
Hari sekolah pun di mulai dan Nina yang sudah pindah ke rumah Ayah Willy ini pun menjalankan kembali hari-hari seperti biasa di sekolah.
Tidak ada yang spesial untuk Nina karena baginya sekarang ini, belajar yang lebih utama. Dia ingin sekali cepat lulus. Hingga dia pun tidak menyadari kalau ada sesuatu yang aneh dengan teman-temannya di kelas.
“Ehm, perhatian semuanya. Apa kalian sudah siap memulai pelajarannya,” ucap seseorang dari meja guru.
“Siap Pak,” sahut kompak seluruh siswa yang ada di dalam kelas.
Nina yang saat itu sedang sangat sibuk membaca ini pun terkejut karena tiba-tiba saja ada seseorang yang sudah berdiri di dekat mejanya sambil memukul-mukul pulpen di atas meja.
Nina yang tahu persis ini kebiasaannya siapa ini pun langsung mendongakkan kepalanya melihat apa benar yang dia pikirkan itu.
“Eeeeh!?” ucapnya terkejut melihat Alvaro sedang tersenyum padanya.
Dan sesaat setelah itu...
“Baik. Kalau begitu kita mulai pelajarannya dan perhatikan baik-baik saat saya sedang menjelaskan,” ucap Alvaro.
Alvaro pun langsung menjelaskan semua materi pelajaran hari itu.
***
Saat jam istirahat tiba, Nina yang sangat enggan pergi ke kantin ini pun tiba-tiba di panggil oleh ke ruang BK.
Karena merasa tidak melakukan apa-apa, Nina pun merasa bingung. Namun karena memang kenyataannya dipanggil, akhirnya mau tidak mau Nina pun pergi juga ke ruang BK.
Sesampainya di ruang BK, Nina pun merasa ada yang aneh karena ruangan itu terlihat seperti tidak ada orang.
Tapi karena sudah berada di sana dan tadi jelas-jelas dipanggil, Nina pun langsung mengetuk pintu ruang BK.
Tampak terdengar dari arah dalam suara seseorang sedang menyuruhnya masuk dan Nina pun akhirnya memberanikan diri membuka pintu ruangan BK tersebut.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Alvaro sedang tersenyum ke arahnya dan kemudian menyuruhnya agar segera masuk.
Setelah Nina berada di dalam, Nina pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Alvaro yang melihat sikap Nina ini pun akhirnya bertanya, “Kamu sedang cari siapa?”
“Pak Randy mana, Pak? Lalu Bapak kenapa bisa ngajar di sini lagi?” tanya Nina.
Sambil tersenyum, Alvaro pun menjawab, “Randy sedang aku giring ke tempat Dinda. Sedangkan aku bisa di sini sekarang karena aku minta ijin pada Ayah agar bisa menjagamu sampai kamu lulus. Setelah kamu lulus, aku akan kembali ke kantor.”
Mendengar jawaban Alvaro, Nina yang merasa percaya dan tidak percaya ini pun akhirnya bertanya, “Emang diijinin sama Ayah?”
Alvaro pun mengangguk dan kemudian berkata, “Sepertinya setelah tahu kalau kamu adalah cucunya Kakek, Ayah jadi bersikap sedikit lunak. Mungkin Ayah takut kalau kita mengadu pada Kakek.”
“Oh, jadi begitu rupanya. Tapi kan walau kita sedikit merasa tersiksa dengan ulah Ayah, kita juga gak akan bilang ke Kakek kan!?” ucap Nina.
Alvaro pun mengangguk dan kemudian berkata, “Sudah. Biarin saja seperti ini. Bukankah ini jauh lebih baik untuk kita!?”
Nina pun menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Hem aja deh.”
Melihat respons yang diberikan Nina ini, Alvaro pun langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya sudah. Sini. Makanlah ini. Kamu pasti gak ada niatan ke kantin kan!?” ucap Alvaro.
Nina pun langsung melangkah mendekati Alvaro dan kemudian melihat ke arah meja yang sudah ada beberapa makanan.
Karena memang merasa lapar, Nina pun akhirnya mengambil makanan tersebut dan memakannya.
Saat Nina sedang asyik memakan makanannya, Alvaro pun bertanya, “Nin, tadi aku lihat kamu tidak sadar kalau aku masuk kelasmu. Memangnya kamu tadi lagi apa?”
Di saat mereka sedang asyik ngobrol sambil makan, tiba-tiba saja datang dua orang perusuh.
“Hei, Al. Bagi donk. Gue juga laper tahu,” ucap Randy sambil tangannya mencomot makanan yang disediakan oleh Alvaro untuk Nina.
Melihat tingkah sahabatnya itu, Alvaro pun langsung memukul tangan Randy sambil berkata, “Beli sana sendiri. Punya uang kan!?”
Mendapatkan respons seperti itu dari Alvaro, Randy pun menceletuk, “Idih. Pelit banget sih.”
“Biarin,” sahut Alvaro.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Nina justru menawarkan pada Dinda makanan yang ada di atas meja. Dengan spontan lagi-lagi Alvaro pun berkata, “Eh, sayang. Ini makanan khusus buat kamu, ya. Jangan berikan juga pada mereka. Mereka bisa beli sendiri.”
Melihat cara Alvaro memperlakukan Nina, Dinda pun tersenyum lalu berkata, “Al, aku gak pernah lihat kamu seperti ini sebelumnya. Kamu sangat menyayanginya ya?”
Alvaro pun mengangguk dan kemudian menjawab, “Iya. Tentu saja. Semenjak bersama dengannya, aku jadi tahu rasanya disayangi dan juga menyayangi.”
“Oh,” ucap singkat Dinda.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba datang seorang satpam dan berkata, “Pak, ada yang sedang mencari Nina.”
Setelah menyampaikan hal tersebut, satpam tersebut akhirnya sadar kalau ternyata di ruangan tersebut ada Nina yang sedang di cari sehingga membuat satpam tersebut berkata, “Eh ada Nina nya sendiri di sini. Nin, itu ada yang nyari di gerbang.”
“Siapa Pak?” tanya Nina bingung.
Satpam itu pun terdiam sejenak mencoba mengingat siapa nama yang mencari Nina. Setelah beberapa saat kemudian, Satpam itu kembali berkata, “Hmm.. kalau tidak salah ingat itu namanya Anya dan dia sih ngakunya Kakak sepupumu.”
Mendengar nama Anya, baik Nina, Alvaro, Dinda dan juga Randy, ke empatnya sama-sama saling menatap satu sama lainnya.
“Pak, Bapak tadi tanya gak dia itu ada perlu apa mencari Nina?” tanya Randy.
Satpam itu pun terdiam lagi untuk sejenak dan kemudian menjawab, “I—itu Pak. Kayaknya tadi saya lupa menanyakannya.”
“Oh begitu. Ya sudah gak apa-apa. Bapak bisa balik aja dulu. Nanti Nina akan ke sana,” ucap Randy yang kemudian diangguki oleh satpam tersebut.
Sesaat setelah satpam itu pergi, Nina pun tiba-tiba merasakan perasaan yang tidak enak. Dia merasa kalau Anya datang mencarinya untuk membuat masalah padanya.
“Pak, ini bagaimana? Kenapa keluarga Bibi masih belum bisa melepaskan aku!?” ucap Nina.
Alvaro yang tahu persis dengan apa yang sudah terjadi pada Nina selama ini pun akhirnya melihat ke arah Randy dan juga Dinda.
Dinda yang mengerti maksud Alvaro ini pun langsung berkata, “Ayo, Nin. Kakak temani kamu menemuinya.”
“Aku juga ikut. Secara aku kan guru BK di sekolah ini,” ucap Randy.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua orang yang lebih dewasa darinya seperti ini, membuat Nina merasa jadi seperti memiliki dua orang Kakak.
“Terima kasih Kakak dan Bapak Randy,” ucap Nina yang diangguki oleh keduanya.
Setelah itu di saat yang bersamaan, Alvaro pun berkata, “Ayo. Kalau begitu kita sama-sama keluar temui Kakak sepupumu.”
Dan sesaat setelah sampai di luar...
“Cih. Keluar aja harus dikawal seperti ini. Dasar bocah.”
Bersambung...