
Meskipun besok adalah hari pertandingan yang ditunggu semua orang, Reagan tak merasa gugup sedikitpun. Ia masih melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Pulang dari sekolah ia langsung ke rumah anak didiknya untuk mengajar les privat bahasa Inggris. Sorenya ia pulang ke rumah dan membantu Bapak berjualan buah. Selepas senja, baru ia dapat mandi dan beristirahat. Waktu istirahatnya-pun ia gunakan untuk mengerjakan beberapa PR untuk minggu depan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat semua PR selesai dikerjakan. Reagan menunggu kantuk datang dengan mengerjakan latihan soal matematika dan fisika sekaligus. Untuk membantunya berkonsentrasi, ia memutar playlist lagu di ponselnya untuk didengarkan sambil belajar. Semalaman itu ia larut dalam angka-angka dan rumus. Ia tak memberi kesempatan pada hal apapun di luar itu. Reagan sangat berusaha keras. Cukup keras hingga saat nama Selena terlintas di kepala selama sepersekian detik, konsentrasinya langsung buyar. Ia meletakkan pensil dengan kasar lalu menghela napas.
Padahal ia hanya perlu tetap sibuk sampai kantuknya datang agar dapat segera tidur dan tidak memikirkan Selena sama sekali. Tapi ia tidak bisa. Wajah Selena selalu muncul secara konstan di kepalanya seharian ini. Perubahan sikap Selena dianggapnya sangat menjengkelkan. Tanpa sadar, ia telah menulis nama Selena di atas buku latihan soal dengan pensil yang ia pegang. Anehnya, jantungnya selalu berdegup kencang meski dengan menyebut namanya saja. Ia tidak dapat mengendalikannya. Begitu sadar dengan apa yang baru dilakukannya, Reagan langsung menghapus tulisan itu buru-buru sampai kertasnya robek.
"Sedang apa?"
Reagan menoleh dari meja belajarnya lalu mendecakkan lidah dengan sebal saat mendapati bayangan Selena sedang duduk di pinggir tempat tidurnya. Bahkan sekarang ia membayangkannya juga. Reagan mengacak rambutnya frustasi. Bayangan Selena itu berdiri menghampirinya. Kini kedua tangannya ditahan oleh tangan bayangan Selena agar tak menjambak rambutnya lagi. Bayangan Selena nampak nyata. Reagan sontak memekik terkejut. Buru-buru ia menutup mulutnya sendiri agar tidak menganggu Bapak yang sedang tidur di kamar sebelah.
"Selena???" Kedua mata Reagan membelalak terkejut.
Teman sekelas yang sering muncul dan hilang di kepalanya itu mengangguk. "Sedang apa?" Ulangnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Bisik Reagan. Ia beranjak untuk memastikan jendelanya yang masih terkunci. "Darimana kamu masuk?!!" Sekarang ia mulai meragukan kewarasannya sendiri karena membayangkan sosok Selena senyata ini di dalam kamarnya saat tengah malam.
Apa dia hantu?, pikirnya.
"Oh, itu..." Sosok nyata-tak nyata di depannya ini menggaruk dahinya, nampak berpikir. "Aku membuat diriku cukup kecil agar bisa masuk lewat sela-sela jendelamu."
"Hah?" Reagan tidak mengerti sama sekali, seakan sosok di depannya ini sedang berkomunikasi dengan bahasa Swahili.
"Aku tidak bermaksud datang tib-.. eh?"
Reagan sudah ambruk ke lantai. Ia pingsan.
***
Solar tidak bermaksud menakuti Reagan dengan muncul tiba-tiba di hadapannya saat tengah malam begini. Tapi ia tak punya tujuan lain. Rencananya berantakan semua. Ia tak sempat menghapus ingatan Theo tentang Jazho ataupun dirinya karena keluarga Christian keburu datang. Ia juga tak sempat melaksanakan skenarionya untuk bunuh diri dengan membakar rumah Selena. Rencananya tidak ada yang berhasil. Setelah Theo tahu kebenaran tentang dirinya, mana mungkin Solar berani kembali ke lingkungan itu. Solar harus pergi agar semua orang tidak menemukannya. Ia ketakutan karena kini semua orang sudah tahu kalau Selena tewas. Pemilik tubuh ini sudah ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Bagaimana ia bisa muncul dan menghadapi semua orang? Mereka pasti mengira kalau Selena tewas karena dibunuh olehnya.
Satu-satunya tempat yang terlintas di pikiran Solar adalah rumah Reagan. Solar terlalu kalut untuk membuat rencana kemunculan yang tidak mengejutkan Reagan. Kini Reagan tiba-tiba jatuh pingsan. Solar yakin sempat mendengar bunyi 'bugg' saat dahi Reagan menabrak lantai. Solar kebingungan. Ia memindahkan tubuh Reagan di atas tempat tidur dan menyentuh dahinya agar dapat menyalurkan energi untuk membuat Reagan lekas sadar. Bagaimanapun, Solar butuh bantuannya.
Reagan terbangun dengan sebuah sentakan. Ia langsung duduk dan melihat Solar masih berada di kamarnya.
"Tidak sampai tiga menit." Jawab Solar.
Reagan menelan ludah. "Kenapa kamu ada di sini?" Kedua mata Reagan membulat ketakutan. Ia masih belum menerima kenyataan bahwa Selena muncul di kamarnya.
"Aku butuh bantuanmu, Reagan."
Reagan mendengus, "Sebenarnya kamu ini apa?"
Solar mengulurkan tangannya, namun Reagan menarik diri jauh-jauh sampai ke sudut kamar. Ia takut bersentuhan dengannya.
"Jika kamu memberiku kesempatan untuk membuatmu melihat, maukah kamu membuka pikiranmu lebar-lebar?" Solar balik bertanya.
"Melihat apa?" Tanya Reagan. Ia menarik selimutnya sampai leher.
"Akan kutunjukkan padamu." Lagi-lagi Solar mengulurkan tangannya. Ia membiarkan Reagan untuk memutuskan. Jika Reagan masih tidak mempercayainya, maka Solar tidak akan memaksa.
Reagan menelan ludah. Ia memandangi tangan Solar yang masih terulur. Akal sehatnya sedang berdebat untuk menerima ulurannya atau tidak.
"Katakan dulu apa yang sedang terjadi, maka akan kupertimbangkan tawaranmu."
"Kamu tidak akan percaya jika aku mengatakannya."
Reagan terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Solar ada benarnya. Reagan menduga kalau hal-hal yang akan dikatakan Solar pasti hal yang absurd. Kini pilihan ada di tangannya. Sosok di depannya ini tidak akan menyakitinya, kan?
"Aku tidak akan mencelakaimu. Yang kuminta hanya satu kesempatan agar kamu percaya." Ujar Solar seakan membaca pikiran Reagan.
"Baiklah." Reagan melempar selimutnya. "Aku juga penasaran omong kosong apa yang mau kamu berikan-"
Solar menyentuh lengannya. Di saat bersamaan, pikiran Reagan serasa ditarik paksa dan dibawa terombang-ambing melewati ruang dan waktu.
***