TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 14



...▪▪▪...


Hyun-Ra masuk ke dalam rumah setelah Daehyun mengantarnya dan kemudian pria itu pergi. Daehyun pasti lelah dan belum lagi masih harus menyelesaikan pekerjaan yang dibawa ke rumah sehingga tidak bisa berlama-lama menemaninya. Dan Hyun-Ra selalu mengerti itu, meski kadang ia berharap Daehyun akan mengajaknya jalan untuk menghirup udara segar sambil menghabiskan waktu bersama.


Beberapa saat kemudian Hyun-Ra selesai membersihkan diri dan memakai piyama cantik kesukaannya. Ia hendak mengambil minum di dapur, sebelum kemudian mendengar suara ketukan di pintu depan.


Hyun-Ra mengernyit, lalu melirik jam dinding.


21.25


Siapa yang datang bertamu jam segini?


Dengan perasaan bingung dan waspada, Hyun-Ra akhirnya menuju pintu dan membukanya, tersenyum senang menemukan Daehyun yang ternyata ada di sana.


"Dae, kau kembali? Bukankah kau bilang banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan di rumah?"


"Mau pergi berdua denganku?"


Hyun-Ra mengernyit. "Kemana?"


"Suatu tempat. Aku ingin malam ini kau bersamaku. Aku ingin malam ini menghabiskan waktu denganmu."


Dan ada apa dengan Daehyun? Aura kekasihnya itu terasa berbeda.


"Tapi, Dae, bukankah kau harus— "


"Please," Daehyun menyela. "Please jangan menolakku."


Sebenarnya Hyun-Ra merasa bingung dengan kejanggalan ucapan-ucapan Daehyun, tapi melihat raut memohon serta tatapan seolah ada yang sedang menyiksa kekasihnya, Hyun-Ra tentu tidak mampu untuk menolaknya.


"Baiklah, aku akan ganti baju sebentar. Kau masuk dulu."


Hyun-Ra kembali ke kamarnya dan membiarkan Daehyun menunggu di ruang tamu. Ia berganti pakaian dengan benak yang masih bingung. Ada apa dengan Daehyun? Kekasihnya itu terlihat tidak seperti biasa, rautnya tampak sedang menahan sesuatu yang Hyun-Ra tidak tahu apa.


Ia menutup resleting bajunya kemudian mematut dirinya di cermin, dress cantik bermotif yang dipadukan dengan jaket denim, lalu meraih tas selempang yang senada dengan warna motif bajunya. Penampilan Hyun-Ra simple tapi terlihat sangat manis.


Setelah selesai, ia segera beranjak ke ruang depan, tidak ingin membuat Daehyun menunggu terlalu lama. Namun saat sudah berada di hadapan pria itu, Daehyun langsung membeku pada penampilannya, tampak terpesona hingga Hyun-Ra merasa malu dengan wajah merona.


"A—aku sudah siap." Ia berucap sambil menunduk, gugup karena tatapan Daehyun padanya.


Tetapi Daehyun tidak menjawab sehingga Hyun-Ra harus mendongak untuk mengetahui reaksi kekasihnya.


Dan Daehyun masih tampak mengamati dirinya dalam diam, membuat Hyun-Ra jadi gugup dan salah tingkah.


Ia kembali menunduk.


"D—Dae, jangan menatapku terus menerus ...." Hyun-Ra menggigit bibirnya, malu untuk mendongak lagi. Namun kemudian dagunya tertarik dan Daehyun tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Kau sangat cantik." Daehyun berbisik. "Tapi aku harap kau tidak akan berpenampilan semanis ini kalau tidak sedang bersamaku. Kau bisa mengundang lelaki lain untuk mendekat dengan penampilan cantikmu."


Hyun-Ra menelan ludah.


"Berjanjilah padaku."


Hyun-Ra langsung mengangguk tanpa banyak berpikir. Terutama karena penampilan terbaiknya memang hanya untuk Daehyun saja.


"Kita pergi sekarang." Pria itu menggenggam tangannya dan membawanya keluar, menuju mobil mewah di sana.


Hyun-Ra terhenti sejenak. "Kau tidak pernah memakai mobil ini sebelumnya?" 


"Ini mobil baruku."


Mobil baru?


"Kau sudah mempunyai 3 mobil mewah dan sekarang beli baru lagi?"


Daehyun tersenyum. "Kebetulan aku melihat mobil ini dan aku suka, jadi aku membelinya. Lagipula aku tidak ingin kau bosan pergi bersamaku kalau aku pakai mobil yang itu-itu saja."


Hyun-Ra cemberut, bibirnya manyun membuatnya berkali-kali lebih menggemaskan.


"Lain kali mungkin kita perlu berjalan kaki saja supaya aku tidak bosan naik mobil terus!"


Daehyun tergelak, tangannya bergerak meraih jemari Hyun-Ra. "Apapun yang kau mau, asal kau senang."


...▪▪▪...


Pelayan menghidangkan makanan lezat di atas meja, mempersilahkan Daehyun dan Hyun-Ra menikmati semua jamuan sebelum kemudian berpamit pergi dari sana. Tempat itu dirancang khusus, cukup private sehingga tidak ada orang lain yang akan mengganggu momen pasangan yang menghabiskan waktu berdua.


Daehyun mengamati Hyun-Ra yang berdiam di pagar pembatas, tanpa tahan ia mendekat lalu memeluk gadis itu dari belakang. Ia menyingkap rambut halus Hyun-Ra, mengecup kulit leher yang putih mulus itu hingga darah Hyun-Ra berdesir dibuatnya.


"Kau suka tempatnya?" Daehyun berbisik, dan baginya keindahan di depan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan gadis yang berada dalam dekapannya.


Hyun-Ra tersenyum. "Sangat. Tempat ini begitu indah. Terima kasih kau sudah membawaku kemari."


"Hanya terima kasih?"


"Lalu apa lagi?"


"Beri aku sesuatu."


Hyun-Ra melepaskan rangkulan Daehyun untuk berbalik menghadap pria itu, tubuh mereka begitu dekat dengan Daehyun memenjaranya, meletakkan tangannya di kanan kiri Hyun-Ra.


Ia mendongak bingung. "Apa yang kau inginkan?"


"Kau akan memberikannya?"


"Ya."


Daehyun tersenyum misterius, matanya menyala dan Hyun-Ra merasakan jari pria itu menyentuh bibirnya, mengusapnya dengan gerakan sensual.


"Aku ingin ini." Daehyun merunduk, mengecup bibir Hyun-Ra penuh kelembutan, ********** dengan hati-hati seolah ingin membuat ciuman kali ini berkesan dan Hyun-Ra merasa nyaman, hanyut, terbawa suasana hingga Hyun-Ra terlena lalu tenggelam jauh dalam kehangatannya.


Mereka berciuman di besi pembatas dengan keindahan kota yang menjadi gambar latarnya. Daehyun ingin membuat malam ini terasa indah hingga takkan bisa terlupakan,


Baginya dan juga bagi Hyun-Ra.


...▪▪▪...


Makan malam berlangsung tenang, Hyun-Ra menikmati sajian yang cukup lezat itu meski beberapa kali ia memergoki Daehyun menatapnya dalam.  Entah bagaimana malam ini kekasihnya itu benar-benar berbeda, tampak misterius dengan mata menyala-nyala, mengamati dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan Daehyun terkesan liar dan penuh rencana, membuat kegugupan Hyun-Ra seketika mendera-dera. Terlebih dengan ciuman beberapa saat lalu, begitu intens dan sensual, menarik ingatan Hyun-Ra saat di mana Daehyun pernah seperti ini, berbeda, berhasrat, ciumannya menggebu seolah kekasihnya itu sedang menahan suatu gairah.


Tak banyak yang mereka bicarakan ketika menyantap makan malam, tidak seperti biasanya, Daehyun lebih banyak diam seolah sedang bergelut dengan pikirannya.


Hingga saat makan malam usai, Daehyun tiba-tiba menuangkan anggur ke gelas Hyun-Ra.


Gadis itu mengernyit. "Dae, aku tidak minum alkohol." Bukankah Daehyun sudah tahu?


Daehyun tersenyum menggoda, senyum yang tidak pernah ada di wajahnya yang selalu tampak serius.


"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kau percaya padaku 'kan?"


"Tapi, Dae ...."


"Jangan takut, hanya sedikit, Sayang, aku janji."


Mau tidak mau akhirnya Hyun-Ra mengikuti, demi Daehyun, dan karena selama ini ia belum pernah membuat kekasihnya senang.


Anggur itu ternyata menghangatkan suasana, Hyun-Ra jadi lebih relaks menerima tatapan dan ucapan menggoda Daehyun yang sesekali pria itu lontarkan dalam pembicaraan mengalir mereka. Sampai kemudian Daehyun meraih tangan Hyun-Ra dan menggenggamnya.


"Maukah kau mencoba lagi denganku? Aku ingin malam ini melakukannya denganmu."


Hyun-Ra tahu kemana maksud ucapan Daehyun, dan ia mengangguk mengiyakan. Entah bagaimana ia langsung menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti, kalau ia harus melepaskan kesuciannya malam ini, maka hanya kepada Daehyun lah ia ingin memberikannya.


Dengan lembut Daehyun menghela Hyun-Ra ke dalam rengkuhannya, melangkah ke lantai bawah dan membawa gadis itu ke tempat yang sudah dipersiapkannya.


Dan saat mereka sampai di sebuah kamar dengan Daehyun mengunci pintunya, Hyun-Ra tahu kalau malam ini tidak akan ada kata tertunda lagi. Daehyun mendekat dan langsung menciumnya dengan panas, begitu sensual dan menggebu-gebu, hingga Hyun-Ra yang berpengetahuan minim berusaha membalas dan mengimbanginya, membuat keduanya seketika jadi terbakar.


Sejenak Daehyun melepas pagutan dan menatap Hyun-Ra, merasa senang karena gadis itu membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.


"Kau mabuk, ya?" gumam Daehyun dalam senyum.


Hyun-Ra hanya merangkulkan lengannya di leher Daehyun, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya ia memang mabuk, karena sekarang ia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Daehyun.


Daehyun terkekeh geli. "Aku senang kalau kau mabuk, kau jadi penurut dan tidak takut-takut." Ia kembali melabuhkan ciumannya di bibir Hyun-Ra, kemudian beralih mencumbu telinganya memberikan getaran-getaran yang mendebarkan. "Biarkan malam ini aku mencintaimu, Hyun-Ra ..., dan aku berjanji akan selalu melindungimu."