
Sambil masih terisak-isak menahan tangisnya, Nina pun menjawab, “Kak, Pak Al ada di sini dan tadi dia menemuiku sebentar lalu kemudian pergi lagi.”
“Apa?!”
Randy yang tidak begitu mendengar ucapan Nina ini pun kemudian bertanya, “Ada apa, Din?”
“Itu, Ran. Tadi katanya Alvaro datang menemui Nina. Tapi cuma sebentar langsung pergi lagi,” jelas Dinda.
Setelah mendengar ucapan Dinda, Randy pun langsung menengak-nengok ke sekeliling dan memperhatikan satu persatu orang-orang yang melintas. Namun tidak juga dia melihat adanya Alvaro di sana.
Dan di saat yang bersamaan, Dinda pun berkata, “Ya sudah, Nin. Kita cari tempat untuk duduk dulu yuk.”
Dinda pun merangkul bahu Nina dan membawanya ke suatu tempat untuk duduk.
Sementara itu, Randy memutuskan untuk pergi mengajak Azka bermain di sekitar tempat tersebut.
Sambil memandangi Azka yang sedang bermain, Nina pun berkata, “Kak, beginikah rasanya menahan rindu?”
Mendengar ucapan Nina, Dinda pun langsung menengok ke arah Nina dan kemudian berkata, “Sabar ya, Nin. Bukankah sebentar lagi akan ada ujian tengah semester. Berarti itu tandanya tinggal setengah tahun lagi kalian pasti akan bisa bertemu lagi.”
Nina pun terdiam dengan pandangan masih mengarah pada Azka yang sedang bermain dengan Randy.
Tak terasa waktu pun semakin sore. Mereka berempat pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Sementara itu, setelah Nina masuk terlebih dahulu ke dalam kamar, Dinda pun berbisik pada Randy kalau dirinya akan menghubungi Alvaro.
Dengan persetujuan dari Randy, tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Dinda pun langsung menghubungi Alvaro.
“Al, apa kamu akan menemui Nina lagi?” tanya Dinda melalui ponsel saat dia berada di dalam kamarnya.
“Iya, Din. Aku akan menemuinya lagi nanti,” sahut Alvaro.
“Baguslah kalau begitu. Jangan sampai lupa,” ucap Dinda mengingatkan.
“Hem,” sahut singkat Alvaro yang kemudian langsung menutup teleponnya.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Nina yang masih terbayang-bayang wajah dan kehadiran Alvaro ini pun duduk termangu di dekat jendela kamar.
Walau Dinda dan juga Randy sudah mengajaknya untuk keluar untuk makan, namun Nina menolaknya. Dia sama sekali tidak ada nafsu untuk makan.
Karena merasa khawatir, Dinda dan Randy pun akhirnya membawakan Nina makanan untuk dia makan di dalam kamar.
***
Hari pun sudah semakin larut malam. Entah kapan waktu untuk bertemu lagi yang di maksud oleh Alvaro. Tapi Nina tetap menunggu dengan sabar.
Setelah beberapa saat kemudian, tanpa terasa Nina pun tertidur dan di saat itu pula ada seseorang yang tiba-tiba saja masuk dan dia adalah Alvaro.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Alvaro pun mengangkat tubuh Nina dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Namun sesaat setelah itu, tiba-tiba saja Nina membuka matanya dan dengan samar ia melihat sesosok pria yang sangat dia rindukan.
Nina yang terlalu besar rasa rindunya ini pun kemudian langsung merangkul Alvaro sehingga tubuh Alvaro hampir saja menimpa tubuh Nina.
“Ma, jangan seperti ini Ma. Tolong lepaskan tanganmu dari pundakku,” pinta Alvaro yang berusaha sebisa mungkin untuk menahan tubuhnya.
Sambil masih belum sadar sepenuhnya, Nina pun berkata, “Gak mau. Kalau aku lepaskan lagi, Papa bakalan pergi lagi.”
Mendengar ucapan Nina, Alvaro pun langsung mendesah, “Haissss.”
Dengan hati-hati dan pelan-pelan, Alvaro pun berusaha melepaskan diri rangkulan tangan Nina. Namun rupanya Nina tidak mau melepaskan Alvaro. Dia justru langsung menarik pundak Alvaro sehingga membuat Alvaro kali ini benar-benar terjatuh menimpa tubuh Nina dan bibirnya pun menyentuh bibir Nina.
Saat itu terjadi, dalam hati Alvaro bergumam, “Haisss, Nin. Kamu ini sangat berbahaya. Aku harus bisa secepatnya melepaskan diri dari posisi ini. Kalau enggak, aku khawatir benar-benar gak bisa menahannya.”
Sambil tidak ragu-ragu lagi, Alvaro pun langsung memaksa bangkit dan duduk. Sementara itu Nina yang akhirnya terbangun sepenuhnya ini pun berteriak saat melihat Alvaro sudah ada di hadapannya.
Dengan tanpa ragu-ragu, Nina pun langsung memeluk tubuh Alvaro sambil bertanya, “Pa, kenapa baru datang sekarang?”
“Maaf, Ma. Pekerjaan Papa baru saja selesai,” sahut Alvaro.
“Uh Papa. Kangen tahu,” ucap Nina dengan nada dibuat manja.
Nina pun mengangguk dan Alvaro pun kembali bertanya, “Lalu bagaimana persiapanmu?”
Nina pun menunduk dan tidak menjawab sehingga membuat Alvaro pun menyipitkan mata.
“Ma, apa ada hal yang mau kamu ceritakan?” tanya Alvaro dan Nina pun menggelengkan kepalanya.
Mendapatkan respons seperti ini, lagi-lagi Alvaro pun menyipitkan matanya dan kemudian bertanya, “Benarkah?”
Nina pun mengangguk sehingga membuat Alvaro ingin memastikan sesuatu dengan bertanya, “Lalu kenapa Mama terlihat seperti orang yang sedang kelelahan seperti ini?”
Nina pun lagi-lagi menunduk dan terdiam.
“Ma, papa minta ke Mama agar tetap fokus belajar. Jangan berniat melakukan apa pun yang bisa menyita waktu belajar Mama,” pesan Alvaro.
“Tapi, Pa. Jujur aku gak mau pakai uang Papa yang terlalu berlebih-lebihan seperti itu. Aku maunya Papa itu memperlakukan aku seperti biasanya. Jangan terlalu dilebih-lebihkan,” jelas Nina lirih.
Alvaro yang mendengar ucapan Nina ini pun langsung menghela nafas panjang.
“Ma, apa aku salah kalau ingin memanjakan istri papa sendiri ha?” tanya Alvaro.
Nina pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Papa gak salah. Hanya saja untuk sementara ini, aku benar-benar masih tidak merasa nyaman diperlakukan berlebihan seperti itu. Papa coba ngertiin ya?!”
Alvaro pun lagi-lagi menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Baiklah. Tapi jika Mama sedang kekurangan uang, Mama bilang ya. Dan kalau Mama meminta papa untuk memperlakukanmu seperti biasanya, ya sudah. Papa akan memberikan uang secukupnya untuk sekolahmu dan Azka dan juga keperluanmu sehari-hari. Ok?!”
Nina pun mengangguk sambil tersenyum.
“Ya sudah. Ayo kita tidur. Besok Mama kan mau pulang. Jadi sekarang harus tidur,” pesan Alvaro.
Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun berkata, “Berarti besok udah gak bisa ketemu Papa lagi donk?!”
“Kamu ini. Udah ayo kita tidur,” ucap Alvaro.
***
Satu Minggu telah berlalu dan kini tiba waktunya untuk Nina melaksanakan ujian.
Dengan merasa yakin dengan apa yang sudah dia pelajari, Nina pun mengisi setiap lembar soalnya.
Hingga tak terasa ujian berakhir dan hasil nilai ujian pun akhirnya keluar.
“Selamat ya, Nin. Kamu akhirnya mendapatkan posisi 20 besar,” ucap tiba-tiba Dinda.
Nina pun tersenyum dan kemudian berkata, “Terima kasih, Kak. Tapi aku masih tetap harus berusaha agar bisa berada di posisi 10 besar.”
Dinda yang mendengar ucapan Nina ini pun tersenyum lalu berkata, “Semangat, Nin. Kamu pasti bisa.”
***
Dan seperti biasa ketika ujian dan nilai hasil telah keluar, waktu liburan pun tiba. Namun di sepanjang liburan, baik Dinda maupun Randy, keduanya sama-sama tidak dihubungi oleh Nina sehingga membuat Randy dan Dinda memutuskan untuk melihat Nina dan Azka di rumah Alvaro.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat rumah itu kosong.
Tak selang berapa lama kemudian, ada seorang laki-laki yang sedang lewat dan melihat mereka pun akhirnya menghampiri Randy dan Dinda lalu kemudian bertanya, “Sedang mencari orang yang tinggal di rumah ini ya?”
Randy dan Dinda pun mengangguk lalu Randy bertanya, “Emangnya mereka sedang pergi ya?”
“Iya. Mereka pergi. Beberapa hari yang lalu, ada seorang ibu paruh baya membawa paksa anak gadis dan seorang anak kecil di rumah ini agar ikut mereka. Kalau gak salah ingat waktu itu anak gadis di rumah ini memanggilnya Bibi,” jelas laki-laki tersebut.
Mendengar kata-kata Bibi, baik Randy maupun Dinda, keduanya saling pandang dan kemudian Randy berkata, “Terima kasih banyak, Pak.”
“Iya. Sama-sama,” sahut laki-laki tersebut.
Dan sesaat setelah itu, Nina berkata, “Kita harus segera memberitahukan hal ini pada Alvaro.”
“Iya. Kamu benar,” sahut Randy yang kemudian langsung menuju kantor Alvaro.
Bersambung...