
Semenjak terdengar kabar kalau Alvaro sudah tidak mengajar lagi, sejak saat itu sekolah terasa tidak ada warna. Khususnya bagi seorang Nina yang setiap saat merasakan kerinduan yang sangat mendalam.
Randy dan juga Dinda yang melihat ini pun sontak menjadi merasa sedih. Hingga akhirnya Randy meminta Dinda untuk menemui Alvaro di kantornya.
“Al, Nina belakangan ini sangat jarang sekali tersenyum. Aku juga gak tahu apa yang sedang dia lakukan belakangan ini. Soalnya, setiap pagi dia terlihat sangat lelah sekali,” jelas Dinda saat menemui Alvaro.
“Lelah?! Kok bisa sampai lelah? Emangnya dia kurang tidur?” tanya Alvaro.
“Kurang tahu, Al. Kadang kalau kita mau ajak main pun sekarang susah. Dia selalu menjawab kalau dia sedang buru-buru lah, sedang gak ada waktu lah, kan kami jadi bingung Al,” jelas Dinda.
Alvaro yang mendengar penjelasan Dinda ini pun dalam hatinya jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh istrinya itu.
Alvaro yang tadinya terdiam sebentar ini pun sesaat kemudian berkata, “Din, aku minta bantuanmu dan Randy.”
“Bantuan apa, Al?” tanya Dinda.
Alvaro pun langsung meminta Dinda untuk mendekat padanya dan kemudian Dinda pun mengangguk-angguk.
“Beres, Al. Aku dan Randy akan mempersiapkannya sedemikian rupa supaya rencanamu barusan bisa berhasil terlaksana,” ucap Dinda yang diangguki oleh Alvaro.
Setelah mengatakan hal yang dia inginkan, Dinda pun berpamitan.
Dan kini tibalah akhir pekan di mana Alvaro akan pergi bertugas ke luar kota.
Sementara itu, Nina yang dipaksa untuk ikut oleh Dinda pergi ini pun mau tidak mau juga ikut.
Dengan mengajak Azka bersamanya, Nina pun tampak seperti orang yang sedang bingung. Pasalnya dalam perjalanan, dia melihat kalau di sekelilingnya terdapat laut dan juga pantai.
Dinda yang melihat ada kebingungan di wajah Nina ini bertanya, “Ada apa, Nin? Kok sepertinya kamu sedang bingung.”
“Kak, ini sebenarnya Kakak dan Pak Randy mau bawa kami ke mana?” tanya Nina.
Dinda pun tersenyum mendengar pertanyaan Nina.
“Kita akan main, Nin. Berlibur sejenak. Bukankah sebentar lagi kamu akan ujian, jadi kami mengajakmu untuk merelakskan otakmu dulu supaya gak stres,” sahut Randy.
Mendengar jawaban Randy, Nina pun langsung menceletuk, “Pak, tapi biayanya gimana? Aku kan gak ada uang buat jalan-jalan apalagi berlibur.”
Saat mendengar celetukan Nina seperti itu, sontak membuat Randy dan Dinda pun tertawa terbahak-bahak dan kemudian Dinda pun berkata, “Lha ngapain kamu khawatirin soal itu?! Kan suamimu itu nyatanya seorang CEO, Nin. Orang kaya lho itu dia.”
Nina pun terdiam dan kemudian berkata, “Aku gak mau terima uang pemberiannya.”
“Kenapa? Itu kan hak kamu, Nin,” ucap Randy bingung.
Untuk sesaat Nina pun terdiam dan kemudian berkata, “Gak mau, Pak. Kalau boleh jujur, aku lebih suka diperlakukan sederhana olehnya sama seperti selama ini dia bersamaku.”
Baik Randy mau pun Dinda, keduanya sama-sama terdiam namun keduanya diam-diam saling pandang satu sama lain saat mendengar ucapan Nina.
Tak selang berapa lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan.
Dengan Randy yang mengurus semua biaya administrasi, Nina, Azka dan Dinda pun menunggu tidak jauh dari tempat itu.
Setelah beberapa saat kemudian..
“Ayo sekarang kita ke kamar,” ucap Randy yang menunjukkan tiga buah kunci.
Dengan sangat enggan, Nina pun akhirnya mengikuti langkah Randy dengan Azka yang digendong olehnya.
Azka yang sangat dekat dengan Randy ini pun meminta agar dirinya bisa tidur bersama Randy dan ini tentunya diperbolehkan oleh Randy.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai di depan pintu yang akan menjadi kamar Nina.
“Ini kamarku?” tanya Nina dan Randy pun mengangguk.
“Kamar kami berdua ada di depan kamarmu. Tuh,” ucap Randy yang menunjukkan ke arah dua buah kamar yang ada di depan kamarnya.
“Oh,...” sahut Nina mengangguk dan kemudian kembali berkata, “ya sudah. Aku masuk dulu kalau begitu.”
Mendengar ucapan Nina, baik Randy mau pun Dinda, keduanya sama-sama mengangguk.
Di dalam kamar, Nina pun langsung meletakkan tas yang sudah dia bawa dan kemudian melangkahkan kaki menuju jendela kamar.
“Ternyata menginap di hotel tuh rasanya seperti ini,” gumam Nina yang kemudian melihat dengan teliti keadaan kamar yang ia tempati.
“Wah, semuanya terlihat mewah. Pasti menginap di sini harga per malamnya sangat mahal,” gumamnya lagi setelah melihat-lihat seisi kamar tersebut.
Setelah selesai mengagumi kamar tersebut, terdengar suara bunyi ketukan pintu dan tanpa berpikir macam-macam, Nina pun langsung membukakan pintu kamarnya.
“Nina, ayo kita jalan-jalan ke pantai,” ajak orang tersebut yang ternyata Dinda dengan Randy beserta Azka yang berada di sebelahnya.
“Sekarang?” tanya Nina memastikan dan kemudian diangguki oleh Dinda.
“Oh ya sudah kalau begitu, aku bawa dompet dulu,” ucap Nina yang lagi-lagi diangguki oleh Dinda.
Sesaat setelah itu, mereka pun langsung pergi menuju pantai. Dengan desiran ombak yang menyapu pantai dan anginnya yang lumayan kencang sehingga membuat rambut Nina yang lupa dia ikat pun menjadi beterbangan hingga menutupi wajahnya.
Saat dirinya sedang sibuk mengurusi rambutnya tersebut, tiba-tiba saja datang seseorang yang kemudian membantunya mengikatkan rambut.
“Kamu itu, ya. Selalu saja lupa dengan hal kecil seperti ini,” ucap seseorang.
Nina yang merasa mengenali suaranya itu pun spontan langsung menengok dan...
“Pa—Papa!” ucap Nina terkejut.
Alvaro pun tersenyum dan kemudian berkata, “Apa kabar, Ma? Kenapa kamu kelihatan jauh lebih kurus dibandingkan saat sebelum ditinggalkan Papa?”
Nina pun menunduk. Tidak ada jawaban sepatah kata pun dari mulutnya.
“Ya sudah. Nanti aja kita ngobrolnya. Papa masih ada pekerjaan yang harus papa selesaikan. Papa pergi dulu ya, Ma,” pamit Alvaro.
“Tapi Pa,...”
Ucapan Nina langsung di potong dengan ucapan Alvaro yang berkata, “Nanti akan papa usahakan agar bisa bertemu Mama lagi. Mama jangan sedih ya.”
Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun kemudian mengangguk lalu berkata, “Ya udah Pa. Aku tunggu. Hati-hati kerjanya.”
Alvaro pun kemudian mengangguk dan pergi. Sedangkan Nina yang di tinggalkan sendiri pun langsung menunduk menahan tangis.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Dinda datang dan langsung merangkul pundaknya.
“Nin, kamu habis dari mana saja? Kami dari tadi mencarimu tahu. Kamu tahu-tahu hilang saat kamu tinggal sebentar membeli makanan,” ucap Dinda.
Nina pun terdiam sejenak dan dengan lirih, dia pun terisak-isak menahan tangisnya yang susah untuk dibendung.
Melihat Nina seperti ini, Dinda pun bingung sekaligus khawatir.
Dengan lembut, Dinda pun bertanya, “Kamu kenapa menangis, Nin?”
Sambil masih terisak-isak menahan tangisnya, Nina pun menjawab, “Kak, Pak Al ada di sini dan tadi dia menemuiku sebentar lalu kemudian pergi lagi.”
“Apa?!”
Bersambung...