Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Akhirnya



“Oh oh oh.. sebentar sebentar. Aku juga baru sadar sekarang. Kenapa bisa sampai Nina dibawa oleh Bibinya itu?! Bukannya kan harusnya ada Alvaro yang melindungi Nina?! Emangnya saat itu Alvaro di mana? Lagipula, apa kamu lupa kalau cucuku ini (Nina) sudah kita jodohkan dengan anakmu, Alvaro?” selidik Kakek.


“I—itu,...”


Tampak terlihat jelas kalau Ayah Willy terlihat seperti ketakutan mendapatkan pertanyaan seperti itu hingga membuat Kakeknya Nina pun mencoba menebak dengan berkata, “Pasti ini karena ulahmu kan, Wil? Kamu juga lupa soal perjodohan itu?”


Sambil merasa bersalah, Ayah Willy pun menyahut, “Habisnya aku gak tahu kalau Nina itu ternyata cucumu, Pak.”


Catatan: Alvaro dan Nina, keduanya sama-sama tidak tahu kalau ternyata mereka sudah dijodohkan dari mereka kecil. Dan Ayahnya Alvaro pun lupa dengan kejadian itu yang membuat dirinya mentunangkan Alvaro dengan wanita lain.


Mendengar alasan yang diberikan oleh Ayah Willy, Kakeknya Nina pun berkata, “Heleh. Ini nih kebiasaanmu yang selalu menuntut tanpa mau mendengar. Akibatnya jadi ke anakmu dan juga cucuku, kan!?”


“Ya maaf, Pak. Aku kan gak tahu,” ucap Ayah Willy merasa tidak enak.


“Sudah. Sekarang begini saja. Aku pokoknya gak mau tahu. Sekarang juga biarkan mereka kembali bersama. Toh aku aja bisa percaya pada Alvaro, masa’ kamu yang Ayahnya gak bisa percaya sama anakmu sendiri!?” ucap Kakeknya Nina.


Mendengar ucapan Kakeknya Nina, Ayah Willy pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ya sudah kalau begitu. Tapi sebagai gantinya, cucumu harus mau tinggal bersamaku.”


“Cih. Masih aja gak percaya,” celetuk Kakeknya Nina.


“Bukannya begitu, Pak. Aku kan sudah tua, aku ingin sekali ada yang menemani. Apakah itu juga salah?” tanya Ayah Willy dengan memelas.


Dengan menghela nafas panjang, Kakeknya Nina pun akhirnya berkata, “Baiklah. Tapi awas. Jangan buat cucuku menderita karena keegoisanmu.”


Ayah Willy pun terdiam sambil menunduk dan kemudian tak lama setelah itu, akhirnya berkata, “Iya iya. Aku gak akan seperti itu.”


“Awas!” ancam Kakeknya Nina.


Tak selang berapa lama kemudian, Nina pun akhirnya tersadar dan ketika dia membuka matanya, dia melihat ada sesosok pria yang sangat dia rindukan.


“Pa—,”


Ucapan Nina langsung terpotong dengan Alvaro yang berkata, “Ststtst.. di luar ada Ayahku dan juga Kakekmu.”


Nina pun langsung melihat ke arah pintu dan kemudian mengangguk sambil tersenyum.


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?” tanya Alvaro.


“Sudah jauh lebih baik, Pak. Memangnya bagaimana ceritanya aku bisa sampai di sini dan mana Azka?” tanya Nina.


Alvaro pun tersenyum lalu berkata, “Tadi kamu pingsan dan aku langsung yang membawamu ke sini. Soal Azka, kamu gak usah mengkhawatirkannya. Azka sedang bersama Rendy dan Dinda.”


“Oh,” sahut singkat Nina.


Dan di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Ayah Willy dan Kakeknya Nina pun datang. Mereka terlihat senang saat mengetahui kalau Nina sudah sadar dan kondisinya jauh lebih baik.


“Syukurlah,” ucap keduanya di saat yang bersamaan.


Setelahnya mengucapkan hal itu, Kakeknya Nina pun langsung menepuk pundak Ayah Willy dan memberikannya isyarat.


Ayah Willy yang mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Kakeknya Nina ini akhirnya berkata, “Baiklah. Ehm.. begini. Untuk perjanjian yang waktu itu pernah kita buat, bagaimana kalau kita batalkan aja.”


Mendengar ucapan Ayah Willy, baik Alvaro maupun Nina, keduanya sama-sama saling menatap satu sama lainnya dan kemudian Alvaro pun bertanya, “Maksud Ayah?”


“Hmm, begini. Mulai sekarang, untuk menghindari hal seperti ini terjadi lagi, bagaimana kalau Nina dan Azka akan tinggal bersama kita aja,” jelas Ayah Willy namun masih belum bisa dipahami oleh Alvaro dan Nina.


Melihat ke dua orang yang ada di hadapannya itu masih belum jelas juga, Ayah Willy pun langsung menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Astaga. Kalian ini ya!? Bagaimana caranya supaya kalian bisa mengerti?”


Ayah Willy pun mengangguk sehingga membuat Alvaro merasa senang dan kemudian memeluk Nina sambil berkata, “Welcome back, Nina.”


Nina yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alvaro pun akhirnya bertanya, “Maksud Bapak apa?”


“Nin, maksud Alvaro tadi bersikap seperti itu tuh karena kamu sekarang udah bisa berkumpul kembali dengannya,” sahut Kakeknya Nina mendahului Alvaro.


Mendengar ucapan Kakeknya itu, Nina pun langsung melihat ke arah Alvaro dan kemudian bertanya, “Benarkah itu, Pak?”


Alvaro pun tersenyum sambil mengangguk sehingga membuat Nina pun refleks langsung memeluk Alvaro.


Sementara itu, Ayah Willy yang melihat hal itu pun langsung berdehem dan kemudian berkata, “Tapi ada syaratnya.”


Mendengar kata syarat, Kakeknya Nina pun sewot dan berkata, “Syarat apa lagi sih, Wil? Perasaanku, kamu tuh kebanyakan peraturan deh.”


“Bukan gitu, Pak. Aku minta syarat ini cuma karena ingin mencegah saja. Biar bagaimana pun Nina belum lulus sekolah, jadi aku berharap, walau mereka sudah tinggal satu rumah lagi, tetap saja mereka harus menjaga jarak. Bagaimana? Apa Kalian bisa?” tanya Ayah Willy.


Baik Alvaro maupun Nina, keduanya saling menatap manakala mendengar ucapan Ayah Willy yang seperti itu.


Sambil tersenyum, Alvaro pun akhirnya menyahut, “Iya, Yah. Gak apa-apa. Bagiku dan juga Nina yang terpenting kami bisa bersama untuk saat ini dan itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula bukannya tinggal 6 bulan lagi menuju kelulusan!?”


Kakeknya Nina yang mendengar jawaban Alvaro seperti ini pun merasa puas. Dia benar-benar tidak salah menilai kalau Alvaro memang sangat tulus kepada cucunya.


Sementara itu, Ayah Willy yang mendengar itu pun langsung berkata, “Oh. Bagus lah kalau begitu. Berarti kalian berdua sudah menyanggupinya kan!?”


Dengan kompak Alvaro dan juga Nina pun mengangguk.


***


Satu jam setelah itu, karena sudah merasa keadaan Nina sudah jauh lebih baik, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang.


Dengan ditemani Kakeknya untuk sementara waktu, mereka pun kembali ke rumah Alvaro sebelum akhirnya mereka benar-benar pindah ke rumah Ayah Willy.


Karena sudah diperbolehkan untuk tinggal bersama, akhirnya Alvaro pun menemani Nina dan Azka pulang.


Sesaat setelah sampai di rumah, Kakeknya pun dengan jahil berkata, “Hei, di sini kan gak ada si laki-laki kaku itu, jadi kalian untuk malam ini tidur berdua di kamar yang sama ya. Biar Kakek tidur bersama Azka.”


Mendengar ucapan Kakeknya Nina yang terdengar konyol namun itulah yang ditunggu-tunggu, membuat keduanya pun tersenyum malu.


Namun sebelum itu, Alvaro tiba-tiba teringat akan sesuatu dan ingin memastikan terlebih dahulu dengan bertanya, “Hmm, Kek. Kakek dan Ayah apa kalian sama-sama saling kenal?”


“Iya. Kami saling kenal. Ayahmu itu adalah muridku dulu,” jelas Kakek Nina yang membuat Alvaro dan Nina pun terkejut.


“Ja—jadi, Kakek itu juga seorang guru?” tanya Alvaro.


Kakeknya Nina pun tersenyum sambil mengangguk dan kemudian berkata, “Sudah sudah.. lebih baik kita segera istirahat. Kasihan Nina yang baru saja pulih dan Azka yang udah kelihatan lelah.”


Alvaro pun mengangguk dan kemudian memapah Nina masuk ke dalam kamar.


Sesaat setelah masuk ke dalam kamar, tanpa membuang waktu, Alvaro pun langsung memeluk dan mencium mesra Nina sehingga membuat Nina terkejut dan berkata, “Haiss... Buru-buru banget sih!?”


“Gimana gak buru-buru. Soalnya aku benar-benar sangat merindukan kamu Ma,” ucap Alvaro yang kemudian langsung menciumi kembali istrinya itu.


Bersambung...