TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 23



...▪▪▪...


Semenjak pesta malam itu, semua seakan berubah. Fakta tentang Hyun-Ra yang menjadi kekasih bos dengan cepat menjadi bahan perbincangan di seantero perusahaan. Bahkan terkadang Hyun-Ra mendapati mereka berbisik-bisik ketika ia hendak lewat, ataupun tatapan segan dan senyum hormat seolah Hyun-Ra sudah menjadi istri dari Presdir mereka.


Hyun-Ra mendesah berat, tidak suka dengan keadaan itu dan karena ia memang tidak pernah gila hormat. Ia tidak suka ditatap seperti itu, ia ingin semuanya tetap menganggapnya seperti Hyun-Ra yang biasanya, teman yang bisa mereka mintai bantuan kapanpun mereka butuhkan.


Dan sekarang hubungannya sudah diketahui umum, tak ada alasan bagi Hyun-Ra untuk bersembunyi-sembunyi ataupun meminta Daehyun menggunakan mobil dengan kaca gelap lagi.


Pengakuan Daehyun dalam live streaming itu benar-benar sudah menguak hubungan mereka.


"Kemari kau!!"


Seseorang menarik Hyun-Ra hingga membuatnya tersentak dan tiba-tiba ia sudah terseret ke sudut yang sepi, terhantam ke dinding tembok dengan dorongan keras. Ada tiga orang perempuan mengepungnya dengan sorotan penuh permusuhan.


"Ada apa ini? Kalian mau apa?" Hyun-Ra bahkan tidak cukup mengenal mereka, ia hanya tahu kalau para perempuan itu masih termasuk pegawai Cho's Corporation.


Salah seorang dari mereka tiba-tiba menekan lehernya ke tembok hingga Hyun-Ra merasa tercekik.


"Kami tidak mau apa-apa darimu. Hanya saja, kami tidak suka kau menjadi kekasih Tuan Daehyun, jadi kami harus memberimu perhitungan."


"Kecuali kalau kau sadar diri dan menyingkir, baru kami maafkan."


"Atau jika tidak ...." Para perempuan itu tersenyum sinis melihat raut Hyun-Ra yang mulai ketakutan. "Terpaksa wajah mulusmu itu harus kami gores. Tapi jangan khawatir, tidak banyak kok, hanya sedikit membuatmu cacat saja."


"Bagaimana?"


Di situ Hyun-Ra menyadari apa tujuan perempuan-perempuan itu. Dan ternyata, mereka adalah penggemar Daehyun yang tidak menyukai kehadirannya.


Inilah yang Hyun-Ra cemaskan, karena tidak semua orang akan menerima dengan baik kabar tentang hubungannya. Hal inilah yang ia takutkan sedari dulu.


"Aku tidak akan meninggalkan Tuan Daehyun," sahut Hyun-Ra.


"Dan memilih melawan kami?"


"Ya. Aku akan terus bersama Tuan Daehyun."


"Keparat!!" Mereka menampar dan menjambak rambut Hyun-Ra dengan kejam, lalu kembali menekan lehernya ke tembok. "Ini yang akan kau dapatkan kalau kau melawan kami."


"Aku tidak takut pada kalian." Hyun-Ra berusaha melepaskan cengkraman perempuan itu, tetapi mereka lebih kuat dan lebih tinggi sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menindasnya. "Kau mungkin bisa menyiksaku, tapi kau tidak akan bisa merusak hubunganku."


"Berani sekali kau?! Sepertinya kau memang harus menerima ini!"


Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau kecil mengkilat untuk benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya.


Hyun-Ra terperangah, rautnya memucat menatap pisau yang sedang mengacung di depan matanya. Apakah para perempuan ini akan sungguh-sungguh menggores wajahnya?


"Tiga atau empat goresan kurasa cukup untuk memberimu pelajaran, Perempuan ******!"


"OH, YA?"


Ada suara yang tiba-tiba menyela niat sadis perempuan-perempuan itu, lalu dengan gerakan kompak karena terkejut, mereka menoleh ke ujung koridor.


Di sana, Cho Kyuhyun bersandar santai dengan tangan bersedekap mengamati kelakuan perempuan bar-bar itu.


"Kau ingin melukainya?" Ucap Kyuhyun lagi, datar, tenang, namun terkesan penuh aura membunuh. "Coba saja kalian lakukan kalau memang berani. Lukai dia sekarang."


"T—Tuan Kyuhyun?" Si perempuan berambut pirang langsung melepas cengkeramannya dan ketiganya segera mundur dari Hyun-Ra.


"Kenapa berhenti? Tidak berani? Atau karena ada aku? Apa perlu aku membalikkan badan dulu?"


"K—kami ...." Mereka tampak gelagapan, saling lirik satu sama lain dalam ketakutan.


Kyuhyun menegakkan tubuh dan mulai berjalan mendekati mereka, dengan langkah santai dan elegan, dengan pancaran tenang namun begitu mematikan. Ia berhenti di samping Hyun-Ra.


Dalam beberapa saat Kyuhyun menyorot ketiga perempuan itu, lalu kemudian tergelak sinis.


"Kalian sungguh memalukan, hanya karena merasa kalah sampai harus berlaku seperti binatang."


"M—maafkan kami, T—Tuan Kyuhyun ...."


"Maaf?" Kyuhyun berpikir sebentar kemudian manggut-manggut. "Boleh, boleh, aku murah maaf dan kalian akan dimaafkan. Tapi tetap saja, Nona-Nona ... setelah ini aku tidak ingin lagi melihat kalian ada di sini."


Para perempuan itu tampak terperangah, terkejut.


Apakah maksudnya ....


"Kalian dipecat," lanjut Kyuhyun tanpa ampun. "Dan sayang sekali karier yang kalian bangun harus berakhir sampai di sini."


Ketiga perempuan itu langsung memucat, karena Cho's Corporation merupakan salah satu perusahaan terbesar dan menjadi impian bagi banyak orang untuk bisa masuk ke kantor ini.


"T—Tuan Kyuhyun, saya mohon jangan pecat saya ...."


"Saya minta maaf, Tuan, saya tidak akan mengulangi lagi, tolong jangan pecat saya ...."


"Hyun-Ra, maafkan kami ... maaf ...."


"Kami tadi hanya khilaf ..., sungguh, kami tidak akan seperti itu lagi ...."


"Kalau kami dipecat, kami akan kemana lagi?"


"Jangan pecat kami, Tuan ...."


"Tuan ...."


"Tuan Kyuhyun ...."


"KETUA PARK?!" Kyuhyun memanggil seseorang yang dengan sangat kebetulan tiba-tiba muncul di ujung lorong, seolah sudah direncanakan. Pria itu setengah berlari menghampiri Kyuhyun. "Urus ketiga perempuan ini, mereka dipecat, dan aku tidak mau melihat mereka ada di perusahaan ini lagi."


Itu pantas untuk perempuan bar-bar seperti mereka dengan kelakuannya yang suka menyiksa.


Pria yang dipanggil Ketua Park itu langsung mengangguk patuh tanpa banyak bertanya, tidak ingin membantah sedikitpun perintah bosnya.


"Tuan Kyuhyun, tolong beri saya kesempatan ...."


"Saya berjanji akan berlaku baik, Tuan ...."


"Tuan, Tuan Kyuhyun, Tuan!"


Kyuhyun pergi dengan membawa Hyun-Ra dalam dekapan melindunginya, menjauh dari sana, mendudukkan gadis itu di ruangan kerja kakaknya. Sementara Daehyun sedang keluar menghadiri meeting penting di tempat lain.


Kyuhyun berjongkok di bawah untuk menyentuh leher Hyun-Ra.


"Coba tarik napas pelan-pelan," gumamnya, mengamati kulit leher gadis itu yang memerah bekas cekikan perempuan tadi.


Hyun-Ra menurut, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan panjang. Cengkraman tadi ternyata cukup menyakitinya.


"Apa terasa sakit?" Gumam Kyuhyun lagi, mendongakkan Hyun-Ra memperjelas kondisi lehernya. "Kalau masih tidak nyaman, aku akan membawamu ke rumah sakit. Tarik napas lagi."


Hyun-Ra kembali menghela napas dan kali ini lebih panjang.


"Aku tidak apa-apa, Kyu, tidak usah ke rumah sakit. Aku hanya perlu meredakan ngilu di kepala karena mereka menarik rambutku. Tapi aku baik-baik saja."


Kyuhyun meraih air di atas meja lalu menyodorkannya pada Hyun-Ra. "Minum dulu."


Hyun-Ra menerima gelas itu, meneguknya hingga separuh, lalu membiarkan Kyuhyun meletakkannya lagi. Hyun-Ra teringat untuk mengatakan sesuatu.


"Terima kasih kau sudah menolongku. Aku tidak tahu akan bagaimana kalau saja kau tidak ada. Terima kasih ...."


Kyuhyun mengangguk.


"Mereka tidak akan di sini lagi. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi."


Hyun-Ra ikut mengangguk. Suasana terasa canggung, dan Hyun-Ra sebenarnya masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya akibat penyiksaan mendadak tadi.


Dan tiba-tiba juga, Hyun-Ra jadi mengingat ikatan malam itu yang terhubung melalui telepon.


Ia menunduk.


Membuat Kyuhyun mengernyit mengamati tundukannya.


"Kau takut berada di sini bersamaku?"


Hyun-Ra membasahi bibir. "A—aku ...."


"Hyun-Ra," Kyuhyun menarik dagunya. "Sikapku mungkin sulit berubah padamu, tapi aku akan melindungimu. Sekalipun aku selalu terdorong ingin mencium bahkan menidurimu, tapi aku tidak akan menyakitimu. Aku ingin kau ingat itu."


Dasar pria mesum!


Hyun-Ra ingin mengomel, tapi ia tahu ini bukan saatnya. Kyuhyun sudah menolongnya.


"Aku ... harus kembali ke ruanganku. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Dan terlebih karena ia tidak tahan dengan cara Kyuhyun menatapnya, apalagi sedekat itu, membuatnya kesal dan kelimpungan.


Kyuhyun diam sesaat, menatap lekat, hingga kemudian mengizinkannya.


"Baiklah, kau boleh pergi." Karena ia tahu Hyun-Ra tidak nyaman dengan kedekatan ini, meski yang dirasakan hatinya justru kebalikannya.


Yang terpenting Hyun-Ra sudah aman dari para perempuan bar-bar itu, dan ia merasa tenang.