Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Rumah Kakek



Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam lamanya, Nina, Azka, Alvaro dan juga Randy pun akhirnya tiba di rumah Kakek.


Kakek yang saat itu sedang sibuk di ladang ini pun terkejut karena ada seseorang yang berteriak, “Kek, ada orang kota datang ke rumah Kakek.”


Karena rasa penasarannya, Kakek pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya di ladang dan kemudian pulang ke rumah.


Sesampainya Kekek di halaman rumah, betapa terkejutnya dia saat tahu siapa yang datang.


“Nina, Azka!” Panggilannya yang langsung berlari ingin memeluk Nina dan Azka.


Sama halnya Kakek, Nina dan Azka pun juga dengan segera menghampiri Kakek.


Jadilah saat itu mereka saling berpelukan dan melepaskan rasa rindu masing-masing.


“Gimana kabar kalian, cucu-cucunya Kakek?” tanya Kakek sesaat setelah berpelukan.


“Kami berdua baik Kek,” sahut Nina.


“Syukurlah,...” ucap Kakek lega, “o ya, Kalian datang dengan siapa?”


Nina pun langsung menengok ke arah Alvaro dan Randy lalu kembali melihat Kakek.


“Aku datang bersama mereka Kek,” ucap Nina.


Kakek pun melihat ke arah Alvaro dan Randy lalu kemudian bertanya, “Siapa mereka, Nin?”


“Mereka,...”


Ucapan Nina terpotong dengan ucapan Alvaro yang berkata, “Kami gurunya di sekolah, Kek.”


“Oh. Maaf sudah merepotkan kalian,” ucap Kakek.


“Gak apa-apa Kek,” sahut Alvaro.


Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mereka pun dipersilakan masuk ke dalam rumah.


Karena Kakek belum mengetahui kalau Nina dan Alvaro sudah menikah, akhirnya Alvaro pun tidur dengan Randy dan Nina tidur dengan Azka.


Hingga saat malam tiba, Randy pun menegur Alvaro dengan bertanya, “Al, katanya lo mau bilang ke Kakeknya Nina kalau lo ini suami Nina.”


Alvaro pun terdiam sesaat hingga akhirnya dia berkata, “Gue masih cari waktu yang pas untuk mengatakannya, Ran. Gue juga takut kalau gue bilang yang sebenarnya, Kakek Nina gak bakal ngerestuin gue dan juga Nina.”


Di saat mereka sedang bicara seperti ini, ternyata tanpa sengaja Kakek Nina pun mendengarnya.


Karena ingin langsung memastikan hal yang sebenarnya, Kakeknya Nina pun langsung masuk ke dalam kamar Alvaro dan berkata, “Coba kalian jelaskan pada Kakek, apa maksud ucapan kalian barusan? Apa semua itu benar?”


Baik Alvaro maupun Randy, keduanya sama-sama terdiam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani berkata-kata hingga akhirnya Nina datang dan bertanya, “Ini ada apa?”


“Kebetulan kamu datang, Nin. Kakek ingin tanya, apa maksudnya kalian berdua sudah menikah? Bukannya kalian guru dan murid? Bagaimana ceritanya bisa menikah?” tanya Kakek.


Nina pun terdiam sejenak lalu berkata, “Kek, Pak Alvaro dan aku memang sudah menikah. Tapi kami belum melakukan apa-apa selayaknya orang yang sudah menikah. Pak Alvaro seorang pria yang baik, Kek. Karena dia jugalah, aku dan Azka terselamatkan dari pinggir jalan saat Bibi mengusirku. Jadi tolong restui kami, Kek. Hanya dengannya lha, aku dan Azka jadi memiliki sebuah keluarga yang utuh.”


Sungguh membuat dilema di hati Kakeknya Nina ini. Jika dia menentang, dia sendiri pun tidak dapat setiap saat bisa melindungi Nina dan Adiknya. Namun jika dia menerima Alvaro, lalu apakah yang akan di katakan oleh keluarga besarnya nanti.


Di tengah-tengah diamnya Kakek, tiba-tiba saja Azka berkata, “Kek, Azka dan kakak bahagia.”


Walau hanya ucapan anak kecil, namun ucapan seorang anak kecil adalah ucapan yang paling jujur yang keluar dari mulutnya.


Dengan menghela nafas panjang, Kakek akhirnya berkata, “Kakek belum bisa menentukan harus menerima atau menentang hubungan kalian ini. Tapi Kakek memiliki sebuah ujian yang nantinya akan menentukan apakah kakek akan menerima ataukah tidak. Bagaimana? Kalian berani?”


Mendengar ucapan Kakaknya Nina seperti ini, baik Nina, Alvaro dan Randy, ketiganya saling menatap satu sama lainnya.


“Kek, emangnya ujiannya seperti apa?” tanya Nina.


Kakek pun tersenyum dan kemudian berkata, “Besok, kalian berdua harus bantu Kakek di ladang. Apa kalian mau?”


Mendengar jawaban Kakek seperti itu, Alvaro dan Randy pun saling menatap hingga akhirnya keduanya secara bersamaan menjawab, “Mau Kek.”


Kakek pun tersenyum mendengar jawaban mereka berdua lalu kemudian berkata, “Ya sudah. Kalian berdua tidurlah lebih awal. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat ke ladang.”


Setelah mengatakan itu, Kakek pun langsung pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, mereka yang sudah ditinggalkan Kakek ini pun langsung lemas dan syok. Mereka benar-benar merasakan ketegangan saat harus bicara dengan Kakek.


***


Keesokan paginya, seperti yang sudah dikatakan oleh Kakek, Alvaro dan Randy pun langsung bersiap-siap menuju ladang dengan Kakek.


Dengan memakai pakaian kaos dan celana tiga perempat yang di pinjamkan oleh Kakek pada mereka, mereka pun akhirnya pergi ke ladang.


Sementara itu, Nina dan Azka pun menunggu di rumah dan menyiapkan makanan.


Sesaat setelah sampai di ladang, mereka pun mulai dengan tugas mereka masing-masing yang diberikan Kakek pada mereka.


Walau tangan mereka bekerja, mulut mereka pun juga tetap bekerja alias mengobrol. Hingga Kakek bertanya, “Pak Al, alasan seperti apa yang membuat Bapak sampai memutuskan untuk menikahi Nina?”


Alvaro pun menghentikan aktivitasnya sejenak dan berpikir lalu kemudian menjawab, “Jujur, Kek. Awalnya aku udah gak mau menikah atau pun mengenal perempuan hingga saat itu aku bertemu Nina dengan segala kesedihan dan kesusahannya di usianya yang masih belia. Dari saat itu pula, sedikit demi sedikit, rasa yang tadinya hanya ingin membantu, sekarang benar-benar nyata dan ada. Hingga kami memutuskan walau apa pun yang terjadi, kami harus tetap bertahan dengan hubungan kami ini.”


Kakek yang mendengar penjelasan Alvaro ini pun tersenyum. Dia tidak menyangka kalau Alvaro dan Nina cukup serius dengan hubungan mereka saat ini.


“Kek, ijinkan aku menjaga Nina dan Azka ya, menggantikan orang tuanya yang sudah meninggal,” pinta Alvaro.


Kakek yang mendengar hal ini pun spontan langsung ingin memastikan sesuatu dengan berkata, “Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini?”


“Aku yakin banget, Kek. Aku benar-benar sudah tidak ada niatan untuk mencari wanita lain apalagi sampai menikahinya. Bagiku, Nina adalah awal dan juga akhir,” jelas Alvaro.


Mendengar ucapan Alvaro seperti ini membuat Kakek merasa terenyuh. Dia merasa kalau saat ini dia sudah bisa tenang karena kedua cucu yang sangat dia sayangi ini ternyata ada orang yang memang benar-benar mencintai mereka dengan tulus.


“Baiklah, Pak Al. Aku akan mengijinkan kamu untuk menjaga mereka berdua. Tapi jika sampai terjadi sesuatu bahkan membuat mereka bersedih, maka kamu harus membiarkan mereka pergi. Bagaimana?!” ucap Kakek.


Bersambung..