
Tiga bulan setelah kejadian itu, Anya tidak lagi datang mencari Nina sehingga Nina pun dapat tenang melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Dengan di bantu Dinda, Nina pun belajar dengan fokus sampai-sampai dia tidak memedulikan keberadaan Alvaro yang kadang datang sekedar menjahilinya atau bahkan menemaninya.
Dan pagi itu...
“Al, lo kenapa? Pagi-pagi udah lesu banget,” ucap Randy yang kemudian duduk di hadapan Alvaro.
“Gimana gue gak lesu, gue udah hampir satu minggu ini dicuekin sama Nina,” sahut Alvaro.
Mendengar jawaban Alvaro itu, spontan Randy pun tertawa terbahak-bahak. Pasalnya dia tidak habis pikir kalau temannya yang sudah tua ini bisa juga jadi bucin akut dan tidak tertolong seperti ini.
“Woi, Pak tua. Hari gini lo jadi bucin. Hadeuh..” goda Randy.
“Pak tua.. pak tua.. gue ini masih muda kali. Baru juga umur 25 tahun,” sahut Alvaro sewot.
“Bwahahaha..”
Lagi-lagi pecahlah tawa Randy saat mendengar Alvaro menyebutkan usianya.
“Buju buset dah ni guru atu. Woi, coba lo pikir. Di bandingkan usia Nina yang kurang lebih 18 tahunan ini, umur lo ini terbilang tua tahu,” ucap Randy.
catatan: Umur Nina saat menikah dengan Alvaro adalah 17 tahun, kelas 2 SMU dan usia pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih satu tahun. Jadi umur Nina saat ini adalah 18 tahun, Kelas 3 SMU.
Mendengar ucapan Randy, Alvaro pun merasa tidak terima dan akhirnya berkata, “Heleh. Cuma beda 7 tahun doank ini. Masa’ iya gue di bilang tua.”
“Bwahahahaha..”
Lagi-lagi tawa Randy pecah mendengar ucapan Alvaro.
“Hei, Al. Lo benar-benar tipe orang yang menolak tua ya!?” Goda Randy.
“Heleh. Kaya’ sendirinya gak gitu,” ucap Alvaro sewot.
“Iya iya.. apa kata lo aja dah,” ucap Randy pada akhirnya.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Dinda lewat begitu saja sehingga membuat Randy berkata, “Hei, Din. Lo mau ke mana?”
“Biasa lha. Mau berduaan ma si dia,” sahut Dinda sambil tertawa dan kemudian pergi.
Randy yang tahu Dinda akan ke mana itu pun langsung berteriak, “Din, tunggu. Gue mau ikut.”
Randy pun langsung berlari menyusul Dinda dan meninggalkan Alvaro sendirian.
“Gila ya. Sahabat macam apa lo pada. Ada teman lagi berduka malah di tinggal,” gerutu Alvaro yang tidak sadar kalau Randy dan Dinda sebenarnya sedang ingin bertemu dengan Nina.
Malam harinya saat di rumah, Alvaro pun celingak-celinguk mencari keberadaan Nina dan ini rupanya disadari oleh Ayah Willy.
“Kamu ngapain, Al? Dari tadi kelihatan gelisah,” tanya Ayah Willy.
“Hmm, Yah. Aku sedang mencari Nina. Apa dia sudah makan, Yah?” tanya Alvaro.
“Sudah. Barusan saja dia balik ke kamarnya bersama Azka. Emangnya ada apa, Al?” tanya Ayah Willy.
Alvaro pun terdiam sejenak dan kemudian menyahut, “Gak ada apa-apa, Yah. Hanya saja seharian ini aku belum melihat Nina.”
“Kangen?” tanya Ayah Willy sekaligus menggoda anak semata wayangnya ini.
Tanpa malu, Alvaro pun mengangguk sehingga membuat Ayah Willy berkata, “Al, jangan ganggu dia dulu. Soalnya ayah perhatikan dia sedang asyik dalam dunia belajarnya.”
Alvaro yang mendengar ini pun ada senangnya juga ada sedihnya. Senangnya karena muridnya giat belajar. Sedihnya karena dia dicuekin sama cintanya.
“Bisa gak sih kalau seimbang!? Aku kan juga ingin diperhatikan,” gerutu Alvaro dalam hati.
Ayah Willy yang melihat sikap Alvaro berubah seperti ini tuh sebenarnya ada senangnya juga ada sedihnya.
“Hadeuh,” ucap Ayah Willy tanpa banyak bicara sambil menepuk pundak Alvaro.
Alvaro yang sudah di tinggalkan sendirian oleh Ayah Willy ini pun merasa putus asa. Dia benar-benar ingin sekali bertemu dengan Nina.
Hingga tepat pukul 10 malam. Alvaro pun diam-diam mendatangi kamar Nina dan Azka.
Saat itu, Nina yang tanpa sadar tertidur saat dia belajar ini pun membuat Alvaro yang melihatnya menjadi menggelengkan kepalanya.
Dengan hati-hati, Alvaro akhirnya mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamarnya.
Setelah sampai di dalam kamarnya, dengan hati-hati pula dia meletakkannya di atas tempat tidur.
Namun siapa sangka, saat itu Nina terasa dan kemudian terbangun.
Betapa terkejutnya dia karena saat membuka matanya, dia melihat Alvaro yang sedang menatap wajahnya.
“Pa!?” ucap Nina lirih.
“Ma, papa kangen. Kenapa sih Mama cuekin papa?” tanya Alvaro.
Nina pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Maaf, Pa. Sebentar lagi kan Papa tahu sendiri. Bakalan ada ujian kelulusan. Aku harus mempersiapkannya mulai dari sekarang, Pa. Papa ngertiin ya.”
“Ma, papa bisa ngertiin. Tapi jangan cuekin papa juga, Ma. Papa tersiksa,” ucap Alvaro lirih.
Nina yang mendengar itu pun langsung menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Siapa juga yang cuekin Papa. Aku hanya sedang fokus belajar jadinya gak sadar kalau ada Papa di situ.”
“Itu sama aja, Ma. Hadeuh, Ma. Jangan gitu donk, Ma. Ya!?” pinta Alvaro memohon.
Nina pun terdiam. Dia sama sekali tidak bisa menjawab permintaan Alvaro itu sehingga membuat Alvaro gemas.
“Ya sudah. Sebagai gantinya Mama harus bayar denda,” ucap Alvaro.
“Denda!? Kok ada denda sih?” protes Nina.
“Ya harus ada donk. Kan Papa mengalami kerugian lahir dan batin,” sahut Alvaro.
Nina yang mendengar ini pun sontak melongo. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Alvaro bisa punya pikiran seperti itu.
“Ya sudah.. ya sudah. Dendanya apa? Tapi setelah ini jangan protes lagi ya,” ucap Nina yang kemudian diangguki oleh Alvaro.
“Dendanya gampang kok, Ma. Cukup kita berdua majukan saja MP kita sekarang. Toh dua bulan lagi Mama juga bakal lulus kan!?” ucap Alvaro sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“Ha!? Papa bilang apa barusan? Papa minta MP nya sekarang?” tanya Nina yang kemudian diangguki oleh Alvaro.
Tanpa berpikir panjang, Nina pun langsung menyahut, “Noooooo!!”
Mendapatkan penolakan seperti ini, Alvaro pun langsung memasang wajah murung sehingga membuat Nina pun berkata, “Pa, jujur. Kalau sekarang aku masih belum siap. Jadi tolong ngertiin ya.”
“Terus kalau begitu caranya, kapan Mama akan siapnya?” tanya Alvaro.
Nina pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Mungkin nanti kali ya. Kalau udah lulus.”
Alvaro yang mendengar ini pun langsung memukul jidatnya dan kemudian berkata, “Mama tuh ya. Senang banget sih buat papa menderita!?”
“Eeeee!? Kok bisa?” tanya Nina.
“Ya bisa lha. Mama tuh cuekin papa sampai papa menderita kangen. Sekarang papa minta dendanya pun masih juga di tangguhkan. Terus sebagai pengisi hatinya papa yang merana ini, papa harus bagaimana, Ma?” tanya Alvaro putus asa.
Nina yang mendengar ini pun tiba-tiba merasa iba dan juga kasihan. Namun dia harus bagaimana lagi. Dia sendiri juga belum siap.
Tapi setelah beberapa saat kemudian, entah apa yang sudah Nina pikirkan, Nina pun akhirnya membisikkan sesuatu sehingga membuat Alvaro langsung bertanya, “Beneran boleh?”
Bersambung...