
Hampir satu bulan lamanya setelah saat itu. Alvaro selalu berusaha menerima sikap Nina terhadapnya. Walau sangat terasa lebih berat dari pada harus di larang bertemu, tapi jika teringat ucapan Nina saat itu, Alvaro pun tetap berusaha untuk bertahan.
\=\=Flash back On\=\=
“Ya udah deh, Pa. Siap gak siap aku akan bayar dendanya. Tapi gak sekarang. Tunggu sampai hari terakhir ujian. Bagaimana?”
\=\=Flash back Off\=\=
“Haiss.. kedengarannya sih sebentar, tapi kenapa waktu berjalan sangat lambat sekali sih. Kaya’ kura-kura,” gerutu Alvaro saat berada di ruang guru.
Randy yang lihat ini pun lagi-lagi menggelengkan kepalanya dan di saat yang bersamaan...
“Dia kenapa?” tanya Dinda yang tiba-tiba saja datang.
“Biasa. Galon lagi,” sahut Randy yang kemudian keduanya melihat ke arah Alvaro dan dengan kompak menggelengkan kepala mereka.
Setelah beberapa saat kemudian, Randy tiba-tiba saja teringat tentang Nina dan akhirnya bertanya, “Nina gimana kabarnya? Soalnya udah agak lama aku gak lihat dia.”
“Oh. Dia baik-baik saja. Hanya saja dia sekarang sedang fokus dengan belajarnya. Jadinya dia jarang sekali ada waktu untuk mengobrol dengan kita,” jelas Dinda.
Mendengar penjelasan Dinda, Randy pun akhirnya mengerti kenapa Alvaro terlihat galau.
“Haissss..”
Randy pun menghela nafas panjang melihat kondisi Alvaro yang seperti itu.
***
Saat jam istirahat, tidak biasanya Nina berada sendirian di kantin sambil membawa buku dan dia pun memesan beberapa makanan dan juga segelas es teh manis.
Sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya, Nina pun terlihat sangat serius sekali menatap ke arah buku. Hingga akhirnya..
“Nin, Kakak boleh ikut duduk di sini gak?” tanya Dinda sesaat setelah memesan makanan.
Mengetahui kalau Dinda yang datang, Nina pun mengangguk dan kemudian melanjutkan kembali belajarnya.
Nina yang melihat ini pun tersenyum dan kemudian berkata, “Kamu sangat bekerja keras sekali ya, Nin!?”
“Iya, Kak. Aku hanya ingin membuktikan pada Ayah kalau aku pantas mendampingi anaknya,” sahut Nina.
'Deg'
Saat mendengar jawaban Nina yang sepertinya masih mengingat kejadian yang lalu ini pun akhirnya Dinda pun berkata, “Nin, untuk masalah perjanjian yang waktu itu, bukannya kalian sudah membatalkannya. Malahan sekarang kalian sudah diperbolehkan untuk bersama lagi kan?”
Nina pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Walau begitu, aku tetap ingin membuktikan diri pada Ayah kalau aku memang pantas.”
“Haisss.. ya sudah kalau maumu begitu. Tapi kakak cuma merasa kasihan saja sama Alvaro,” ucap Dinda dengan nada pura-pura sedih.
“Emangnya kenapa sama Pak Al, Kak?” tanya Nina bingung.
Mendengar Nina bertanya seperti itu, Dinda pun langsung menengok ke arah Nina dan kemudian bertanya, “Emangnya kamu gak perhatiin gimana dia belakangan ini?”
Nina pun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku gak sempat, kak.”
“Ya ampun, Nin. Pantas aja si Alvaro merana kaya’ gitu. Lha kamunya juga sih yang tega begini,” ucap Dinda.
“Eeeeeh!? Kok bisa jadi aku yang tega?” tanya Nina bingung.
“Lha iya. Coba deh kamu pikir. Kamu terlalu serius belajar, kamu gak sempat hanya menegurnya sekilas di sekolah, di rumah pun katanya kalian jarang sekali bertemu, apa itu gak buat merana!?” ucap Dinda yang membuat Nina terdiam.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Dinda. Namun mau bagaimana lagi. Nina masih tetap harus berusaha membuktikan diri pada Ayah Willy sehingga membuat dia untuk sementara ini harus fokus pada belajarnya.
***
Tanpa menunggu lama, Nina pun meminta Randy untuk datang dan membawakannya obat serta meminta Randy agar menjaga Azka untuk sementara waktu ini.
Dengan senang hati Randy pun menuruti keinginan Nina itu. Karena pada dasarnya dia pun rindu dengan Azka.
Setelah Azka di bawa oleh Randy ke rumahnya, kini tinggallah Nina hanya berdua saja dengan Alvaro.
Sambil merasakan khawatir, Nina pun dengan sabar merawat Alvaro.
Hingga tibalah malam itu..
Nina melihat Alvaro sangat tidak nyaman dengan keadaannya dan membuat Nina pun akhirnya bertanya, “Pa, Papa gak nyaman di mananya?”
Antara sadar dan gak sadar, Alvaro pun langsung meraih tubuh Nina dan kemudian memeluknya sambil bergumam, “Ma, Papa kangen banget. Jangan jauhin papa juga jangan cuekin papa, Ma. Papa tersiksa.”
Nina yang mendengar ini pun akhirnya merasa kasihan lalu bergumam, “Apa aku selama ini udah kelewatan!?”
Di saat Nina sedang larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Alvaro pun memutar balik posisi sehingga posisi mereka pun berubah. Yang tadinya Nina di atas Alvaro, sekarang justru kebalikannya.
Dengan posisi seperti ini, Nina pun merasakan debaran jantung yang sangat kencang dan dengan terbata-bata, Nina pun bertanya, “Pa, Papa mau apa?”
Tanpa menjawab pertanyaan dari Nina, Alvaro pun langsung mencium lembut bibir Nina sehingga membuat Nina terkejut.
Tapi karena posisi Nina yang tidak memungkinkan untuk menolak ini pun akhirnya Nina pun belajar untuk mengimbangi apa yang dilakukan oleh Alvaro padanya.
Ciuman yang semakin lama semakin dalam dan juga dapat dirasakan panas tubuh Arya, sehingga membuat Nina semakin tidak kuasa juga untuk menahannya.
Dengan lembut dan perlahan, Alvaro pun membimbing Nina hingga mereka pun akhirnya berada di keadaan di mana hal itu sudah sangat lama sekali Alvaro inginkan dari Istrinya itu.
***
Keesokan paginya, demam Alvaro pun sudah turun dan dia pun terbangun. Saat dia menoleh ke arah Istrinya yang sedang berada di pelukannya dan dengan tanpa memakai pakaian, Alvaro pun tersenyum. Walau samar dalam ingatannya, tapi Alvaro tetap yakin kalau mereka berdua telah melakukannya.
Dalam hatinya bergumam, “Terima kasih banyak kamu telah mempercayakannya padaku.”
Di kecupnya kening Nina yang saat itu masih tertidur pulas di pelukannya. Karena tidak ingin membangunkan Istrinya itu, Alvaro pun akhirnya menutup matanya kembali.
Hingga satu jam kemudian, Nina pun mengerjapkan matanya dan kemudian dia kembali teringat kejadian semalam.
Betapa malunya dirinya mengingat itu sehingga membuat dia Ingin rasanya bersembunyi di dalam lubang.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Alvaro pun membuka matanya sehingga membuat Nina langsung spontan menutup wajahnya dengan menggunakan selimut.
Alvaro yang melihat ini pun akhirnya menyipitkan matanya dan kemudian bertanya, “Kamu kenapa, Ma?”
“Malu,” sahut spontan Nina tanpa basa-basi.
Alvaro yang mendengar ini pun langsung berkata, “Buat apa kamu malu, Ma. Toh Papa juga udah melihat semuanya.”
“Ya justru itu, Pa. Aku malu kalau ingat itu,” ucap Nina masih sambil menutup wajahnya.
“Haissss..”
Alvaro pun langsung menghela nafas panjang dan kemudian menarik tubuh Nina hingga menempel dengan tubuhnya sambil kemudian berbisik, “Kalau kamu masih tetap bersikap seperti ini, bagaimana kalau kita mengulanginya lagi sampai kamu tidak malu!?”
“Gak mauuuuuuuuuu!!!!!” teriak Nina.
“Wkwkkwkwkwk...”
‘Cup’
Bersambung...