TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 21



...▪▪▪...


Semua kamera sudah dimatikan, setelah pidato sambutan dari Direktur Utama Cho's Corporation, live streaming berakhir dan mereka tidak diizinkan meliput acara hingga selesai.


Kyuhyun menyingkir, memilih berdiam di ujung ruangan sambil bersandar di dekat jendela dengan tangan yang memegang segelas ice wine. Demi apa, pesta ini cukup membosankan dan membuatnya jengah.


Ataukah mungkin ... karena moodnya yang sedang buruk sehingga segalanya tampak menjengkelkan di matanya?


Bahkan Kyuhyun harus memaksakan senyum dan jawaban baiknya ketika ada yang menyapa ataupun menanyainya kenapa tidak bergabung bersama yang lain. Ia memang paling sebal saat sedang meradang dan masih ada yang berbasa-basi atau banyak tanya, membuatnya sepuluh kali lipat jadi lebih sensitif.


Kyuhyun meneguk minumannya dengan pandangan nyalang ke tengah ruangan, ke arah Daehyun yang terlihat sibuk berbincang-bincang dengan beberapa koleganya, sedangkan Hyun-Ra yang berada di samping tampak kikuk mendampingi Daehyun dan sesekali tersenyum menanggapi obrolan dari para orang kaya.


Kyuhyun tahu gadis itu tidak nyaman berada di sana.


Tapi ayolah, bisakah kakaknya itu melepaskan tangannya yang sedari tadi merangkul pinggang Hyun-Ra? Membuatnya sebal, membuat moodnya jadi semakin memburuk dengan harus melihat pemandangan itu.


Memangnya siapa yang akan merenggut Hyun-Ra sampai kakaknya harus bersikap seposesif itu?


Tentu saja kau, Cho Kyuhyun! Memangnya siapa lagi yang sekarang tampak seperti predator dengan niat terselubung ingin memangsa Hyun-Ra?


Kyuhyun mendengus, marah dengan jawaban di benaknya yang sangat benar. Ia memang sedang ingin memakan Hyun-Ra, menghabisinya dalam sekali telan, dan tidak akan menyisakan sedikitpun untuk kakaknya.


Kyuhyun melirik sekeliling dan menyadari ada banyak perempuan yang menatap minat ke arahnya, memandangnya dengan raut memuja, ataupun melirik sembunyi-sembunyi dengan ekspresi malu tapi tidak mampu menutupi kekagumannya.


Kyuhyun kembali ke arah Hyun-Ra, pandangannya tampak membara dan ia menegak minumannya lagi hingga tandas.


Ia masih tak habis pikir dengan dirinya sendiri, baru kali ini ia serasa mati bosan berada di sebuah pesta, seolah ia sedang berada di dalam goa yang membuatnya pengap. Biasanya ia akan memiliki seribu keisengan dan hal-hal gila yang bisa ia lakukan, seperti misal; menggoda dan membuat para perempuan menjerit-jerit dengan perlakuan lembutnya, membuat mereka harus memasang tampang bodoh karena rayuannya, hingga kemudian mati beku dengan seluruh pesonanya.


Tapi sekarang, entah kenapa semua perempuan cantik yang jelas-jelas menatap mendamba padanya sudah tak lagi terlihat menarik ataupun menghiburnya. Ia tidak berminat untuk melakukan keisengan atau sekedar melepaskan aura ketampanannya. Kehadiran Hyun-Ra benar-benar telah mengubah kebiasaan dirinya.


Ia ingin Hyun-Ra, saat ini, hanya ingin gadis itu.


Tanpa tahan Kyuhyun benar-benar pergi meninggalkan pesta itu, keluar dari lingkaran membosankan sekaligus suasana yang membuat hatinya panas membara, terbakar api cemburunya.


Ia berdiam di lorong sepi yang tidak jauh dari toilet kantor, menyendiri, dan ia bingung harus kemana lagi mencari tempat yang lebih layak untuk menenangkan diri. Setidaknya kalau tiba-tiba kepalanya mengeluarkan api dan asap, ia bisa segera berlari ke toilet lalu mencelupkan kepalanya ke dalam air.


Kyuhyun tergelak miris, merasa konyol dan tolol.


Ia sedikit pusing karena pengaruh wine, dan sepertinya ia terlalu banyak meneguk minuman itu.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya, suara high heels, dan jelas ini adalah seorang perempuan. Kyuhyun tak bergeming di tempatnya, ia tetap bersandar, menunduk, dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


Dan saat perempuan itu muncul di belokan yang tak jauh darinya, Tuhan seakan ingin menguji ketahanannya dengan kedatangan Shin Hyun-Ra yang tanpa disangkanya.


Gadis itu terlihat begitu cantik seperti Dewi, membuat dada Kyuhyun berdebar, dan Hyun-Ra pun tampak terkejut saat menemukan Kyuhyun berdiri di sana seorang diri.


Sebuah kebetulan yang tidak dapat mereka hindari.


Dan Kyuhyun tahu, saat ia menatap wajah cantik dan bibir menggemaskan itu lagi, ia pasti tidak akan bisa untuk mengendalikan diri.


Pertahanan goyah Kyuhyun membuahkan rasa putus asa, hingga dorongan kuat dari dalam dirinya memicu Kyuhyun untuk kembali berbuat nekat.


"Jangan pergi." Kyuhyun merangsek cepat menangkap lengan Hyun-Ra ketika gadis itu hendak berbalik. Tentu saja gadis itu langsung berontak, selalu seperti itu, dan dengan kepala pening Kyuhyun merengkuh Hyun-Ra lalu memenjaranya di dinding tembok.


"Lepaskan aku, Kyuhyun!" Hyun-Ra berusaha mendorong dada Kyuhyun namun pria itu mencengkram tangannya, mengecup jemarinya dan menyusuri lengannya dengan bibir liarnya. "Kyuhyun, lepas! Apa yang kau lakukan?!"


"Kemarahanmu bisa mengundang orang-orang datang kemari. Jadi, please, diamlah."


"Apa yang kau inginkan?!"


"Dirimu."


"Jangan gila!" Hyun-Ra mendorong Kyuhyun sekuat tenaga hingga pria itu mundur beberapa langkah. "Kau sudah berjanji tidak akan menggangguku, tapi sekarang kau mengingkarinya!"


"Aku tidak bisa menepati janjiku, Hyun-Ra, aku butuh bertemu denganmu."


"Ternyata kau tetap saja laki-laki brengsek!"


"Salahkan saja dirimu kenapa terlalu menggairahkan."


Hyun-Ra menatap marah, hendak melengos pergi namun lagi-lagi Kyuhyun tidak membiarkannya.


"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak!"


"Dan membuat semua orang tahu dengan apa yang pernah terjadi di antara kita?"


"Jangan mengancamku!"


"Hyun-Ra, dengarkan aku." Kyuhyun menahan dorongan untuk menerkam bibir itu dan berusaha tetap fokus di mata Hyun-Ra. "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku dan kembaranku akan memiliki kesamaan selera dalam hal perempuan. Karena saat aku berjabat tangan denganmu—pacar Daehyun—tiba-tiba ada suatu dorongan ingin memiliki tubuhmu, menidurimu. Dan ternyata setelah semua itu tercapai, aku justru terdorong untuk memiliki hatimu, merebutmu. Apa menurutmu aku begitu keterlaluan?"


Hyun-Ra terperangah syok dengan rentetan ucapan Kyuhyun.


"Kau bukan hanya keterlaluan, tapi kau sudah gila!!"


"Ya, kau benar. Aku memang gila. Tapi satu hal yang akan aku pastikan, bahwa nanti kau akan mencintai pria gila ini dan melupakan kembarannya."


"Tidak akan!"


"Bahwa Cho Daehyun akan luntur dan hanya Cho Kyuhyun yang kau cinta."


"Aku tidak mungkin mencintai pria buruk sepertimu!!"


"Dan pria buruk inilah yang nanti akan menjadi belahan jiwamu, bukan kembarannya."


"Cukup, Kyuhyun!!" Hyun-Ra habis kesabaran dan ia benar-benar ingin memaki. Namun ia tahu, semakin ia memberontak, maka Kyuhyun akan semakin menjadi-jadi. Hyun-Ra berusaha meredam emosinya. "Aku tidak tahu kenapa kau selalu seperti ini kepadaku, kenapa kau memperlakukanku dengan cara ini dan kenapa kau harus melakukan semua ini."


Kenapa?


"Ya."


"Kau yakin ingin mengetahuinya?"


"Katakan saja."


"Kalau begitu, angkat tanganmu."


"Apa?"


"Letakkan tanganmu di dadaku."


Hyun-Ra mengernyit waspada. "Buat apa?"


"Lakukan saja. Kau ingin tahu 'kan?"


Meski lagi-lagi Hyun-Ra terdesak untuk pergi, namun ia benar-benar ingin tahu apa alasan Kyuhyun di balik semua ini.


"Sentuh dadaku," gumam Kyuhyun sekali lagi.


Dengan ragu Hyun-Ra mengarahkan tangannya ke dada Kyuhyun, menyentuh dengan gugup meski sebenarnya ia takut melakukan itu.


Tetapi Kyuhyun merasa gemas dan tidak sabar, ia memegang tangan Hyun-Ra dan menempelkannya lekat-lekat di dadanya.


Hyun-Ra terkejut.


"Apa yang kau rasakan?" Nada Kyuhyun terdengar menuntut. "Katakan apa yang kau rasakan?"


"D—dadamu berdetak kencang."


"Kau tahu artinya apa?"


"Tidak."


Kyuhyun mendesis marah. "Keterlaluan! Apa harus aku jelaskan dengan gamblang kalau detakan dadaku karena— " Ucapan Kyuhyun menggantung ketika ia mendengar langkah-langkah kaki mendekat dengan suara orang yang sedang mengobrol.


Kyuhyun menajamkan pendengaran, sementara Hyun-Ra merasa panik.


Siapapun pasti akan curiga melihat keberadaannya dengan adik kembar kekasihnya ... hingga kemudian akan timbul gosip panas.


Hyun-Ra menatap Kyuhyun dengan was-was. Dan belum sempat ia mengungkapkan kecemasannya, Kyuhyun seketika merangkulnya ke dalam toilet lalu mengunci pintunya dalam dua kali putaran.


Langkah-langkah kaki itu semakin dekat hingga kini berhenti di depan pintu, memutar-mutar gagangnya berusaha membuka.


"Kenapa terkunci? Apakah di dalam ada orang?" Itu suara wanita dan sepertinya tidak sendirian.


"Coba aku yang buka." Suara wanita lainnya juga terdengar. Dan putaran-putaran di gagang pintu semakin mendesak. "Sepertinya memang terkunci."


"Halo? Apa ada orang di dalam?" Terdengar ketukan beberapa kali.


Hyun-Ra semakin panik, ia bersandar di dinding dengan Kyuhyun menjulang di depannya dan berada begitu dekat, nyaris memeluknya. Ia mendongak ke arah pria itu dan Kyuhyun langsung membekap mulutnya.


"Diam, atau mereka akan mengetahui keberadaan kita."


Hyun-Ra diam patuh.


"Tidak ada yang menjawab." Suara wanita di luar terdengar lagi. "Lebih baik kita cari toilet lain saja, mungkin toilet ini sedang rusak?"


Dan setelah itu, langkah-langkah kaki tadi mulai menjauh beserta suara-suara yang berubah sunyi.


Hyun-Ra mendesah lega, ketegangannya melonggar.


Namun kemudian ia kembali waspada, menyadari kedekatannya dengan Kyuhyun begitu intens dan Kyuhyun tidak cepat menjauhkan tubuhnya.


Hyun-Ra mendongak lagi ke wajah pria itu, hanya untuk bertemu dengan mata Kyuhyun yang menunduk ke arahnya. Tatapan mereka beradu dalam beberapa saat, dalam keheningan, dan entah apa yang harus Hyun-Ra pikirkan dengan wajah sempurna yang sedang berada di atasnya. Kyuhyun tidak mengatakan apapun selain hanya menyorotnya dengan pancaran yang sulit ia artikan.


Hyun-Ra mencoba mengeluarkan suara.


"Bisakah kau menjauh dan lepaskan aku?"


Kyuhyun diam, masih tak bergerak, sehingga mendorong Hyun-Ra untuk berkata lagi.


"Orang tadi sudah pergi dan aku harus kembali ke pesta. Jadi tolong sekarang lepaskan aku."


Hyun-Ra mengernyit ketika Kyuhyun tetap tidak meresponnya.


"Kyuhyun? Apa kau mendengarku?"


"Ya."


"Kenapa kau tidak melepasku?"


"Karena aku tidak mau."


Kejengkelan Hyun-Ra langsung kembali. "Jangan membuatku benar-benar berteriak untuk memanggil orang-orang!"


"Aku tahu pasti kau tidak akan melakukannya." Kyuhyun meremehkan. "Aku hanya ingin satu hal darimu sekarang sebelum aku melepaskanmu."


"Jangan macam-macam!"


"Dan kita bahkan sudah sering melakukannya." Kyuhyun merunduk namun Hyun-Ra berpaling segera, tahu apa yang akan Kyuhyun lakukan sehingga bibir pria itu hanya menyentuh pipinya. "Please," bisik Kyuhyun. "Hanya sebentar saja dan aku akan membiarkanmu pergi."


Setelah mengucapkan itu, Kyuhyun mengejar bibir Hyun-Ra dan tidak menyerah sekalipun gadis itu terus menghindar.


Bibir Hyun-Ra sudah seperti heroin dan menjadi candu bagi Kyuhyun hingga membuatnya sulit berhenti.