
“Pa, kamu sudah sampai? Maaf tadi mama gak bisa jemput Azka. Soalnya mama lagi nyiapin masakan yang enak buat dia,” ucap wanita itu tiba-tiba.
Baik Alvaro maupun Rina, keduanya sama-sama bingung.
Jika Alvaro bingung karena Lila kenapa tiba-tiba bisa mengaku sebagai istrinya, tidak dengan Rina. Dia bingung karena dia merasa belum pernah bertemu dengan Lila.
Tapi di saat yang bersamaan tiba-tiba saja Alvaro teringat tentang 3 orang yang ada di dalam rumah.
“Ini pasti ulah mereka. Lihat saja kalian nanti ya,” gumam Alvaro di dalam hati yang merasa sedikit kesal dengan orang-orang tersebut.
“Oh. Iya gak apa-apa kok, Ma. Azka juga gak marah kok tadi,” sahut Alvaro yang akhirnya mengikuti alur yang telah dikarang oleh 3 orang yang ada di dalam rumah.
“Syukurlah. O ya, Pa. Ini siapa?” tanya Lila sambil tersenyum.
“Oh. Kenalin. Ini temannya Papa yang juga ngajar di sekolah. Namanya Rina,” ucap Alvaro memperkenalkan dan mereka pun berjabat tangan sambil berkenalan.
“Ayo kita masuk saja ke dalam. Gak enak dilihat tetangga kalau di luar kaya’ gini terus,” ajak Lila.
Merasa seperti sudah benar-benar tidak ada harapan lagi, Rina pun berkata, “Oh gak usah. Terima kasih. Aku mau balik aja.”
“Kenapa balik? Masuk aja dulu,” ucap Lila.
“Gak usahlah. Aku masih ada kerjaan soalnya,” sahut Rina.
“Oh gitu. Ya sudah kalau memang begitu,” ucap Lila yang kemudian membiarkan Rina pergi.
Sementara Rina sudah pergi, Alvaro pun langsung masuk ke dalam dengan wajah marah.
“Tadi itu ulahnya siapa? Jawab!” ucap Alvaro.
Sontak semua orang yang ada di dalam rumah pun langsung terdiam dan Azka pun langsung memeluk Nina.
“Pak, Azka takut Pak. Udah. Jangan marah lagi ya,” ucap Nina mencoba meredakan amarah Alvaro.
“Iya, Al. Jangan salahin mereka. Ini gue yang punya ide. Habisnya gue gedeg banget ma tuh perempuan satu,” jelas Randy.
“Iya. Saking gedegnya lo, gue kena seret juga. Hadeuh,” ucap Lila sambil mencomot makanan hasil masakan Nina sebelum menjemput Azka tadi.
Mendengar ucapan Lila, sontak semua yang ada di rumah pun spontan langsung memandang dengan tatapan yang berbeda-beda ke arah Lila.
Lila yang di pandang oleh mereka seperti itu pun merasa jadi aneh sendiri.
“Kenapa kalian pada lihat gue kaya' gitu?” protes Lila.
“Lagian lo ngapain juga mau?” tanya Alvaro yang masih terasa kesal.
“Haisss..” desah Randy.
“Mas, mas gak mau kenalin aku sama kakak ini?” tanya Nina dengan wajah memelas.
“Oh iya ya. Kita belum kenalan ya. Kenalin, aku Lila. Sahabat berantemnya mereka berdua,” ucap Lila memperkenalkan dirinya.
“Sahabat berantem?!” ucap Nina bingung.
“Iya, Nin. Aku sahabat berantem mereka. Bisa di sebut sahabat berantem karena kami kalau setiap bertemu pasti ada aja sesuatu yang buat kami adu mulut. Jadinya kalau orang yang gak tahu pasti mengira kalau kami ini gak akur. Hehehe,” jelas Lila.
“Oh,” sahut singkat Nina yang sudah mengerti sekarang.
Untuk sesaat mereka pun terdiam dan akhirnya Lila pun kembali berkata, “Eh iya. Ngomong-ngomong, Nina, kamu hebat juga ya bisa naklukin si manusia es ini.”
Mendengar ucapan Lila kali ini, Nina pun jadi penasaran dengan sebutan manusia es untuk Alvaro.
Dengan rasa penasarannya, Nina pun bertanya, “Manusia es? Maksudnya?”
Belum juga pertanyaan Nina ini di jawab oleh Lila, Alvaro sudah terlebih dahulu berkata, “Sudah, Ma. Jangan dengerin ucapan Lila lagi. Yang penting kan sekarang di hadapan Mama, Papa udah gak kaya’ es lagi.”
Mendengar ucapan Mama dan Papa dari mulut Alvaro, seketika Randy dan juga Lila pun histeris.
Mereka secara berjamaah berteriak, “Oh tidaaaaaak!!”
Melihat tingkah laku mereka berdua seperti itu, Alvaro pun langsung mengambil remote Tv dan mementungkannya pada mereka.
“Kalian ini ya. Lebay,” protes Alvaro.
Mendengar ucapan Randy, dengan pasti Alvaro pun langsung menyahut, “Ya jelas gue udah berubah lha. Semua pasti bisa berubah kalau kita sudah menemukan yang pas di hati. Ya gak, Ma?!”
“Astagaaaaaa! Lubang semut mana, lubang semut mana?!” teriak Randy.
“Ngapain lo cari lubang semut, Ran?” tanya Lila.
“Gue gak tahan, Lil. Denger nih si bucin satu kalau lagi ngomong didekat istrinya,” sahut Randy.
“Iri bilang Bos,” celetuk Alvaro dan sontak semua yang ada tempat itu pun terbahak-bahak. Termasuk Azka yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa.
Setelah percakapan ngalor ngidul seperti itu, mereka berlima pun akhirnya makan bersama.
***
Malam harinya setelah Azka sudah tertidur pulas, Nina pun datang ke kamar Alvaro.
“Ada apa, Ma?” tanya Alvaro.
Nina pun menunduk dan kemudian berkata, “Rasanya aneh mendengar Bapak memanggil aku, Ma dan sebaliknya.”
“Kamu gak suka?” tanya Alvaro.
“Bukan gak suka. Hanya masih belum terbiasa aja,” sahut Nina.
“Kalau begitu mulai sekarang belajar buat dibiasakan, ya?! Kan cepat lambat kita juga bakal punya anak kita sendiri,” jelas Alvaro yang pemikirannya benar-benar sudah matang.
“Anak?!” ucap Nina kaget dan diangguki oleh Alvaro.
Nina pun terdiam. Baginya di umur dia yang masih belia ini, dia sama sekali belum berpikir ke arah sana.
Serasa bisa mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu, Alvaro pun langsung berkata, “Sudah. Jangan dipikirkan dulu soal itu. Yang penting sekarang kita biasakan dulu panggil Mama dan Papanya. Ok?!”
Nina pun mengangguk.
“Oh ya, tadi ada apa Ma?” tanya Alvaro.
“Hmm, aku mau minta diajarkan soal pelajaran Matematika P—p—pa,” ucap Nina agak canggung.
“Oh. Ya udah. Masuk aja. Aku akan mengajarkanmu,” ucap Alvaro.
“Gak di luar aja?” tanya Nina.
“Gak usah. Ayo masuk aja,” ucap Alvaro yang kemudian masuk terlebih dahulu.
Dengan ragu, Nina pun ikut masuk ke dalam kamar Alvaro dan dia pun duduk di dekat Alvaro.
“Kamu kenapa tegang gitu, Ma?” tanya Alvaro.
Nina pun menggelengkan kepalanya, enggan menjawab.
“Ya sudah. Ayo kita mulai belajarnya,” ucap Alvaro yang kemudian mereka berdua pun belajar bersama hingga tidak terasa Nina tertidur saat mengerjakan soal dari Alvaro.
***
Keesokan pagi harinya adalah hari libur. Alvaro yang sengaja tidak membangunkan Nina pun akhirnya mencoba memasak untuk sarapan. Namun saat Alvaro sedang ada di dapur, tiba-tiba saja...
“Eeee..” Nina pun terbangun dari tidurnya.
“Lha kenapa aku bisa tidur di kamar Pak Alvaro?” gumam Nina bingung.
Dan sesaat kemudian Nina mencium bau sesuatu yang sangat istimewa.
“Astaga. Ini bau kebakaran,” ucap Nina yang langsung melompat dan keluar dari kamar.
Saat Nina menengok-nengok, ternyata...
“P—p—papa! Astaga! Papa lagi ngapain?”
Bersambung..