
Dan sesaat setelah sampai di luar...
“Cih. Keluar aja harus dikawal seperti ini. Dasar bocah.”
Namun untungnya ucapan Anya ini tidak terdengar oleh Nina, Alvaro, Randy dan juga Dinda sehingga mereka pun berekspresi biasa-biasa saja.
Setelah Nina sudah berada di hadapan Anya, Nina pun bertanya, “Kak, ada apa Kakak mencari aku di sekolah?”
“Kamu di suruh pulang tuh sama Ibu,” ucap Anya.
“Pulang? Pulang ke mana, Kak?” tanya Nina.
“Ya pulang ke rumah Bibimu lha. Bukannya kamu emang tinggal di sana!? Kamu udah lama lho gak pulang. Bibi sangat mengkhawatirkan kamu,” ucap Anya yang seolah-olah Nina telah diam-diam kabur dari rumah.
Mendengar ucapan Anya seperti itu, Nina pun langsung menceletuk, “Bukannya waktu itu aku udah diusir kan sama Bibi dari rumah!? Lalu kenapa aku malah di suruh balik lagi ke sana?”
“Oh. Mentang-mentang ibuku mengatakan hal itu, lantas kamu menganggapnya serius dan bahkan malah bersedia jadi simpanan om-om. Iya!?” ucap Anya ketus sehingga membuat Nina terkejut sekaligus emosi dan pedih.
“Maksud ucapanmu apa, Kak?” tanya Nina.
Belum juga ucapan Nina di jawab oleh Anya, Dinda sudah terlebih dahulu berkata, “Maaf ya. Kamu ini umurnya berapa ya? Dan kamu sekolahnya di mana?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Anya pun langsung bertanya, “Urusan apa kamu tanya-tanya soal umur dan juga sekolahku di mana hah?”
“Oh jelas ada urusannya lha. Coba aja kamu atau kalian semua di sini pikirkan baik-baik. Mana ada seorang Kakak yang bisa dan tega mengatai Adiknya sendiri seperti itu!? Lagi pula, jika umurmu dewasa dan kamu itu memang di didik dengan baik oleh keluargamu, pastinya kamu akan punya sopan santun. Gak kaya’ sekarang. Bicara sama guru di sini pun gak sopan seperti ini,” balas ketus Dinda yang membela Nina.
“Dan asal kamu juga tahu, ya. Nina ini bukan simpanan siapa pun. Dia emang di usir dari rumahmu dan sekarang dia tinggal bersama denganku. Apa ada masalah dengan itu hah!?” lanjut Dinda lagi.
Sementara itu, orang-orang yang ada di sana pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dinda.
Merasa dirinya terpojok, Anya pun langsung pergi. Namun sebelum dia pergi, dia pun menyempatkan untuk berkata, “Jangan lupa pulang. Ibu sedang menunggumu.”
“Maaf, Kak. Aku udah gak mau ke sana lagi,” ucap Nina yang langsung memberikan keputusan.
“Terserah padamu aja,” sahut Anya pada akhirnya dan kemudian pergi.
Setelah beberapa saat setelah kepergian Anya, Nina pun langsung terduduk lemas. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa sebegitu teganya Kakak sepupunya sendiri mengatai dia seperti itu.
Dinda yang melihat keadaan Nina seperti ini pun langsung merangkul bahu Nina dan kemudian berkata, “Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Aku tadi sudah membalaskannya untuk kamu. Kamu gak usah khawatir lagi.”
Nina pun mengangguk dan kemudian berkata, “Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama Kania,” sahut Dinda.
Alvaro dan Randy yang melihat ini pun langsung saling menatap satu sama lainnya.
***
Saat jam pulang pun tiba, entah mengapa tiba-tiba saja Kania ingin sekali menyendiri duduk di taman tempat pertama kali ia bertemu dengan Alvaro.
Sambil duduk termangu, dia memikirkan tentang semua kejadian yang telah menimpanya selama ini.
“Ayah, Ibu, kenapa hidupku jadinya seperti ini? Aku rindu kalian, Ayah, Ibu,” gumam Nina yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, Alvaro yang mencari Nina ke kelasnya ini pun tiba-tiba saja merasa khawatir. Karena dia tidak bisa menemukannya di sana atau pun di mana pun.
“Kamu ke mana, Nin?” gumam Alvaro yang kemudian langsung terpikirkan mencari Randy di ruangannya.
Setelah beberapa saat kemudian, Alvaro pun sampai di ruang BK. Dengan panik, Alvaro pun berkata, “Ran, Nina ngilang.”
“Ngilang gimana? Emangnya Nina bisa ilmu goib, ya!? Kok bisa sampai ngilang,” ucap nyeleneh Randy.
“Oh,” sahut singkat Randy dengan nada santai sehingga membuat Alvaro kesal dan kemudian langsung pergi.
Sesaat setelah Alvaro pergi, Randy pun bergumam, “Ya ampun. Benar-benar sudah berubah. Hadeuh..”
Karena merasa sia-sia bicara dengan Randy, Alvaro pun langsung mencoba mencari lagi ke setiap sudut sekolah.
Namun setelah satu jam lamanya berkeliling sekolah, dia masih juga tidak menemukan Nina.
Betapa khawatirnya Alvaro saat ini. Sehingga membuat dia bergumam, “Nin, kamu di mana sih?”
Alvaro benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Hanya kepanikan yang ada di pikirannya saat ini.
“Al, kamu kenapa?” tanya Dinda yang tiba-tiba saja datang mendekati Alvaro.
Alvaro pun terdiam sejenak dan kemudian menjawab, “Nina ngilang, Din. Aku udah cari ke setiap sudut sekolah, tapi gak ada.”
Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun kemudian berkata, “Al, gak usah panik seperti ini. Bisa aja kan kalau Nina itu udah pulang duluan.”
Alvaro pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak mungkin. Soalnya kalau dia pulang duluan, dia pasti akan memberi tahu aku.”
“Oh begitu. Terus jadi dia ke mana donk!?” gumam Dinda.
Sesaat setelah pikirannya tenang, Alvaro pun tiba-tiba teringat tentang tempat saat pertama kali bertemu.
Dengan segera Alvaro pun langsung bangkit sehingga membuat Dinda terkejut dan bertanya, “Al, kamu mau ke mana?”
Sambil berjalan dan dengan berteriak, Alvaro pun menjawab, “Rasanya sekarang aku tahu Nina ada di mana.”
Mendengar ucapan Alvaro, Dinda pun langsung menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Memang sudah berubah.”
***
Di taman...
Nina yang sedang menunduk termenung meratapi kehidupannya ini pun tiba-tiba merasa kalau di hadapannya sekarang sedang berdiri seseorang.
Karena rasa penasarannya, Nina yang akhirnya mendongakkan kepalanya dan mendapati Alvaro sedang memasang ekspresi wajah yang sangat sulit dijelaskan.
“Pa, Papa kenapa?” tanya Nina bingung.
Tanpa banyak bicara, Alvaro pun langsung memeluk tubuh Nina sehingga membuat Nina lagi-lagi bingung dengan sikap Alvaro padanya.
“Pa, Papa ini kenapa sih?” tanya Nina mengulangi pertanyaannya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu untuk yang ke dua kalinya, Alvaro pun langsung melepaskan pelukannya dan kemudian berkata, “Ma, kenapa ke sini gak bilang papa dulu? Tahu gak, papa tuh panik Banget cariin Mama tadi.”
“Ha!?” ucap singkat Nina.
“Ma, jangan begini lagi ya. Papa benar-benar udah gak bisa jauh dari Mama lagi,” pinta Alvaro.
Nina yang baru sadar kalau cintanya suaminya padanya itu menjadi besar ini pun akhirnya mengangguk sambil tersenyum dan kemudian berkata, “Maafin aku ya, Pa. Tadi pikiranku kalut. Jadinya aku ingin sendirian.”
“Kalut!? Kalut kenapa? Apa karena Kakak sepupumu tadi?” tanya Alvaro.
Nina pun mengangguk sehingga membuat Alvaro pun berkata, “Sudah. Jangan dipikirkan lagi. Sekarang kamu dan Azka udah punya aku yang jadi keluargamu. Jangan sedih lagi ya.”
Nina pun mengangguk dan kemudian Alvaro pun kembali memeluk Nina.
Bersambung...