Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Murid baru



Tak terasa waktu bermain pun telah berakhir. Alvaro dan Nina pun ke duanya sama-sama saling diam dan tidak ada yang bicara satu pun.


Lila yang melihat mereka seperti ini pun merasa ada sesuatu hal yang telah terjadi di antara mereka.


“Nin, kamu kenapa?” tanya Lila kepo.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Nina pun bingung dan malah balik bertanya, “Lha emangnya aku kenapa?”


“Dih. Ditanya malah balik nanya. Gak asyik ah,” gerutu Lila.


Randy yang mendengar ini pun langsung nyeletuk, “Hei, Tante. Ngapain juga lo kepo urusan anak muda. Mending lo cari aja om-om yang bisa bikin lo deg ser deg ser kaya' Alvaro sekarang.”


Randy dan Lila pun melihat ke arah Randy yang kala itu sedang diam tanpa ekspresi.


“Iya iya. Ntar gue cari om-om yang bisa buat gue deg ser deg ser kaya’ Alvaro sekarang ah,” ucap Lila sesaat setelah itu.


“Nah gitu donk. Gitu baru bener,” ucap Randy mengacungi jempol.


Namun setelah mendapat respon seperti itu, tiba-tiba saja Lila menceletuk, “Eh, dari pada cari jauh-jauh, mendingan sama lo aja ya Ran?! Gimana? Lo mau gak?”


“Dih ogah Banget gue ma nenek lampir kaya’ lo,” sahut kilat Randy.


“Apa lo bilang barusan?!” ucap Lila.


Maka jadilah sepanjang jalan pulang, hanya celotehan Randy dan Lila saja yang terdengar. Sementara Alvaro dan Nina, keduanya sama-sama saling diam namun tangan Alvaro diam-diam menggenggam erat tangan Nina yang mana saat itu Azpu sedang tertidur pulas di pangkuan Nina.


***


Malam harinya, Nina yang sudah terlalu lelah ini pun tanpa sengaja tertidur dengan posisi yang belum benar saat meletakkan Azka di atas tempat tidur.


Alvaro yang melihat ini pun langsung mengangkat Nina dan membawanya untuk tidur. Di letakkannya tubuh Nina di atas tempat tidur dan di pandanginya lekat-lekat wajah istri sekaligus muridnya itu.


“Nin, mulai hari ini, kita akan buat cerita kita sendiri,” gumam Alvaro dalam hati.


***


Keesokan paginya, saat Nina terbangun, dia lagi-lagi heran mendapati dirinya sedang berada dalam kamar Alvaro.


Dalam pikirannya dia berpikir apa mungkin dia semalam sudah salah masuk kamar.


Namun setelah di pikir ulang, rasanya itu tidak mungkin.


Dengan segera dia pun langsung bangun dan keluar dari kamar tersebut.


Sementara itu, Alvaro yang melihat Nina sudah terbangun ini pun langsung berkata, “Oh. Mama udah bangun. Mandi dulu Ma. Habis itu kita sarapan bersama dan kemudian berangkat ke sekolah.”


“Oh,” ucap singkat Nina yang kemudian langsung berbalik badan menuju kamar mandi.


Sementara itu, Alvaro yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata pada Azka yang kala itu sudah rapih, “Kakakmu sepertinya belum bangun sepenuhnya dari tidurnya.”


Azka pun hanya mengangguk sambil memakan sarapannya.


Tak selang berapa lama kemudian, Nina pun telah selesai dan bersiap untuk sarapan.


“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Alvaro.


Nina pun mengangguk lalu berkata, “lumayan nyenyak, Pa.”


“Syukurlah.”


Padahal dalam hati Alvaro saat itu..


“Syukurlah kamu gak tahu kalau aku semalam tidur sambil memelukmu. Walau tidak ada hal yang lain yang terjadi semalam, tapi ada dirimu tidur di sebelahku, aku jadi merasa tenang dan nyaman.”


Mendengar jawaban Alvaro, Nina pun hanya mengangguk-angguk. Walau saat itu sebenarnya ada hal yang mau dia tanyakan, tapi dia pun mengurungkan niatnya itu.


***


Di sekolah...


Karena harus mengantar Azka ke tempat penitipan anak terlebih dahulu membuat Nina menjadi datang lebih belakang dari Alvaro.


Namun saat mendekati gerbang, tiba-tiba saja..


Ada suara seorang cowok yang memanggil Nina sehingga membuat Nina pun menengok ke arah sumber suara tersebut.


Betapa terkejutnya Nina saat mengetahui siapa orang yang telah memanggilnya itu.


“Dimas?!” batinnya.


“Hai, Nin. Kamu sekolah di sini juga?” tanyanya.


“Iya. Lha kalau kamu sendiri, apa kamu baru pindah ke sini?” tanya Nina memastikan.


Dimas pun mengangguk dan kemudian menjawab, “Iya, Nin. Aku baru hari ini pindah.”


“Oh begitu ya. Gak nyangka ya ternyata kita bisa ketemu lagi,” ucap Nina basa-basi.


“Iya.”


Di saat yang bersamaan tak jauh dari tempat Nina berada, ada seseorang yang diam-diam sedang memperhatikan Nina.


Dengan segera orang itu pun pergi sesaat sebelum Nina dan Dimas masuk ke dalam gerbang sekolah.


“Al, gawat Al,” ucap orang tersebut yang ternyata Randy.


“Gawat kenapa, Ran?” tanya Alvaro bingung.


“I—itu.. istri lo kayaknya mau ada yang rebut deh,” ucap Randy.


“Maksud lo mau ada yang rebut itu apa sih, Ran?” tanya Alvaro makin tidak mengerti dengan maksud ucapan Randy.


“Haisss... Ya udah lah. Lo ikut gue aja sekarang,” ucap Randy yang langsung menarik tangan Alvaro.


Setelah beberapa saat kemudian..


“Noh lihat. Bukannya itu Nina kan, ya?! Lha terus cowok yang ada di sebelahnya itu siapa?” tanya Randy.


Mendengar ucapan Randy, Alvaro pun langsung melihat ke arah yang di tunjuk dan di saat yang bersamaan..


'Deg'


“Bukannya itu cowok yang aku lihat kemarin sedang mendatangi Nina. Kenapa dia bisa ada di sini?” gumam Alvaro dalam hati.


Mendapati Alvaro hanya diam saja, Randy pun kemudian langsung protes dengan berkata, “Hei, Al. Lo kok diem aja. Lo gak khawatir apa kalau-kalau istri lo di ambil ma tuh cowok?”


“Gak. Biarin aja. Palingan itu teman sekelasnya,” sahut Alvaro yang berusaha di buat santai supaya Randy tidak curiga sambil melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.


“Haiss.. Lo ini ya?!” ucap Randy sambil kemudian menyetarakan langkahnya dengan Randy.


Namun, saat beberapa menit sebelum masuk. Alvaro yang sudah menyuruh salah satu siswa untuk memanggil Nina ini pun menunggu Nina di tempat tidak jauh dari ruang guru.


Sementara itu, Nina yang sudah berjalan ke arah ruang guru ini pun tiba-tiba ditarik tangannya dan di bawa ke sebuah ruangan kelas yang kosong.


“Bapak?! Bukannya Bapak tadi panggil aku ke ruang guru? Kenapa sekarang Bapak justru bisa ada di sini?” tanya Nina bingung.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Alvaro pun langsung menggenggam kedua pergelangan tangan Nina dan kemudian kepalanya langsung di sandarkan di bahu Nina.


Nina yang melihat respons Alvaro seperti ini pun menjadi merasa aneh.


Dengan rasa penasarannya, Nina pun bertanya, “Ada apa, Pak?”


Alvaro yang di tanya seperti itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Nina.


“Nin, aku ingin menciummu,” ucap Alvaro yang kemudian..


‘Cup’


Alvaro pun langsung mencium bibir Nina tanpa memberikan kesempatan kepada Nina untuk menjawab ucapan Alvaro tersebut.


Nina yang awalnya terkejut ini pun tiba-tiba akhirnya mengikuti juga alur yang Alvaro buat.


Dengan memeluk tubuh Alvaro, Nina pun merespons ciuman Alvaro tersebut hingga lagi-lagi mereka pun lupa di mana keberadaan mereka saat itu.


Bersambung...