
MARINA HIGHBAY BOAT
Theo bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidur. Tempat tidur itu hanya berupa ayunan jaring yang dipasang di langit-langit geladak kapal. Alasnya dilapisi bedcover abu-abu yang ia bawa jauh-jauh dari rumah. Tempat tidur itu hanya cukup untuk satu orang. Sebuah tempat tidur ukuran normal hanya akan memenuhi deknya yang sudah sempit karena peralatan kerja.
Tubuh Theo berkeringat. Beberapa kali ia menendang selimutnya dengan gerakan gusar. Theo sedang mengalami mimpi buruk. Ia berada dalam pusaran air laut, mencoba melawan arus agar tak tenggelam, namun sedetik kemudian ia lupa kalau dirinya sedang tenggelam. Lalu ia sudah berada di atas tebing, memandang hamparan laut hitam di bawah terang bulan purnama yang bulat sempurna. Bulan yang lama-kelamaan makin kelihatan besar.
Apakah bulan sedang mendekat?, pikirnya heran.
Bulan memang sedang mendekat, seiring dengan makin tingginya ombak laut yang seakan ingin menerkamnya ke dalam lautan. Seseorang memanggilnya. Suaranya tidak asing, namun sosoknya tidak terlihat. Suaranya milik seorang perempuan. Namanya sudah berada di ujung lidah Theo saat tahu-tahu ia sudah berada di kedalaman laut lagi, kehabisan napas karena tenggelam. Air tidak mengijinkannya berenang naik ke permukaan. Ia terjebak di kegelapan. Kemudian terdengar lengkingan suara yang menggetarkan jantungnya. Suara ini lebih akrab lagi baginya.
'Nyanyian Paus Biru' adalah sebutan Adam bagi suara-suara yang ditimbulkan oleh gelombang infrasonik dari kawanan Billie. Suara itu makin nyaring. Seluruh indera Theo berfokus pada lengkingan nada itu saja, mencari-carinya. Seekor paus tiba-tiba sudah berenang di bawahnya, sedang membuka mulut lebar-lebar, menghisapnya. Kedua tangan Theo menggapai-gapai ke atas.
Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang, dan tubuh basah kuyup oleh keringat. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk menyadari sedang berada dimana ia sekarang. Ketika melihat dek kapal Marina Highbay yang seperti rumah baginya, Theo menghembuskan napas lega.
Kaki telanjang Theo turun dari atas tempat tidur, melangkah menuju lemari pendingin yang berada tak jauh dari meja kerjanya yang berantakan. Ia mengambil sekaleng bir dingin, membukanya, lalu meneguk banyak-banyak. Ia merasa sangat haus. Tenggorokannya kering dan lidahnya terasa seperti pasir. Ia masih merasa sedikit gelisah akibat mimpi buruk barusan. Theo tak ingat semua detailnya, tapi ia bisa merasakan sensasi kengerian berada di bawah laut yang gelap. Padahal selama ini ia sangat menyukai laut. Biasanya ia menghabiskan waktu berjam-jam menyelam, setidaknya sampai pasokan oksigen dalam tabungnya habis.
Hanya mimpi buruk, begitu pikirnya mencoba meyakinkan diri.
Wajar jika ia mengalami mimpi buruk sesekali, apalagi setelah kejadian akhir-akhir ini yang tak biasa. Bangkai Billie, penemuan mayat perempuan di dalam perut Billie, serta misteri identitas mayat yang menyertainya. Sejak itu, Theo merasa gelisah. Konsentrasinya terganggu, jadi ia memutuskan untuk tinggal di tengah laut selama beberapa hari lagi untuk menenangkan diri. Profesor sudah menyarankan untuk segera mengambil cuti. Theo tidak langsung menyetujuinya. Ia merasa jika dirinya pulang ke rumah dengan kondisi pikiran terganggu akan membuat kepulangannya ke rumah terasa sia-sia.
Sambil membawa kaleng bir yang isinya tinggal sedikit, Theo berjalan keluar dari dek untuk menikmati malam. Salah satu alasan kenapa Theo suka menginap di kapal adalah pemandangan langitnya. Jika ia berada cukup jauh dari daratan, sejauh bahan bakar yang tersedia di tangkinya mengijinkan, maka malam hari rasanya seperti surga. Setiap kali ia menengadah ke atas, rasi-rasi bintang memenuhi angkasa. Terkadang meteor jatuh membelah langit, hanya jika ia sedang beruntung untuk melihatnya. Terkadang juga ia dapat melihat galaksi, cincin saturnus, atau satelit buatan manusia yang bentuknya menyerupai titik kecil tak bergerak. Theo selalu membawa teropong bintang untuk membantunya melihat lebih dekat. Menjadi ahli biologi kelautan membuatnya dapat menikmati hal-hal seperti ini. Saat malam hari, lautan gelap tidak menarik minatnya sama sekali.
Perhatiannya teralih oleh sesuatu yang bersinar di atas permukaan laut tak jauh dari kapal. Theo buru-buru mengambil teropongnya untuk melihat. Phytoplankton menjadi salah satu spesies yang dapat menciptakan fenomena bioluminescence, dimana mereka dapat menghasilkan cahaya biru terang di laut. Cahaya terang itu hanya akan terlihat di malam hari atau di kedalaman laut, dimana tak ada sinar matahari sama sekali. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin terang dan indah cahayanya, hingga dapat ditangkap oleh satelit NASA. Biasanya cahaya yang dihasilkan adalah warna-warna pelangi. Dari warna merah sampai warna biru kehijauan.
Yang Theo lihat saat ini berwarna keperakan. Warnanya sangat terang hingga dapat menerangi ikan-ikan tuna yang kedapatan sedang berenang di sekitar kapal Theo. Bioluminescence itu bergerak mengikuti arus laut, mendekati kapal. Dengan sigap Theo mengambil tongkat panjang dari kotak peralatannya. Tongkat itu biasanya ia gunakan sebagai tempat kamera bawah air untuk memungkinkan dirinya merekam hewan laut yang terlalu sensitif pada kehadiran manusia. Kali ini ia tidak menempelkan kamera di ujungnya, melainkan jaring yang tak terlalu besar berdiameter lima inch. Ia langsung memasukkan jaring itu ke dalam air untuk mencari tahu hewan apa yang membuat cahaya seterang itu. Begitu tertangkap, Theo memindahkannya ke dalam kotak kosong yang sudah ia isi dengan air laut.
Ini bukan kali pertama Theo melihat fenomena bioluminescence. Selama karirnya di laut, ia sudah melihat fenomena ini sebanyak dua kali. Pertama di perairan Australia, sedangkan yang kedua adalah di perairan dekat Lampung. Semuanya berwarna biru kehijauan. Fenomena bioluminescence berwarna perak seperti ini adalah yang pertama ia jumpai. Ia mencermati hewan apa yang membawa cahaya unik itu baik-baik. Namun yang ia temukan bukanlah hewan atau spesies laut yang ia hafal.
Makhluk itu berupa selaput transparan. Bentuk dan teksturnya tidak mirip dengan karakteristik ubur-ubur jenis apapun. Theo terdiam lama. Makhluk itu jelas sudah mati, namun tubuhnya masih berpendar seakan tak kehabisan energi. Mendapat bahan penelitian baru, Theo tiba-tiba bersemangat. Mimpi buruk yang baru saja dialaminya lenyap, berganti dengan keingintahuannya tentang makhluk yang baru saja ia bawa ke atas kapal. Ia menghabiskan sepanjang malam itu meneliti spesies berwarna keperakan yang mengambang di dalam kotak. Makhluk itu tetap tak bergerak meskipun Theo menggores permukaan transparannya dengan scalpel atau pisau bedah. Perjalanan makhluk itu mengarungi samudera telah usai.
***
Ding
Theo terbangun oleh suara notifikasi dari laptopnya. Tanda sebuah email masuk. Sambil menahan kantuk karena baru tidur selama dua jam, Theo turun dari tempat tidurnya lalu duduk di meja kerja. Ada satu email dari Adam yang baru saja masuk. Email itu berisi sebuah tautan yang membawanya ke sebuah artikel berita.
Telah ditemukan sesosok mayat tanpa identitas pada hari Kamis (21/08/19) dini hari. Mayat tersebut ditemukan di dalam perut seekor paus biru yang terdampar di pantai. Kelompok peneliti biologi kelautan menyatakan bahwa bangkai paus bernama 'Billie' yang terdampar tersebut merupakan salah satu dari kawanan paus biru yang sedang diteliti oleh mereka. Paus itu diduga telah tanpa sengaja menelan mayat tersebut saat sedang berburu makanan. Saat ini, mayat tersebut sedang diotopsi di Rumah Sakit Universitas Dwisakti. Polisi sedang mendalami kasus ini sambil mengumpulkan informasi orang hilang yang selama ini diterima oleh kepolisian setempat.
Theo menutup kembali laptopnya. Ia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompet. Kartu nama itu milik Voni, dokter forensik yang bertanggung jawab atas otopsi mayat itu. Ia menimbang-nimbang kartu nama itu sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubunginya lewat telepon satelit.
"Halo?" Suara Voni terdengar setelah nada tunggu ketiga.
"Ini Theodore dari Pusat Penelitian Kelautan."
"Ah! Tentu saja aku ingat. Ada apa?"
"Umm.. anda ada waktu hari ini? Ada yang ingin kubicarakan."
"Maaf, hari ini aku akan sibuk sekali. Bagaimana jika besok malam setelah pekerjaanku selesai?"
"Besok juga tidak apa-apa."
"Kita bertemu dimana?"
"Nanti akan kukirimkan alamatnya."
Keduanya mengakhiri percakapan setelah basa basi singkat berikutnya. Perlu waktu semalaman bagi Theo untuk memutuskan apakah dia harus memberitahu seseorang tentang penemuannya atau tidak, dan kepada siapa dia akan memberitahu tentang penemuan ini.
Ia masih ada waktu cukup banyak sebelum waktu janjiannya dengan Voni. Ia putuskan untuk mengunjungi labnya. Profesor dan Adam harus jadi orang pertama yang ia beritahu. Setelah mencuci muka dan menyikat gigi, ia buru-buru tancap gas menuju daratan.
***
Laboratorium Pusat Kelautan tidak berada di dalam gedung, melainkan di dalam dua buah kontainer portable yang disusun saling berhadapan karena sifatnya yang sementara. Kontainer pertama berfungsi seutuhnya sebagai laboratorium, sedangkan kontainer yang lain dipergunakan sebagai tempat beristirahat bagi Adam dan Profesor. Mereka adalah satu-satunya penghuni di dataran gersang dekat pantai.
Meskipun keduanya adalah peneliti yang berkecimpung dalam ilmu kelautan, Adam dan Profesor sama-sama mabuk laut. Mereka tidak bisa berlayar terlalu lama. Berbeda dengan Theo yang sampai memilih Marina Highbay sebagai tempat tinggalnya. Bagi Theo, semakin jauh ke tengah lautan, maka makin ideal untuk dijadikan tempat bermukim sementara.
Theo tidak menemukan Adam maupun Profesor di dalam lab. Ia menduga kalau keduanya pasti sedang berada di kontainer satunya yang sekaligus menjadi kamar pribadi mereka. Benar saja, begitu Theo masuk, ia melihat Profesor sedang berusaha menenangkan Adam yang menangis histeris. Theo menyangka kalau Adam masih sedang dalam fase berduka akibat kehilangan Billie untuk selamanya.
"Kalian harus melihat sesuatu." Jawab Theo tanpa basa-basi. Sikapnya menunjukkan kalau ia sebenarnya ingin segera menyeret mereka ke kapalnya.
"Pergilah! Biarkan aku tenggelam dalam kesedihan." Sahut Adam dengan suara serak. Wajahnya bengkak dan merah karena tidak juga berhenti menangis. Profesor mereka hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Apa yang kamu temukan, Theo?" Profesor bangkit dari duduknya di sisi tempat tidur sempit milik Adam.
"Kalian tidak akan percaya padaku jika tidak melihatnya sendiri." Jawab Theo. Adam menyeka ingus dengan selimut, menimbulkan kernyit tipis di dahi Theo. "Kurasa aku baru saja menemukan alien." Lanjutnya.
Profesor dan Adam kompak saling pandang.
"Kurasa dia terlalu lama berada di laut. Aku pernah mendengar ada orang yang sampai kehilangan akal dan berhalusinasi karena terlalu sering melihat rumput laut." Adam berusaha menjelaskan keadaan Theo pada Profesor. Padahal situasinya sendiri sedang tidak bagus.
"Sudah kubilang kalian tidak akan percaya padaku jika tidak melihatnya sendiri. Ayolah!" Theo keluar dari kamar/kontainer diikuti oleh Profesor dan Adam yang kelihatan sangat enggan.
Theo punya sebuah kotak es besar yang biasanya ia isi dengan bir dan air mineral. Hanya dua jenis minuman itu yang ada di Marina Highbay. Namun kali ini, Profesor dan Adam tidak menemukan sebotolpun di dalam kotak es Theo. Alih-alih minuman, kotak isi itu berisi seekor makhluk mirip ubur-ubur pipih tanpa tentakel yang terus menerus berpendar keperakan. Profesor dan Adam sama-sama mengernyit. Mereka memperhatikan makhluk yang dibawa oleh Theo lebih dekat.
"Kamu yakin ini bukan Deepstaria?" Profesor mengangkat kacamatanya ke atas dahi sambil menyipitkan sebelah matanya, benar-benar berusaha untuk melihat.
"Awalnya kukira begitu. Tapi perairan Indonesia bukan habitat umum bagi Deepstaria. Dan mereka tidak 'berpendar' seperti ini." Deepstaria yang mereka maksud adalah spesies ubur-ubur berbentuk tak lazim dan tanpa tentakel. Salah satu jenis yang pernah ditangkap oleh para peneliti adalah Deepstaria Enigmata, ubur-ubur tipis yang secara kasat mata berbentuk seperti sampah plastik yang terseret arus.
Adam menyentuh permukaan makhluk itu dengan ujung jarinya. "Dingin dan..." ia mengendus ujung jari yang ia gunakan untuk menyentuh makhluk asing itu. "-tidak berbau sama sekali. Aku tidak mencium apa-apa." Ia kelihatan cukup heran hingga sejenak melupakan Billie. "Benar-benar aneh." Gumamnya.
"Aku mempelajarinya semalaman. Sel-sel penyusun tubuh makhluk ini sama sekali tidak mirip atau mendekati hewan laut manapun yang pernah kita pelajari."
"Mungkin dia bukan hewan laut." Profesor mengambil scalpel yang tergeletak di meja kerja Theo yang berantakan. Dengan hati-hati, ia mengambil sampel tubuh makhluk tak bernama itu, lalu meletakkannya di preparat agar dapat dilihat melalui mikroskop. Butuh waktu beberapa menit bagi Profesor untuk menentukan apakah ia akan memercayai Theo atau menawarkan jawaban lain yang lebih masuk akal. Adam menggunakan beberapa menit itu untuk mempelajari bentuk makhluk asing itu. Hingga akhirnya, mereka berdua menemukan sebuah kesimpulan.
"Selama karirku belum pernah kulihat sel-sel berbentuk aneh seperti yang kulihat barusan." Ujar Profesor sambil memijit keningnya.
"Makhluk ini terlalu aneh bagi isi kepalaku yang sudah aneh." Sambung Adam.
"Struktur selnya tidak mirip seperti makhluk hidup manapun di bumi. Dia punya sebuah inti di dalam tubuhnya." Theo mengeluarkan sebuah toples kecil tertutup yang berisi sebuah batu mirip mutiara berdiameter tak sampai 10 millimeter.
"Kamu membedahnya? Kenapa tidak ada bekasnya??" Tanya Adam.
"Setelah beberapa jam semua sayatan yang kubuat menghilang. Dia meregenerasi diri dengan cepat."
"Dan kamu berpikir makhluk ini sudah mati?"
Theo mengangguk. "Makhluk ini sudah mati, aku yakin sekali. Jika dia hidup, seharusnya dia bereaksi saat kubedah."
"Bukankah aneh jika dia meregenerasi dirinya sendiri saat dalam keadaan mati?" Adam terdiam sesaat, "Oke, sudah berapa kali aku menyebut kata 'aneh'?" Lanjutnya heran. Semua orang mengabaikannya.
"Jika ini benar-benar alien, maka fanatik pecinta fiksi ilmiah akan senang sekali mendengarnya. Tapi, jika makhluk ini hanya salah satu dari banyak jumlah yang kita tidak tahu ada berapa, tujuannya kemari untuk apa, dan apakah mereka berkoloni atau tidak, maka keamanan nasional mungkin sedang terancam. Apa yang kukatakan masuk akal?" Theo mengucapkannya dengan cepat, mulai histeria dengan jalan pikirannya sendiri.
Profesor menghela napas berat. Ia meletakkan satu tangan di pinggang, sedangkan tangan lain mengusap dagunya yang keriput. "Kurasa kamu benar. Kita perlu menelitinya lebih jauh di laboratorium yang lebih besar. Aku berpikir untuk kembali ke Brisbane dan membawa sampel ini seluruhnya. Bagaimana menurutmu?"
"Aku sedang berpikir untuk menyerahkannya ke pemerintah Indonesia." Jawab Theo penuh keyakinan, membuat Adam mendengus.
"Mari kita jujur saja, orang Indonesia tidak akan peduli dengan hal semacam ini. Mungkin mereka akan membuatnya viral, itu saja. Ketika semuanya terlambat, semua orang akan saling menyalahkan. Lebih baik kita bawa ke AMCA saja. Lagipula kita punya teknologi yang lebih maju untuk meneliti makhluk ini." Sahut Adam.
"Kita menemukannya di perairan Indonesia. Mereka perlu tahu apa yang akan mereka hadapi." Sergah Theo. "Rencananya aku akan meminta bantuan dokter forensik yang kemarin kita temui." Lanjutnya.
"Ayolah, Theo! Kamu tidak berpikir kalau makhluk ini hanya akan ada di Indonesia, kan? Bukankah kamu bilang dia alien? Alien adalah makhluk yang berasal dari luar bumi. Bumi tidak hanya terdiri dari Indonesia saja. Banyak negara lain yang perlu tahu tentang hal ini. Australia adalah pilihan tepat untuk memulai."
"Sudah, sudah!" Profesor melerai perdebatan kedua anak didiknya. "Kurasa yang dikatakan Theo ada benarnya." Profesor mengangkat satu tangannya saat Adam mulai protes. "Biarkan pemerintah Indonesia menangani ini secara diam-diam. Kita tidak bisa ambil resiko membuat keributan global sebelum makhluk ini benar-benar terbukti sebagai 'alien'." Kini giliran Theo yang buka mulut untuk membantah, namun lagi-lagi Profesor menahannya. "Kita akan bersama-sama meneliti makhluk ini. Kita juga akan ikut memastikan apakah makhluk ini membahayakan planet kita atau tidak. Jika iya, maka kita jadi orang pertama yang akan memberi peringatan pada dunia. Semoga itu tidak terjadi." Profesor menepuk kedua pundak Theo dan Adam, membuat mereka terdiam. "Kapan rencananya kamu bertemu dengan dokter forensik itu?"
"Besok malam. Kurasa kalian perlu ikut bersamaku." Jawab Theo.
"Setidaknya kita bisa ke kota. Akhirnya!" Seru Adam.
"Kita akan tinggal di rumah orangtuaku. Hanya ada adikku di sana."
Mereka bertiga sepakat dengan ide itu.
***