Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Tercium bau masalah



“Baiklah, Pak Al. Aku akan mengijinkan kamu untuk menjaga mereka berdua. Tapi jika sampai terjadi sesuatu bahkan membuat mereka bersedih, maka kamu harus membiarkan mereka pergi. Bagaimana?!” ucap Kakek.


“Baik, Kek. Aku akan pastikan kalau hal itu tidak akan terjadi,” ucap Alvaro dengan penuh keyakinan.


Kakeknya pun tersenyum mendengar ucapan Alvaro. Hingga tak terasa beberapa hari sudah terlewat dan ini adalah hari terakhir mereka semua berada di rumah Kakek.


“Nin, sini Kakek bantu masaknya,” ucap Kakek yang langsung mengambil beberapa sayuran untuk dipotong.


“Gak usah, Kek. Aku bisa sendiri kok. Kakek sama Azka aja. Biar bagaimana pun kakek kan baru kali ini bertemu dengannya,” ucap Nina sambil tetap fokus memasak.


Namun ucapan Nina ini tidak dihiraukan oleh Kakek. Dia justru masih terus memotong satu persatu sayuran yang ada di atas meja.


Dengan sambil fokus dengan sayuran yang dia potong, Kakek pun berkata, “Nin, apa kamu benaran jatuh cinta sama Alvaro?”


Nina pun terdiam sesaat dan kemudian berkata, “Kek, awalnya gak ada cinta diantara kami berdua. Namun walau begitu, kami tetap memutuskan untuk sebisa mungkin menjaga hubungan ini. Hingga akhirnya di detik ini kami berdua akhirnya menyadari kalau cinta diantara kami sudah mulai ada.”


Kakek yang mendengar itu pun merasa sedih sekaligus bahagia karena dia kini tidak harus mengkhawatirkan Nina dan Azka lagi.


“Nin, kalau memang seperti itu, kakek hanya bisa berpesan padamu. Jika suatu saat nanti kamu merasa sulit bertahan dengannya, sebelum kamu memutuskan sesuatu yang akan kamu sesali, lebih baik kamu terlebih dahulu berkata jujur tentang apa yang kamu rasakan saat itu pada suamimu ya,” pesan Kakek.


“Iya, Kek. Aku akan ingat pesan Kakek ini,” sahut Nina.


Tak selang berapa lama, Azka pun berteriak memanggil Kakek dan dengan segera Kakek pun langsung bergegas menghampirinya.


Dan di saat yang bersamaan, Alvaro pun datang dan bertanya, “Tadi Kakek bilang apa?”


“Oh. Gak bilang apa-apa, Pa. Hanya berpesan untuk aku selalu jujur sama Papa aja tentang semua yang aku rasain,” jelas Nina.


“Oh,” sahut Alvaro singkat yang kemudian mereka melanjutkan masaknya hingga selesai.


***


Malam harinya..


Mereka semua pun berkumpul di ruang makan. Azka yang selalu minta diladeni oleh Randy ini pun akhirnya membuat Randy menceletuk, “Ternyata aku ada bakat juga ya ngasuh seorang anak.”


“Hem. Besok kamu resign aja dari sekolah dan coba masukin lamaran di TK,” sahut Alvaro.


“Iya, Pak. Bener banget tuh,” ucap Nina menimpali.


Randy yang mendapatkan respons seperti ini pun langsung berkata, “Kalian ini ya. Makin hari makin kompak.”


Kakek yang melihat situasi seperti ini pun langsung berkata, “Sudah sudah. Bagus donk kalau memang bisa dekat dengan anak kecil. Nanti kalau kamu udah menikah, kamu pasti akan cepat punya anak.”


“Menikah?! Punya anak?! Wah, ide bagus tuh, Kek. Nanti aku mau cari yang kaya’ Nina aja ah. Yang pinter masak kaya’ gini,” ucap Randy sambil melirik ke arah Nina yang sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Mendengar ucapan Randy, Alvaro pun langsung berkata, “Gak boleh. Nina itu limit edition. Cuma ada satu Nina di dunia ini dan dia hanya boleh untuk aku. Gak boleh dimiliki oleh orang lain.”


Randy yang mendengar ucapan Alvaro seperti ini pun langsung menceletuk, “Mulai deh.. mulai mode cemburunya kumat.”


Mendengar ucapan Randy, sontak semua yang ada di ruangan tersebut pun tertawa hingga akhirnya Kakek berpesan, “Alvaro, titip Nina dan Azka ya. Jangan buat dia sedih.”


“Iya, Kek. Aku akan menjaga mereka berdua dan akan selalu membuat mereka bahagia,” sahut Alvaro.


***


Dengan sedih, Nina pun berkata, “Kek, jaga diri kakek ya. Jika ada sesuatu, segera beri kabar pada kami.”


“Iya, sayang. Kamu tenang aja. Kakek bakalan setiap saat menghubungi kamu dan Azka,” sahut Kakek.


Setelah beberapa saat mengobrol, kini waktunya untuk mereka berangkat. Dengan mengucapkan salam perpisahan, mobil pun akhirnya dilajukan.


Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan dan setelah menurunkan Alvaro dan yang lainnya, Randy pun langsung meminta pamit untuk pulang.


Malam harinya, Alvaro mendapatkan sebuah telepon yang entah apa yang sudah dikatakan oleh orang dari balik telepon tersebut sehingga membuat wajah Alvaro berubah seketika.


Nina yang melihat perubahan ekspresi dari wajah Alvaro ini pun langsung duduk mendekati Alvaro yang kala itu sedang duduk termangu sambil memegangi ponselnya.


“Pa, ada apa? Siapa tadi yang sudah telepon?” tanya Nina.


Alvaro pun terdiam tidak menyahut sehingga membuat Nina menjadi bingung.


“Pa, sebenarnya ada masalah apa? Tadi siapa yang udah telepon Papa?” tanya Nina mengulangi pertanyaannya lagi.


Tanpa berbicara sepatah kata pun, Alvaro langsung menengok ke arah Nina dan kemudian memeluknya dengan erat.


Nina yang mendapatkan respons seperti ini pun terkejut karena sikap Alvaro tiba-tiba menjadi berubah seperti ini. Seperti sedang ada masalah besar yang akan datang.


Untuk beberapa saat mereka berpelukan seperti itu hingga akhirnya Alvaro pun berkata dengan lirih, “Ma, apa pun yang terjadi, kita harus saling percaya dan juga jaga hubungan kita ini baik-baik ya.”


Lagi-lagi mendengar ucapan Alvaro yang seperti itu membuat Nina menjadi sangat bingung. Sebenarnya masalah seperti apa yang membuat Alvaro seperti ini.


“Iya, Pa. Aku akan mempercayai Papa, apa pun yang terjadi. Tapi Papa juga harus jelasin sebenarnya ada apa? Dan tadi siapa yang sudah menelepon?” tanya Nina.


Alvaro pun terdiam sambil menunduk lalu dengan lirih berkata, “Ma, mungkin untuk beberapa waktu ke depan, kita berdua akan menghadapi cobaan yang berat. Untuk menghadapi hal itu, kita harus berusaha untuk bertahan, ya.”


Nina pun mengangguk dan kemudian berkata, “Iya, Pa. Papa tenang aja ya.”


***


Keesokan harinya di sekolah...


Nina yang datang lebih belakang dari Alvaro ini pun tiba-tiba melihat suatu pemandangan yang benar-benar mengganggu pikirannya.


Namun di saat yang sama, dia pun tiba-tiba teringat dengan apa yang sudah diucapkan Alvaro semalam.


“Jangan-jangan ini yang dimaksud Pak Al semalam?!” gumam Nina yang kemudian menarik nafas panjang dan melangkahkan kakinya menuju gerbang.


Dengan tersenyum, Nina pun menyapa Alvaro dengan berkata, “Selamat pagi, Pak.”


Alvaro yang mendapatkan senyuman seperti ini pun bukannya ikut tersenyum, tapi malah menunjukkan wajah sedih sehingga membuat Nina pun memberikan isyarat berupa gelengan kepala.


“Ya udah. Aku masuk dulu Pak,” ucap Nina yang langsung berlalu begitu saja tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi Alvaro waktu itu.


Sesaat setelah Nina pergi, seseorang yang ada di sebelah Alvaro pun bertanya, “Itu tadi siapa, Al?”


Bersambung...