TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
Dihukum



BAB 5 : Dihukum


Rere meraih knop pintu kelas lalu membukanya. Lengang. Tidak ada siapapun disana. Ya, mungkin ini masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah. Entahlah. Dia tidak peduli.


Rere berjalan menuju mejanya dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa sangat berat. Semalam dia baru bisa tidur jam 3 pagi karena terus-terusan kepikiran soal Galih dan mantan pacarnya yang sombong dan kecentilan bernama Nala itu.


Rere menghela napas pelan. Entah bagaimana dengan nasib dirinya ke depannya nanti. Rere yakin sekali jika Nala pasti tidak akan membiarkan dirinya bernapas lega. Apalagi mengetahui jika dirinya dan Nala satu sekolah. Rere bergidik ngeri mengingat ancaman Nala kemarin.


Kenapa juga Galih harus melibatkan dirinya dalam masalah mereka. Tiba-tiba mengklaim dia sebagai pacarnya pula? Tanpa sepengetahuan dirinya? Dia menggelengkan kepalanya, berusaha memikirkan dampak positif dari kejadian kemarin. Tapi sepertinya memang tidak ada dampak positif dari kejadian kemarin.


"Wuihhh, tumben dateng pagi" sapa Aldi disertai senyuman khasnya. Dia menyugar rambutnya ke belakang, bergaya sok cool di depan Rere. Melihat hal itu, bukannya terpesona, Rere malah membuang pandangannya sambil berpura-pura seperti orang muntah.


"Napa lo?" tanya Aldi seraya mengikuti Rere dari belakang. Dia mendudukkan pantatnya di samping bangku yang Rere duduki.


"Ngantuk gue" Rere menguap lebar, kemudian membenamkan kepalanya di antara kedua tangannya yang terlipat.


Aldi hanya menatap Rere penuh tanda tanya. Tak habis pikir dengan gadis satu ini.


"Lo abis begadang nonton bola? Setau gue, lo gak suka nonton bola" ucap Aldi yang kini tengah menatap Rere di sampingnya. Rere hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Jangan-jangan, lo......begadang nonton bokep ya?" tuding Aldi memicingkan sebelah matanya.


"Paan sih lo!" kesal Rere.


"Emangnya lo, otak mesum!" balas Rere mengejek.


"Otak mesum? Mana ada! Lo itu yang sok polos!" sahut Aldi tak terima.


"Malah ngatain gue lagi." cibir Rere.


"Sorry ya, gue gak lagi ngatain lo, tapi emang itu kenyataannya." jawab Aldi tersenyum sinis.


"Terserah deh apa kata lo. Gue gak peduli." Rere melepas tas yang tadi masih dipakainya lalu menaruhnya di meja sebagai bantalan untuk tidur.


Rere kembali memejamkan matanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya, bahwa dia sangat lelah. Seperti ada masalah yang membuat pikirannya terbebani.


"Semalem gue chat kok gak lo bales, Re?" Rere membuka matanya menatap Aldi yang kini juga tengah menatapnya.


"Itu, hape gue gak tahu dimana" jawab Rere sekenanya.


Aldi mendesah pelan. Dia ikut merebahkan kepalanya diatas meja. Tersenyum menatap Rere yang kembali memejamkan matanya.


Renata Clarissa. Gadis yang berhasil membuat Aldi tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Berhenti untuk mencintai dirinya. Ya. Hatinya sudah terlanjur ia berikan sepenuhnya untuk Rere. Aldi sudah menguncinya rapat-rapat dan tidak akan ada yang bisa membukanya lagi, kecuali Rere.


Sekali lagi Aldi tersenyum. Rere bahkan terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat. Entahlah Aldi sendiri tidak tahu mengapa dia sangat menyayangi Rere. Rasa sayang yang lebih dari seorang sahabat.


Aldi masih terus mengamati Rere, hingga cairan merah itu keluar dari hidung Aldi. Cepat-cepat dia bangkit sambil menutup hidungnya dengan kedua tangan menuju toilet.


Rere yang menyadari jika ada pergerakan dari Aldi, segera membuka matanya. Dia menatap Aldi yang tengah berjalan menuju pintu keluar kelas.


"Mau kemana, Al?" tanya Rere mengernyitkan dahinya. Aldi menghentikan langkahnya, namun sama sekali tak berbalik untuk menatap Rere.


"Toilet" jawabnya singkat. Kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.


"Aneh!" gumam Rere sembari mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali melanjutkan tidurnya.


********


Rere menatap malas ke arah guru yang sedang menerangkan materi kimia yang sama sekali tak dimengertinya. Tak terhitung berapa kali gadis itu sudah menguap lebar.


Sementara Rere yang tengah mati-matian menahan kantuk, disampingnya Aldi malah fokus mencorat-coret bukunya entah menggambar apa.


Rere melirik Aldi sekilas, lalu kembali menguap. Kali ini dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Dia membenamkan kepalanya ke dalam lipatan kedua tangannya. Tampak bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Aldi yang saat itu juga tengah malas ikut membenamkan kepalanya. Dia menatap Rere di sebelahnya. Tersenyum lantas menutup kedua matanya.


Sementara itu, di depan bangku Rere, Dhea menatap keduanya dengan tatapan sinis. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu. Kenapa mereka bisa tertidur saat jam pelajaran Bu Lina? Guru yang terkenal killer di sekolah.


Oke, kalau Aldi memang sudah biasa kena hukuman dan keluar masuk BK. Tapi kalau Rere? Dia kan paling takut kena hukuman?


"Woyy! Sssssttt," bisik Dhea berusaha membangunkan keduanya.


"Woyy, Re! Al! Bangun!" Dhea masih berusaha membangunkan keduanya dengan cara berbisik agar Bu Lina tidak mendengar suaranya.


"Oii kampret, bangun lo berdua cepetan!" Dhea menendang kaki Rere yang berada di belakangnya. Namun usahanya sia-sia. Rere sama sekali tak bergeming dari posisinya.


'Aduh, Rere kan kalau tidur kebo. Digituin mana bisa bangun dia?' batin Dhea frustrasi.


"Al! Bangun Al!" Dhea menggoyang-goyangkan lengan Aldi sedikit kencang. Beruntunglah Aldi bisa bangun meski dia masih menyipitkan matanya.


Selang beberapa detik kemudian, Bu Lina pun selesai menuliskan materi di papan tulis. Dia berbalik. Sedikit terkejut saat mengetahui ada salah satu muridnya yang tertidur di kelas.


"Rere!" panggil Bu Lina dengan nada tinggi. Semua murid yang ada di kelas menoleh ke arah Rere. Tampaknya mereka juga tidak sadar jika Rere tertidur sedari tadi.


Rere terbangun dan mengucek-ucek matanya berusaha menyesuaikan penglihatannya.


"Berani sekali kamu tidur di jam saya, ya?" lanjut Bu Lina terdengar emosi.


Rere hanya menyipitkan matanya bingung mendengar perkataan Bu Lina. Pikirannya masih belum bisa mencerna semuanya dengan benar.


"Kamu, keluar dari kelas saya!" Bu Lina menunjuk Rere.


"Maaf bu, tadi saya yang nyuruh Rere tidur karena dia bosan dengan pelajaran ibu" Aldi tiba-tiba saja ikut menyahut. Semua mata kini beralih menatap Aldi. Tak terkecuali Rere.


"Bosan?" ulang Bu Lina.


'Aduh, kenapa malah bilang kayak gitu sih Aldi? kampret banget nih anak!' batin Rere.


"Iya buk. Jadi kalau ibu mau hukum, hukum saya aja, jangan Rere." ucap Aldi dengan santai. Bahkan semua murid yang ada di kelas pun merasa heran mengapa Aldi bisa sesantai itu menghadapi Bu Lina.


"Baiklah kalau begitu, kalian berdua keluar dari kelas saya! Hormat tiang bendera sampai bel pulang sekolah!" seru Bu Lina.


Aldi dan Rere saling bertatapan. Tanpa pikir panjang, Aldi meraih tangan Rere dan mengajaknya keluar kelas.


"Makanya kalau ngajar itu jangan gitu-gitu terus dong buk. Kan muridnya jadi bosen!" cibir Aldi saat melewati meja Bu Lina.


"Kurang ajar! Sini kamu!" Bu Lina menggeram marah.


"Lari, Re!" kata Aldi sembari menarik tangan Rere cepat agar Bu Lina tidak dapat mengejar mereka.


Bu Lina yang memang memiliki berat badan diatas rata-rata itu sangat sadar diri. Dia tidak mungkin bisa mengejar kedua muridnya. Maka dari itu, Bu Lina tidak mau menghabiskan tenaganya hanya dengan mengejar mereka.


Aldi dan Rere masih terus berlari menjauh. Mereka akhirnya berhenti setelah merasa cukup aman.


"Gila ya loo, kalau mau cari mati jangan ajak-ajak gue dong!" kata Rere dengan napasnya yang tak beraturan.


"Udah untung gue tadi belain lo. Seharusnya lo bilang makasih, karena gue mau nemenin lo dihukum!" lanjut Aldi membalas perkataan Rere.


"Lo pikir gue gak tahu kalau itu cuma akal-akalan lo supaya bisa keluar dan gak ikut pelajaran?" jawab Rere sengit. Aldi hanya mengedikkan bahunya. Lantas berjalan mendahului Rere.


"Loh, Al. Lapangan kan kesana?" Rere mengejar Aldi yang berjalan semakin menjauh dari lapangan.


"Siapa juga yang mau ke lapangan" Aldi menjawab acuh.


"Terus, mau kemana?" tanya Rere lagi. Aldi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rere.


"Lo beneran mau hormat bendera? Kalau gue sih ogah! Mending nyantai di rooftop"


***********


*TBC


Yeni Rahmawati