
BAB 1 : 3 Sahabat
"Pulang yuk!" ajak seorang gadis berseragam putih abu-abu pada kedua sahabatnya. Dia berdiri celingak-celinguk mengamati sekitar. Memastikan jika tak ada guru yang melihat keberadaan mereka.
Gadis itu berdecak kesal. Dia terus berjalan mondar-mandir sembari menggigiti jarinya sendiri menahan kegelisahan. Ditatapnya kedua sahabatnya itu bergantian. Namun kedua orang itu sama sekali tak bergeming dari posisi mereka. Mata mereka tak berkedip sama sekali menatap layar ponsel.
Gadis itu menghela napas. Sudah dua jam sejak pulang sekolah mereka berada disana hanya untuk memanfaatkan fasilitas wi-fi sekolah.
Koridor sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa guru yang sedang bekerja lembur dan karyawan yang sedang bertugas bersih-bersih sekolah. Selebihnya lengang. Tak ada satupun murid yang masih berkeliaran di sekolah di jam segini, kecuali mereka.
"Bentar, ah. Lagi nanggung nih!" jawab seorang cowok bernama Aldi yang sedang memainkan game di ponselnya. Sama sekali tak melirik pada gadis itu.
Lagi-lagi gadis itu menghela napas. Dia tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu. Padahal mereka sudah berjam-jam berada disini dengan ponsel mereka entah melakukan apa saja, tapi mereka masih saja betah dengan ponsel itu sampai sekarang dan tidak kunjung ingin pulang.
"Isshh, cepetan! Udah jam setengah 6 nih, nanti keburu ditutup gerbangnya." seru cewek itu khawatir.
Renata Clarissa. Cewek cantik dengan lesung pipit di pipi kirinya. Sering dipanggil Rere. Salah satu siswi kelas sebelas SMA Merpati. Tergolong murid yang biasa saja. Tidak pintar dan tidak juga bodoh. Memiliki sifat ceroboh, agak manja, dan sangat membenci kucing.
"Yaelah, nanti gue manjat pager bisa" Aldi menjawab enteng, membuat Rere mengerucutkan bibirnya kesal.
"Iye, lo bisa. Nah gue sama Dhea?" sungut Rere semakin merasa kesal karena harus berdebat dengan cowok macam Aldi yang tidak mau mengalah.
"Sabar." jawab Aldi masih dengan nada santainya.
"Iya Re, gue juga lagi download drama korea kesukaan gue buat begadang nanti malem, nih." Dhea ikut menyahut. Cewek dengan rambut dikuncir kuda serta poni samping itu menatap Rere sebentar, namun kembali mengalihkan tatapannya ke ponsel.
"Kenapa gak dirumah aja, sih?" Rere berkacak pinggang sambil menatap kedua orang itu kesal.
"Gak ada sinyal." jawab Aldi cepat.
"Gak ada sinyal apa gak ada kuota?" sindir Rere tanpa menatap Aldi.
"Ya, dua-duanya sih..." Aldi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengar-cengir tanpa dosa.
"Kere." cibir Rere pelan, namun masih bisa didengar oleh Aldi.
"Sewot aja sih, lo!"
"Biarin!"
"Rempong banget sih lo, kek emak gue!" cibir Aldi.
Rere memutar bola matanya jengah. Kedua orang di depannya itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Malahan, makin asyik dengan kegiatannya masing-masing. Rere mencebikkan bibirnya kesal, kembali berbicara lagi.
"Ayolah...badan gue udah gatel-gatel nih, pengen mandi." rengeknya seperti anak kecil minta dibelikan mainan.
"Ya udah, pake kamar mandi sekolah aja." Rere membulatkan matanya mendengar jawaban dari Aldi. Cowok itu memang selalu berbicara ngawur, tidak pernah memikirkan apa risiko dari perkataannya.
"Mana bisa!" bantah Rere.
"Lo gak bisa mandi? Ya udah, ayok gue mandiin." Aldi menghentikan aktivitasnya sejenak sambil menatap Rere datar. Sontak Rere langsung memukul kepala Aldi lumayan keras.
Cowok itu memang sekali-kali harus diberi pelajaran. Supaya bisa mikir bener.
Disampingnya, Dhea malah cekikikan menatap Aldi yang terkena amukan Si Ratu Singa.
"Rasain lo! Rasain!" kata Rere sambil terus memukuli Aldi.
"Aduh...adaw...ampun, Re" Rere akhirnya berhenti memukuli Aldi setelah cowok itu berteriak kesakitan.
"Salah gue apaan sih..." Aldi mengelus-ngelus kepalanya yang tadi dipukuli Rere. Bisa-bisa dirinya menjadi amnesia jika dipukuli seperti itu terus-menerus.
"Masih nanya lagi! Otak lo itu perlu dicuci biar pikirannya gak kotor mulu!" kata Rere berapi-api. Dia merasa kesal dengan sikap Aldi yang tidak mengakui kesalahannya.
"Kan gue cuma mau bantuin lo." jawab Aldi polos, membuat kepala Rere seperti mau meledak rasanya.
"Itu namanya cari kesempatan dalam kesempitan!"
"Ya, membuat orang senang kan dapat pahala, Re." Aldi menatap Rere dengan senyuman devil nya, membuat cewek itu menghadiahkan jitakan di kepalanya.
"Mesum lo!"
"Cowok. Mesum. Wajar kali!" seloroh Aldi masih tak mau kalah. Cowok itu mengambil ponselnya dan kembali memainkan game yang tadi sempat terhenti karena ulah Rere. Melihat hal itu, Rere semakin geram.
"Kok malah main lagi, sih?" tanya Rere kesal.
"Ini semua gara-gara lo!"
"Kok gara-gara gue?"
"Kalau lo gak mukulin gue, gue pasti udah menang tadi." Aldi mengutarakan argumennya.
"PD banget lo! Lagian gue mukulin lo...karena lo juga yang salah!" jawab Rere ketus. Merasa tidak terima dengan argumen yang dilontarkan Aldi.
"Udah diem aja deh lo, 5 menit, gue hampir menang nih." titah Aldi.
"Cepetan!"
"Lo santai aja kenapa sih, Re?" ujar Dhea.
"Kayak anak TK aja lo. Takut pulang malem." tambah Aldi.
Rere menepuk dahinya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ini bukan soal takut pulang malam atau anak TK yang dicariin emaknya karena gak pulang-pulang! Tapi ini masalah pintu gerbang. Kalau misalnya pintu gerbang sudah dikunci, terus mereka masih di dalam gimana? Ya kalik, mau tidur di sekolahan!
"Udah cepetan ayookkk!!" Ditariknya tangan Aldi dengan keras hingga menyebabkan cowok itu jatuh terduduk di lantai.
"Gileee...tepos deh pantat gue." Aldi meringis kesakitan sambil mengusap-usap pantatnya yang tadi berciuman keras dengan lantai.
"Emang pantat lo itu udah tepos dari sananya kalik!" balas Rere sengit.
"Bantuin, napa?" Rere melengos, tak mempedulikan tatapan memelas dari sahabat cowoknya itu. Akhirnya, Aldi bangun sendiri.
"Tega bener lo!" gumamnya pelan.
"Eh, itu...anu pak..." kata Dhea terbata-bata.
"Kami lagi ngerjain tugas kelompok pak." jawab Aldi dengan lancar disertai senyuman khasnya.
"Iya kan, Re?" Rere melirik Aldi sekilas. Dilihatnya cowok itu malah mengedipkan sebelah matanya pada Rere.
"Mata kamu kenapa, hah?" Pak Gandi memicingkan sebelah matanya menatap Aldi.
"Anu pak...kelilipan" Aldi mengucek-ucek matanya sambil mengaduh agar Pak Gandi percaya.
"Eh, iya pak. Tugasnya itu buanyak banget pak. Ini aja belum selesai pak." Rere melancarkan aksi bersandiwaranya dengan Aldi.
'Tugas apaan? Tugas download film sama main game?' Umpat Rere dalam hati mencibir.
"Ya udah, kita pulang dulu pak." Aldi memasukkan ponselnya ke dalam saku celana kemudian menyalami Pak Gandi cepat. Sedangkan guru itu hanya menyipit melihat tingkah Aldi.
"Pamit dulu ya pak." kata Dhea sambil mencium punggung tangan Pak Gandi persis seperti yang dilakukan oleh Aldi tadi. Rere cepat-cepat ikut menyalami.
Pak Gandi mengerjap-ngerjapkan matanya. Guru itu mengangkat kedua bahunya tidak peduli, kemudian berbalik menuju ruang kerjanya kembali.
Sedangkan Rere, Aldi, dan Dhea mengendap-endap menuju parkiran untuk mengambil mobil Dhea yang terparkir disana.
"Untung aja, Pak Gandi gak curiga tadi" Dhea mengelus dadanya sambil bernapas lega. Dirinya sudah berada di dalam mobil bersama Aldi dan Rere. Dhea sendirian di belakang, sedangkan Rere dan Aldi di depan.
"Gue bilang juga apa. Diajak pulang dari tadi pada nanti-nati mulu sih," balas Rere kesal. Aldi malah berpura-pura tidak mendengarkan. Dia menyalakan radio sedikit keras, kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Iya-iya...maaf Re" jawab Dhea.
Rere mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Merasa kesal dengan kedua sahabatnya itu, terutama Aldi. Cowok itu sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan masih tetap bersikap santai.
"Eh, pada laper gak?" tanya Dhea setelah beberapa menit tidak ada pembicaraan diantara mereka.
"Gak"
"Laper"
Rere dan Aldi mejawab bersamaan. Kemudian saling lirik dengan tatapan tajam.
"Gue gak laper" Rere berkata jutek.
"Tapi gue laper." sahut Aldi membalas perkataan Rere.
"Terus, gimana? Mau makan dulu apa gak?" Dhea menatap keduanya bingung. Merasa tidak tahu harus membela siapa.
"Gue gak laper. Gue maunya pulang sekarang!" kata Rere kesal.
"Tapi gue maunya makan sekarang." balas Aldi sengit.
"Serah." Rere menatap Aldi tajam, kemudian mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela mobil.
"Ya elah, ngambekan lo." cibir Aldi.
"Ok, sekarang kita pulang." lanjutnya lagi. Akhirnya, Aldi mengalah. Walaupun perutnya sudah keroncongan minta diisi, tapi dia mengalah demi Rere, sahabatnya.
**********
"Baru pulang?" seru seorang cowok yang sedang berbaring di sofa sambil menonton televisi yang sedang menanyangkan acara FTV sore menjelang malam. Nico namanya. Dia adalah kakak laki-laki Rere. Tampan, cool, salah satu most wanted di SMA Merpati.
Rere hanya berjalan malas menuju sofa yang diduduki oleh cowok tadi. Sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan cowok itu.
"Darimana aja?" lanjut Nico karena merasa diacuhkan oleh adiknya.
"Sewot aja sih, lo!" balas Rere sengit.
"Sensitif amat"
"Biarin!"
"Lo pasti diracunin sama cowok gesrek itu lagi, kan?" Nico memicingkan sebelah matanya menatap Rere. Ya. Cowok gesrek. Sebutan Nico untuk Aldi.
"Apaan deh" kesal Rere. Dia duduk disebelah Nico dan tanpa aba-aba langsung merebut snack dari tangan kakaknya.
"Eh, busyet...makanan gue"
"Cerewet!" Rere memakan snack yang tadi telah dibuka kakaknya dengan brutal. Hingga sebagian berceceran di lantai.
"Gaje lo!" Nico mencibir.
"Udah ahh, gue capek. Mau mandi. Nih, gue kembaliin" Rere mengembalikan snack yang sudah ludes itu ke tangan kakaknya, kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sontoloyo...giliran udah habis aja dikasih lagi ke gue." Nico mengumpat saat melihat isi snack yang sudah kandas, hanya tinggal bungkusnya saja.
*********
*TBC
Yeni Rahmawati