TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 22



...▪▪▪...


Hyun-Ra meletakkan tas pestanya dan menanggalkan gaun anggunnya dengan benak yang terus teringat kepada Kyuhyun. Sikap dan kata-kata pria itu di lorong kantor tadi benar-benar sudah mengganggunya.


Kalau begitu angkat tanganmu


Sentuh dadaku


Kau tahu artinya apa?


Hyun-Ra menatap telapak tangannya dan masih bisa dirasanya detakan jantung Kyuhyun yang begitu kencang.


Dan memangnya apa arti itu semua?


Hyun-Ra mencoba melupakan ucapan Kyuhyun yang terus terngiang lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hingga ia keluar dari sana dan beranjak tidur, ingatan tentang Kyuhyun masih tak mau lepas dari pikirannya.


Kenapa ia terus menerus memikirkan pria itu?


Perhatian Hyun-Ra mulai teralih saat mendengar ponselnya bergetar sedari tadi, sedari masih di pesta, dan Hyun-Ra tidak sempat untuk mengeceknya. Ia meraih tasnya dan mencari benda itu, menemukan ponselnya penuh pesan-pesan dari temannya bahkan dengan berpuluh-puluh panggilan.


Dan apalagi yang akan mereka tanyakan kalau bukan soal kejadian di pesta tadi? Tentang ia yang berpacaran dengan Daehyun dan akan segera bertunangan. Bahkan notifikasi grup chat teman-teman kantor yang biasanya sepi dan mengalir sekadarnya, kini langsung jebol dengan bahasan yang Hyun-Ra yakini pasti tentang dirinya.


Ia menggigit bibirnya dengan raut cemas, tidak berani membuka semua pesan itu dan memilih untuk mengabaikannya. Ia khawatir membayangkan reaksi semua teman-temannya, dan terutama tanggapan semua teman perempuan Daehyun atau bahkan mantan-mantan pacarnya. Ia takut akan membuat Daehyun menjadi bahan tertawaan karena mempunyai pacar seorang perempuan biasa-biasa, perempuan kelas bawah yang tak ada menarik-menariknya.


Hyun-Ra terkejut saat ponselnya tiba-tiba bergetar keras di tangannya.


Seo Jin Calling ....


Dan ia menghela napas sebelum kemudian mengangkat panggilan itu.


"HYUN-RA!! KAU TERNYATA BERSAMA TUAN DAEHYUN??? KAU BOHONG PADAKU, YA?? KEMARIN KAU SELALU BILANG TIDAK, PADAHAL AKU SUDAH CURIGA!!" Hyun-Ra menjauhkan ponselnya saat pekikan histeris Seo Jin nyaris merusak gendang telinganya. "KENAPA KAU TIDAK MAU JUJUR?? AKU BENCI PADAMU!!"


Hyun-Ra meringis.


"Maaf, Seo Jin, bukan maksudku seperti itu ...." Hyun-Ra jadi tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. "Tapi sekarang kau sudah mengetahuinya, jadi aku tidak perlu- "


"Itu karena Tuan Besar Cho yang mengumumkannya! Kalau tidak, kau pasti tetap tidak mau mengaku!! Kau menyebalkan!!"


"Maaf ...." Hyun-Ra mengucapkannya dengan suara bujuk. "Jangan marah, Seo Jin ...."


"Ya sudahlah, aku maafkan! Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan kau bersama Tuan Daehyun? Pantas saja kau tidak pernah mau jika aku ajak berangkat atau pulang bersama, pasti kau bersama Tuan Daehyun 'kan?"


Hyun-Ra menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"I-iya ... Tuan Daehyun tidak mengizinkanku kalau tidak bersamanya."


"So sweet sekaliiii ..., pasti kau bahagia bisa menjadi kekasihnya." Hyun-Ra bahkan bisa membayangkan Seo Jin mengucapkan itu dengan wajah menerawang penuh khayalan. "Dan sekalipun aku sebal denganmu, tapi aku ikut senang dengan kebahagiaanmu. Apa nanti aku boleh datang ke acara pertunanganmu?"


"Kau akan menjadi orang pertama yang aku harap kedatangannya."


"Berarti, kau tetap menjadi temanku 'kan?"


"Kenapa bertanya begitu?"


"Karena sekarang jelas-jelas kita sudah berbeda. Kau akan bertunangan dengan bos dan menjadi istrinya, aku khawatir saja kalau kau tidak minat lagi berteman dengan orang sepertiku."


"Seo Jin, bicara apa kau! Kau percaya kalau aku akan seperti itu?"


"Tidak, sih ...."


"Sampai kapanpun kau tetap sahabatku."


"Meskipun nanti aku sering minta sarapan padamu?"


Hyun-Ra mengernyit geli. "Itu tidak akan berpengaruh. Memangnya mau bagaimana lagi? Kau 'kan memang kucing rakus yang selalu membuatku bangkrut."


"Jangan sebut aku kucing! Tidak ada kucing rakus seseksi aku!"


Hyun-Ra cekikikan, membayangkan Seo Jin mengembungkan pipinya dengan kesal.


"Tapi, tapi ...." Suara Seo Jin terdengar lagi. "Apa gaun cantikmu itu dibelikan Tuan Daehyun?"


Bagaimana perasaanmu saat Tuan Daehyun membawamu pada keluarganya?


Apa dia romantis saat sedang berdua?


Apa dia sudah menciummu?


Atau bahkan kalian sudah melakukan hubungan ekhem-ekhem?


Berarti kau sering bertemu dengan Tuan Kyuhyun dan akan menjadi iparnya, dong?


Astaga, Hyun-Ra, kau beruntung sekali ....


Bagaimana kalau kau jodohkan aku dengan Tuan Kyuhyun? Aku suka padanya! Hahaha


Aku suka Tuan Kyuhyun!


Hyun-Ra meletakkan ponselnya setelah memutus sambungan dengan Seo Jin. Berondongan pertanyaan temannya itu dengan seketika mengganggu pikirannya.


Ya, ia sudah melakukan ekhem-ekhem seperti yang dimaksud Seo Jin, namun mirisnya itu bukan dengan Daehyun, tapi dengan Kyuhyun. Dan ini bukan atas dasar kesengajaannya, Kyuhyun yang mengelabuinya dengan menyamar jadi Daehyun. Mereka begitu identik, sehingga saat Kyuhyun menjadikan tatanan rambutnya seperti Daehyun, ia tidak bisa membedakannya.


Dan entah bagaimana ia juga sedikit tidak suka saat Seo Jin mengatakan ingin dijodohkan dengan Kyuhyun.


Ia tidak suka.


Ada apa dengan dirinya?


Hyun-Ra berbaring meringkuk di kasurnya, menarik selimut dan memeluk gulingnya.


Aku tidak pernah berpikir bahwa aku dan kembaranku akan memiliki kesamaan selera dalam hal perempuan. Karena saat aku berjabat tangan denganmu-pacar Daehyun-tiba-tiba ada suatu dorongan ingin memiliki tubuhmu, menidurimu. Dan ternyata setelah semua itu tercapai, aku justru terdorong untuk memiliki hatimu, merebutmu. Apa menurutmu aku begitu keterlaluan?


Dan pria buruk inilah yang nanti akan menjadi belahan jiwamu, bukan kembarannya.


Hyun-Ra terkejut ketika getaran kuat ponselnya menyentaknya dari menungannya. Ada yang kembali memanggil, namun kali ini Hyun-Ra tidak tahu siapa dan nomornya terasa asing. Ia ragu untuk mengangkat, tapi tangannya memencet begitu saja dan tiba-tiba ponsel itu sudah menempel di telinganya.


"Halo?" Hyun-Ra menyapa dengan was-was.


Hening.


Orang di seberang tidak segera menjawabnya.


"Halo? Ini siapa?"


"Kau belum tidur?" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki.


Hyun-Ra mulai waspada. "Ini siapa?"


"Kyuhyun."


Kyuhyun


Dada Hyun-Ra langsung berdebar. Dari mana Kyuhyun tahu nomor ponselnya?


"Mau apa kau menghubungiku?"


"Hanya ingin menemanimu tidur."


"Aku tidak butuh ditemani!"


"Jangan matikan sambungannya atau aku akan mendatangimu sekarang juga."


Niat Hyun-Ra untuk memencet tombol merah langsung terhenti mendengar ucapan Kyuhyun, seolah pria itu tahu apa yang akan ia lakukan.


Emosi Hyun-Ra sedikit naik.


"Aku mohon untuk kali ini saja kau tidak perlu marah-marah." Kyuhyun berucap lagi. "Aku mohon untuk kali ini ... kau biarkan sambungannya tetap menyala, sampai aku sendiri yang mematikannya."


"Tapi kau m- "


"Aku hanya ingin mendengar desah napasmu saat lelap, tidak lebih. Tolong jangan kau putus sambungannya."


Hanya kali ini saja


Hyun-Ra akan berusaha meredam kemarahannya ... hanya untuk kali ini saja.


"Tidurlah. Letakkan ponselmu di bantal tapi jangan kau jauhkan."


Dan sebenarnya apa maksud dari semua kemauanmu ini, Kyu?


Hyun-Ra merasakan sesak di tengah debaran dadanya yang bertalu-talu.


Hening.


Kyuhyun di sana tidak berkata lagi dan Hyun-Ra juga tidak tahu harus bagaimana. Kesunyian mencekam di sambungan telepon mereka, seolah keduanya saling meresapi sesuatu, seolah mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"K-Kyu,"


"Ya?"


"Kenapa kau belum tidur?"


"Tidak bisa tidur."


"Kenapa?"


"Ingin menemuimu."


"Cukup kegilaanmu!"


"Kalau memang bisa aku hentikan, sudah aku lakukan sejak awal."


Hyun-Ra menelan ludah, tapi kemudian ia jadi tidak tahu harus berkata apalagi, meski sebenarnya banyak sekali yang ingin ia semburkan.


Kyuhyun sedang jinak, dan Kyuhyun hanya ingin telepon ini tidak diakhiri, jadi Hyun-Ra akan mencoba berbaik hati untuk menuruti kemauannya.


Hening lagi, dalam beberapa lama, dan Hyun-Ra bisa mendengar deru napasnya sendiri yang tak berhembus tenang.


"Bolehkah aku bertanya?" Kyuhyun kembali bergumam di seberang. Dan permintaan izin Kyuhyun membuat Hyun-Ra jadi lebih damai. Setidaknya pria itu tidak bersikap seenaknya seperti biasa.


"Katakan saja apa yang ingin kau tanyakan."


Kyuhyun berdeham pelan. "Apa kau pernah memimpikanku dalam tidurmu?"


Pernah.


Hyun-Ra menahan jawaban itu agar tidak terlontar.


"Aku ... t-tidak pernah."


"Kenapa kau berbohong?"


"Aku tidak bohong."


"Nada suaramu, Hyun-Ra, aku tahu kau berbohong."


"Kau terlalu sok tahu!"


"Jadi berarti, kau pernah memimpikanku?"


"Sudah kubilang tidak pernah!"


"Memimpikan dalam hal bagaimana?"


"Kyuhyun!" Hyun-Ra mulai kesal.


"Karena bahkan aku sendiri sering memimpikanmu."


Rasanya Hyun-Ra hilang kesabaran dengan ketengilan Kyuhyun yang tidak mau mendengarnya. Baru saja ia merasa senang pria itu tidak bersikap seenaknya, namun sekarang justru kembali lagi dengan sifatnya.


Kyuhyun tetaplah Kyuhyun!


"Hyun-Ra, maukah kau malam ini memimpikanku?"


"Tidak."


"Please,"


"Jangan memaksa!"


"Tapi aku ingin ...."


"Kau pikir aku bisa memimpikan seseorang seperti kemauanku?"


"Berarti kau mau memimpikanku?"


"Kalau kau terus menggangguku dengan pertanyaan seperti itu, aku akan memutus sambungannya!"


"Baiklah, jangan marah, aku tidak akan mengatakannya lagi."


Suasana kembali hening, hanya deru napas masing-masing yang jadi musik di kesunyian mereka.


Dan sepertinya Kyuhyun memang tidak akan mengganggunya lagi karena pria itu hanya berdiam tanpa mengatakan apapun.


Beberapa lama keadaan tetap seperti itu, tidak ada yang memulai obrolan lagi. Hyun-Ra sebenarnya menunggu, namun Kyuhyun tetap tidak berkata-kata.


"Jangan matikan."


Suara Kyuhyun membuat Hyun-Ra mengernyit heran hingga ia mengurungkan niatnya. Sepertinya Kyuhyun punya indera ke enam sampai-sampai selalu tahu saat ia hendak memencet tombol merah.


Hyun-Ra menguap. "Aku mengantuk."


"Tidurlah sekarang. Seperti yang aku bilang, biarkan sambungan ini tetap menyala sampai aku ataupun angin yang memutuskannya."


Hyun-Ra mendesah, tidak ada pilihan lagi selain mengikuti permintaan Kyuhyun. Matanya kini memberat dan rasa kantuknya mulai tak tertahankan. Hyun-Ra memejam dengan ponsel yang masih berada di dekat telinganya.


Meski ia tidak ingin memimpikan Kyuhyun, tetapi pria itu dengan penuh kearoganan masuk tanpa permisi dan memenuhi seluruh mimpinya.


"Selamat tidur ... Sayang."


"Kau memang menggairahkan, bahkan dengan hanya mendengar suaramu, kau tetap bisa membuatku berhasrat."


"Tapi aku tidak mau jadi yang dirugikan. Kau harus tahu bagaimana tersiksanya kegilaan ini, dan kau harus merasakan apa yang aku alami kini."


"Aku pastikan, Hyun-Ra, kau akan segera merasakannya."


Kyuhyun mengucapkan itu bagaikan janji keji dari sang iblis, bagaikan sumpah kutukan dari sang raja kegelapan.


Namun Hyun-Ra sudah tidak lagi mendengarnya.


...▪▪▪...


Pagi-pagi sekali Hyun-Ra terbangun, terlalu pagi karena keadaan di luar masih gelap. Ia bergerak mengeratkan pelukan pada guling, untuk kemudian tersadar dengan ponsel yang berada di dekat telinganya, membuatnya langsung teringat dengan sambungan telepon Kyuhyun.


Dengan cepat Hyun-Ra mengecek ponsel itu, terperangah karena sambungan itu masih berjalan. Kyuhyun benar-benar membiarkan mereka tetap tersambung semalaman.


Hyun-Ra menempelkan ponsel itu di telinganya, mengecek keadaan Kyuhyun, namun sunyi, tidak ada suara apapun selain sedikit gemerisik yang menandakan mereka benar-benar masih tersambung.


"Kyu?" Ia mencoba memanggil, tetapi tak ada jawaban. Apakah Kyuhyun masih tidur?


Ia ragu untuk menekan tombol merah, tapi baterai ponselnya perlu diisi.


Ia mengetik pesan;


[Ponselku perlu dicarger, jadi aku putus sambungannya.]


Dan kemudian Hyun-Ra mematikan ponselnya.


Beberapa saat Hyun-Ra terdiam menatap ponsel di tangannya, termenung, dan rasa kantuk yang tadi masih mendera, kini lenyap seketika. Perasaan aneh di dadanya muncul lagi, entah perasaan apa, yang jelas Hyun-Ra tidak tahu dan tidak bisa mengartikannya.


Dan apa sebenarnya maksud dari semua yang dilakukan Kyuhyun? Bukankah pria itu sudah tahu kalau ia pacar kakaknya, kenapa malah memperlakukannya seperti ini?