
"Menurutmu Reagan itu bagaimana, Sel?" Mindy tak mengangkat kepalanya dari layar TV yang masih berganti-ganti saluran saat ia menyinggung nama Reagan.
"Begitulah." Jawab Selena setelah terdiam beberapa detik, memikirkan kata-kata yang pas untuk menggambarkan Reagan, namun gagal.
"Kamu terlihat akrab dengannya." Christian melipat kedua lengan seragam lalu menghampiri Solar, menyandarkan pinggang di sampingnya.
"Kurasa dia tidak terlalu menyukaiku." Solar menatap lantai semen sambil memainkan kakinya.
"Tidak ada yang benar-benar menyukaimu di sekolah, Sel." Sahut Mindy. "Sulit kupercaya aku harus mengatakannya sejelas itu padamu." Ia menghempaskan remote ke atas sofa lalu duduk tegak menatap Solar.
"Mindy benar. Tidak ada yang benar-benar menyukai kita di sekolah. Tim basket mau bergaul denganku karena aku punya semua hal yang mereka tak punya. Aku mau bergaul dengan mereka karena aku suka pamer." Christian memainkan bola basket di tangannya.
"Mereka tak bergaul denganku karena mereka takut padamu." Sambung Mindy, memandang Solar.
"Memangnya aku menakutkan?" Solar mengangkat sebelah alisnya.
"Cewek-cewek menghindari kita berdua. Mereka lebih suka berada di pihak yang bukan musuhmu. Jadi mereka sangat hati-hati saat berada di sekitar kita. Aku rasa sejak kejadian kakak kelas didroup out tahun lalu, gosip tentangmu terus beredar. Yang terakhir kudengar, kamu membunuh kucingmu karena terlalu berisik saat kamu sedang ingin tidur siang." Mindy menyemburkan tawa. "Kamu bahkan tidak punya kucing." Lanjutnya di sela-sela tawa.
"Nah, tentang Reagan." Christian melirik Solar dari sudut matanya, "Bagaimana ceritanya kamu terlibat tawuran kemarin? Tidak cukup Reagan, bahkan sekarang kamu akrab dengan Jambul. Kurasa aku tidak akan kaget kalau besok kamu pergi ke mall dengan Wenda dan gengnya."
"Hey!!" Tegur Mindy, tiba-tiba muak saat mendengar nama Wenda, orang yang menulis komentar buruk pada foto Selena di blog sekolah. Perlakuan buruknya itu dibalas Selena dengan membuang isi kopernya ke dalam kolam renang saat karyawisata minggu lalu.
"Tidak seperti yang kalian bayangkan." Christian dan Mindy masih menatap Solar, menunggu penjelasannya. "Aku mengikuti Reagan kemarin. Lalu kami terjebak dalam tawuran. Aku bertemu Jambul di sana. Reagan membantuku melarikan diri." Solar menjelaskannya secara sistematis.
"Kenapa kamu mengikuti Reagan?" Dari beberapa kalimat yang dilontarkan Solar, entah kenapa Christian selalu fokus pada kaitannya dengan Reagan.
"Aku ingin memberikannya hadiah dengan kartu hitam yang ditinggalkan orangtuaku." Untuk membuktikan ceritanya, Solar mengeluarkan kartu kredit dari tas. Christian mengambil kartu itu dan menunjukkannya pada Mindy.
"Kakekku tidak pernah memberikan black mastercard padaku. Beruntung sekali kamu!" Kedua sudut bibir Mindy menekuk ke bawah melihat kartu hitam mengkilat itu.
"Aku juga belum boleh dapat kartu ini." Sahut Christian, menekuri permukaan kartu milik Selena. "Kenapa orangtuamu memberikanmu ini?"
"Mereka bilang itu adalah hadiah ulang tahunku."
"Bukannya 29 Februari sudah lewat?" Christian memandang Mindy, berharap tidak melewatkan sesuatu. Mindy hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.
"Ulang tahunku tepat seminggu yang lalu." Solar mengeluarkan kartu pelajar miliknya, lalu menunjukkan pada kedua temannya.
"Wah, parah sekali! Jadi selama ini kamu berbohong pada kami." Mindy buru-buru mengeluarkan ponselnya, menandai kalendar pada hari ulang tahun Selena setelah menghapus tanda di tanggal 29 Februari. "Kami sudah memberimu hadiah saat ulang tahun palsumu. Jadi kita impas tahun ini. Kita akan mulai merayakan ulang tahunmu yang sebenarnya tahun depan." Lanjut Mindy
"Tapi aku penasaran," Ujar Christian, "Jika kamu yang berulang tahun lalu kenapa kamu yang ingin memberikan Reagan hadiah?"
Mindy mendesah dengan gaya dramatis. "Reagan menyelamatkan Selena waktu dia tenggelam saat hari terakhir karyawisata, ingat?" Kesalahpahaman tentang siapa yang menyelamatkan siapa tidak pernah dikonfirmasi oleh Reagan dan Solar. Mereka membiarkan semua orang punya spekulasi mereka sendiri.
"Dia juga membantuku kabur saat terjebak tawuran kemarin. Jadi aku ingin berterima kasih padanya." Sambung Solar.
"Kamu sudah memberikannya hadiah?" Tanya Mindy yang dijawab sebuah anggukan kepala Solar.
"Sudah. Sepedanya hilang saat tawuran. Jadi aku mengganti sepedanya dengan yang baru."
Mindy menghela napas dalam-dalam. "Kali ini pikiranmu berlebihan, Christian." Tegurnya. "Sudah dengar, kan, penjelasan Selena? Justru sekarang aku yang merasa bersalah karena tertipu mentah-mentah tentang hari ulang tahunnya. Aku bukan sahabat yang baik. Seharusnya aku mencari tahu kebenaran tentang hari ulang tahun Selena. Bagaimana ini? Aku benar-benar ingin membuatkanmu pesta sampai rasanya ingin menangis." Wajah Mindy memerah dan kedua matanya berkaca-kaca. Solar mendekatinya. Sikapnya itu membuat Mindy berpikir kalau Solar sedang merasa bersalah. "Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu." Mindy memeluk pundak sahabatnya. Solar yang tidak tahu harus bagaimana hanya tersenyum tipis saat menerima perlakuan itu.
Christian menimbang-nimbang kartu kredit di tangannya. Ia benar-benar ingin mempercayai cerita Solar, namun tetap saja terasa ada yang mengganjal. Dia belum tahu apa. Jadi kali ini dia akan membiarkannya.
"Tunggu, biar aku saja! Aku merasa bersalah pada kalian, jadi sebaiknya tahun ini biar aku yang melakukannya sendiri." Sebuah rencana tersusun dengan cepat dalam kepala Solar. Ada sesuatu yang harus dia lakukan, dan dia tak ingin kedua sahabat Selena ini curiga padanya.
"Masuk akal." Christian mengangguk. "Nomor telepon toko kue langganan Mamaku ada di pantry, ditempel di papan dekat lemari es. Jika kesulitan menemukannya, panggil saja salah satu asisten rumah tangga. Biar mereka yang menelepon."
Rumah Christian punya tiga dapur utama. Salah satunya adalah pantry, atau dapur kering, yang merupakan sudut favorit Christian karena di sana punya persediaan makanan kecil dan minuman untuknya. Tangga basement Christian terhubung ke pantry. Dapur utama, sekaligus menjadi tempat makan keluarga adalah tempat Solar tadi makan siang bersama teman-temannya. Sedangkan dapur terakhir adalah dapur orang-orang dewasa, dimana orangtua Christian menyimpan anggur dan berbagai jenis minuman beralkohol.
Christian tidak pernah diperbolehkan masuk kesana. Ada kamera pengawas yang terhubung ke ponsel kedua orangtua Christian. Jika ia nekat kesana, maka orangtuanya pasti langsung tahu dan memarahinya habis-habisan lewat video call. Hukuman terburuk yang dapat diberikan oleh orangtuanya adalah memblokir semua kartu kredit milik Christian untuk membuatnya sengsara.
Solar tidak memesan kue ulang tahun seperti yang dikira oleh teman-temannya. Ia langsung berlari menuju lantai atas, kamar sekaligus area kerja Theo. Ia mengikuti sinyal samar yang terus memintanya untuk mendekat. Ia harus tahu sinyal itu milik siapa. Ia cemas akan keselamatan awak kapal yang ia tinggalkan di kutub selatan. Ia berencana untuk mengajak Theo keluar dan memanipulasi pikirannya. Bagaimanapun, tiga orang manusia adalah jumlah yang terlalu banyak untuk dapat dihadapinya sendirian. Jadi ia harus memisahkan Theo dari Adam dan Profesor karena Solar tidak berencana untuk membuka penyamarannya dalam waktu dekat.
Ia tidak mengendap-endap karena ia ingin bersikap senatural mungkin. Solar tidak mau membuat para asisten rumah tangga yang berpapasan dengannya merasa curiga. Solar keluar dari pantry menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kamar Theo, Solar mengetuk pelan. Di luar perkiraannya, ternyata Adam yang membukakan pintu.
"Hai, Selena. Ada apa?" Tinggi Solar hanya seukuran dada Adam, membuatnya harus mendongak ke atas saat bicara.
"Kak Theo ada?" Solar mengintip dari balik bahu Adam sambil berjinjit, mencari-cari Theo.
"Dia baru saja keluar. Katanya harus mengurus sesuatu. Ada yang kamu butuhkan?"
"Ada barang milikku yang terbawa oleh kak Theo."
"Benarkah? Kamu bisa masuk dan mencarinya sendiri." Adam membuka pintu lebar-lebar dan memberi jalan agar Solar bisa lewat.
Kamar adalah sebutan yang terlalu kecil untuk mendefinisikan ruangan pribadi milik Theo. Yang membedakan adalah luasnya. Kamar ini terlalu luas untuk dapat disebut kamar. Meskipun Selena dan Christian sering bermain bersama sejak kecil, Selena tak pernah punya alasan khusus untuk masuk ke dalam kamarnya, apalagi kamar Theo. Jadi ini adalah kali pertama Solar untuk melihat salah satu kamar mereka.
Kamar ini lebih mirip seperti ruangan workshop. Tempat tidur Theo yang berukuran besar ada di pinggir ruangan, lengkap dengan nakas dan meja kerja. Di seberangnya ada akuarium raksasa yang berisi ikan hias air laut. Beberapa jenis ikan yang ada di dalamnya pernah Solar jumpai dalam perjalanan ke daratan ini. Di tengah-tengah ruangan ada meja lab panjang berpermukaan baja khusus yang dilengkapi westafel. Meja itu penuh dengan alat-alat penelitian dan beberapa set komputer, serta laptop. Dua unit mikroskop berbeda fungsi dan ukuran tergeletak bersebelahan, kelihatan baru saja dipakai. Tabung-tabung reaksi yang berisi cairan-cairan bening juga tersusun di sana. Kertas-kertas berserakan memenuhi permukaan meja yang tersisa.
Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian Solar. Kedua kakinya melangkah secara otomatis menuju sebuah toples kecil di ujung meja. Di dalamnya berisi inti dari salah satu koloninya. Inti itu bagaikan nyawa bagi Grenoiave. Tubuh mereka tidak abadi. Inti juga akan hancur saat tak ada tubuh baru dalam kurun waktu tertentu, tergantung seberapa kuat mereka. Grenoiave perlu berganti tubuh agar bisa terus hidup. Inti merupakan satu-satunya organ mereka yang dapat dipindahkan ke tubuh yang baru. Siklus itu terjadi terus-menerus. Grenoiave selalu saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama meski dalam tubuh yang berbeda.
Hal itu membuat koloni mereka punya ikatan yang sangat erat. Inti yang sedang dilihat oleh Solar adalah milik kapten kapalnya, Jazho. Jazho sudah terpisah dari tubuhnya dalam waktu yang tak sebentar. Pendar energinya nampak memudar. Itulah sebabnya Solar hanya dapat merasakan sinyal lemah tanpa mengetahui identitas Jazho lebih awal.
"Barang apa yang kamu cari?" Tanya Adam di belakang Solar. Ia mengeluarkan ponselnya dari jeans. "Perlu menelepon Theo?"
"Jangan!" Solar berbalik, "Maksudku tidak perlu."
Adam mengangguk, ia memasukkan kembali ponselnya. "Mau kubantu?" Adam mendekat. "Mungkin aku bisa..." Tatapannya berubah kosong. Ia tak menyelesaikan kalimatnya karena sedang dalam pengaruh Solar, membuatnya dalam kondisi pause, alias berhenti sejenak. Kesempatan itu digunakan Solar untuk mengambil toples berisi Jazho dan menyimpannya. Ia berniat untuk mencari tubuh Jazho saat pintu dibuka oleh Profesor.
"Adam? Kenapa berdiri di situ?" Suara Profesor menyadarkan Adam dalam sekejap. Bule ikal itu mengerjap beberapa kali dan menggelengkan kepala, seakan sedang mengusir kabut tipis yang memenuhi kepalanya.
"Umm..." Sejenak, Adam kesulitan berorientasi dengan sekitar.
"Kamu baik-baik saja?" Profesor mengguncang bahunya pelan, membuatnya sadar sepenuhnya.
"Tadi ada..." Adam lupa apa yang baru saja dikerjakannya. "Apa itu?" Perhatiannya dialihkan oleh botol yang dipegang Profesor.
"Keluarga Theo menyimpan banyak anggur bagus dan champagne di dapur. Kamu tahu dia punya tiga dapur dengan fungsi berbeda? Rumah ini benar-benar idaman." Celoteh Profesor sambil menunjukkan anggur berusia sepuluh tahun di tangannya dengan senyum mengembang di wajah.
Solar menghilang tanpa jejak. Ia memanipulasi dirinya menjadi genangan air dan diam-diam keluar lewat sela-sela pintu yang terhubung dengan balkon. Begitu turun ke tanah, ia berubah bentuk menjadi sosok Selena lagi. Dengan Jazho di tangan, ia perlu mencari lautan agar dapat berkomunikasi dengannya sebelum inti Jazho hancur karena terlalu lama terpisah dengan tubuhnya.
***