Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Randy kena ranjau



Saat di ruang makan..


Nina memperhatikan satu persatu hidangan yang sudah berusaha di buat oleh Alvaro dan juga melihat Alvaro-nya sendiri.


“Ada apa, Ma? Kok lihat Papa kaya' gitu,” tanya Alvaro.


“P—Pa, tadi tuh ceritanya Papa lagi buat ini semua?” tanya Nina dan Alvaro pun mengangguk.


“Ya ampun, Pa. Kan bisa bangunin aku. Biar aku nanti yang buatkan sarapan untuk kita,” ucap Nina heran.


Alvaro pun menggelengkan kepalanya lalu kemudian berkata, “Ma, Papa gak tega bangunin Mama yang sedang tertidur pulas seperti itu.”


Dan di saat yang bersamaan, Azka pun menceletuk, “Papa, Mama, Azka udah lapar. Mau makan.”


Mendengar ucapan Azka yang memanggilnya Mama seperti itu, sontak membuat Nina langsung menoleh ke arah Azka dan menjitaknya pelan sambil berkata, “Azka! Kamu jangan ikut-ikutan panggil Kakakmu ini dengan panggilan Mama. Ok?!”


“Huhuhuhu... Papa! Mama gayak,” ucap Azka dengan suara dibuat merengek. (Huhuhu.. Papa! Mama galak.)


“Iya iya, sayang. Mama emang begitu. Dah biarin aja. Sini Papa ambilkan sarapan untukmu,” ucap Alvaro sambil mengambilkan nasi beserta lauk yang di buat oleh Nina.


Nina yang mendengar ini pun langsung menghela nafas panjang dan kemudian, “Aih. Ya ampun. Kenapa bisa kalian kompak begini?!”


Dan di saat yang bersamaan,...


‘Tok.. tok.. tok..”


Nina yang mendengar ada suara ketukan pintu itu pun berkata, “Siapa yang pagi-pagi begini udah datang ke sini?!”


Nina pun langsung bangun dan membukakan pintu rumah. Namun betapa terkejutnya dia karena setelah membukukan pintu rumah ternyata yang datang adalah..


“Waaaaaah.. kayaknya enak-enak nih makanan,” ucap Randy yang langsung saja menyelonong masuk begitu saja.


Dengan tanpa menunggu lama, Randy pun langsung mengambil piring dan nasi serta satu persatu lauk yang ada di meja makan.


Sementara itu, Nina yang menyusulnya dan juga Alvaro serta Azka yang ada di tempat itu pun langsung melongo melihat tingkah Randy.


“Lo udah gak makan berapa abad, Ran?” tanya Alvaro.


Namun pertanyaan Alvaro ini tidak dijawab oleh Randy. Dia justru langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Dan di saat kunyahan pertama kali, tiba-tiba saja Randy berhenti. Sementara semua yang ada di situ pun memperhatikan dengan seksama kira-kira apa yang akan di lakukan Randy selanjutnya.


Hingga beberapa saat kemudian, Randy pun langsung lari ke kamar mandi dan..


‘Huek’


Mendengar itu, sontak semua yang ada di ruang makan itu pun saling menatap satu sama lainnya.


“Lo kenapa, Ran?” tanya Alvaro saat melihat Randy kembali.


“I—ini siapa yang masak?” tanya Randy sambil menunjukkan makanan yang tadi dia ambil.


“Oh. Itu tadi Pak Alvaro yang buat, Pak. Karena gagal, tadinya rencananya setelah sarapan mau dibuang aja buat di makan ayam atau kucing. Emang kenapa, Pak?” tanya Nina yang ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Randy waktu mendengar jawaban darinya.


Setelah mendengar ucapan Nina, Randy pun spontan langsung berteriak, “Al-va-roooooo!!!”


“Buahahahaha...”


Tawa lepas seorang Alvaro yang baru diketahui Nina.


“Sial lo, ya. Bukannya bilang dulu tadi,” protes Randy.


“Lha gimana kita mau bilang, lo nya langsung nyelonong gitu aja setelah masuk,” ucap Alvaro.


“Haisss..”


“Sudah sudah. Ini Pak. Ambil aja lagi. Yang ini aku jamin aman,” ucap Nina.


“Beneran?” tanyanya memastikan.


Nina pun mengangguk dan kemudian berkata, “Coba aja cicipi.”


Randy pun langsung menyicipinya sedikit lalu berkata, “Iya. Kamu benar, Nin.”


Sementara itu, Alvaro yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya.


Hingga beberapa saat kemudian, Alvaro tiba-tiba terasa bingung kenapa Randy tiba-tiba saja pagi-pagi sudah datang ke rumahnya.


“Ran, tujuan lo pagi-pagi ke sini tuh ngapain?” tanya Alvaro.


“Oh iya. Gue lupa. Ini, gue mau ajak lo pada pergi main,” ucap Randy sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


“Main? Main ke mana, Pak?” tanya Nina.


“Ini. Tiket untuk kita berempat buat masuk ke taman bermain. Gue pikir, dari pada gue kasihkan ke orang lain, mending gue ajak lo semua aja. Ya gak?!” jelas Randy.


“Oooh. Jadi ternyata lo ingat sama kita juga, Ran. Gue pikir tadi lo datang cuma buat nebeng makan aja,” celetuk Alvaro.


Sambil masih tetap mengunyah makanannya, Randy pun menyahut, “Yup. Itu juga sih salah satu alasannya. Gue mau nebeng makanan di sini. Soalnya gue tahu kalau di sini udah ada Nina yang setiap saat bisa membuat makanan di rumah lo yang sepi kaya kuburan ini.”


“Sembarangan kalau ngomong. Lagi pula ucapan lo ini tuh mengisyaratkan kalau Nina ini tukang masak di rumah ini,” ucap Alvaro sewot.


“Lha emang iya, kan?! Coba ingat-ingat deh. Waktu dulu sebelum ada Nina, apa pernah lo makan teratur kaya’ gini. Ya kan?!” ucap Randy santai.


Alvaro pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Iya sih. Cuma kan aku gak pernah anggap Nina ini sebagai tukang masak. Biar gimana pun kan dia ini istriku, Ran.”


“Iya iya. Istri lo yang paling baik deh. Gue suka,” ucap Randy asal ceplos.


“Apa lo bilang barusan?” tanya Alvaro.


“Eh. Maksud gue, gue juga suka sama masakan dia ini, Al. Ih, gitu aja marah. Galak banget kalau lagi cemburu,” goda Randy.


“Huh.” Alvaro pun buang muka.


Nina yang melihat ini pun tersenyum karena sebelum ini, di dua tahun terakhirnya, dia sama sekali lupa bagaimana rasanya bersenda gurau seperti ini.


“Syukurlah kalau Bapak juga menyukai masakanku. Sering-seringlah datang Pak buat makan sama-sama,” ucap Nina.


Dengan spontan, Alvaro pun langsung berkata, “Gak boleh. Kecuali dia juga kasih kamu uang buat belanja.”


“Idih. Perhitungan banget,” protes Randy.


“Biarin aja. Khusus buat lo emang harus perhitungan kaya' gini,” sahut Alvaro.


“Hadih.. benar-benar raja tega,” keluh Randy yang membuat Nina pun tertawa.


“Kalian ini, ya. Benar-benar lucu. Tapi aku bahagia bisa mengenal kalian,” ucap Nina.


“Syukurlah kalau kamu bahagia Ma,” ucap Alvaro yang lagi-lagi memanggil Nina dengan panggilan Mama.


“Hadeuh. Mulai deh.. mulai,” celetuk Randy.


***


Setelah beberapa saat kemudian, karena rencana main ke taman bermain ini terbilang sangat mendadak, sehingga mereka pun memutuskan untuk tidak membawa apa pun.


Dengan menaiki mobil di bawa oleh Randy, mereka pun berangkat. Namun belum juga mereka menyalakan mesin mobil, tiba-tiba saja..


'Tok.. tok.. tok..’


Pintu kaca mobil bagian supir pun di ketuk oleh seseorang dan dengan enggannya, Randy pun membukanya.


“Ngapain lo ke sini? Kita mau pergi,” ucap Randy.


“Mau pergi?! Ke taman bermain ya?!” ucap Lila sambil menunjukkan satu buah karcis sambil tersenyum manis.


Randy yang mengerti maksudnya itu pun langsung menyuruh Lila masuk dan mereka pun akhirnya berangkat.


Sesaat setelah sampai, Azpu yang seakan dapat mengerti situasi ini pun langsung meminta untuk di gendong oleh Randy. Namun sayangnya Randy tidak sepintar Azka. Dia justru ingin selalu mengekor Alvaro dan Nina.


Dengan secepat kilat, Lila pun langsung menarik lengan Randy sambil berkata, “Nikmati waktu bersama kalian berdua.”


Sementara itu di saat yang bersamaan, Randy berteriak, “Eh eh eh.. gue jangan ditarik kaya' koper gini Napa?!”


Bersambung..