Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Mengejar Cinta Randy



Sudah beberapa hari Dinda berada di sekitar mereka. Sehingga membuat Nina dan Dinda pun semakin akrab. Bahkan Azka pun sangat senang dengan kehadiran Dinda di sekitar mereka.


Namun kesenangan ini tidak dapat dirasakan oleh Randy yang kala itu selalu memasang wajah jutek.


“Lo kenapa, Ran?” tanya Alvaro saat dia sedang santai main ke ruang BK.


“Al, gue bingung deh. Kenapa itu si tunangan lo itu selalu maunya nempel ma gue terus sih?! Lha kan yang jadi tunangannya kan lo, bukan gue,” ucap Randy.


Alvaro pun mengangkat ke dua bahunya lalu berkata, “Kenapa gak lo tanya sendiri aja ke orangnya?”


“Dih. Ogah ah,” sahut Randy.


“Oh ya udah kalau gak mau. Jangan tanya gue kalau gitu. Soalnya gue sendiri gak tahu jawabannya,” ucap Alvaro.


“Beneran lo gak tahu, Al?” tanya Randy dan Alvaro pun mengangguk.


“Lha kalau lo gak tahu, terus kenapa juga si Nina bisa akrab sama tunangan lo itu?! Bukannya yang normal itu justru kalau Nina marah karena cemburu ya?! Terus gue perhatiin, kalian bertiga juga malah akur. Kok bisa?” tanya Randy bingung.


Alvaro pun terdiam sejenak kemudian berdiri dan mendekati Randy.


Sambil menepuk bahunya, Alvaro pun berkata, “Sudahlah. Dari pada banyak berpikir dan bingung, mending coba tanya langsung aja ke orangnya. Ok?!”


Setelah mengatakan hal itu, lagi-lagi Alvaro pun pergi sehingga membuat Randy pun berteriak, “Hei, Al. Lo mau ke mana?”


Namun lagi-lagi juga teriakan Randy ini tidak ditanggapi oleh Alvaro sehingga membuat Randy pun menggerutu, “Lo mah selalu begini. Ngeselin tahu gak, sih?!”


***


Malam harinya di rumah Alvaro...


Dinda yang ternyata menginap di rumah Alvaro ini pun sedang bersantai bersama Alvaro dan istrinya.


Mereka tampak hidup sangat bahagia sekali dan canda tawa pun menghiasi suasana malam itu.


Hingga suatu ketika tiba-tiba saja Dinda menceletuk, “Al, kita pergi main yuk.”


Alvaro yang mendengar ajakan Dinda ini pun langsung melihat ke arah Nina.


“Kak, emangnya kita mau ke mana?” tanya Nina bingung.


“Ke mana aja. Yang penting Kakak bisa dekat-dekat dengan Randy,” sahut Dinda yang membuat Alvaro menepuk jidatnya.


“Kakak mau PDKT sama Pak Randy?” tanya Nina memastikan.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Dinda pun langsung mengangguk cepat sehingga membuat Nina yang melihatnya pun langsung menoleh ke arah Alvaro sambil bertanya, “Gimana, Pa?”


“Sebentar. Papa coba hubungi Randy dulu,” ucap Alvaro yang kemudian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Randy.


Setelah beberapa saat mengobrol, telepon pun diakhiri dan kemudian Alvaro pun berkata, “Besok kita bakal main ke taman bermain aja kalau begitu. Soalnya ada banyak permainan di sana untuk Azka.”


Dinda yang mendengar itu pun menjadi sangat antusias dan kemudian berkata, “Wah. Ide bagus tuh, Al. Aku setuju.”


Namun di saat yang bersamaan, dengan lirih Nina pun berkata, “Ta—tapi, Pa. Papa kan tahu sendiri aku gimana waktu itu.”


Alvaro yang mendengar keluhannya Nina ini pun langsung mengelus-elus rambut Nina sambil berkata, “Mama tenang aja. Papa udah tahu kok kita harus main apa aja nanti.”


Dinda yang melihat kemesraan antara Alvaro dan juga Nina ini pun spontan langsung bergumam, “Kapan aku bisa mesra juga kaya' gitu?!”


***


Dengan hati riang, mereka pun mengajak Azka untuk bernyanyi-nyanyi. Hingga tak terasa akhirnya mereka pun sampai.


Azka yang tadinya minta ikut dengan Randy ini pun langsung dibujuk oleh Nina akan di belikan es krim kalau dirinya mau ikut dengan Nina dan Alvaro.


Setelah dibujuk seperti itu, Azka pun akhirnya mau dan Alvaro pun langsung menepuk pundak Randy sehingga membuat Randy menjadi bingung.


Alvaro dan Nina serta Azka yang tiba-tiba melangkah menjauh dari Randy dan juga Dinda ini membuat Randy menjadi tersadar kalau acara main kali ini bukan acara main biasa melainkan sebuah rencana.


“Al,” sapa Dinda.


“Apa?!” sahut Randy ketus.


“Aih. Kok ketus banget sih?! Ya udahlah. Kita main aja yuk,” ajak Dinda yang langsung menarik tangan Randy tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi Randy saat itu.


Sementara itu di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, Alvaro pun mengajak Azka berkeliling membeli apa pun yang diinginkan oleh Azka dan juga menaiki permainan yang kiranya aman untuk anak kecil.


Hingga tak terasa waktu pun mendekati senja. Sebelum pulang, Alvaro pun mengajak Nina bermain bianglala dan Nina pun tersenyum sambil mengangguk.


Di dalam bianglala, Azka yang rupanya sudah sangat lelah ini pun akhirnya tertidur di pangkuan Nina.


“Pa, posisi seperti ini sepertinya sama seperti waktu awal kita bertemu ya?!” ucap Nina.


“Iya, Ma. Saat itu Papa melihat Mama yang sedang sangat sedih sekali sehingga membuat Papa saat itu ingin memeluk Mama,” ucap Alvaro sambil memandang lurus ke depan.


Nina yang mendengar ini pun langsung spontan menoleh ke arah Alvaro dan berkata, “Jadi, saat itu sebenarnya Papa udah ada perasaan sama aku sehingga Papa dengan berani mengusulkan untuk mengajakku menikah?


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Alvaro pun menggelengkan kepalanya dan kemudian melihat ke arah Nina sambil berkata, “Papa kurang begitu paham dengan perasaan papa sendiri saat itu. Namun ada satu hal yang pasti yaitu baru kali itu ada seorang perempuan yang bisa membuat hati Papa bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh perempuan tersebut.”


Mendengar penjelasan Alvaro, Nina pun kemudian menunduk sedih sekaligus malu. Betapa lemahnya dirinya saat itu.


Alvaro yang melihat ekspresi Nina berubah seperti ini pun langsung menarik dagu Nina sehingga Nina menatap dirinya.


“Ma, sekarang udah ada Papa. Papa akan buat Mama dan Azka selalu bahagia,” ucap Alvaro yang diangguki oleh Nina.


Dalam posisi saling menatap seperti itu, Alvaro pun untuk ke sekian kalinya mencium Nina dan kali ini Nina dapat mengimbangi permainan ciuman yang dilakukan oleh Alvaro. Hingga beberapa saat kemudian mereka tersadar kalau bianglala yang mereka naiki akan segera berhenti.


Sambil saling menyentuhkan dahi mereka masing-masing, mereka pun tersenyum dan Alvaro pun berkata, “Ma, Papa sayang Mama.”


“Aku juga, Pa.”


Sesaat setelah itu, bianglala pun berhenti dan Azka pun langsung digendong oleh Alvaro.


Saat di tengah perjalanan menuju halaman parkir, tiba-tiba saja mereka bertemu dengan Dinda dan Randy dengan ekspresi wajah yang sudah berbeda.


Namun di saat yang bersamaan itu pula, Dinda tiba-tiba saja mendapatkan sebuah panggilan telepon.


Entah apa yang sudah di katakan oleh orang di seberang telepon sehingga membuat raut wajah Dinda menjadi pucat.


Setelah beberapa saat kemudian, panggilan pun diakhiri dan kemudian Dinda pun berkata, “Al, kita berada dalam masalah besar sekarang.”


Bersambung...