
Kini tibalah di mana hari pesta pernikahan. Nina yang tampak sangat cantik sekali didandani ini pun membuat semua orang yang melihatnya menjadi terpesona.
Begitu pula dengan Alvaro. Dia tidak menyangka kalau Istrinya itu akan sangat menawan sekali.
“Ma, kamu cantik,” bisik Alvaro di telinga Nina dan Nina pun hanya tersenyum mendengarnya.
Pesta tersebut diselenggarakan dengan mengundang kerabat dekat dan juga teman bisnis Ayah Willy dan juga Alvaro.
Untuk pihak sekolah, hanya kepala sekolah dan beberapa orang guru saja yang di undang dalam acara tersebut.
Pesta tersebut berlangsung meriah dan juga sangat berjalan lancar.
Tidak lupa juga ada ada Azka yang tiba-tiba saja membuat semua orang terkejut karena saat itu dia berkata, “Tatak, mau dak nikah ma atu?” (Kakak, mau gak menikah sama aku?)
Saat itu Azka yang sedang bicara dengan Dinda ini pun membuat semua tamu undangan langsung menengok ke arahnya.
“Kamu ini lagi ngomong apa sayang?” tanya Dinda dengan nada berbisik.
“Itu, Tak. Atu di curuh tanya, apa tatak mau nikah ma atu,” jelas Azka lagi. (Itu, Kak. Aku di suruh tanya, apa Kakak mau menikah ma aku?)
Mendengar ucapan Azka, Dinda pun kembali bertanya, “Siapa yang nyuruh sayang?”
Tanpa banyak bicara, Azka pun langsung berkata, “Tuh.”
Tangannya menunjuk ke arah Randy yang kala itu sedang cengar-cengir salah tingkah.
Sementara orang yang tadinya terkejut dengan ucapan Azka ini kembali berbincang masing-masing setelah mengetahui kalau itu hanya suruhan.
Sedangkan untuk Dinda, dia pun langsung menatap ke arah Randy dengan tatapan yang sulit di artikan.
Pasalnya selama ini, dialah yang selalu mengejar-ngejar Randy, tapi sekarang justru Randy yang mengajaknya menikah terlebih dahulu.
Dengan senyuman di wajah, akhirnya dia pun mengangguk memberikan jawaban pada Randy sehingga membuat Randy senang sampai kegirangan.
Sementara itu, Alvaro dan juga Nina yang diam-diam selalu memperhatikan mereka ini pun sontak saling menatap satu sama lainnya dan kemudian langsung tersenyum.
Dan semenjak pesta tersebut, kemesraan mereka berdua pun langsung mereka tunjukkan ke semuanya hingga saat acara upacara kelulusan berlangsung.
Nina yang diam-diam sudah benar-benar menjadi Nyonya Alvaro ini pun bergumam, “Aku gak nyangka di sekolah ini aku bertemu dengannya dan dia juga yang jadi satu-satunya guru yang saat menyelamatkanku dari kepedihan. Terima kasih, Pak. Mungkin kalau kau tidak datang waktu itu dan membawaku, mungkin aku tidak akan ada dan duduk di sini bersama dengan semuanya.”
Namun di kala acara kelulusan telah hampir selesai, tiba-tiba saja Alvaro memanggil nama Nina dan menyuruhnya untuk maju ke depan.
Betapa terkejutnya Nina saat itu. Kali ini kejutan seperti apa yang akan diberikan oleh Alvaro.
Dengan ragu Nina pun melangkahkan kakinya ke depan dan kemudian mendekati Alvaro lalu berbisik, “Kok aku di panggil?”
Alvaro pun tersenyum dan berkata, “Ehm.. begini. Aku ingin sampaikan pada seluruh siswa dan juga dewan guru yang ada di sini, kalau kalian besok akan kami undang ke acara pesta kecil-kecilan pernikahan kami. Kami berdua berharap semuanya bisa hadir menghadiri acara tersebut.”
Untuk dewan guru yang memang sudah tahu tentang hubungan Alvaro dan Nina ini pun hanya tersenyum. Sedangkan untuk siswa-siswi yang mendengarnya pun terkejut. Tak sedikit dari mereka yang menggumamkan kapan mereka jadiannya, kapan mereka pacarannya, kapan mereka ijab qobulnya dan tidak sedikit juga dari mereka yang merasa syok mendengarnya.
Namun walau seperti itu, mereka tidak akan pernah tahu kapan Alvaro dan Nina memulainya. Mereka hanya perlu menghadiri pesta pernikahan itu saja.
Sementara itu untuk Nina, Nina yang mendengar ini pun langsung menengok ke arah Alvaro sambil berbisik, “Pesta lagi? Kenapa aku gak tahu ada pesta lagi?”
Alvaro pun tidak menjawab pertanyaan istrinya itu. Dia hanya merangkul bahu Nina tanpa menjelaskan apa-apa.
***
Satu bulan setelah acara pesta kecil-kecilan yang dikatakan Alvaro saat itu. Randy dan Dinda yang memutuskan untuk bertunangan ini pun sedang mempersiapkan semua keperluan untuk menikah.
Saat itu Dinda meminta Nina untuk menemaninya berbelanja membeli beberapa barang kebutuhan saat pernikahannya nanti. Sedangkan Nina hanya mengikutinya saja tanpa mau berkomentar apa-apa.
Hingga di saat Dinda sedang asyik-asyiknya memilih, tiba-tiba saja Nina memegang tangan Dinda dan berkata, “Kak, aku mual sekali.”
Melihat wajah Nina yang tiba-tiba saja pucat seperti itu pun Dinda langsung membawanya ke toilet.
Di sana Nina akhirnya mengeluarkan semuanya hingga perasaannya menjadi cukup lega dan perutnya tidak mual lagi.
Dinda yang melihat ini pun langsung bertanya, “Kamu kenapa, Nin? Kenapa tiba-tiba muntah seperti ini? Apa kamu salah makan?”
Nina pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak tahu, Kak. Aku sepertinya memakan makanan yang sama seperti biasanya. Ini mungkin hanya masuk angin saja kali, Kak.”
“Oh,” sahut Dinda singkat.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya selesai berbelanja dan entah mengapa tiba-tiba saja Nina menelepon Alvaro.
Alvaro yang tiba-tiba mendengar Istrinya ini mengungkapkan perkataan seperti itu pun menjadi bingung.
“Eeeeh? Kok tahu-tahu Mama minta Papa jemput. Bukannya Mama lagi belanja sama Dinda? Mobil Dinda ke mana?” tanya Alvaro.
“Gak mau. Pokoknya aku maunya di jemput sama Papa. Titik gak pake koma,” paksa Nina sambil merengek dan telepon pun langsung diakhiri.
Alvaro yang mendapatkan respons seperti itu pun langsung melihat ke arah ponselnya sambil bergumam, “Dia ini lagi kenapa?”
Tapi walau begitu, Alvaro tetap saja langsung menjemput Nina di tempat mereka belanja.
Nina yang akhirnya melihat Alvaro menjemput ini pun langsung berjalan menghampiri Alvaro dan memeluknya sambil berkata, “Pa, aku kangen banget.”
“Ha!?”
Alvaro pun langsung melihat ke arah Dinda yang kala itu sedang tercengang melihat sikap Nina yang seperti itu.
“Ma, kita kan baru gak ketemu itu dua jam, kenapa bisa-bisanya Mama kangen begini?” tanya Alvaro heran.
“Gak boleh ya?” rengek Nina.
“Iya iya boleh kok sayang,” sahut Alvaro yang kemudian langsung memeluk Nina.
Tak selang berapa lama kemudian, Nina tiba-tiba merasa pusing dan kemudian pingsan sehingga membuat Alvaro pun menjadi panik.
Dengan segera Alvaro menggendong Nina dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat dengan di susul dengan Dinda di belakangnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Nina pun langsung diperiksa oleh salah satu Dokter yang sedang berjaga hingga 15 menit kemudian...
“Keluarga pasien atas nama Nina!” seru Dokter.
“Ya saya, Pak. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, Pak?” tanya Alvaro.
Dokter itu pun tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Selamat, Pak. Istri Bapak sedang mengandung 3 Minggu.”
“Apaaaaaa!?”
Setelah kejadian itu, Alvaro pun semakin memanjakan Nina begitu pula Nina yang menjadi sangat manja terhadap Alvaro.
Mereka berdua menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
Hingga tibalah hari persalinan. Semua tampak tegang begitu pula dengan Alvaro.
Dia sangat mencemaskan Nina yang sedang berjuang hidup dan mati saat melahirkan anak mereka.
Setelah beberapa saat berjuang...
'Oek.. oek.. oek..”
Terdengar suara tangis bayi dan di saat bersamaan suster keluar dan berkata, “Selamat Pak. Anak Bapak perempuan.”
Betapa senangnya hati Alvaro saat itu. Dia benar-benar bersyukur atas jalan kehidupan yang sudah ditakdirkan untuknya dan juga Nina, Istrinya.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaannya, tiba-tiba saja Alvaro diberi kabar kalau Nina meninggal sesaat setelah melahirkan anak mereka.
Betapa syok hati Alvaro mendapatkan kabar tersebut.
Di saat dia sedang terpuruk dan sedih, tiba-tiba saja salah satu perawat memberikan secarik kertas pada Alvaro.
Alvaro pun membukanya dan membacanya. Di sana tertulis...
“Pa, maafin mama ya. Mama gak bisa bersama dengan Papa lagi. Tapi Mama bersyukur bisa bertemu Papa. Mama bahagia sekali Pa. Sekarang mama ada satu permintaan untuk Papa. Tolong jaga anak kita dan juga Azka. Sayangi mereka ya, Pa.”
Membaca surat tersebut, tangis Alvaro pun pecah.
Hingga 5 tahun kemudian...
Saat itu Alvaro sedang berziarah ke makam Nina. Tiba-tiba saja dari belakang Alvaro terdengar seseorang berkata, “Pak Alvaro, sudah lama ya kita tidak bertemu.”
Alvaro pun menengok dan kemudian tersenyum.
\=\=\=Tamat\=\=\=