Step Of Love (Teacher'S Love)

Step Of Love (Teacher'S Love)
Kencan pertama kali



Sesaat setelah mereka bertiga pergi, kini tinggallah Nina dan Alvaro yang cuma berdua.


Mereka pun akhirnya saling menatap satu sama lain.


“P-Pa, kita sekarang mau ngapain?” tanya Nina agak canggung.


Alvaro pun tersenyum dan kemudian langsung menggandeng tangan Nina sambil berkata, “Ngapain aja, Ma. Manfaatin waktu sekarang buat saling mengenal. Bagaimana?”


Alvaro pun menoleh ke arah Nina dan Nina pun mengangguk mengiyakan ucapannya.


Akhirnya mereka berdua pun berjalan ke area permainan.


“Ma, bagaimana kalau kita main itu,” ucap Alvaro sambil menunjuk ke arah roler coaster.


Nina pun menggelengkan kepalanya. Dia tidak berani bermain permainan itu.


“Kenapa gak mau? Mama takut?” tanya Alvaro yang diangguki oleh Nina.


“Gak apa-apa. Nanti pegang saja lengan tangan Papa dan pejamkan mata Mama kalau memang Mama takut. Gimana?” tanya Alvaro.


Nina pun terdiam sejenak lalu dengan masih agak ragu, dia akhirnya pun menganggukkan kepalanya.


“Baik. Ayo kita coba,” ajak Alvaro sambil masih tetap menggandeng tangan Nina.


Saat setelah permainan akan dimulai, dengan wajah takut, Nina pun berkata, “Pa, aku takut.”


“Sudah. Jangan takut. Ada Papa,” sahut Alvaro yang kemudian beberapa saat kemudian permainan pun dimulai.


Saat Nina benar-benar teriak sejadi-jadinya, Alvaro malah tidak fokus dengan permainan yang sedang dia naiki. Dia dengan serius menatap ke arah Nina dan dalam hati, Alvaro pun bergumam, “Nin, jangankan dirimu yang mungkin diam-diam membuka hatimu untukku. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan pelan-pelan membuka hatiku untukmu.”


Setelah beberapa saat kemudian, permainan akhirnya selesai dan Nina pun turun dengan kaki yang tidak bisa berpijak dengan benar.


“P—Pa, aku gak kuat jalan. Kakiku gemetaran,” ucap Nina dengan langkah tertatih.


Alvaro yang melihat ini pun langsung menggendong Nina dan Nina spontan langsung berkata, “Pa, malu di lihat orang banyak tuh.”


“Biarkan saja. Toh papa kan sama istri papa sendiri dan bukannya sama istri orang lain,” ucap Alvaro santai sambil terus melangkah mencari tempat untuk duduk.


Setelah mencari beberapa saat, akhirnya mereka pun menemukan tempat untuk duduk.


“Duduklah di sini. Papa akan beli minuman untuk Mama dulu,” ucap Alvaro yang kemudian diangguki oleh Nina.


Nina yang sedang di tinggalkan sendirian ini pun tiba-tiba saja ada yang mendekati.


“Kamu sedang sendirian aja?” tanya seorang laki-laki yang seusia dengan Nina.


“Oh. Enggak kok. Aku sedang menunggu seseorang. Dia sedang membelikan minuman untukku,” jelas Nina.


“Oh gitu. O ya, apa boleh kita kenalan?” tanyanya lagi.


Nina pun mengangguk lalu berkata, “Aku Nina. Kamu?”


“Aku Dimas. Salam kenal ya Nin,” ucapnya ramah.


“Iya. Salam kenal juga,” sahut Nina.


Dan di saat kemudian, tiba-tiba saja ada yang memanggil Dimas.


“Nin, aku pergi dulu ya. Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi,” ucapnya.


Nina pun tersenyum sambil mengangguk lalu menjawab, “Iya.”


Tak selang berapa lama kemudian, Alvaro pun datang dengan membawa satu buah botol minuman dan memberikannya pada Nina.


“Ma, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah jauh lebih tenang?” tanya Alvaro.


“Sudah jauh lebih baik Pa,” sahut Nina sambil meminum minuman yang tadi diberikan oleh Alvaro.


“Syukurlah,” ucap Alvaro yang kemudian setelah itu menunjukkan wajah murung.


Nina yang sadar akan hal itu pun langsung bertanya, “Ada apa, Pa?”


Alvaro pun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Gak ada apa-apa, Ma.”


Padahal di saat ini, Alvaro sedang teringat kejadian yang dia lihat.


Saat itu, Alvaro sudah hampir saja sampai di tempat Nina duduk ini pun tiba-tiba melihat ada seorang laki-laki sedang menghampiri Nina.


Dan di saat yang bersamaan, tampak terlihat di wajah Nina kalau dirinya sangat senang bertemu dengan laki-laki tersebut.


\=\=Flash back Off\=\=


Saat melihat hal itu, dalarasany Alvaro rasanya ingin sekali bertanya namun setelah dia pikirkan kembali, tidak seharusnya dia mengekang kebebasan Nina di usianya yang masih belia ini.


“Ya sudah, kalau emang Mama udah merasa jauh lebih baik, bagaimana kalau kita masuk ke area rumah hantu?” ucapnya kemudian.


“Rumah hantu?” tanya Nina.


“Yup. Apa Mama takut?” tanya Alvaro.


Nina pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menjawab, “Untuk hal seperti itu, aku tidak boleh takut. Karena jika aku takut, bagaimana aku akan bisa menjaga Azka.”


‘Deg’


Alvaro terkejut dengan jawaban Nina yang seperti itu. Ternyata di dalam setiap kondisi, Nina selalu saja memikirkan Adiknya itu.


Sambil tersenyum, Alvaro pun berkata, “Ya sudah. Kalau begitu ayo.”


Lagi-lagi Alvaro pun menggandeng tangan Nina dan Nina pun mengikutinya.


Di dalam rumah hantu, ada banyak sekali boneka hantu, orang-orang yang menyamar sebagai hantu, sampai ke musik yang mereka putar pun terdengar menyeramkan.


Walau pun Nina sudah berkata kalau dirinya tidak akan takut, namun sekuat apa pun dia menahannya, dia tidak dapat menutupinya dari Alvaro.


Dengan berbisik, Alvaro pun berkata, “Jadilah dirimu apa adanya selama ada bersamaku, ya?!”


Mendengar ucapan Alvaro seperti itu, Nina pun langsung menatap Alvaro dan berkata, “Pa, aku tidak takut dengan semua ini. Yang aku takuti hanya satu, aku sangat takut dengan suasana gelap. Nafasku sesak, Pa.”


Mendapatkan jawaban seperti itu, Alvaro pun terkejut dan dia langsung menggendong Nina dan segera membawanya keluar dari rumah hantu tersebut.


“Kamu kenapa gak bilang, Ma?” tanya Alvaro khawatir.


Nina pun hanya terdiam saja sambil menunduk. Mendapati sikap Nina seperti ini, Alvaro pun langsung mengajak Nina untuk bermain bianglala.


“Kalau itu gak ada masalah kan, Nin?” tanya Alvaro memastikan.


Nina pun menggelengkan kepalanya.


“Bagus. Ayo kita naik,” ucap Alvaro.


Dengan wajah penuh bahagia, Nina pun menatap ke arah luar bianglala. Alvaro yang melihat ini pun tersenyum.


“Syukurlah kali ini kamu bisa menikmatinya,” gumam Alvaro.


Dan di saat yang bersamaan,...


“Pa, lihat. Di luar sana, semua gedung terlihat kecil ya?!” ucap Nina senang.


“Hem. Memang sangat kecil. Kalau Mama suka, nanti kapan-kapan kita bisa naik ini lagi,” ucap Alvaro.


“Benarkah?” tanya Nina memastikan sambil tiba-tiba dirinya menengok ke arah Alvaro yang saat itu wajahnya tepat berada di sebelahnya.


Dengan posisi seperti ini, jadilah mereka berdua saling adu pandang dengan jarak paling dekat.


Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya, tanpa bisa menahan lagi, akhirnya mereka pun berciuman dengan mesra.


Di saat itu, keduanya akhirnya sama-sama menyadari kalau perasaan yang tadinya tidak ada, kini sudah mulai tumbuh di antara mereka.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya menyudahi ciuman mereka.


Alvaro yang merasa bersalah telah mencium Nina seperti ini pun meminta maaf kalau-kalau sudah membuatnya tidak nyaman.


Namun respons yang di berikan Nina justru sebaliknya. Dia berkata, “Maafin aku, Pa. Aku memang belum cukup dewasa. Jadinya aku belum bisa mengimbangi Papa untuk saat ini.”


Betapa terkejutnya Alvaro mendengar ini. Dengan lembut, Alvaro berkata, “Gak apa-apa, Ma. Papa akan dengan sabar mengajarkannya pada Mama sampai Mama bisa.”


Di ciumannya lagi bibir imut Nina hingga akhirnya mereka pun terlupa akan status mereka berdua yang masih guru dan murid di sekolah.


Bersambung..