
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah Randy.
Alvaro pun memapah perlahan-lahan Nina masuk ke dalam rumah Randy. Namun keadaan rumahnya terlihat gelap dan sepi.
Dengan memapah Nina perlahan-lahan menuju taman halaman belakang rumah Randy, Alvaro pun membawa Nina duduk di sana.
Sementara itu, Nina yang bingung ini pun bertanya, “Pa, kok di sini gelap?”
“Mama tenang saja. Duduk saja dan nikmati,” ucap Alvaro.
“Apanya yang dinikmati? Gelap begini,” tanya Nina yang diangguki oleh Alvaro.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang sedang menunjukkan jalan pada beberapa orang yang hadir. Sebagai catatan, Alvaro mengajak Nina masuk melalui pintu belakang rumah langsung menuju taman halaman belakang rumah Randy.
“Perhatian semuanya. Harap semuanya berjalan dengan tenang. Jangan berdesak-desakan,” ucap orang tersebut.
Sementara itu, Nina yang mendengar hal itu pun langsung berkata, “Itu seperti suara Pak Randy bukan?!”
Alvaro pun spontan berkata, “Benar. Jadi tolong kamu tenang ya. Jangan terlalu berisik. Nanti kita ketahuan.”
“Tapi Pa,...”
Alvaro langsung memotong ucapan Nina dengan berkata, “Gak ada tapi-tapian. Pokoknya Mama harus nurut sama Papa.”
Nina yang baru kali ini melihat Alvaro seperti itu pun langsung terdiam. Dia sama sekali tidak mau membantah lagi.
Hingga sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari siswa-siswi yang datang taman halaman samping tersebut.
Saat itu mereka bingung, kenapa taman tersebut gelap. Tak sedikit siswa yang bergumam dan bertanya-tanya sebenarnya acaranya apa.
Tak selang berapa lama kemudian, lampu taman pun dinyalakan.
Sambil mengerjapkan mata mereka masing-masing, antara jalas dan tidak karena silau, mereka pun melihat ada banyak sekali hidangan di taman tersebut.
Sehingga tak sedikit dari mereka merasa takjub.
Begitu juga Nina. Dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
Di saat yang bersamaan, Alvaro melihat ini pun berkata, “Bagaimana, Ma? Apakah Mama suka sama apa yang sudah Papa siapkan untuk Mama?”
Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun langsung menoleh ke arah Alvaro dan bertanya, “Jadi makanan ini semuanya untukku?”
Alvaro pun mengangguk dan kemudian berkata, “Papa lihat Mama udah cukup berusaha selama ujian kemarin. Maka dari itu, Papa sengaja membuat ini semua sebagai hadiah untuk Mama karena udah berusaha kemarin.”
Mendengar ucapan Alvaro, Nina pun menjadi sangat terharu dan kemudian berkata, “Terima kasih banyak, Pa. Aku sangat senang sekali. Coba kalau tadi aku tadi gak maksa buat datang ke sini, pastinya usaha Papa jadi sia-siakan?”
Alvaro pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Siapa bilang sia-sia?! Tuh lihat buktinya, meski tidak ada Mama sekalipun masih ada yang lainnya yang memakannya.”
“Oh. Jadi dengan kata lain, apa yang tadi Papa bilang itu gak semuanya benar donk?!” ucap Nina agak sewot.
“Maksudnya?” tanya Alvaro bingung.
“Iya. Tadi kan Papa bilang kalau ini semua Papa buat untuk aku. Tapi di waktu yang berbeda, Papa juga bilang kalau meski aku gak di sini pun juga masih ada yang menikmati makanannya. Kalau seperti itu keadaannya, itu artinya makanan ini gak sepenuhnya untuk aku donk,” ucap Nina kesal.
Alvaro yang mendengar penjelasan Nina ini pun spontan langsung menepuk jidatnya dan kemudian berkata, “Ya ampun, Ma. Segitu kesalnya. Iya iya, Papa minta maaf. Tapi sebenarnya tujuan dari acara ini jadi spesial khusus buat Mama bukan dari semua makanan ini. Tapi dengan ini.”
Alvaro pun diam-diam langsung mencium bibir Nina yang kala itu sedang cemberut.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Nina pun spontan menjadi terkejut sebelum akhirnya Nina berusaha mengimbangi ciuman Alvaro.
Dengan suara anak-anak yang berisik, ciuman mereka pun menjadi terasa begitu sangat berkesan.
Di saat mereka sedang menikmati ciuman tersebut, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara Azka berteriak sehingga membuat Nina dan Alvaro pun menghentikan ciuman mereka.
Alvaro pun kemudian menghentikan ciumannya dan setelah beberapa saat kemudian, Azka pun muncul dan langsung memeluk tubuh Nina.
“Kakak! Tangen,” ucap Azka manja. (Kakak, kangen.)
“Iya, Az. Kakak juga kangen banget sama kamu,” sahut Nina sambil membalas pelukan Azka.
***
Beberapa hari setelah acara makan-makan tersebut, hasil ujian mereka masing-masing.
Nina yang dari dulu selalu mendapatkan nilai juara satu dari belakang ini pun tiba-tiba merasa terkejut karena ternyata nilai yang ia dapatkan terbilang cukup meningkat.
Dan di saat dia sedang serius dengan papan pengumuman tersebut, tiba-tiba saja..
“Hmm, lumayan. Boleh lha untuk kali ini,” ucap seseorang yang sangat mengagetkan Nina.
“P—Pak Al,” ucapnya.
Sambil tersenyum, Alvaro pun berkata, “Besok kita ke rumah Kakek.”
Setelah mengatakan itu, Alvaro pun langsung pergi meninggalkan Nina yang sedang melongo mendengar ucapan Alvaro.
“Sebentar. Tadi sepertinya Pak Al bilang kalau mau ke rumah Kakek besok. Ah yang benar?!”
Nina pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kelas.
Sementara itu, Alvaro yang setelah mengatakan hal itu pun langsung ke ruangan BK menemui Randy.
“Eh ada tuan Alvaro yang tampan. Ada apa nih si tampan datang ke gubukku ini?” goda Randy.
Alvaro yang langsung duduk bersandar di bangku sofa yang ada di ruangan BK ini pun menyahut, “Ran, besok gue mau ke rumah Kakeknya Nina. Kira-kira setelah sampai di sana, gue harus mengaku sebagai apa ya?”
Mendengar ucapan Alvaro, dengan seketika Randy pun langsung bergegas mendekati Alvaro.
“Al, lo yakin mau ke sana?” tanya Randy dan Alvaro pun mengangguk.
“Biar bagaimana pun, pernikahan gue dan Nina gak bisa selamanya di sembunyiin dari keluarga. Apalagi dalam hal meminta restu dari orang tua bukannya itu perlu?!” ucap Alvaro.
“Haisss.. lo ini, Al. Kalau lo emang udah yakin seperti itu, ya sudah. Lakuin aja. Gak usah banyak berpikir gimana nanti. Ya kan?! Yang penting jalanin aja dulu,” ucap Randy.
Alvaro pun mengangguk-angguk lalu berkata, “Ya. Lo bener banget. Ya udah. Gue mau pulang. Mau siap-siap buat besok.”
Alvaro pun kemudian pergi diiringi teriakan Randy yang berteriak, “Gue juga mau ikuuuuuut!”
***
Keesokan harinya, setelah semua persiapan telah selesai, Alvaro, Nina dan Azka pun bersiap-siap untuk berangkat.
Namun sebelum mereka berangkat, Nina ingin memastikan sesuatu dengan bertanya, “Pa, Papa yakin mau ke rumah Kakek?”
Alvaro pun mengangguk sambil tersenyum dan di saat yang bersamaan tiba-tiba saja Randy datang dan berkata, “Nin, kamu punya saudara cantik gak?
Mendengar pertanyaan yang nyeleneh seperti itu, seketika tangan Alvaro langsung menjitak kepala Randy sehingga Randy pun memekik kesakitan.
“Ah lo mah, Al. Namanya juga usaha. Ya gak, Nin?!” ucap Randy.
“Apa lo bilang?! Lo mau gue jitak lagi?”
Jadilah sebelum berangkat ada insiden saling jitak antar kedua guru.
Bersambung..