
Keesokan harinya..
“Nina,...”
Merasa namanya di panggil, Nina pun langsung melihat ke arah sumber suara dan dia pun terkejut karena dia melihat sosok Dimas sedang berdiri di dekatnya.
“Dimas!? Kamu ke sini lagi?” tanya Nina.
“Memangnya aku gak boleh ke sini ya?” tanya Dimas balik tanpa menjawab pertanyaan Nina.
Mendapatkan pertanyaan balik seperti itu, Nina pun merasa bersalah. Karena memang tidak salah sih kalau Dimas ingin main ke kelasnya.
“Ya bukannya gak boleh sih. Hanya aja memangnya di kelasmu kamu gak punya teman mengobrol?” tanya Nina.
Dimas pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Aku kan baru di sekolah ini. Jadinya hanya kamu saja yang aku kenal di sini.”
“Oh. Begitu ya. Tapi gimana ya!?” ucap Nina yang terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Melihat dari cara Nina merespon seperti itu, Dimas pun akhirnya menebak dengan berkata, “Apa kamu takut dengan pacar kamu?”
Mendengar tebakan yang dilontarkan oleh Dimas, tiba-tiba saja hati Nina 'deg’. Memang benar kalau dia saat ini sedang mengkhawatirkan Alvaro. Namun dia sendiri juga tidak mungkin kan mengatakan hal yang sebenarnya.
Mendapati Nina hanya terdiam saja, Dimas pun akhirnya memastikan sesuatu dengan berkata, “Jadi benar dengan apa yang aku katakan barusan?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tiba-tiba Nina tersadar dan akhirnya berkata, “Oh. Gak kok. Kamu salah.”
“Lalu, kalau bukan karena itu, apa kamu gak mau berteman denganku?” tanya Dimas.
“Mau. Tentu saja mau,” sahut spontan Nina yang tidak mau Dimas jadi salah paham padanya meski dalam hatinya berharap Alvaro tidak akan cemburu.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Dimas pun tersenyum dan kemudian berkata, “Nin, nanti istirahat kita ke kantin bareng yuk.”
“Eh!?” ucap spontan Nina.
“Kenapa!? Kamu gak mau ke kantin?” tanya Dimas.
“Bukan begitu. Hanya saja aku gak terbiasa ke kantin. Tapi kalau kamu ngajak, ya sudah. Aku temani,” ucap Nina pada akhirnya.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Dimas pun tersenyum dan akhirnya berkata, “Ya sudah. Kalau begitu nanti aku ke sini. Kita ke kantin bersama-sama.”
Nina pun mengangguk sambil tersenyum dan Dimas pun setelah itu kembali ke kelasnya.
Berbagai macam pikiran ada di dalam otak Nina. Dia benar-benar sangat khawatir dengan bagaimana yang dipikirkan oleh Alvaro.
***
Jam istirahat akhirnya pun tiba dan benar saja Dimas menunggu Nina di depan kelas Nina yang kala itu keluar agak telat.
Sesaat setelah kelas Nina keluar, Dimas pun langsung menghampiri meja Nina dan mengajak Nina ke kantin.
Nina yang masih merasakan khawatir dengan tanggapan Alvaro ini pun dengan lesu mengikuti Dimas ke arah kantin.
Setelah sampai di kantin, dengan semangat dan hati sumringah, Dimas pun menawarkan untuk memesankan makanan untuk Nina.
Nina hanya tersenyum menanggapi tawaran Dimas tersebut.
Hingga 10 menit kemudian, makanan yang di pesan pun akhirnya datang.
Dimas yang dari awal merasa bahagia ini pun menyantap makanannya sambil kemudian berkata, “Nin, makan aja. Enak lho.”
Nina pun mengangguk dan kemudian mencoba sedikit demi sedikit makan makanan yang dipesankan oleh Dimas.
Melihat Nina makan, Dimas pun bertanya, “Gimana? Enak gak?”
Nina pun mengangguk-angguk tanpa mengatakan apa-apa.
***
Sementara itu, di saat yang bersamaan, ternyata dari kejauhan ada dua orang yang tanpa sengaja melihat ke arah Nina dan Dimas.
“Al, Nina tumben ke kantin dan itu.. itu bukannya cowok yang kemarin ya!?” ucap Randy.
Alvaro pun akhirnya melihat dengan fokus dan dia pun menghela nafas panjang.
Randy yang melihat respons Alvaro hanya seperti itu pun akhirnya protes dengan berkata, “Kok diam aja? Lo gak mau ke sana?”
Tanpa menjawab pertanyaan dari Randy, Alvaro pun langsung melangkahkan kakinya mendekati Nina.
Randy yang langsung ditinggalkan seperti itu pun akhirnya berteriak, “Al, tungguin gue!”
Bersambung...