
Sesaat setelah Nina pergi, seseorang yang ada di sebelah Alvaro pun bertanya, “Itu tadi siapa, Al?”
“Istriku,” sahut Alvaro tanpa mau menutup-nutupi.
“Ja—jadi kamu udah,...” ucap orang tersebut yang langsung di potong oleh Alvaro.
“Ya. Kamu benar. Aku udah menikah dengannya dan selamanya aku tidak akan mungkin mau melepaskannya,” ucap serius Alvaro.
Mendengar ucapan Alvaro yang serius seperti itu, membuat orang tersebut pun tertawa terbahak-bahak.
“Dasar gila kamu, Al. Bocah pun kamu jadikan alasan untuk membatalkan pertunangan kita ini,” ucap orang itu yang ternyata tunangan Alvaro, Dinda.
Mendengar ucapan Dinda, Alvaro pun langsung menengok ke arah Dinda dan menatap Dinda dengan tatapan tajam sambil berkata, “Aku memang sudah gila karena aku memang sungguh-sungguh sudah mencintainya. Jadi setelah ini aku harap, pertunangan kita ini bisa berakhir.”
Mendengar ucapan Alvaro yang seperti ini, awalnya Dinda memasang wajah kesal namun tak selang berapa lama kemudian Dinda tertawa terbahak-bahak. Hal ini sehingga membuat Alvaro dengan sewot berkata, “Gak lucu.”
“Emang gak lucu,” sahut Dinda.
“Kalau gak lucu, kenapa kamu ketawa?” tanya Alvaro kesal.
Dinda yang mendapatkan pertanyaan seperti ini pun kemudian langsung berkata, “Hei, Pak Al. Sepertinya kamu udah salah paham dengan maksud kedatanganku kali ini.”
“Salah paham?! Salah paham gimana maksud kamu?” tanya Alvaro bingung.
Dinda pun terdiam sejenak saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Namun beberapa saat kemudian dia pun akhirnya menjawab, “Al, aku datang ke sini karena ingin mengajakmu bekerja sama untuk membatalkan pertunangan kita ini.”
Mendengar hal itu, Alvaro pun langsung menengok ke arah Dinda dan berkata, “Membatalkan?! Jadi kamu datang ke sini untuk membatalkan pertunangan kita?”
Sambil menganggukkan kepalanya, Dinda pun menjawab, “Iya. Aku berharap pertunangan kita batal.”
“Tapi kenapa?...” tanya Alvaro yang merasa aneh karena ini terlalu tiba-tiba, “bukannya waktu itu kamu sangat bersikeras memaksa untuk bisa bertunangan denganku?”
Sambil senyam-senyum tidak jelas, Dinda pun berkata, “Ada seseorang yang sedang aku kejar.”
“Apa?!” ucap Alvaro terkejut.
Dan di saat yang bersamaan, Randy pun datang dan Dinda pun seketika langsung merangkul lengan tangan Randy sehingga membuat Randy terkejut.
“I—ini apaan, sih?!” Protes Randy.
Sementara itu, Alvaro yang tahu ceritanya dari awal ini pun langsung berkata, “Oh. Ya udah. Kalau begitu aku dukung. Semangat.”
Setelah mengatakan hal itu, Alvaro pun langsung pergi begitu saja sehingga membuat Randy pun berteriak, “Eh, Al. Lo mau ke mana?”
Namun teriakan Randy ini tidak ditanggapi oleh Alvaro. Dia justru melangkahkan kakinya semakin menjauh.
“Haisss.. lo ini Al,...” gumam Randy, “Ini apaan sih?”
“Hehehe... suka,” sahut Dinda sambil cengengesan.
“Ha?!”
***
Saat jam istirahat, Nina yang merupakan orang yang sangat tertutup ini pun sangat senang sekali berdiam diri di taman belakang sekolah.
Sambil memakan camilan yang sudah dia bawa, dia pun bersantai membaca buku yang dia sukai.
Sementara itu, Alvaro yang belum mengetahui hal ini pun mencari Nina ke mana-mana hingga akhirnya bertemu juga.
“Aih, Ma. Papa cari ke mana-mana, gak tahunya Mama ada di sini,” keluh Alvaro.
“Oh, Papa. Ada apa Pa?” tanya Nina.
Alvaro pun langsung duduk mendekati Nina dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Nina.
“Kamu baca apaan, Ma?” tanya Alvaro.
“Oh. Ini. Aku membaca buku cerita buat hiburan,...” sahut Nina, “ada apa, Pa?”
“Ma, tadi pagi kenapa Mama malah senyum sama Papa?” tanya Alvaro to the point.
“Oh soal itu. Lha terus masa’ aku harus cemberut atau marah tadi?” tanya ganti Nina dengan nada santai sambil masih membaca bukunya.
“Ya gak gitu juga, Ma. Tapi Papa kok merasa mendapatkan respons seperti itu dari Mama, hati Papa malah sedih ya?!” ucap Alvaro.
“Iya iya. Maafin Papa ya Ma,” ucap Alvaro.
“Iya, Pa. Gak apa-apa,” sahut Nina.
Untuk sejenak mereka pun terdiam. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai obrolan hingga akhirnya Alvaro berkata, “Ma, tahu gak kalau wanita yang tadi ada di dekat Papa itu tunangan Papa.”
‘Deg’
Mendengar ucapan Alvaro, sontak membuat Nina sudah tidak bisa fokus membaca lagi.
“Tapi, saat tadi itu juga, dia bilang kalau dia ingin pertunangannya dengan Papa di batalkan,” lanjut Alvaro.
“Ha?! Dibatalkan?! Benarkah? Kenapa?” tanya Nina heran.
Alvaro pun mengangguk lalu berkata, “Dia ternyata menyukai Randy, Ma.”
“Eh?...” Nina pun terkejut lalu kemudian kembali berkata, “Pak Randy tahu gak soal ini?”
Alvaro pun menggelengkan kepalanya lalu menjadi, “Kaya’nya gak tahu deh, Ma.”
“Gak tahu. Lha terus?” ucap Nina terkejut.
Alvaro pun mengangkat ke dua bahunya lalu berkata, “Biarkan aja begitu, Ma. Paling nggak itu akan membuat hubungan kita aman. Ya gak?!”
“Ish. Si Papa ini,” ucap Nina.
***
Saat jam pulang tiba, bukan Alvaro yang berlari mendekati Nina dan bukan juga Randy. Yang tiba-tiba saja datang mendekati Nina justru Dinda.
Dengan langsung merangkul pundak Nina, Dinda pun berkata, “Nin, tolongin Kakak donk.”
Nina yang saat itu sedang terkejut ini pun langsung menyahut, “Aih.. Astaga.. jantung rasanya mau copot. Ada apa, Kak?”
“Ikut Kakak,” ucap Dinda yang langsung membawa Nina begitu aja.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Randy pun melihat kejadian ini dan langsung dengan segera mencari Alvaro.
“Al, gawat.. gawat,” ucap Randy dengan nafas tersengal-sengal.
“Gawat kenapa, Ran?” tanya Alvaro bingung.
“I—itu si Nina... Si Nina di bawa sama tunangan lo,” jelas Randy.
“Ha?! Apa?!” ucap Alvaro yang kemudian langsung bergegas mencari Nina.
Namun ternyata di sisi lain, Nina justru sedang ketawa-ketawa bersama Dinda di tempat makan bakso.
“Jadi rupanya ada cerita seperti itu ya, Kak?! Aku sungguh gak nyangka kalau Pak Al bisa seperti itu juga,” ucap Nina sambil tertawa karena baru mengetahui kalau Alvaro bisa juga menangis seperti anak kecil.
Dan tak selang berapa lama tiba-tiba...
“Hmm.. bagus ya?! Kalian rupanya sedang berani-beraninya menertawakan aku di belakangku,” ucap Alvaro dari arah belakang mereka.
Mereka yang merasa mendengar suara Alvaro ini pun langsung perlahan-lahan menengok dan kemudian..
“Hehehe.. Bapak,” ucap Nina salah tingkah.
Sementara itu, Dinda pun kembali tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Alvaro langsung menjitak kepalanya.
“Aw, sakit tahu,” protes Dinda.
“Sakit?! Iya?! Mau lagi gak?!” ucap Alvaro dan Dinda pun menggelengkan kepalanya.
“Ma, tadi Dinda udah cerita apa sama Mama?” tanya Alvaro.
Belum juga pertanyaan Alvaro ditanggapi oleh Nina. Tiba-tiba saja Dinda terlebih dahulu tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Cie.. cie.. Mama.”
Dan sesaat setelah itu..
'Pletak'
Bersambung...