
Mendengar kata-kata Bibi, baik Randy maupun Dinda, keduanya saling pandang dan kemudian Randy berkata, “Terima kasih banyak, Pak.”
“Iya. Sama-sama,” sahut laki-laki tersebut.
Dan sesaat setelah itu, Nina berkata, “Kita harus segera memberitahukan hal ini pada Alvaro.”
“Iya. Kamu benar,” sahut Randy yang kemudian langsung menuju kantor Alvaro.
Sesaat setelah itu, mereka pun akhirnya sampai di kantor Alvaro yang mana saat itu Alvaro sedang rapat dengan beberapa orang klien.
Melihat kesibukan Alvaro, Randy dan Dinda pun akhirnya memutuskan untuk menunggunya sesaat walau sebenarnya saat itu mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Nina dan Azka.
Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda.
Seperti beberapa saat yang lalu sebelum dia diusir dari rumah Bibinya tersebut, dia selalu di suruh untuk membereskan semua pekerjaan rumah dan juga membersihkannya.
Untuk Azka, dia tidak akan mendapatkan makan jika Kania belum bisa menyelesaikan tugas yang diberikan bibinya.
Dan saat itu...
“Hei, Nin. Mentang-mentang kamu semenjak keluar dari rumah Bibi dan menjadi simpanan Om-om, kamu jadi lupa untuk membalas budimu pada keluarga Bibi ya?! Sekarang, sebagai gantinya, kamu harus mengerjakan semua yang Bibi suruh,” ucap Bibinya ketus sambil menunggui Nina yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Nina yang mendengar ucapan Bibinya itu pun merasa kesal dan akhirnya berkata, “Bi, siapa yang sudah bilang kalau aku ini menjadi simpanan om-om?! Itu semua gak benar, Bi.”
“Heleh. Jangan sok suci deh kamu, Nin. Kakak sepupumu sendiri yang lihat saat dia sedang bermain di taman bermain bersama teman-temannya,” ucap Bibinya itu.
Nina pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Gak, Bi. Itu hanya salah paham saja. Aku gak seperti itu.”
“Heleh, mana ada yang seperti itu mau ngaku. Sudahlah. Jangan banyak ngomong lagi. Cepat selesaikan sekarang juga kalau ingin Adikmu mendapatkan makanan,” ucap Bibinya tanpa perasaan.
Sambil menahan tangis dan pedih, Nina pun berusaha secepatnya menyelesaikan semuanya.
Setelah tiga jam kemudian, Nina pun akhirnya selesai mengerjakan semua tugasnya dan kemudian berkata pada Bibinya kapan dia dan Adiknya mendapatkan makanan.
Namun Bibinya dengan sengaja mencari kesalahan Nina dan menjadikannya alasan agar Nina dan Azka tidak mendapatkan makanannya.
Saat itu, Nina yang sudah sangat kelelahan dengan perut kosong ini pun akhirnya pingsan tak sadarkan diri sehingga membuat Azka menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nina.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Kakek Nina datang dengan di susul oleh Ayah Willy dan juga Alvaro serta Dinda dan Randy.
Bibi Nina yang mendadak mendapatkan kunjungan seperti itu pun merasa bingung dan akhirnya berkata, “Ayah? Kenapa Ayah ke sini?”
Tanpa basa-basi, Kakek pun bertanya, “Di mana Nina dan Azka?”
“Ni—Nina, Azka?! Mereka gak ada di sini Yah,” ucap Bibi berbohong.
“Benarkah?!” ucap Kakek tidak percaya.
Bibinya pun mengangguk kencang dan kemudian menoleh ke arah Alvaro yang saat itu sedang fokus menoleh-noleh ke sekeliling.
“Laki-laki ini?! Jangan-jangan dia, om-om yang dimaksud Anya waktu itu. Bukannya ini gurunya yang waktu itu!?” ucap Bibinya itu yang didengar oleh Kakek dan yang lainnya.
“Om-om? Maksud kamu apa?” tanya Kakek.
“Iya, Kek. Beberapa waktu yang lalu, Anya sempat melihat Nina sedang bermesraan dengan seorang om-om. Jangan-jangan dia orangnya?” ucap Bibinya yang berpikiran untuk menjelek-jelekkan Nina di hadapan Kakeknya itu. Dia lupa kalau dirinya pernah bertemu dengan Alvaro.
Dan di saat bersamaan, terdengar tangisan Azka yang semakin kencang sehingga membuat Alvaro dan Randy refleks langsung berlari ke arah sumber suara.
Bibinya yang melihat ini pun spontan langsung berteriak, “Hai kalian berdua! Apa yang mau kalian lakukan di rumah ini?”
Mendengar Anak mantunya berteriak seperti itu, Kakeknya pun langsung berkata, “Diam kamu! Gak usah teriak-teriak seperti itu.”
“Ta—tapi, Yah. Itu,...”
Tak selang berapa lama kemudian, tampak terlihat Alvaro sedang terburu-buru keluar dari rumah menuju mobil dengan membawa Nina di gendongannya. Sedangkan Azka langsung ditenangkan oleh Randy dan juga digendong olehnya.
Kakek yang melihat ini pun langsung dengan emosi berkata, “Kamu sudah apakan mereka hah?!”
Bibinya pun menggeleng-gelengkan kepalanya tidak menjawab sehingga membuat Kakek kembali berkata, “Lihat saja kamu nanti. Jika sampai terjadi apa-apa dengan mereka, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan padamu.”
Setelah mengatakan itu, Kakek pun langsung mengikuti Alvaro dan masuk ke dalam mobil Alvaro.
Setelah beberapa saat kemudian, tibalah mereka semua di Rumah Sakit.
Alvaro yang sangat mengkhawatirkan keadaan Nina ini pun langsung memasukkannya ke dalam ruang UGD.
Di dalam, Nina langsung mendapatkan pemeriksaan dan juga pertolongan berupa infusan.
Alvaro yang terus memperhatikan Nina ini pun tidak ada hentinya meneteskan air mata yang bisa di lihat oleh Ayah Willy.
Sambil menepuk pundak Alvaro, Ayah Willy pun berkata, “Lebih baik kita tunggu di luar.”
Sementara itu, Azka selalu merengek minta makan sehingga membuat semua yang ada di sana pun saling memandang satu sama lainnya.
“Azka lapar?” tanya Dinda yang diangguki oleh Azka.
“Azka belum makan?” tanya Dinda lagi.
Azka pun menggelengkan kepalanya lalu menjawab, “Beyum. Tatak Nina juda beyum makan dayi kemayin.” (Belum. Kakak Nina juga belum makan dari kemarin.)
Mendengar jawaban polos Azka, membuat semua yang ada di sana pun syok. Terutama Alvaro dan Kakeknya Nina.
“Benar-benar gak bisa dimaafkan,” ucap Kakek emosi.
“Ya sudah. Ayo kita beli makanan,” ajak Dinda dan Azka pun mengangguk.
***
Sepanjang Alvaro menunggu Dokter di luar, Alvaro pun tidak ada hentinya bergumam dalam hatinya, “Nin, kamu harus kuat.”
Di saat yang bersamaan, Dokter keluar dan Alvaro pun langsung menghampiri Dokter tersebut lalu bertanya, “Dok, bagaimana keadaan istri saya?”
Dokter itu pun tersenyum dan kemudian menjawab, “Dia tidak apa-apa, Pak. Hanya saja badannya lemas karena perutnya yang kosong. Sebentar lagi dia juga bakalan bangun kok.”
Mendengar ucapan Dokter seperti itu, Alvaro pun langsung merasa lega dan dia pun langsung meminta ijin pada Dokter agar diperbolehkan masuk.
Sesaat dia sudah berada di dalam, Alvaro pun langsung memegangi tangan Nina sambil berkata, “Baru tidak bertemu untuk beberapa saat saja kamu sudah kembali diperlakukan seperti ini, sayang.”
Ayah Willy yang kala itu mendengar ucapan Alvaro ini pun langsung keluar dan tidak mau mengganggu Alvaro dengan Nina.
Setalah berada di luar, Ayah Willy tiba-tiba sadar dengan kehadiran Kakek Nina.
“Bapak Alvian?!” ucap Ayah Willy spontan yang ternyata kenal dengan Kakek Kania.
“Heleh. Kebiasaan gak sadarmu itu benar-benar gak ketolong Will,” celetuk Kakek Nina yang saat itu hanya berdua saja dengan Ayah Willy.
“Ya maaf. Tadi kan semuanya sedang fokus dengan keadaan Nina,” sahut Ayah Willy.
“Oh oh oh.. sebentar sebentar. Aku juga baru sadar sekarang. Kenapa bisa sampai Nina dibawa oleh Bibinya itu?! Bukannya kan harusnya ada Alvaro yang melindungi Nina?! Emangnya saat itu Alvaro di mana? Lagipula, apa kamu lupa kalau cucuku ini (Nina) sudah kita jodohkan dengan anakmu, Alvaro?” selidik Kakek.
“I—itu,...”
Bersambung...