhyun ketika akhirnya ia melepas pagutannya. Hyun-Ra hanya menunduk dengan napas terengah, saat ciuman itu usai ia baru tersadar kalau ia begitu menikmatinya. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini."


"Dan sekarang kau harus penuhi ucapanmu." Hyun-Ra bergeser mundur menjauh dari Kyuhyun. "Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku."


Kyuhyun tertegun pedih. "Kau tetap ingin aku pergi?"


"Ya. Aku ingin kau jauh dari hidupku. Dan karena kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, jadi sekarang tolong pergi tinggalkan aku. Jangan lagi ganggu kehidupanku."


Kyuhyun tertegun, perasaan dalam hatinya terasa kacau.


Kenapa rasanya begitu berat? Ada rasa sesak yang melilitnya begitu kuat. Tapi Kyuhyun sadar ia harus menepati janjinya.


"Tolong pergi dari sini," gumam Hyun-Ra sekali lagi, lirih, dan ia masih menolak menatap wajah sempurna itu. "Pergi dan jangan pernah datang lagi, aku mohon."


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu atau menunjukkan diriku di hadapanmu lagi." Kyuhyun terus menyorot wajah berpaling gadis itu. "Mungkin bagimu apa yang terjadi kemarin adalah sebuah bencana, tapi bagiku, itu adalah hal yang paling membahagiakan dan aku tidak akan pernah melupakannya. Aku tetap tidak akan menarik kata-kataku, sampai kapanpun, kalau terjadi sesuatu denganmu dan kau membutuhkanku, kau tahu kemana harus mencariku. Aku akan menunggumu."


Dan apa maksud Kyuhyun mengatakan semua itu?


Hyun-Ra masih bertahan di posisinya dan ia tidak ingin menanyakan apapun.


Hingga saat sosok sempurna itu mulai pergi dan hilang dari pandangannya, Hyun-Ra jatuh terduduk di sofa dan ia langsung mengisak, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ada apa dengan dirinya kini?


Kenapa ada debaran sakit yang terasa di dadanya?


Kenapa ia merasa ingin mengejar Kyuhyun dan mengatakan kalau ia memaafkannya?