Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Persyaratan



Merasa di lawan oleh seorang bocah, Ayah Willy pun menyahut, “Kamu tahu apa tentang ini semua hah? Kamu hanya orang luar dan kamu itu masih kecil.”


“Tentu saja aku tahu. Karena aku bukanlah orang egois seperti Om.”


Mendapatkan jawaban seperti ini dari Nina, Ayah Wily pun bertanya, “Jadi menurutmu aku ini seorang ayah yang egois? Iya?”


“Iya. Benar sekali. Coba om pikirin lagi awal mula Pak Al pergi dari rumah karena alasan apa dan sekarang mau kembali karena apa?! Apa Om masih belum bisa memahami anak Om sendiri?” tanya Nina.


Mendengar jawaban Nina, Ayah Willy akhirnya pun terdiam. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat mendengar semua ucapan Nina itu.


Tapi di saat yang bersamaan, Alvaro langsung merangkul lengan istrinya dan berkata, “Sudah. Tenangkan dirimu. Jika Ayah masih tetap bersikeras dengan pemikirannya sendiri, lebih baik kita pergi. Karena percuma jika terus ada di sini. Gak ada bagusnya juga dengan pernikahan kita. Yang penting kita udah jujur padanya.”


Setelah beberapa saat terdiam, Ayah Willy akhirnya pun berkata, “Baiklah. Ayah akan merestui hubungan kalian ini. Tapi ada syaratnya.”


“Apa itu?” tanya Alvaro.


Ayah Willy pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Kamu harus kembali ke posisimu sebagai CEO dan untuk Nina, harus bisa buktikan kalau kamu bisa lulus dengan peringkat minimal 10 besar dari seluruh siswa. Dan selama Nina belum lulus, kalian tidak di perbolehkan untuk bertemu. Bagaimana? Apakah kalian sanggup?”


Mendengar persyaratan yang diajukan oleh Ayah Willy, Alvaro pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Yah, dirimu benar-benar manusia penuh politik karena semua persyaratan yang Ayah katakan tadi itu sedikit banyak tujuannya hanya satu, yaitu mendapatkan aku sekaligus memisahkan aku dari Nina. Iya kan?!”


Belum juga ucapan Alvaro ditanggapi oleh Ayahnya, Nina sudah terlebih dulu berkata, “Baik, Om. Aku setuju dengan persyaratan yang Om ajukan. Tapi aku juga punya persyaratan yang harus Om janjikan.”


“Apa itu?” tanya Ayah Willy.


“Jika dalam kurun waktu yang sudah di tentukan, perasaan kami masih ada dan aku pun dapat membuktikan kalau diriku ini pantas untuk Pak Al, maka saat itu, aku tidak mau ada banyak alasan dan persyaratan untuk memisahkan kami lagi,” ucap Nina.


“Baik. Aku setuju,” sahut Ayah Willy.


“Tapi ada baiknya jika perjanjian ini kita lakukan melalui hitam di atas putih. Supaya gak ada pihak yang bisa mengelak lagi jika waktunya tiba,” ucap Nina kemudian yang tiba-tiba saja tegas.


Ayah Willy yang baru sadar dengan karakter kuat dari seorang Nina ini pun akhirnya menyahut, “Pasti. Siapa takut.”


Setelah mengatakan itu, Ayah Willy pun langsung memanggil Tomi dan menyuruhnya untuk membuatkan tulisan yang tadi sudah mereka sepakati.


Di saat yang bersamaan, Alvaro yang menyaksikan momen ini pun dengan nada berbisik bertanya, “Apa kamu yakin, Ma?”


Nina pun mengangguk dan kemudian berkata, “Aku yakin, Pa. Bukannya Papa bilang kalau kita harus kuat dan juga saling percaya satu sama lain supaya kita benar-benar bisa mempertahankan pernikahan kita ini.”


“Ya, Mama benar.”


Tak selang berapa lama kemudian, surat kesepakatan pun jadi dan mereka bertiga pun menandatanganinya.


Sementara itu, Dinda yang melihat keadaan ini pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, “Sungguh cinta yang kuat.”


***


Malam harinya, Alvaro masih di ijinkan untuk tinggal semalam dengan Nina dan juga Azka.


Di malam itu juga, tidak satu diantara mereka yang memulai sebuah obrolan.


Azka yang masih polos itu pun bertanya tentang Alvaro kapan pulang. Namun dari mulut Alvaro hanya kata-kata diusahakan pulang cepat yang bisa dia sampaikan pada Azka.


Sementara itu, Nina hanya mampu terdiam. Dalam hati yang sesungguhnya, sebenarnya dia sangat berat sekali melepaskan Alvaro. Biar bagaimana pun, Alvaro adalah satu-satunya orang yang telah banyak menghiburnya dan memberikan kekuatan padanya di saat dia sedang bersedih.


Namun, di saat yang bersamaan pula dia menyadari kalau ini bukanlah kesalahan Alvaro melainkan keputusan yang dia ambil sendiri dan dia harus meyakinkan Alvaro kalau dirinya dengan ikhlas melepaskan Alvaro untuk sementara.


Sama halnya dengan Nina, Alvaro pun sebenarnya sangat tidak ingin meninggalkan Nina, namun karena ini adalah keputusan yang diambil oleh Nina sendiri, maka Alvaro pun akan menghargainya.


Walau kedua-duanya seolah tampak ikhlas dari luar, namun pada kenyataannya hati mereka menangis.


Hingga disaat waktu tidur pun tiba. Azka yang sudah tertidur pulas ini pun langsung di letakkan di atas tempat tidur. Sedangkan Nina terduduk termenung di pinggir tempat tidur.


Ketika Nina sedang termenung seperti ini, tiba-tiba saja pintu kamar Nina pun terbuka. Tampak seorang Alvaro sedang berjalan ke arahnya.


“Nin, malam ini tidurlah denganku,” ucap Alvaro ketika sudah berada di dekatnya.


Nina pun mengangguk dan kemudian mengikuti Alvaro ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, baik Alvaro mau pun Nina, keduanya sama-sama saling terdiam seperti pengantin baru yang akan melakukan malam pertama.


Namun yang terjadi pada mereka justru sebaliknya. Malam itu bukanlah malam pertama, melainkan malam terakhir mereka bisa tidur bersama untuk saat ini.


Nina yang akhirnya merebahkan dirinya di atas kasur tersebut itu pun langsung memosisikan dirinya menghadap ke samping sehingga membelakangi Alvaro.


Alvaro yang tahu kalau mereka berdua sesungguhnya sangat-sangat sulit saling melepaskan ini pun langsung berkata, “Ma, sini tidurnya menghadap ke arah Papa.”


Dengan enggan, Nina pun berbalik. Tampak terlihat di matanya kalau dirinya sedang menangis.


Alvaro yang melihat ini pun langsung memeluk tubuh Nina dengan erat dan kemudian berkata, “Ma, percaya pada Papa. Papa akan berusaha agar kita bisa bertemu secepatnya lagi tanpa harus menunggu satu tahu terlebih dahulu.”


Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun langsung mendongakkan kepalanya melihat Alvaro dan kemudian bertanya, “Apa itu mungkin, Pa?”


Alvaro pun mengangguk dan kemudian berkata, “Mama tenang aja ya. Mama cukup belajar yang baik dan buktikan kalau kamu memang memiliki prestasi yang bagus tidak harus menunggu sampai kelulusan. Ok?!”


Nina pun akhirnya mengangguk dan kemudian berkata, “Pa, aku sayang Papa. Apa aku sekarang boleh menangis?”


Alvaro pun langsung memeluk Nina dan berkata, “Menangislah sepuasnya. Tapi setelah ini, papa pesan sama Mama, Mama gak boleh nangis lagi kalau bukan sedang bersama Papa.”


Mendengar ucapan Alvaro, tangis Nina pun pecah. Dia benar-benar sudah tidak bisa membendung lagi air matanya itu.


Begitu pula Alvaro yang sebenarnya ikut menangis namun tidak dia tunjukkan pada Nina.


“Selamat tidur sayang. Sampai jumpa lagi secepatnya.”


Bersambung...