
...▪▪▪...
Sejak saat itu Kyuhyun benar-benar menepati janjinya dengan tidak menampakkan diri di depan Hyun-Ra. Pria itu tidak pernah datang ke rumahnya atau ke perusahaan lagi. Dan kalaupun hadir, Kyuhyun seolah punya pengaturan waktu sendiri agar tidak bertemu Hyun-Ra. Bahkan Kyuhyun tidak ada di rumah ketika Daehyun membawanya atas permintaan Nyonya Cho seperti biasa.
Cho Kyuhyun menghindar demi memenuhi keinginannya.
Hyun-Ra memang lega, tenang, tapi entah kenapa ia tidak merasa senang. Ada bagian dalam dirinya yang ingin sekali bertemu Kyuhyun meski hanya sekilas saja, hingga kemudian Hyun-Ra merasa bahwa itu adalah pikiran gila dan ia pasti hanya sedang terkena stress karena kelelahan bekerja.
Bahkan kemarin ia sempat memimpikan Kyuhyun tanpa ia duga, dan di mimpi itu justru klise-klise ciuman yang terjadi terakhir kali seolah terekam dan terputar kembali, membawa Hyun-Ra harus merasakan lagi bagaimana lembutnya bibir Kyuhyun ********** meski hanya lewat mimpi.
Hyun-Ra bingung, semakin tidak mengerti dengan keadaan dirinya.
Pagi itu suasana kantor tampak heboh dengan perbincangan di setiap sudut, bahwa dua hari lagi adalah ulang tahun perusahaan dan kabarnya Direktur Utama Cho akan mengadakan perayaan yang meriah.
Hyun-Ra meletakkan tasnya di laci meja kerjanya sambil mendengarkan pembicaraan di sekeliling. Tiba-tiba Seo Jin datang menghampiri lengkap dengan tatapan mengamatinya.
"Kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?"
Pucat?
Hyun-Ra mengerjap lalu menyentuh pipinya. "Benarkah?"
"Ya. Kau terlihat berbeda. Dan sebenarnya bukan hanya hari ini saja, tetapi sudah akhir akhir ini."
Hyun-Ra menelan ludah.
Apakah seorang perempuan memang akan terlihat berbeda jika sudah kehilangan keperawanan?
"Itu ... mungkin karena aku sering merasa tidak fit saja."
"Kau sakit lagi?"
"Kurasa begitu."
"Kenapa masuk kerja?"
"Aku bosan di rumah sendirian."
Seo Jin manggut-manggut. "Aku juga kadang seperti itu, bosan di rumah. Apalagi kalau di kantor ada Tuan Kyuhyun, rasanya kantor lebih menyenangkan dari tempat apapun. Tapi sayang, Tuan Kyuhyun tidak pernah lagi datang kemari, padahal aku merindukan sentuhannya di pipiku." Seo Jin meraba wajahnya dengan raut mabuk kepayang, jadi merona ketika mengingat bagaimana Kyuhyun mengelus pipinya. Dan meskipun itu hanya tingkah main-main dari pria itu, namun tetap rasanya begitu mendebarkan.
Hyun-Ra tidak menjawab, ia malah diam dan pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya.
"Kira-kira kapan Tuan Kyuhyun kemari lagi, ya?"
"Aku tidak tahu!"
"Kemarin aku menonton konser Tuan Kyuhyun dan dia terlihat luar biasa dengan penampilan menawannya. Dia sangat tampan, senyumnya ... tatapannya ... permainan pianonya ... astaga, dia benar-benar sempurna! Bagaimana menurutmu, Hyun-Ra?"
"Aku tidak tahu!"
Seo Jin manyun. "Jawabanmu tidak tahu terus. Dan apa kau juga tetap tidak akan mengaku kalau kau memiliki hubungan dengan Tuan Daehyun?"
"Seo Jin, jangan mulai lagi!" Hyun-Ra langsung meradang dan ia meletakkan berkas-berkas yang dipegangnya dengan bantingan kesal. "Kalau kau hanya ingin menggangguku dengan pertanyaan itu, lebih baik kau kembali ke ruanganmu!"
"Masih pagi sudah marah-marah." Seo Jin makin cemberut. "Aku 'kan hanya bertanya. Apa kau sedang datang bulan? Hari ini kau terlihat angker."
"Aku bisa lebih angker lagi dengan menyantapmu bulat-bulat kalau kau masih saja menanyakan hal itu!"
"Memangnya kenapa kau tidak mau mengaku?"
"Karena aku memang tidak— " ucapan Hyun-Ra malah menggantung.
Ingat, Hyun-Ra, kau tidak bisa menyembunyikan hubungan kita terus menerus, tidak ada alasan, dan itupun kalau kau memang mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
Hyun-Ra mendesah ketika teringat ucapan Daehyun saat itu.
"Tidak apa?" kejar Seo Jin.
"Sudahlah, jangan ganggu aku kerja. Pergi atau aku akan mencubitmu!"
Seo Jin mendengus sebal. "Awas saja kalau kecurigaanku benar, aku yang akan mencubitmu keras-keras!" Seo Jin hendak keluar dari bilik sana tapi kemudian ia berbalik lagi. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah punya gaun untuk acara ulang tahun perusahaan dua hari lagi?"
Hyun-Ra tercenung sebentar. Ia masih ada satu gaun pemberian Daehyun yang belum pernah dipakai.
"Ya, aku sudah ada."
"Kapan kau membelinya? Kenapa tidak mengajakku? Kau tahu, aku belum memiliki gaun!"
Hyun-Ra meringis. "Sebenarnya sudah lama, hanya saja aku belum pernah memakainya."
"Pasti dari Tuan Daehyun 'kan?"
"Kau terlalu sok tahu!"
"Kalau kau jadi panik begitu, berarti tebakanku benar."
"Pergi, Seo Jin!" Hyun-Ra mengangkat vas di depannya untuk mengancam Seo Jin. "Atau benda ini akan melayang padamu!"
"Lihat saja nanti, kebenarannya akan terungkap!"
"Seo Jin!"
Seo Jin langsung lari dari tempatnya sebelum Hyun-Ra benar-benar melemparinya dengan vas bunga.
Hyun-Ra menarik napas dalam-dalam berusaha menormalkan kepanikannya. Demi apa, Seo Jin benar-benar menyebalkan dengan membuatnya kacau seperti ini.
...▪▪▪...
"Sayang, kemarilah." Daehyun menghela Hyun-Ra duduk di sofa besar ketika gadis itu mendatangi ruangannya waktu makan siang. Sedari tadi ia memang menunggu Hyun-Ra sambil terus mengirim pesan.
Hyun-Ra duduk dengan bingung, di atas meja itu sedang menyala sebuah laptop yang menampangkan deretan gaun dengan model dan harga yang fantastis. Pandangan Hyun-Ra langsung tertuju ke layar itu, dan Daehyun duduk dekat di sampingnya dengan sebelah tangan merangkul pinggangnya.
Hyun-Ra menatap. "Buat apa?"
"Pesta perusahaan nanti." Daehyun tersenyum. "Aku ingin gaunmu kali ini sesuai dengan yang kau mau, sesuai pilihanmu."
"Tapi gaun yang kau belikan waktu itu masih ada yang belum aku pakai, Dae, dan aku bisa menggunakan gaun itu tanpa harus membeli lagi."
"Tidak." Daehyun menggeleng. "Aku akan memesan lagi untukmu. Dan tugasmu sekarang hanya memilih mana yang paling kau suka."
Mau tidak mau Hyun-Ra jadi mendesah. Dasar orang kaya! Sepertinya ia memang harus selalu sadar kalau sedang berpacaran dengan pria kaya, dan hal-hal mengejutkan seperti ini tidak akan membuatnya berdebar lagi.
Hyun-Ra mencoba fokus pada gambar-gambar di depannya, tetapi entah bagaimana ia jadi teringat pada Kyuhyun dan berpikir apakah pria itu akan datang ke pesta atau tidak. Karena kalau memang iya, berarti ia akan melihat pria itu lagi.
Ada secercah semangat yang tiba-tiba muncul di benak Hyun-Ra, selebihnya rasa trauma akibat perkosaan itu, dan berikutnya kebingungan karena ciuman terakhir Kyuhyun yang selalu terbayang di ingatannya. Entah kenapa ia benar-benar tidak bisa mengenyahkan kelembutan bibir pria itu dari hati dan pikirannya.
"Sayang?"
Hyun-Ra mengerjap mendengar suara Daehyun menginterupsinya. Ia menoleh, melihat kekasihnya itu tampak menyipit heran sambil mengamatinya.
"Apa kau sedang memikirkan hal lain? Kau tidak mendengarku sedari tadi."
Oh, astaga...
"M—maaf, Dae, kau bilang apa barusan?"
Daehyun mendesah, tangannya terangkat mengelus rambut panjang Hyun-Ra.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak fokus, kau termenung, bahkan kau tidak menjawab saat aku tanya. Aku ingin kau menceritakan apapun yang sedang mengganggumu sekarang."
Hyun-Ra membasahi bibirnya, merasa bersalah. Ia menyelipkan poninya ke belakang telinga dengan gugup.
"Sebenarnya ... tidak ada. Aku hanya ...."
"Memikirkan hubungan kita? Masih khawatir orang-orang akan mengetahuinya?" tebak Daehyun.
Hyun-Ra tidak bersuara, ia menunduk, dan itu cukup untuk memberi jawaban pada Daehyun.
Namun paling tidak, memang itu juga yang sering menjadi pikirannya.
Tiba-tiba Daehyun beranjak dan mengubah posisi jadi berjongkok di depan Hyun-Ra, mengamati wajah gadis itu dengan seksama.
"Sekarang jawab aku dengan jujur." Daehyun menatap lekat, tampak begitu serius. "Apa kau mencintaiku? Apa aku bagian dari dirimu?"
Jantung Hyun-Ra berjengit.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku mencintaimu."
"Apa kau juga bahagia bersamaku?"
"Ya, aku bahagia ...."
"Lalu kenapa yang kau pikirkan hanya tanggapan orang-orang? Kenapa kau tidak memikirkan cinta dan kebahagiaan kita saja?"
Hyun-Ra merandek, tidak menjawab.
"Aku tidak ingin hal-hal tidak penting ini mengganggumu atau bahkan membuatmu berpikir buruk. Seperti misal kau tiba-tiba berubah atau meninggalkanku, kau lebih mendengarkan orang lain dan tidak mau mendengarkanku. Aku tidak ingin hal seperti ini mempengaruhi hubungan kita. Aku sangat mencintaimu, Hyun-Ra."
Seketika Hyun-Ra merasa sedih melihat bagaimana Daehyun mengungkapkan perasaannya, ia merasa jahat dan kejam. Karena memang seharusnya yang ia pikirkan adalah perasaan Daehyun, kebahagiaannya dan Daehyun, bukan malah orang lain.
"Daehyun, maafkan aku ...." Hyun-Ra menyesal sudah membuat kekasihnya sedih. "Aku tahu aku salah, aku tidak pernah mempunyai kepercayaan diri ... karena kau yang begitu sempurna ...."
"Apa aku harus melepas semua kekayaan ini supaya kau tidak lagi merasa kalau kita berbeda? Dan aku bisa menggores wajahku dengan pisau agar kau tidak lagi mengatakan kalau aku sempurna."
"Daehyun!" Hyun-Ra langsung memeluk leher pria itu dan mendekapnya erat-erat, merasa semakin bersalah. "Aku mohon maafkan aku .... Aku tidak bermaksud membuat keadaan ini jadi buruk. Aku ... aku hanya ...."
"Kau harus mengubah ketakutan dan rasa khawatirmu kalau ingin aku memaafkanmu."
Hyun-Ra mengangguk cepat. "Aku akan berusaha menuruti apapun yang kau katakan."
"Apapun?"
"Ya."
"Kalau begitu kau harus membuang semua pikiran yang mengganggumu sekarang, fokuslah pada hubungan kita, jangan pikirkan reaksi orang-orang. Mau mereka menanggapi seperti apapun, itu bukan masalah kita. Hubungan kita bukan tergantung pada bagaimana tanggapan orang lain. Ini kehidupan kita dan bukan urusan mereka." Daehyun mengelus punggung Hyun-Ra dengan lembut, melepas pelukannya lalu menatap gadis itu dengan pancaran menuntut. "Aku tidak ingin kau memikirkan hal seperti ini lagi, sedikitpun. Apa kau bisa berjanji padaku?"
Lagi-lagi Hyun-Ra hanya bisa mengangguk. "Aku berjanji padamu."
"Dan kalaupun ada yang menghadangmu untuk memecahkan kita, kau harus menghadapinya, aku tidak ingin kau lemah ataupun pasrah. Kau harus mempertahankan hubungan ini."
"A—akan aku lakukan semua itu ...."
"Janji?"
"Janji."
"Aku akan memegang janjimu." Daehyun meraih tangan Hyun-Ra dan mengecupnya dengan sayang, membuat Hyun-Ra semakin didera rasa bersalah karena kekeliruannya selama ini.
Dan benar kata Daehyun, ia harus bisa menghadapi apapun dan mempertahankan hubungannya, ia harus berani dengan semua resiko yang datang karena keputusannya menjalani semua.
Ia mencintai Daehyun dan seharusnya ia tidak perlu takut pada apapun yang bisa saja datang menjadi penghalang.
Karena ini kehidupan mereka dan bukan urusan orang lain, seperti kata Daehyun baru saja. Dan ia akan berusaha menepati janjinya untuk cinta dan hubungannya.
Hanya pengakuan yang Daehyun inginkan, tidak lebih.
Sedangkan ia hanya terlalu takut untuk mengakuinya.
Tapi...
Bagaimana reaksi Daehyun saat nanti tahu dengan keadaan dirinya?