
...▪▪▪...
Hyun-Raaa, selamat yaa atas pertunanganmu! Akhirnya kau bertunangan dengan bos kita juga! Bagaimana perasaanmu?
Penampilanmu tadi luar biasa sekali, Hyun-Raa, kau terlihat serasi dengan bos kita!!
Aku tadi memanggilmu, pasti kau tidak mendengarnya 'kan?
Selamat ya, Hyun-Raaa ... semoga hubungannya langgeng sampai menikah!
Selamat ya, kau cantik sekali!
Sampai bertemu di kantor nanti!
Hyun-Ra tersenyum membaca setiap pesan teman-temannya yang masuk di ponselnya. Ia memang melihat mereka di pesta tadi, bersama teman-teman yang lain juga, namun ia tidak sempat menghampiri untuk mengucapkan terima kasih karena selalu bersama Daehyun dan Nyonya Cho. Padahal Hyun-Ra ingin sekali mengobrol dengan mereka sambil berbagi kebahagiaan.
Tapi ....
Apakah tadi ia sedang berbahagia?
Bukankah ia justru merasa marah dan kesal ... gara-gara Cho Kyuhyun?
Jari Hyun-Ra terus menggulir setiap pesan dan kemudian ia menemukan pesan Seo Jin, sahabatnya, menyelip di antara pesan-pesan yang ada.
ASTAGA, HYUN-RA!! KAU CANTIK SEKALI DI PESTA PERTUNANGANMU TADI! AKU INGIN MENGHAMPIRIMU TAPI TUAN DAEHYUN DAN NYONYA BESAR CHO TERUS SAJA MEMBAWAMU! AKU 'KAN JADI SEBAL! PADAHAL AKU DAN TEMAN-TEMAN INGIN MENGOBROL DENGANMU!
KAU PASTI BAHAGIA SEKALI 'KAN SEKARANG? AAAA ... KAPAN AKU BISA SEPERTIMU, HYUN-RA?? KAU BERUNTUNG! AKU IKUT BAHAGIA DENGAN PERTUNANGANMU!
TAPI TETAP SAJA AKU MASIH SEBAL!
APALAGI SAAT AKU BERPAPASAN DENGAN TUAN KYUHYUN DAN DIA TIDAK MELIRIKKU SEDIKITPUN, AKU JADI BERTAMBAH KESAL! APA TADI AKU KURANG CANTIK, YA? APA GAUNKU KURANG BAGUS?
PADAHAL AKU BERHARAP BISA DEKAT DENGAN TUAN KYUHYUN .... :"(
NGOMONG-NGOMONG, TUAN KYUHYUN SEKARANG SEDANG APA???
SAMPAIKAN SALAMKU PADANYA, YA?!
Hyun-Ra menganga syok membaca semua pesan yang dikirim Seo Jin. Apakah temannya itu sedang kesetanan sampai-sampai mengetik semua huruf dengan kapital seperti itu?
Seo Jin memang selalu heboh!
Apalagi kalau membahas soal Kyuhyun.
Tangan Hyun-Ra turun perlahan dan ia meletakkan ponselnya di atas kasur, di hadapannya, kemudian termenung sedih. Ia sekarang sedang duduk bersila di ranjang mewah, masih berada di rumah kediaman keluarga tunangannya karena paksaan dari Nyonya Cho yang ingin ia menginap dan tidak pulang ke rumah mungilnya. Dan calon ibu mertuanya itu dengan penuh kebahagiaan menyiapkan kamar yang cantik untuk ia tempati selama berada di sana.
Benak Hyun-Ra kembali menjalar pada Kyuhyun.
"Aku tidak butuh! Simpan semua penjelasanmu atau kau berikan saja penjelasan itu pada perempuan lain!"
"Aku jijik padamu, Cho Kyuhyun, aku jijik padamu!"
Dan pantaskah ia mengatakan semua itu pada Kyuhyun? Pantaskah ia bersikap marah-marah karena Kyuhyun melakukan sesuatu yang bahkan seharusnya bukan menjadi urusannya?
Kenapa ia harus semarah itu?
Ada apa dengan dirinya?
Mungkinkah momen-momen paksaan bersama Kyuhyun, menimbulkan sesuatu yang lain pada dirinya?
Terlebih Kyuhyun bahkan sudah ....
Sudah ....
Hyun-Ra menutup wajah dengan kedua tangannya, tak mampu memikirkan itu semua.
Hyun-Ra bangkit dari ranjang lalu berjalan ke jendela kaca, mengamati para pelayan yang masih tampak sibuk membereskan sisa-sisa pesta sore tadi. Ia mendesah berat, merasa batin dan pikirannya penuh dengan beban.
Tiba-tiba ponselnya berdering di atas kasur, menggugah Hyun-Ra dan gadis itu berjalan meraihnya.
Ia mengernyit menatap layar.
Daehyun Calling ....
"Iya, Dae?" Hyun-Ra segera menempelkan ponsel itu di telinganya. "Kenapa menelepon? Kau di mana?"
"Aku di depan kamar Kyuhyun, menunggu Dokter memeriksa Kyuhyun. Kau belum tidur?"
Alis Hyun-Ra langsung berkerut.
"Memeriksa Kyuhyun? Memangnya Kyuhyun kenapa? Aku belum mengantuk."
"Kyuhyun demam mulai pagi tadi, hanya saja dia masih memaksa turun ke pesta. Boleh aku ke kamarmu?"
"Ya, kamarku tidak dikunci, kau masuk saja."
Dan setelah itu Daehyun memutus sambungannya.
Hyun-Ra terdiam dengan ponsel yang turun perlahan.
Kyuhyun demam?
Dan pria itu masih memaksa turun untuk memberikan penampilan luar biasa dalam permainannya?
Kyuhyun demam pasti karena semalam menerjang hujan.
Hyun-Ra jadi teringat kembali pada malam berhujan dengan semua pernyataan cinta Kyuhyun, dan seketika hatinya diliputi perasaan cemas. Terlebih dengan kata-kata kemarahan yang ia lontarkan sore tadi, semakin menambah kecemasannya.
Bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang?
Tanpa sadar Hyun-Ra bergegas keluar kamar untuk kemudian berhadapan dengan Daehyun yang hendak masuk. Pria itu sudah terlihat segar dengan pakaian santainya, jauh berbeda dari penampilan kaku ketika memakai jas dan dasi kantornya.
"Dae," Hyun-Ra tidak dapat menahan rasa cemasnya. "Bagaimana kondisi Kyuhyun?"
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja meskipun Dokter bilang demamnya cukup tinggi. Dia bandel, tidak meminum obat yang diberikan Dokter siang tadi."
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja?"
"Kyuhyun menolak, entah kenapa dia sekarang jadi susah dibilangin. Eomma sudah berusaha, dan Appa juga sudah memarahinya." Alis Daehyun berkerut dan kemudian menyentuh pipi Hyun-Ra. "Sayang, bisakah kau membantu membujuk Kyuhyun? Dia tidak mau meminum obatnya, dia bilang obat-obat itu terlihat seperti ular. Dia juga tidak mau dibawa ke rumah sakit dan membuat kami semua khawatir. Kau calon kakak iparnya, mungkin saja dia mau mendengarkanmu?"
Hyun-Ra langsung terdiam sambil menggigit bibirnya, berpikir.
Membujuk Kyuhyun?
Apakah bisa?
Apakah mudah baginya berada dekat dengan pria itu setelah banyak hal yang terjadi di antara mereka? Ia takut Kyuhyun mengartikan hal lain dan pria itu akan terus mengganggunya di waktu-waktu berikutnya.
Bagaimana caranya ia membujuk Kyuhyun?
"Sayang?" Daehyun berkerut heran. "Kenapa malah melamun?"
"M—maaf," Hyun-Ra tersadar lalu menyentuh tangan Daehyun di pipinya. "Aku akan coba bujuk dia supaya mau meminum obatnya."
Setidaknya ini demi meredakan kecemasannya juga.
Dan awas saja kalau pria bandel itu masih tidak mau mendengarkannya, ia akan menjejalkan semua obat dengan paksa!!
"Terima kasih." Hyun-Ra mengerjap mendengar bisikan Daehyun dan pria itu mengecup bibirnya. Hanya kecupan manis dan ringan seperti biasa, karena Daehyun tidak pernah melebihi itu dengan sikapnya yang terkesan ingin menjaganya, menghormatinya.