Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
tetap saja cemburu



Setelah kejadian itu, lagi-lagi mereka pun setiap kali bertemu dan bertatap muka selalu saja diam dan cuek.


Namun walau begitu, setiap kali berpapasan, mereka secara sembunyi-sembunyi selalu saja berpegang walau hanya untuk sesaat.


Hingga akhirnya hari itu sekolah mengumumkan akan mengadakan ujian sekolah.


Nina yang dari awal sekolah ini selalu saja memiliki nilai paling akhir ini pun hanya bisa menunduk lesu.


“Kenapa harus ada hari ujian sekolah sih?!” gumam Nina saat sedang duduk menatap jadwal ujian di ruang keluarga.


Alvaro yang saat itu sedang duduk di sebelah Azka yang sedang menggambar itu pun dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Nina.


Sehingga membuat Alvaro langsung bangun dan pindah duduk mendekati Nina lalu kemudian mengacak-acak rambut Nina.


Nina yang rambutnya di acak-acak seperti ini oleh Alvaro pun langsung protes dengan berkata, “Pa, pusing kepalaku kalau rambutku diginiin.”


“Lagian, suruh siapa Mama bilang seperti itu tadi,” ucap Alvaro.


“Bilang soal apaan, Pa?” tanya Nina yang langsung lupa dengan apa yang dia ucapkan barusan.


Tanpa menjawab pertanyaan Nina, Alvaro pun hanya memberi isyarat ke arah jadwal ujian yang sedang Nina pegang dan itu membuat Nina menjadi sadar kalau yang Alvaro maksud tadi adalah soal ujian.


“Haissss.. emang benar sih, Pa. Kalau boleh pilih, aku mendingan pilih gak ada hari ujian deh. Bikin pusing dan tersiksa aja tahu,” keluh Nina.


Mendengar ucapan Nina, sontak Arya pun langsung menyentil kening Nina sehingga membuat Nina pun memekik kesakitan.


“Mama tuh, ya. Ya sudah. Masih ada satu bulan lagi sebelum ujian di mulai. Mulai besok, Mama akan Papa ajarkan satu persatu semua pelajaran yang bakalan diujikan nanti,” ucap Alvaro sambil mengelus-elus rambut Nina.


“Yaaaaaaa,” keluh Nina.


***


Keesokan harinya, sebelum jam masuk sekolah, Dimas datang menemui Nina yang kala itu sedang fokus belajar. Hal ini membuat Nina pun menjadi terkejut.


“Dimas!? Ngapain lo datang ke kelas gue ini?” tanya Nina.


“Gak apa-apa. Gue cuma mau ngobrol sama lo aja. Emangnya gak boleh ya?” tanya Dimas.


“Oh. Boleh kok,” sahut Nina.


Setelah mendengar jawaban dari Nina, Dimas dan Nina pun akhirnya mengobrol dengan asyik. Hingga tak terasa waktu jam pelajaran dimulai pun tiba.


Saat sadar bahwa bel masuk berbunyi, Dimas pun segera berpamitan pada Nina.


Namun, belum juga Dimas meninggalkan meja Nina, ternyata Alvaro sudah terlebih dahulu masuk dan melihat hal itu.


Sehingga membuat Alvaro pun langsung berdehem dan Dimas pun langsung pergi meninggalkan Nina.


***


Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Nina pun dengan segera mencari keberadaan Alvaro. Namun tidak dia temukan.


“Pak, tolongin aku Pak,” ucap Nina yang langsung begitu saat masuk ke ruang BK.


Randy yang melihat Nina seperti ini pun bingung dan berkata, “Nin, ada apa sih?”


“Itu, Pak. Pak Alvaro sepertinya salah paham sama aku tadi pagi,” ucap gelisah Nina.


“Maksud kamu?” tanya Randy bingung.


“Itu, tadi pagi aku bertemu teman baru dan itu cowok. Kami gak ada hubungan apa-apa. Tapi sepertinya Pak Alvaro salah paham sama aku, Pak. Gimana ini!?” ucap Nina gelisah.


“Sudah. Begini aja. Coba kamu cari ke kantor, bukannya Alvaro sedang ada di kantor?!” ucap Randy.


“Gak ada, Pak. Maka dari itu, aku ke sini tanya Bapak,” ucap Nina yang lama-lama menjadi sedikit gemas dengan Randy.


“Oh. Kalau gitu aku juga gak tahu, Nin. Soalnya dari pagi tadi dia belum ada datang ke sini Nin,” jelas Randy.


“Oh gitu ya, Pak. Ya sudah kalau begitu,” ucap Nina lemas.


***


Di rumah Alvaro...


Nina yang bingung dan gelisah ini pun duduk termenung tanpa masuk terlebih dahulu. Hingga akhirnya ada sosok seorang pria datang dan Nina pun segera sontak langsung berhambur memeluk pria tersebut.


Alvaro yang di perlakukan seperti ini pun bingung dan bertanya, “Nina, kamu kenapa?”


“Papa marah ya ma aku?” tanya Nina.


“Marah kenapa?” tanya Alvaro.


“Gara-gara tadi pagi aku ngobrol sama cowok lain,” sahut Nina.


Mendengar ucapan Nina, Alvaro pun terdiam dan kemudian berkata, “Nin, jujur aku tadi cemburu. Walau aku sadar itu hakmu bergaul dengan siapa saja, tapi aku tetap saja cemburu.”


Mendapatkan jawaban seperti itu, Nina pun langsung berkata, “Pak, maafin aku ya. Tapi beneran. Tadi itu cuma teman yang waktu pernah aku kenal waktu kita sedang bermain waktu itu. Aku juga gak nyangka kalau dia juga sekolah di situ.”


Mendengar penjelasan Nina, Alvaro pun langsung mengelus-elus rambut Nina sambil menghela nafas panjang lalu berkata, “Ya sudah jika begitu. Tidak apa-apa. Aku percaya padamu.”


“Terima kasih banyak Pa,” ucap Nina yang kemudian diangguki oleh Alvaro sambil tersenyum.


***


Keesokan harinya..


“Nina,...”


Bersambung...