TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
Bab 27



...▪▪▪...


Seperti yang Daehyun katakan, pria itu benar-benar membebaskan kamera menyorot acara meskipun memang ada puluhan bodyguard untuk mengatur ketertibannya.


Hyun-Ra sadar ada begitu banyak pasang mata yang selalu memandang ke arahnya, entah dengan reaksi seperti apa karena Hyun-Ra tidak berani menatap ataupun mengamati untuk sekedar ingin tahu. Hyun-Ra benar-benar berada di titik di mana ia menjadi pusat perhatian hingga membuatnya ingin menggali lubang lalu bersembunyi ke dalam tanah.


Ia tidak pernah merasa percaya diri berada di situasi seperti ini.


Namun lebih dari itu semua, ada ruang hampa yang terasa di dadanya saat ia tidak merasakan kehadiran Kyuhyun di sekitarnya, seperti ada ruang kosong yang menimbulkan secercah rasa kecewa. Apakah pria itu akhirnya memilih untuk tidak mengganggu dan lebih baik menghindar saja?


Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menatap Kyuhyun detik ini juga, ingin melihat raut baik-baik sajanya meski hanya sekejap mata.


Hyun-Ra mengerjap mendengar suara riuh tepuk tangan dan cincin berlian indah yang Daehyun sematkan sudah bertengger manis di jarinya. Hyun-Ra berusaha menguasai keadaan, meraih cincin di kotak yang disediakan lalu melakukan hal yang sama pada Daehyun, menyematkan cincin itu di jari kekasihnya.


Hyun-Ra mendongak, mendapati wajah Daehyun yang begitu menawan tersenyum bahagia kepadanya, menatapnya penuh cinta.


"Aku mencintaimu." Daehyun bergumam, lalu mendekat untuk mencium keningnya.


Suara tepuk tangan semua orang kembali terdengar, menyadarkan Hyun-Ra untuk kemudian menyimpannya dalam ingatan ....


Bahwa ia telah resmi bertunangan dengan Cho Daehyun.


"Balas perasaanku," bisik Daehyun di telinganya.


Hyun-Ra langsung kikuk.


"Aku ... juga mencintaimu."


"Dan jadikan aku pria satu-satunya yang ada di hatimu."


Hyun-Ra mengangguk. "Hanya kau satu-satunya." Hanya Daehyun saja.


"Terima kasih, Sayang." Tangan Daehyun mendekap menenggelamkan Hyun-Ra dalam pelukannya.


Denting piano tiba-tiba terdengar membuat pelukan Daehyun jadi terlepas. Refleks mereka menatap ke asal suara, refleks semua orang jadi terpana.


Cho Kyuhyun, pria itu duduk di balik piano besar yang berada di dekat tangga, mulai bermain mengalunkan nada-nada, membuat jantung Hyun-Ra berdebar seketika. Kyuhyun terlihat mempesona seperti biasa, dengan rambut sedikit acak yang sepertinya memang gaya kesukaannya, menunduk fokus pada tuts-tuts pianonya.


Namun ada yang beda dari permainannya, sesuatu yang menyedihkan dan terasa merobek dada. Kyuhyun memainkan lagu yang begitu menyayat hati seolah pria itu sedang meluapkan perasaan. Lagu dari musisi dunia yang Hyun-Ra tahu mengandung kesedihan dalam setiap lirik dan nadanya, patah hati yang tak tertahankan, serta rasa sakit yang tak bisa dijabarkan. Permainan Kyuhyun menarik orang-orang tenggelam ke dalam kepiluannya, membuat semuanya bungkam dengan mata fokus tanpa teralih sedikitpun, meresapi setiap nada menusuk yang begitu mengoyak jiwa.


Hyun-Ra berdiri tegang, air matanya mendesak namun ia membendungnya sekuat tenaga. Ia merasa dadanya begitu sesak dan nyeri, terasa perih dengan setiap tekanan jari Kyuhyun di atas pianonya.


Hentikan permainanmu, Kyu, aku tidak kuat ....


Hyun-Ra ingin menghindar, tapi ia tidak mampu memalingkan pandangannya. Ia masih ingin melihat Kyuhyun, ingin tahu bagaimana raut wajah pria itu karena Kyuhyun terus menunduk.


"Aku tidak tahu kenapa Kyuhyun memainkan lagu seperti ini," gumam Daehyun tiba-tiba. "Tapi meskipun terlalu sedih, permainannya tetap saja mengagumkan. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Ia menoleh pada Hyun-Ra dan menemukan tunangannya itu membeku pada Kyuhyun, tidak melirik ataupun menjawab pertanyaannya. Daehyun mengernyit, lalu tangannya merangkul dan baru gadis itu mengerjap sadar. "Apa yang kau pikirkan? Kau tidak menjawabku."


"M-maaf, Dae, kau tadi bilang apa?"


"Kenapa sampai seperti itu kau memandang adikku?"


Hyun-Ra langsung gelagapan. "A-aku ... aku hanya terbawa permainan Kyuhyun karena ... karena sangat indah saja ...."


Daehyun jadi tersenyum.


"Kau suka lagu sedih?"


"T-tidak juga, hanya saja ... ini nadanya jadi bagus saat Kyuhyun yang memainkannya."


"Dia memang pandai menarik perasaan pendengarnya dengan nada yang dia mainkan. Tapi kau tidak boleh menyukai orangnya, ingat, kau hanya milikku."


"Kau b-bilang apa sih!" Hyun-Ra cemberut.


"Aku bilang kau hanya milikku, tidak boleh menyukai pria lain apalagi adikku."


"Kau menyebalkan!"


Daehyun mengeratkan dekapan. "Jangan cemberut, ini hari pertunangan kita."


Hyun-Ra tidak menyahut.


"Dan ngomong-ngomong, aku belum mengatakannya. Kau sangat cantik, Sayang, terindah dari semua yang ada di sini."


"Aku mencintaimu."


Aku mencintaimu.


...▪▪▪...


Tuan dan Nyonya Cho mempersilahkan para tamu untuk menikmati sajian lezat yang tersedia, menyalami dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka, serta berbincang-bincang dengan beberapa kolega besarnya. Sesekali beliau menunjuk Daehyun dan Hyun-Ra yang berada di sudut lain dengan senyum bangga dan bahagianya.


Sementara Hyun-Ra berusaha tenang agar tidak terjerembab di antara teman-teman Daehyun yang terlihat luar biasa, mencoba fokus supaya tidak membuat kekasihnya malu. Tetapi Hyun-Ra bersyukur, Daehyun begitu pengertian dengan tidak membiarkannya melangkah sendirian, menggenggam tangannya dengan penuh rasa nyaman. Bahkan ketika ia sedang bersama Nyonya Cho, calon ibu mertuanya itu juga memperkenalkannya pada semua tamu besar yang datang, istri-istri dari pejabat, serta beberapa kolega dari luar negeri yang beliau fasilitasi dengan jet pribadi, hingga Hyun-Ra merasa minder berada di tengah-tengah orang kaya itu.


Tetapi Nyonya Cho membantunya, sedikitpun tidak membuatnya merasa kalau ia berasal dari dunia berbeda. Justru Nyonya Cho menunjukkan dirinya bagai berlian indah yang bernilai ratusan juta, atau seperti menunjukkan anaknya sendiri, bukan layaknya calon menantu yang baru akan masuk ke dalam keluarga besarnya.


Hyun-Ra merasa tidak pantas namun ia juga bersyukur. Tuan dan Nyonya Cho begitu baik padanya, sampai-sampai membelanya dengan penuh ketika ada seorang istri pejabat yang sombong, merendahkannya dengan bertanya;


"Memangnya calon menantumu ini dari keluarga kaya bagian mana, Hanna? Siapa tahu aku kenal dengan orang tuanya atau mungkin kerja sama bisnis dengan mereka? Kau pasti tidak akan asal menerima gadis untuk jadi menantumu, bukan?"


Nyonya Cho hanya tersenyum menanggapi itu. Beliau menjawab;


"Kurasa kau tidak mengenal keluarganya yang bahkan jauh lebih terhormat darimu, Minra, mereka tidak mengenal level sedang atau yang tidak sederajat dengan mereka." Nyonya Cho kembali mengulas senyum, menoleh pada Hyun-Ra di sampingnya dengan sayang. "Dan poin pentingnya, dia adalah gadis baik yang tidak memiliki sikap buruk dengan merendahkan orang lain."


Wanita yang disebut Minra itu hanya bisa mencibir dengan semua ucapan Nyonya Cho, merasa perkataannya dipatahkan dan ia jadi kesal. Buru-buru ia berpamit dengan alasan ingin menikmati hidangan.


"Silahkan, silahkan," Nyonya Cho mempersilahkan Minra.


Karena memang lebih baik mulutmu itu dijejal dengan makanan dari pada melontarkan kata-kata yang tidak karuan.


Beliau menahan untuk tidak menyemburkan seruan itu.


"Tidak usah dipikirkan," salah satu teman Nyonya Cho yang lain, merespon. "Sifat seperti itu memang sudah biasa di kalangan orang kaya, yang membuat image kita jadi buruk di depan orang-orang."


"Ya." Nyonya Cho berusaha memaklumi. "Dia memang begitu dan aku sudah tahu."


"Tapi ngomong-ngomong, apa putra bungsumu juga sudah memiliki kekasih? Aku lihat di televisi dia digosipkan dengan banyak gadis?"


Kali ini Nyonya Cho sedikit merasa malu dengan kelakuan Kyuhyun yang sering menimbulkan skandal dari dunia keartisannya. Beliau berdeham pelan.


"Sebenarnya putra keduaku tidak sedang memiliki hubungan dengan gadis manapun. Semua pemberitaan itu tidak benar, Kyuhyun hanya berteman dengan mereka."


"Jadi putra bungsumu masih single?"


"Ya."


"Bagaimana kalau kau jodohkan dengan anakku? Putriku baru menyelesaikan studinya di Belanda dan akan segera pulang. Aku yakin mereka bisa saling suka."


Hyun-Ra membeku mendengar hal tiba-tiba dari teman ibu Daehyun.


Beliau ingin menjodohkan anaknya dengan Kyuhyun?


"Boleh-boleh saja kalau memang keduanya sama-sama suka. Tapi prinsip aku tidak ingin ikut campur dalam urusan anak-anakku mencari pasangan. Biar mereka saja yang menentukan dan aku hanya bisa menasehati kalau misalkan mereka salah pilihan."


"E-Eomma ...." Hyun-Ra menyela dengan sopan. "Saya permisi ke belakang sebentar."


"Baiklah, hati-hati menuruni undakan. Cepat kembali pada eomma."


"Ya, Eomma ...."


Hyun-Ra berbalik dan sejenak mencari keberadaan Daehyun, melihat tunangannya itu sedang menemani beberapa temannya, tampak asyik bercerita dan sesekali menerima godaan dari yang lainnya.


Hyun-Ra jadi urung untuk memberitahunya, tidak ingin mengganggu mereka dulu dan karena ia hanya akan ke toilet sebentar.


Namun ketika ia hendak berbelok ke sebuah lorong, ia melihat pemandangan yang tiba-tiba terasa perih di matanya, menjalar turun lalu menimbulkan rasa sakit di hatinya.


Di sudut sana, dekat lorong menuju taman belakang, ia menemukan Cho Kyuhyun sedang bersama seorang perempuan, dengan Kyuhyun yang bersandar di dinding dan perempuan itu berada di hadapannya, begitu dekat, tampak mengobrol berdua dan bahkan Hyun-Ra melihat perempuan itu mengelus dada Kyuhyun lalu kemudian mencium bibirnya ....


Mencium bibirnya!


Sedangkan Kyuhyun hanya diam saja ....


Sedangkan Kyuhyun membiarkannya ....


Dalam sekejap rasa panas menyelimuti Hyun-Ra dan ia berbalik dengan segera, membuat Kyuhyun akhirnya menyadari ada gerakan yang ternyata memergokinya.


Hyun-Ra tidak menoleh lagi, ia bergegas mencari toilet agar segera kembali pada Daehyun dan tidak membuat Nyonya Cho khawatir.


Namun tetep saja, rasanya ia ingin berteriak keras lalu menangis sejadi-jadinya.


Ternyata Kyuhyun tetaplah seperti biasa.


Ternyata Kyuhyun tetaplah pria playboy yang suka berganti banyak wanita.


Hyun-Ra menahan rasa marahnya dengan mempercepat langkah, dan seorang pelayan seketika berhenti ketika berpapasan dengannya, membuat Hyun-Ra ikut berhenti.


"Nona mau kemana?"


"Aku ... ingin ke toilet."


"Jangan ke sana, Nona, empat toilet sedang antri dipakai tamu undangan. Lebih baik Anda menggunakan toilet di kamar Tuan Daehyun saja. Akan saya antarkan."


Hyun-Ra mengangguk kaku. "Baiklah, terima kasih, aku bisa ke atas sendiri. Kau lanjutkan saja pekerjaannya."


Pelayan itu membungkuk hormat. "Baik, Nona." Lalu pelayan itu berlalu sopan meninggalkan Hyun-Ra.


Hyun-Ra berbalik dan memilih naik tangga seperti saran pelayan tadi dari pada mengganggu tamu undangan, berhati-hati memijak undakan dengan sepatu tingginya yang cukup menyulitkan. Ia membuka kamar di sana dan langsung memasuki toilet mewahnya, terlalu mewah hingga Hyun-Ra sempat bingung menggunakan fasilitasnya. Ia tidak mau berpikir apapun lagi selain cepat-cepat menyelesaikan urusannya lalu kembali ke bawah bersama calon ibu mertuanya, berusaha mengusir pemandangan yang dilihatnya tadi dari benaknya.


Namun ternyata ....


Sulit.


Hyun-Ra terus teringat dengan dada ingin meledak menyemburkan amarah. Ia menunduk di depan cermin, menormalkan napas sesaknya, menenangkan gejolak sakit yang menghimpit hatinya.


Apakah perempuan tadi adalah kekasih Kyuhyun? Apakah Kyuhyun memang memiliki banyak kekasih seperti yang selalu muncul di berita-berita?


Lalu kalau begitu, kenapa pria itu menyatakan cinta padanya? Kenapa Kyuhyun sering mengganggunya? Selalu mencium bahkan menidurinya?


Sebejad inikah Cho Kyuhyun pada kenyataannya?


Tanpa tahan bulir air mata Hyun-Ra menetes namun ia segera menghentikannya, mengusapnya agar tidak merusak riasannya.


Sudahlah, Hyun-Ra, kenapa kau harus bersedih memikirkan pria playboy itu? Kyuhyun hanyalah calon iparmu, bukan kekasihmu.


Seharusnya kau hanya memikirkan Daehyun saja,


Hanya Daehyun saja.


Hyun-Ra keluar dari toilet dan hendak kembali ke pesta, untuk kemudian berubah membeku di tengah ruang kamar itu. Jantungnya berdebar kencang dengan darah yang berdesir keras.


Ia melihat Cho Kyuhyun sedang bersandar di tembok dekat pintu, dengan pintu yang tertutup rapat dan pria itu seperti sedang menunggunya.


Alis Hyun-Ra berkerut heran.


"Kyuhyun? Apa yang kau lakukan di sini?"


Bukankah seharusnya Kyuhyun berada di bawah bersama perempuan tadi?


"Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan di kamarku sendiri?"


Hyun-Ra mengernyit. "Kamarmu?" Ia langsung mengedar ke sekeliling dan seketika merasa cemas kalau ia sudah salah memasuki kamar.


"Kamar Daehyun di sebelah, dan kau justru memasuki kamarku, memilih kamarku. Apa kau tidak berpikir kalau mungkin saja suatu saat kau juga akan memilihku?"


Hyun-Ra melangkah kasar ke arah pintu tidak ingin mendengar apapun dari Kyuhyun, tapi pria itu mencengkram pergelangannya dan tidak membiarkannya pergi.


Hyun-Ra menatap kesal.


"Lepaskan aku!"


"Apa kau marah? Aku tahu kau tadi melihatku di bawah. Apa kau kesal padaku?"


"Aku bilang lepaskan!"


"Atau kau cemburu?"


Hyun-Ra menyentak tangannya. "Cho Kyuhyun, aku tidak peduli kau mau melakukan apapun dengan perempuan itu! Karena kau memang menjijikkan dan aku tidak peduli padamu! Lanjutkan saja apa yang kalian lakukan dan kau salah jika berharap aku cemburu! Aku-tidak peduli-padamu!"


Kyuhyun terdiam, matanya menyusuri raut Hyun-Ra dan ia tidak bodoh untuk mengartikan kalau gadis ini memang cemburu.


Tapi ....


Kenapa Hyun-Ra harus kembali mengatakan kalau ia menjijikkan?


Seburuk itukah dirinya?


"Jadi lebih baik, mulai sekarang kau berhenti menggangguku karena sedikitpun aku tidak peduli padamu! Jangan berharap apapun karena yang ada aku justru jijik padamu!"


"Padahal kau bisa meminta penjelasanku dengan apa yang kau lihat tadi, Hyun-Ra, aku bisa menjelaskan semuanya."


"Aku tidak butuh! Simpan semua penjelasanmu atau kau berikan saja penjelasan itu pada perempuan lain!" Hyun-Ra terengah, air matanya menggenang. "Aku jijik padamu, Cho Kyuhyun, aku jijik padamu!"


Hyun-Ra membuka pintu dan bergegas keluar dari sana, meninggalkan Kyuhyun yang membatu di tempatnya.


Kata-kata Hyun-Ra mulai merasuk ke dalam hatinya dan menusuk-nusuknya.


"Jijik?" gumam Kyuhyun tanpa sadar, lirih, berbicara pada dirinya sendiri. "Aku tahu kau mengatakan itu karena kau marah 'kan? Kau cemburu 'kan?" Kyuhyun tergelak miris. "Seharusnya aku yang marah padamu, Hyun-Ra, kenapa kau masih melanjutkan pertunangan itu padahal hati dan tubuhmu sudah menjadi milikku. Kenapa kau masih melakukannya?"


Seketika Kyuhyun merasakan kepalanya pening karena memang demamnya belum mereda. Entah apa yang membuatnya memaksakan diri untuk turun dan memainkan pianonya di tengah pesta tadi. Yang jelas, ia hanya ingin menunjukkan pada Hyun-Ra bahwa acara pertunangan itu sudah begitu menyakitinya.


Dan sekarang, Hyun-Ra mengatakan kalau ia menjijikkan?