
Setelah mendapatkan telepon saat itu, baik Alvaro mau pun Dinda, ke duanya tampak terlihat gelisah. Namun biar pun begitu, tidak ada satu orang pun dari mereka yang mau menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga akhirnya...
“Gak ada cara lain lagi selain kita berdua menghadapinya Din,” ucap Alvaro tiba-tiba sesaat setelah sampai di rumah.
“Tapi, Al. Kamu kan tahu sendiri Bagaimana karakter Ayahmu,” ucap Dinda.
Alvaro pun terdiam dan kemudian Randy yang ikut ke rumah pun bertanya, “Sebentar.. gue coba tebak ya?! Tadi lo bilang Ayah Alvaro, itu artinya masalah besar yang lo pada bilang tadi itu berarti masalah pertunangan. Bener gak?”
Alvaro pun mengangguk sehingga membuat Randy yang tadinya sedang berdiri ini tiba-tiba terduduk lemas.
Dan di saat yang bersamaan, Dinda pun berkata, “Al, coba kamu pikirin lagi deh. Soalnya ini juga menyangkut hubungan pernikahan kamu dan Nina. Kamu ngertikan maksudku?!”
“Iya, Din. Aku mengerti. Tapi mau sampai kapan aku terus-terusan kabur seperti ini,” ucap Alvaro.
Dijawab seperti itu oleh Alvian, Dinda pun terdiam. Dia sendiri juga bingung harus bagaimana baiknya.
“Sudahlah. Aku akan tetap coba bicarakan jujur pada Ayah. Apa pun syarat yang dia mau dan selama itu tidak menyuruhku melepaskan Nina, maka akan aku lakukan,” ucap Alvaro pada akhirnya.
“Apa lo yakin, Al?” tanya Dinda.
“Yakin gak yakin harus tetap mencoba. Iya kan?! Lagi pula jika ini berhasil, kamu kan jadi bisa terus mengejar cintamu tanpa harus ada rasa takut. Ya gak?!” ucap Alvaro.
Dinda yang mendapatkan jawaban seperti itu dari Alvaro ini pun langsung menengok ke arah Randy dan setelah itu dia pun berkata, “Ya sudahlah.”
Sementara itu, Nina yang dari tadi ada di situ dan mendengarkan obrolan mereka ini pun juga ikut angkat bicara dengan berkata, “Kalau memang itu keputusanmu, aku juga ikut. Aku juga mau bertemu dengan Ayahmu.”
Mengetahui Nina juga ingin ikut, Alvaro pun langsung menoleh ke arah Nina dan bertanya, “Apa Mama gak takut?”
Nina pun menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Bukankah selama ini Papa juga tidak takut menghadapi keluargaku, masa’ sekarang giliran aku yang harus menghadapi keluargamu, aku takut?!”
Baik Alvaro, Randy maupun Dinda yang mendengar ucapan Nina ini pun merasa terkejut dengan cara berpikir Nina yang terbilang cukup dewasa untuk anak seusianya.
Dengan menghela nafas panjang, Alvaro pun akhirnya berkat, “Baiklah. Kita hadapi ini semuanya bersama-sama dan untuk Azka, sementara aku titipkan Azka padamu dulu ya, Ran.”
Mendengar sahabatnya itu minta tolong, Randy pun dengan senang hati berkata, “Tentu saja, Al. Lo tenang aja. Gue juga bakalan meminta ijin ke sekolah buat lo bertiga.”
“Terima kasih Pak Randy,” ucap Nina.
“Iya, Nin. Sama-sama,...” sahut Randy, “terus, kira-kira kapan lo pada pergi menghadap Bos Besar?”
“Besok pagi, Ran. Lebih cepat lebih baik,” sahut Alvaro yang kemudian diangguki oleh Randy.
***
Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan, Alvaro, Nina, dan Dinda pun pergi menemui Ayah Alvaro di kantornya.
Sementara itu, asisten Ayahnya Alvaro yang mengetahui tuan mudanya ini pulang pun langsung melaporkannya pada Ayahnya Alvaro.
“Benarkah?!” ucap Ayahnya Alvaro, Ayah Willy.
“Iya, Tuan. Sekarang mereka sedang menuju ke arah sini,” sahut Tomi.
Mendengar kabar tersebut, dalam hati Ayah Willy pun senang. Namun demi membuat Alvaro bisa kembali memegang perusahaannya, dengan terpaksa dia harus menjadi seorang Ayah yang sedikit keras.
Sesaat setelah itu, benar saja yang tadi dikatakan oleh Tomi, Alvaro dan yang lainnya pun datang.
“Yah,” sapa Alvaro.
“Kamu kalau tidak di suruh pulang, tidak akan ingat rumah, bukan?!” ucap Ayah Willy.
Alvaro yang mendengar ucapan Ayahnya ini pun memutuskan untuk diam saja tidak menyahut. Hingga akhirnya Ayah Willy melihat ke arah Nina dan bertanya, “Siapa gadis ini?”
Dengan cepat, Alvaro pun berkata, “Dia istriku, Yah. Namanya Nina.”
Bagai disambar petir di siang hari, mendengar kata-kata istri dari mulut Alvaro dan itu berarti usahanya menjodohkannya dengan Dinda menjadi gagal.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Dinda pun memberanikan berdiri berkata, “Om, aku ingin membatalkan pertunangan ini. Selain Alvaro sudah memiliki istri yang sangat dia cintai, aku sendiri juga sudah memiliki orang yang ingin aku nantinya menikah dengannya.”
Mendengar kenyataan demi kenyataan, seketika Ayah Willy pun terduduk lemas sambil berkata, “Kalian ini ya?! Apa kalian memang sengaja melakukan ini semua hah?!”
Nina yang masih belum ada hak untuk bicara ini pun akhirnya memutuskan untuk diam terlebih dahulu.
“Yah, maaf. Bukan kami ingin menentang apa yang Ayah inginkan, tapi aku benar-benar gak bisa kalau bukan dengan Nina. Dia adalah seorang perempuan yang udah aku pilih dan akan jadi yang terakhir buatku,” ucap Alvaro.
“Iya, Om. Aku juga sama. Daripada menikah dengan orang yang tidak aku cintai dan dia pun tidak mencintaiku, lebih baik aku batalkan saja. Aku harap Om bisa mengerti tentang ini. Karena biar bagaimana pun menikah hanya untuk satu kali dan jangan sampai ada penyesalan pada akhirnya,” ucap Dinda pada akhirnya.
Melihat anak dan calon mantu yang dia pilihkan malah sedang bekerja sama untuk menentangnya, Ayah Willy pun akhirnya menghela nafas panjang dan kemudian bertanya, “Namamu siapa?”
Merasa di tanya, Nina pun akhirnya menjawab, “Aku Nina, Om.”
“Oh. Nina ya?! Sekarang kesibukanmu apa?” tanya Ayahnya Alvaro.
“Aku masih sekolah, Om. Sekarang kelas 3 SMU,” ucap Nina apa adanya.
Mendengar jawaban Nina, seketika Ayah Willy pun menjadi emosi dan dia berkata, “Al, kamu ini ya. Kamu ayah pilihkan jodoh yang sesuai denganmu, kamu malah milih anak sekolahan yang masih bocah ini untuk menjadi istrimu? Akal sehatmu di mana Al? Pokoknya Ayah gak mau tahu, segera ceraikan gadis ini secepatnya.”
Mendengar ucapan Ayah Willy yang sangat menusuk di hati, mendadak Nina pun menjadi ikut emosi dan kemudian berkata, “Maaf, Om. Om bisa aja mengatakan aku seperti itu. Tapi tahu gak, Om. Om itu lebih terlihat seperti bocah dibandingkan aku yang emang sesuai dengan umurku. Om tahu kenapa? Karena Om yang sebenarnya sangat senang dengan kepulangan Pak Al tapi Om masih dengan keras kepalanya tidak mau mengakuinya. Asal Om tahu, semakin Om bersikap seperti ini, maka aku bisa jamin kalau Pak Al gak akan pernah mau kembali bersama Om apalagi sampai mau mengikuti kemauan Om yang egois itu.”
Dengan nafas tersengal-sengal, Nina mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia sama sekali tidak suka dengan orang tua yang hanya menilai segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan anaknya.
Merasa di lawan oleh seorang bocah, Ayah Willy pun menyahut, “Kamu tahu apa tentang ini semua hah? Kamu hanya orang luar dan kamu itu masih kecil.”
“Tentu saja aku tahu. Karena aku bukanlah orang egois seperti Om.”
Bersambung..