TEARS OF LOVE

TEARS OF LOVE
Bertemu Lagi



BAB 3 : Bertemu Lagi


ISTIRAHAT.


Adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa-siswi di SMA Merpati. Mungkin bukan hanya siswa-siswi nya, tapi para penjual makanan di kantin, bahkan guru-guru sekalipun. Waktu istirahat bagai obat penyegar dari aktivitas di sekolah. Mereka bisa melepas segala penat, haus, lapar, kantuk, pusing, dan masih banyak lagi.


Hari ini cuaca cukup panas. Sinar matahari begitu terik menyengat. Padahal baru pukul 10.15. Jam istirahat pertama. Siswa-siswi terlihat begitu memenuhi area kantin. Tak terkecuali dengan Rere dan Dhea. Mereka baru saja keluar dari kerumunan orang-orang kelaparan itu, setelah tadi bersusah payah mengantri untuk mendapatkan makanan.


"Kenapa lo? Lecek banget mukanya." tanya Dhea seraya meletakkan mangkuk yang berisi soto ke meja makan di kantin. Diikuti oleh Rere yang mendudukkan pantatnya di sebelah Dhea.


"Gue tuh masih kesel sama abang gue. Gara-gara dia gue jadi telat! Pengen gue tonjok-tonjok tuh muka, rasanya." Rere memulai curhatannya. Dia terus mengumpat sambil mengaduk-aduk makanannya, seolah-olah makanan itu adalah kakaknya sendiri.


"Gara-gara dia? Bukannya lo yang tidurnya kek kebo?" tanya Dhea agak keras. Siswa-siswi lantas menoleh menatap Dhea dengan lipatan di dahi. Rere yang menyadari hal itu, sontak membekap mulut sahabatnya.


"Dheaa...ihhh mulut lo ya! Malu tahu didenger orang-orang!" bisik Rere kesal. Dia melotot menatap Dhea. Sedangkan yang dipelototi malah tertawa dengan nada mengejek.


"Elah, biasanya juga malu-maluin!" balas Dhea santai. Dia menyendok sesuap soto, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Tau ahh, males gue sama lo!"


"Ga usah ngambek kali! Udah cepet cerita!" kata Dhea mengalah.


"Masa tadi gue ditelantarin di jalan sendirian sama abang gue?" keluh Rere dengan wajah seperti orang nelangsa.


"Kok?" heran Dhea.


"Gak tau lah. Sebel gue"


"Masa sih kakak lo tega nelantarin lo sendirian tanpa sebab? Pasti lo kan yang buat ulah duluan?" tuding Dhea.


"Lo lo lo lohh, kenapa malah jadi belain kakak gue lo?" ujar Rere tak terima.


"Ya, bukannya gue belain sih.....Tapi kan...." Dhea menjeda kalimatnya saat melihat Rere menatapnya tajam.


"Gak jadi." tukas Dhea.


"Terus?" lanjutnya dengan nada penasaran, agar Rere tidak jadi memarahinya.


"Untung aja, tadi ada Kak Galih yang nawarin bareng ke sekolah" lanjut Rere sembari meminum jus melonnya.


"Lo tadi berangkat bareng sama Kak Galih?"


"Cuma kebetulan aja" Rere menjawab santai.


"Seriusan? Yang ketua osis itu?" tanya Dhea antusias. Seolah merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Lebay ihh" Rere mencibir.


"Lebay gimana sih? Orang gue cuma nanya." Rere hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Dia kembali meminum jus melonnya hingga tersisa setengah. Entah mengapa tenggorokannya terasa begitu kering saat ini.


"Tunggu deh. Kak Galih nebengin lo? Berarti, dia telat juga dong?" Rere hanya mengangguk sebagai jawaban. Membuat Dhea semakin penasaran.


"Masa sih, ketua osis telat?"


"Ketua osis kan juga manusia, Dhe" ujar Rere berargumen. Dhea hanya manggut-manggut menyetujui ucapan Rere.


"Terus dibukain pintu gak?"


"Dibukain sih, tapi disuruh lari keliling lapangan 5 kali" Dhea tertawa.


"Tapi Dhe, tahu gak, gue tadi gugup banget pas ditatap sama Kak Galih. Sampe gemeteran. Gue kenapa ya Dhe? Masa gue punya penyakit ayan?" tanya Rere seperti orang ******. Entah dia bertanya pada Dhea atau dirinya sendiri.


"****!" Dhea menoyor pelan kepala Rere, hingga menyebabkan sahabatnya itu mengernyit tak terima.


"Itu mungkin karena lo lagi......" Dhea menjeda ucapannya.


"Lagi kenapa?" tanya Rere tak sabaran.


"Lagi...."


"Lagi kambuh ayan nya, hahaha" Rere memberengut kesal menatap sahabatnya yang kini malah tertawa terbahak-bahak.


"Ckck, lagi pada bahas apa nih?" Tawa Dhea seketika terhenti saat dia mendengar suara khas cowok yang tak lain adalah Aldi. Cowok itu berlagak cool dengan memasukkan kedua tangganya dalam saku celana. Tanpa rasa bersalah dia menenggak habis minuman Rere yang tinggal setengah.


"Bahas elo yang gak dateng-dateng" jawab Dhea sengak.


"Kok lo habisin minuman gue sih, Al?" tanya Rere kesal. Aldi hanya menatap Rere sambil cengar-cengir tanpa merasa bersalah.


"Gue haus. Cuacanya gerah gini." jawab Aldi yang kini sudah duduk di hadapan Rere dan Dhea. Melihat wajah tengil Aldi, mood dan selera makan Rere jadi hilang. Apalagi jika mengingat tentang kejadian kemarin. Tentang Aldi yang sama sekali tidak merasa bersalah. Mood-nya jadi semakin buruk saja.


"Bayaran tuh, makanan gue" pesannya sebelum benar-benar meninggalkan Aldi dan Dhea berdua.


"Kenapa tuh bocah?" tanya Aldi. Dhea hanya mengedikkan bahunya acuh. Kembali menghabiskan soto yang baru dimakannya setengah.


*********


Rere melangkahkan kakinya menuju halte tempat dimana orang-orang biasa menunggu bus. Dia terpaksa naik bus untuk pulang karena Nico harus pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas. Sedangkan Dhea yang biasanya membawa mobil, hari ini tidak membawa dikarenakan mobilnya masih di service di bengkel. Bagaimana dengan Aldi? Cowok itu tentu saja masih berada di sekolah memanfaatkan sarana wifi untuk main game yang tidak jelas.


Rere mendengus kesal. Dia terpaksa harus pulang sendiri kali ini. Sangat malas rasanya jika harus panas-panasan menunggu bus, belum lagi jika bus nya penuh dan harus berdiri berdesak-desakan. Membayangkannya saja Rere merasa mual.


TINN!!!


Suara klakson mobil berhasil membuyarkan lamunan Rere. Dia menengok ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa itu adalah Galih.


"Eh, ketemu lagi" sapa Galih tersenyum pada Rere.


"Mau sekalian bareng?" lanjutnya memberi penawaran. Rere terlihat berpikir sejenak. Dia tidak tahu harus menerima atau menolak ajakan Galih.


"Kalau nunggu bus masih lama loh"


"Ok, aku ikut" ucap Rere memutuskan. Dia kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Tak menunggu lama, Galih segera tancap gas melewati jalanan yang padat.


Perjalanan terasa hening. Tak ada yang memulai percakapan. Galih fokus menyetir. Sedangkan Rere fokus dengan segala pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.


"Re, gue laper nih..." kata Galih secara tiba-tiba.


"Kalau laper ya, makan kak" Rere menjawab sekenanya.


"Maunya makan lo!" ujar Galih yang membuat Rere kaget seketika.


"Hah? Maksudnya kak?" tanya Rere tak mengerti.


"Maksudnya makan sama lo." kata Galih mengoreksi ucapannya.


"Mau gak?"


"Hmmm..." Rere terlihat berpikir. Dia menimang-nimang keputusan apa yang akan diambilnya.


"Terserah kakak aja," Akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari bibir mungil Rere. Galih mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Rere.


"Kok terserah gue?"


"Kan yang bawa mobil kakak. Kalau kakak mau makan, masak aku tiba-tiba minta turun terus nunggu angkutan umum?"


Galih tersenyum. Itu tandanya iya.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di tempat tujuan. Galih memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Dia kemudian turun dari mobil dan berjalan dengan santai menuju pintu masuk restoran. Sedangkan Rere membuntutinya dari belakang. Mereka memilih meja yang terletak di pojok kiri depan.


"Mau pesan apa?" tanya Galih pada Rere yang sejak tadi hanya diam menatap sekitar.


"Sama kayak kakak aja," Rere menjawab singkat.


"Mbak, 2 spagethi dan 2 jus jeruk," pelayan yang tadi datang ke meja mereka langsung mencatat pesanan Galih.


"Oke, mohon ditunggu pesanannya ya mbak, mas." kata pelayan itu sopan. Kemudian berlalu meninggalkan Rere dan Galih berdua.


Suasana terkesan begitu canggung. Entah kenapa Rere merasa jika Galih terus menatapnya. Dan hal itu membuat dirinya risih.


"Ehm...berduaan aja nih,"


**********


Hayoloh...siapa itu????


Wkwk


 


 


JANGAN LUPA VOTE!!!


*TBC


(Yeni Rahmawati)