TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
BAB 11



...▪▪▪...


Hari itu Hyun-Ra kembali berkunjung ke istana keluarga Daehyun karena permintaan dari sang ibu. Dan berhubung ini akhir pekan, jadi Hyun-Ra memenuhinya.


Seperti saat pertama ia datang, Nyonya Cho menyambutnya dengan hangat, mengajaknya mengobrol sambil berkeliling rumah, serta begitu baik mengajarinya memasak dan memadukan sebuah kelezatan.


Awalnya keadaan aman-aman saja dan Hyun-Ra merasa senang. Ia hanya mendengar suara alunan piano ketika baru masuk rumah, menyuguhkan nada yang indah hingga ia terpesona, dan Daehyun mengatakan kalau musik lembut yang membelai pendengaran itu berasal dari adiknya yang sedang berlatih.


Sampai kemudian Daehyun pergi mengantar ibunya ke supermarket, tiba-tiba Kyuhyun datang mengejutkannya yang sedang sendirian, berdiri di ambang pintu dapur, mengamatinya dengan pancaran mata yang begitu liar. Kyuhyun hanya memakai kaos santai yang membalut pas tubuhnya, begitu tampan dan mencekam, membuat Hyun-Ra berjengit di tempatnya.


"K—Kyuhyun?" Ia bergumam waspada, mengurungkan niatnya untuk pergi ke toilet melihat Kyuhyun ada di sana. "S—sejak kapan kau berdiri di situ?"


"Sejak aku mengetahui ada gadis menggairahkan di dalam dapur ini."


"Jangan macam-macam!" Hyun-Ra langsung berseru memperingatkan, membuat Kyuhyun mengangkat alisnya.


"Padahal aku belum apa-apa tapi kau sudah begitu galak."


"Eomma dan Daehyun sedang pergi, jadi kau tidak boleh— " ucapan Hyun-Ra terhenti, was-was.


"Tidak boleh apa?"


Hyun-Ra tidak meneruskan ucapannya, hingga Kyuhyun menegakkan tubuh dan mulai mendekatinya.


Hyun-Ra berjengit. "K—kau mau apa? Jangan mendekat! Aku akan berteriak memanggil pelayan kalau kau berani macam-macam!"


"Tenanglah, aku tidak akan berbuat jahat."


"Berhenti dan tetap di situ!!"


Kyuhyun terus mendekat, berjalan lambat-lambat membuat gadis itu memundurkan tubuhnya.


"Kyuhyun, aku bilang berhenti! Atau aku akan mengadukanmu supaya semua orang tahu bagaimana kelakuanmu!!"


"Aku ingin menyentuhmu, Hyun-Ra ...."


"Jangan harap!!"


"Memelukmu?"


"Tidak!!"


"Bagaimana kalau mencium?"


"AKU BILANG TIDAK!!"


Sedikit saja, Hyun-Ra, aku sungguh tidak tahan ....


Kyuhyun merasakan tubuhnya memanas seiring jarak yang semakin terkikis, mengabaikan raut panik gadis itu yang terus melangkah mundur.


"Aku benar-benar akan berteriak kalau kau berani menyentuhku!!!" geram Hyun-Ra.


Namun kemudian ia memekik saat kakinya membentur meja di belakang, dengan wangi aroma Kyuhyun yang mulai tercium, membuat dadanya berdegup kencang. Pria itu semakin dekat hingga Hyun-Ra tak bisa bergerak lagi, terkepung meja dan tubuh tinggi sosok tampan itu.


"Kyu!!" Hyun-Ra menahan dada Kyuhyun untuk menghentikannya. Ia mendongak, bertemu dengan tatapan membara yang menunduk ke arahnya.


"Apa kau tidak merindukan sentuhanku?" Nada Kyuhyun seketika terdengar sensual. "Atau paling tidak, merindukan ciumanku?"


"Aku tidak pernah merindukan apapun darimu!"


"Atau perlu aku mengingatkanmu bagaimana rasanya lumatanku? Satu menit cukup untuk kita berciuman."


"Aku tidak sudi dicium laki-laki kurang ajar sepertimphh— " Protesan Hyun-Ra hanya berupa gumaman tak berarti ketika akhirnya Kyuhyun benar-benar menyatukan bibirnya. Seperti biasa, pria itu tidak pernah permisi dan selalu melakukan apapun yang dia suka.


Tangan Kyuhyun merengkuh pinggang Hyun-Ra, mendekapnya agar bersentuhan dengan tubuhnya.


Supaya gadis itu juga tahu, bahwa dengan ciuman seperti ini tubuhnya sudah berhasrat hingga rasanya akan meledak seketika.


Kyuhyun menahan leher Hyun-Ra saat gadis itu melepas pagutan dan menghindar, membungkamnya dan ******* lagi dengan penuh gairah. Demi apa, bibir itu benar-benar dahsyat dan selalu membuatnya ketagihan, membuatnya terbakar hingga Kyuhyun menginginkan lebih.


Kyuhyun ingin lebih.


"Balaslah," gumam Kyuhyun di sela ciuman basahnya. "Atau kau melawan dan aku akan terus menciummu, sampai Daehyun dan Eomma memergoki kita."


"Kau benar-benar kurang ajar!"


"Dan aku akan lebih kurang ajar lagi kalau bibir manismu ini tidak juga membalas lumatanku."


"Aku tidak mau!!"


"Kalau begitu jangan salahkan aku."


"Kau pria brengsek!!"


"Cium aku sekarang. ***** semua bibirku dan masukkan lidahmu ke dalam mulutku." Kyuhyun menekan bibir Hyun-Ra yang hendak memprotes dengan jarinya. "Karena kalau kau segera melakukan apa yang aku mau, maka aku juga akan segera melepasmu."


Hyun-Ra menepis tangan Kyuhyun dengan wajah merah padam menahan marah, membuat pria itu tersenyum miring menantang kekesalannya.


"Ingat," Kyuhyun berbisik dekat hingga Hyun-Ra berpaling benci. "Mungkin Daehyun dan Eomma sekarang sedang dalam perjalanan kemari. Semakin kau melambat, kita akan lebih mempunyai peluang untuk dipergoki."


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!"


"Cium aku, sekarang." Kyuhyun tidak peduli dengan kemarahan Hyun-Ra, kedekatan ini benar-benar membuatnya tak terkendali. Dalam beberapa saat ia melihat gadis itu mengatupkan bibirnya, dengan raut seolah akan mencakar wajahnya, hingga mungkin tak punya pilihan lagi lalu berjinjit untuk menciumnya. 


Kyuhyun tersenyum menang, merundukkan wajahnya menyadari Hyun-Ra kesulitan menggapai tubuh tingginya, memeluk pinggang gadis itu dan sedikit mengangkatnya.


Dalam seketika ia langsung terlena merasakan bibir Hyun-Ra mulai menjelajahi permukaan bibirnya, ******* dan menghisapnya, meskipun terasa kaku karena kemarahannya, tapi masih mampu membuat hasrat Kyuhyun naik pesat tanpa bisa ditahannya.


Dan saat lidah gadis itu menerobos dengan gugup ke dalam mulutnya, Kyuhyun tidak bisa untuk tidak menghisapnya. Pertahanannya runtuh, ia kembali mencengkram tengkuk Hyun-Ra dan membuat ciuman itu lebih menyala-nyala.


Dari sekian banyaknya perempuan yang pernah diciumnya, hanya satu kali ini yang membuatnya merasa benar-benar ketagihan.


Lalu selain itu, apalagi dari gadis ini yang akan membuatnya semakin menggila?


...▪▪▪...


"Apa kau menunggu terlalu lama?"


Hyun-Ra menoleh kaget ketika tiba-tiba Daehyun memeluk perutnya dari belakang.


Tepat setelah lima menit Kyuhyun pergi, Daehyun dan Nyonya Cho datang. Sang ibu hanya tersenyum melihat sikap manja Daehyun pada kekasihnya, lalu menyuruh pelayan yang sedang membawakan belanjaan untuk menaruhnya di ujung meja.


Hyun-Ra menghentikan kegiatannya dan melirik malu ke arah Nyonya Cho.


"Ada Eomma, Dae, jangan seperti ini," protesnya.


"Eomma pasti mengerti, Eomma 'kan juga pernah muda."


"Tapi jangan di sini." Dengan manyun Hyun-Ra mencubit lengan Daehyun, namun pria itu tetap tidak melepasnya. Ia mengangkat adonan yang sedari tadi dikerjakannya, mengancam Daehyun. "Lepas, atau aku akan melumurimu dengan tepung!"


"Dae, kau tidak boleh mengganggu Hyun-Ra," tegur ibunya. "Jangan ganggu kami yang sedang asyik."


"Kalian lanjutkan saja, aku hanya ingin seperti ini ...."


"MASUKKAN SAJA SI DAEHYUN KE DALAM OVEN KALAU DIA TIDAK MAU KELUAR DARI SANA!" Tiba-tiba terdengar suara kesal Kyuhyun dari depan pintu dapur.


Dan menyadari pria itu ada di sana, Hyun-Ra jadi membeku, teringat dengan ciuman mereka beberapa saat lalu.


Bahkan bara panas di bibirnya masih terasa bekas hisapan Kyuhyun yang terus mengejarnya.


Dan ternyata, Kyuhyun masih tetap kurang ajar dengan sifat buruknya yang sering melecehkannya.


Daehyun berbalik pada adiknya.


"Bukankah kau harus latihan? Pergi sana."


"Keluar dari situ, Dae! Aku malas lihat orang pacaran!"


"Kalau begitu jangan lihat." Daehyun sengaja menjangkau pipi Hyun-Ra dan mengecupnya.


"Sialan!!" Kyuhyun mengumpat lalu melengos pergi dari tempatnya.


Nyonya Cho terkikik sambil geleng-geleng kepala melihat kedua putra kembarnya. Sementara Hyun-Ra hanya mampu terdiam, tidak berani bergerak ataupun menoleh pada Kyuhyun.


"Aku tidak akan mengganggumu lagi," bisik Daehyun melepaskan dekapannya. Ia kembali melabuhkan kecupan cintanya di pipi Hyun-Ra. "Selamat memasak, Sayang, aku akan menunggu di ruang tengah."


Daehyun berlalu membiarkan Hyun-Ra dan ibunya melanjutkan kegiatan asyiknya.


Hingga ketika waktu makan siang tiba, Hyun-Ra sebenarnya sudah kehilangan selera menyadari lirikan Kyuhyun sesekali terlihat nakal kepadanya. Rasanya ia ingin memecahkan beberapa piring di atas kepala pria itu.


Hyun-Ra mencoba mengabaikan dengan menganggap Kyuhyun tidak ada di sana. Tapi mana mungkin bisa?


"Bagaimana masakan Hyun-Ra? Enak 'kan?" Nyonya Cho tiba-tiba berceletuk di ujung meja, memulai pembicaraan. Hanya Tuan Cho yang tidak ada karena beliau masih berada di luar kota.


Daehyun tersenyum menanggapi sang ibu. "Aku selalu percaya dengan masakannya, Eomma, dia memang jago."


"Dae, kau berlebihan." Hyun-Ra merasa malu dengan pujian kekasihnya.


"Dan kau, Kyu, kalau mau cari calon istri, cari yang seperti Hyun-Ra. Sudah baik, cantik, pintar masak lagi."


Kyuhyun mengunyah sambil menatap ibunya. "Kalau aku tidak bisa menemukan yang seperti dia, bagaimana?"


"Banyak waktu untukmu mencari yang terbaik." Kali ini Daehyun yang menjawab.


Kyuhyun mendengus bosan. "Kalau tidak ada?"


"Pasti ada.


"Kalau tidak?"


"Ada."


"Dan kalau tidak, bagaimana jika kita dua pria dengan satu istri saja? Cukup Hyun-Ra dan kita bagi dua?"


"Kyu!" Daehyun langsung meradang. "Jangan macam-macam kalau soal dia! Hyun-Ra hanya milikku!"


"Jangan pelit jadi saudara, memangnya kau tidak ingin berbagi denganku?"


"Tidak untuk yang satu ini! Kau gila!"


Kyuhyun seketika terkekeh melihat raut kesal kakaknya. "Dasar pencemburu. Begitu saja sudah panik. Aku hanya bercanda, kau tahu. Ya ... kecuali kalau kau berubah pikiran."


"Adik sialan!"


Tawa Kyuhyun terdengar menyebalkan membuat Daehyun menahan gerakan agar tidak melemparinya dengan sendok. Keisengan Kyuhyun memang kadang keterlaluan.


"Sudah, sudah, kalian berdua seperti anak kecil saja." Nyonya Cho lagi-lagi harus geleng kepala mengamati kelakuan kedua putranya.


Sementara Hyun-Ra hanya mampu menunduk, wajahnya memerah berada di tengah perdebatan dengan ucapan sinting dan mengesalkan Kyuhyun.


Demi apa, pria itu memang perlu dijahit mulutnya!