Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Mengulangi



Satu minggu setelah kejadian itu, Alvaro yang sudah mendapatkan Nina ini pun semakin menjadi-jadi manjanya. Setiap saat, di saat sedang ada kesempatan, Alvaro selalu saja sembunyi-sembunyi memeluk Nina.


“Pak, ini di sekolah. Jangan begini,” pinta Nina berbisik karena saat itu tangannya langsung ditarik oleh Alvaro saat sedang istirahat.


“Ma, papa makin ketagihan soalnya Ma. Papa mau lagi. Gimana donk!?” ucap Alvaro lesu sambil masih memeluk Nina.


Nina yang mendengar ini pun langsung berkata, “Pak, hari ini adalah hari pertama ujian. Jadi biarkan untuk beberapa waktu ini aku fokus ke ujian dulu ya.”


“Haisssss... Ya sudahlah. Kamu fokus lha ujian dulu. Tapi setelah itu, aku minta lagi ya,” ucap nyeleneh seorang Alvaro.


“Iya. Ish dasar,” sahut Nina.


***


Hingga tak terasa hari demi hari pun berlalu dan ujian pun akan segera berakhir membuat Nina semakin fokus.


Dia semakin tidak sabar ingin melihat hasil ujiannya sendiri.


Dan begitu nilai keluar, dengan segera Nina pun langsung melangkahkan kakinya melihat ke arah papan pengumuman.


Di sana dia mencari namanya diantara rentetan daftar nama yang tertera di papan pengumuman.


Setelah beberapa saat kemudian, betapa terkejutnya dia karena mendapati namanya ada di urutan nomor 7 alias masuk 10 besar. Rasanya dia merasa kalau usahanya selama ini tidak sia-sia.


Di saat yang bersamaan, pundak Nina tiba-tiba saja di tepuk oleh seseorang dan saat dirinya menengok, dia pun tersenyum karena dia melihat Alvaro sedang tersenyum padanya.


“Aku berhasil,” ucap Nina lirih.


Alvaro pun mengangguk dan kemudian berkata, “Selamat ya. Akhirnya hasil usahamu tidak sia-sia.”


Nina pun langsung mengangguk senang.


***


Di rumah...


Ayah Willy yang sudah mendengar hasil yang telah dicapai oleh Nina ini pun menjadi senang dan dia pun berencana merayakannya dengan ingin menyelenggarakan pesta pernikahan Alvaro dan juga Nina.


Sementara itu, Alvaro dan Nina yang sudah sampai di rumah ini pun langsung di dudukkan sehingga membuat Nina dan Alvaro menjadi bingung. Sebenarnya ada apa dengan Ayah Willy.


“Yah, ada apa? Gak biasanya Ayah menyuruh kami berdua duduk di sini bersamaan. Apa ada hal penting yang mau Ayah sampaikan?” tanya Alvaro.


Ayah Willy pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Al, Nin, bagaimana kalau kita minggu ini akan menyelenggarakan pesta?”


“Pesta!? Pesta apaan, Yah?” tanya Alvaro bingung.


Sambil memasang senyuman di wajah yang membuat Alvaro dan Nina bergidik melihatnya ini pun berkata, “Pesta pernikahan kalian. Bagaimana!? Kalian setuju?”


Mendengar ucapan Ayah Willy, baik Alvaro maupun Nina pun sama-sama saling menatap satu sama lain dan kemudian Nina pun memberanikan diri berkata, “Tapi, Yah. Aku kan belum menerima tanda kelulusan.”


“Halah. Gak apa-apa. Ayah tahu kamu udah pasti lulus. Pokoknya minggu ini kita pesta dan setelah lulus, kamu harus bersama-sama Alvaro bekerja di kantor,” ucap Ayah Willy yang sudah membuat keputusan.


Alvaro dan Nina pun spontan langsung sama-sama saling melihat antara satu dengan lainnya. Mereka tidak menyangka kalau Ayah Willy sampai sebegitunya sama mereka.


“Ya sudah Yah. Kalau emang itu sudah jadi keputusan Ayah. Kami akan ikut aja. Asal jangan lagi Ayah meminta kami untuk berpisah,” ucap Alvaro.


Ayah Willy yang mendengar itu pun langsung menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Maafin ayah saat itu ya. Soalnya ayah begitu karena demi kalian juga.”


“Iya, Yah. Kami ngerti kok,” ucap Nina sambil tersenyum.


Setelah sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan, Alvaro pun semakin sibuk mempersiapkan semuanya bersama Ayah Willy. Sementara Nina, dia sibuk mengurusi persiapan acara kelulusannya.


Hingga suatu malam, dua hari sebelum pesta pernikahan, Alvaro pun yang sedang merasakan rindu dengan Nina akibat beberapa hari tidak bertemu ini pun langsung perlahan-lahan mencoba memasuki kamar Nina dan Azka.


Ketika dia mengerjapkan matanya dan mencoba membuka matanya dia pun terkejut karena mendapati dirinya sedang digendong oleh Alvaro.


“Pa!?” ucap Nina lirih.


“Ststtst.”


Alvaro pun menyuruh Nina untuk diam.


Mendapatkan respons seperti itu dari Alvaro, Nina pun langsung terdiam.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai di kamar Alvaro.


“Pa, sebenarnya Papa itu kenapa?” tanya Nina sesaat setelah diturunkan dari gendongannya.


Alvaro pun menunduk dan kemudian berkata, “Ma, Papa kangen.”


“Ha!?”


“Emang Mama gak kangen?” tanya Alvaro.


“Ya ampun, Pa. Bukan begitu. Tapi aku sibuk mondar-mandir buat acara kelulusan nanti. Jadinya aku sama sekali gak ke pikiran soal apa pun,” ucap Nina.


Alvaro yang mendengar ini pun langsung berkata, “Kamu itu ya, Ma. Benar-benar tega deh. Berarti Mama gak sayang juga donk sama papa!?”


Seketika Alvaro menunjukkan wajah merajuk sehingga membuat Nina pun menghela nafas panjang.


“Pa, ya sudah. Ayo kita tidur sekarang. Aku ngantuk banget,” ucap Nina yang kemudian langsung merebahkan dirinya.


Dengan senyum penuh keinginan, Alvaro pun langsung mendekatkan wajahnya di dekat wajah Nina lalu kemudian berkata, “Ma, Papa belum mau tidur. Papa masih mau melepaskan rindu Papa sama Mama.”


Nina yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Alvaro ini pun langsung singkat menyahut, “Hem.”


Mendapatkan respons seperti itu, Alvaro seakan mendapatkan sinyal kalau Nina mengiyakan keinginannya. Sehingga dia pun langsung mencium bibir Nina dengan lembut.


Di perlakukan seperti itu, Nina yang hampir saja tertidur lagi ini pun langsung membuka matanya dan kemudian berkata, “Pa, Papa mau apa?”


“Papa mau itu, Ma. Hehehe..”


Mendengar ucapan Alvaro seperti itu, sontak membuat Nina langsung merespons, “Pa, aku belum siap.”


“Udah telat,” ucap Alvaro yang kemudian langsung menciumi kembali istrinya hingga membuat Nina pun tidak bisa mengelak dan akhirnya dia pun mau tidak mau mengikuti setiap arahan yang dilakukan oleh Alvaro.


***


Keesokan paginya, satu hari sebelum pesta pernikahan di mulai. Nina yang terbangun lebih dahulu ini pun masih saja merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan dengan Alvaro semalam.


Wajahnya seketika memanas jika mengingat kejadian itu.


Di saat yang bersamaan, Alvaro tiba-tiba saja mengerjapkan matanya dan terbangun. Saat dia mendapati istrinya yang lagi-lagi menutup wajahnya dengan selimut ini pun, seketika Alvaro pun tersenyum sambil berkata, “Ma, pagi.”


Dengan perlahan, Nina pun menurunkan selimutnya dan kemudian menyahut, “Pagi.”


“Kamu kenapa?” tanya Alvaro.


Nina pun menggelengkan kepalanya sehingga membuat Alvaro kembali bertanya, “Malu lagi?”


Nina pun mengangguk sehingga membuat Alvaro pun lirih berkata di telinga Nina, “Ma, kita lakuin lagi yuk.”


Tanpa menunggu jawaban dari Nina, Alvaro pun langsung menciumi kembali istrinya dan jadilah pagi itu mereka mengulangi kegiatan semalam mereka.


Bersambung...