SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Dia Selena



Reagan sedang berdiri di teras, memperhatikan sepeda hybrid baru merk Polygon yang sudah sejak semalam menginap di rumahnya. Hari ini ia sengaja tak menggunakan sepeda itu karena sudah berniat untuk mengembalikannya, namun ia tak menyangka kalau dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam pikirannya sudah berubah. Percuma saja dia keluar uang untuk biaya pulang pergi ke sekolah naik angkot seharian ini.


Semua ini karena Selena, pikirnya.


Sikap Selena sangat berubah belakangan. Perubahan itu dimulai saat insiden di laut seminggu yang lalu. Padahal sejak Reagan pindah ke SMA Harapan Pertiwi saat kelas sepuluh semester dua lalu, keduanya selalu menghindari satu sama lain. Tidak seperti sekarang, saat kelas sepuluh mereka berbeda kelas. Reagan tahu Selena tak pernah menyukainya. Cewek itu selalu memandangnya seperti kotoran, kalau bukan ekspresi dingin, pasti ekspresi jijik yang diperlihatkan. Jauh di lubuk hatinya, Reagan tahu kalau Selena sebenarnya tidak seburuk itu. Tanpa diminta, ingatan Reagan kembali pada kejadian satu tahun yang lalu.


Kala itu merupakan bulan kedua Reagan bersekolah di SMA Harapan Pertiwi. Ia tidak pandai bergaul, jadi belum banyak yang dikenalnya. Ia dengar beberapa nama, seperti Christian, Selena, dan Mindy, namun tidak benar-benar tahu siapa mereka. Reagan mengira bahwa ketiga orang itu pasti berada dalam satu geng idola yang sama. Seperti lazimnya sekolah-sekolah lain, sekolah barunya ini juga memiliki tokoh-tokoh idola. Christian terkenal di kalangan murid perempuan, sedangkan Mindy populer di kalangan murid laki-laki. Hanya satu nama yang seakan tabu untuk dibicarakan. Selena.


Reagan pertama kali melihat Selena saat ia sedang mendengar kasak kusuk tentang didrop outnya beberapa senior dari sekolah. Rumor yang berhembus kencang mengatakan kalau semua insiden itu berpusat pada Selena. Ia mendengarnya di kantin, dan pada saat itu sosok Selena sedang lewat di depannya. Semua kasak kusuk berhenti sesaat ketika cewek itu lewat dengan kepalanya yang selalu menatap ke depan, terkesan arogan. Hanya Mindy, satu-satunya murid perempuan yang terlihat sering berkeliaran di sekitarnya. Mungkin hanya dia temannya. Begitu pikir Reagan saat itu.


Hari Rabu adalah hari olahraga untuk kelas Reagan. Pelajarannya dimulai setelah jam istirahat pertama. Biasanya anak laki-laki dari kelasnya akan dengan cueknya ganti baju di kelas. Namun saat itu perut Reagan tiba-tiba mulas karena tadi pagi sarapan ayam sambal. Begitu bel masuk berbunyi, ia langsung lari ke toilet.


Toilet laki-laki berada di gedung yang terpisah dari gedung kelasnya. Di samping koridor menuju toilet, ada sebuah pohon beringin besar yang punya cabang merambat sampai hampir merubuhkan tembok pembatas sekolah, namun tembok itu kini sudah dipasangi kawat agar tak ada yang bisa bolos lewat sana. Pohon beringin itu sudah dicap angker oleh semua angkatan. Banyak rumor beredar kalau penampakan kuntilanak dan genderuwo pernah terlihat di sana. Bahkan di siang bolong sekalipun. Hal itu tidak terlintas di benak Reagan saat dalam perjalanannya menuju toilet.


Langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara gemerisik dari atas pohon beringin. Reagan menelan ludah. Semua cerita yang didengarnya tentang penghuni pohon itu berkelebat di kepala, membuatnya mengeluarkan keringat dingin karena menahan sakit perut sekaligus kengerian. Reagan tak berani melihat ke atas pohon. Tubuhnya mati rasa. Ia ingin sekali segera masuk toilet untuk menyelesaikan hajatnya, namun di sisi lain ia juga ketakutan kalau para penunggu pohon beringin mengganggunya sampai ke toilet.


Ketika ia sangat bingung dan ketakutan, terdengar bunyi 'gedebug' diikuti suara robekan kain dan seseorang yang mengaduh. Mau tak mau Reagan menoleh untuk melihat penghuni mana yang menyebabkan keributan itu. Hal yang dilihatnya membuatnya terkesiap.


Selena sedang terduduk di tanah dengan rok robek setinggi pinggul. Cewek itu sedang kerepotan menahan sakit akibat jatuh dari pohon sambil berusaha memperbaiki roknya yang sebenarnya sudah sangat mustahil untuk diperbaiki. Seekor anak kucing berada di sampingnya. Dari penampakan itu, Reagan langsung dapat menyimpulkan kalau Selena terjatuh ketika sedang berusaha menyelamatkan seekor kucing yang terjebak di atas pohon.


Reagan tak mengatakan apa-apa saat ia melemparkan celana olahraganya ke arah Selena. Ia merasa bersalah karena celana itu rupanya mendarat di atas kepala cewek yang terkenal menyeramkan. Tanpa 'ba bi bu', ia langsung terbirit-birit menuju toilet untuk melaksanakan hajatnya.


Pada pelajaran olahraga hari itu, ia harus rela dihukum squat jump sebanyak tiga puluh kali karena memakai bawahan seragam sekolah, bukannya celana olahraga.


Beberapa hari setelah kejadian hari itu, Reagan terus memikirkan bagaimana caranya ia meminta kembali celana olahraga miliknya pada Selena. Ia memperhatikan Selena sudah mengenakan rok seragam yang baru. Mungkin dia punya beberapa lusin rok seragam yang sama. Reagan tak pernah dapat kesempatan bagus untuk bertanya pada Selena. Cewek itu tak pernah sendirian. Jika tak bersama Mindy, maka dia pasti sedang bersama Christian. Reagan hampir menyerah.


Bagaimana Reagan akan mengikuti pelajaran olahraga minggu depan jika ia tak punya celananya?


Suatu pagi, saat Reagan sedang piket kelas yang mengharuskannya untuk datang lebih pagi, ia menemukan celana olahraganya sudah terlipat rapi di meja. Reagan tak kuasa untuk tak mengendusnya, memastikan kalau celana itu sudah dicuci. Tak hanya bersih dan wangi, celana itu juga sudah disetrika. Reagan membuka lipatannya, mencari-cari kertas memo yang mungkin ditinggalkan Selena untuknya. Nihil. Cewek itu tak meninggalkan apa-apa. Bahkan berterima kasihpun tidak.


Reagan mengira hari itu adalah kali terakhir ia akan dibuat terkejut di sekolah. Namun, nyatanya tidak. Tak ada angin, tak ada hujan, seorang cewek menembaknya saat istirahat di kantin. Belakangan ia tahu nama cewek itu adalah Wenda, cewek berbando kuning yang suka pakai make up di sekolah. Teman-teman satu gengnya menyemangati di belakang cewek itu saat ia duduk di bangku kosong sebelah Reagan yang sedang makan bakso. Reagan hampir tersedak kuah bakso saat Wenda memintanya menjadi pacar. Reagan langsung menolaknya di tempat.


'Kenapa?' Tanya Wenda saat itu.


'Aku bahkan tidak mengenalmu.' Jawab Reagan. 'Kenapa kamu mau pacaran denganku?' Lanjutnya.


'Kenapa tidak? Aku sudah memperhatikanmu sejak lama.'


'Benarkah? Belum genap dua bulan aku sekolah di sini.' Reagan meneruskan makan bakso dengan cueknya. Merasa malu dan gengsi, Wenda meninggalkan Reagan sambil menghentakkan kaki dengan kesal.


Belum selesai keterkejutannya hari itu, tiba-tiba ia menemukan sebungkus rokok di dalam tasnya tepat sebelum Kepala Sekolah melakukan sidak ke kelasnya. Wajahnya langsung pucat. Rasanya seluruh darah di kepala mengalir turun hingga membuatnya jatuh terduduk di kursinya. Ia tak tahu rokok itu milik siapa. Ia dan bapak bukanlah perokok. Jika ketahuan merokok, mungkin bapak akan langsung memenggalnya. Reagan memasukkan rokok itu ke dalam tas dengan tangan gemetar. Bagaimana ini? Dia tak mau membuat masalah padahal masih baru di sini. Kepala Sekolah ditemani wali kelasnya berkeliling memeriksa tas dan kolong meja para murid. Sebuah keranjang berisi barang sitaan seperti majalah, komik, novel, dan mp3 player dibawa kemana-mana oleh wali kelas dengan wajah galak.


Kini tiba giliran mejanya untuk diperiksa. Tubuh Reagan sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Wajahnya sepucat kertas. Tangannya gemetaran tak terkendali.


'Buka tasmu!' Perintah Kepala Sekolah. Sebuah tongkat kayu yang selalu ia bawa kemana-mana saat sidak ditepuk-tepukkan ke telapak tangan.


Reagan menggenggam resleting tasnya, ragu-ragu. Ia mengkalkulasi hukuman apa yang akan ia terima jika kedapatan membawa sebungkus rokok ke sekolah. Apakah ia akan didrop out?


'Ayo cepat buka!' Bentak Kepala Sekolah, mulai kehilangan kesabaran.


'KRING KRIIINGGGGGGGG KRIIIIIIIIINNNNGGGGGGGG'


Seisi sekolah dikejutkan oleh suara alarm kebakaran yang baru dipasang kemarin. Mereka belum sempat melakukan simulasi kebakaran. Alhasil, seluruh sekolah gempar. Tidak tahu bagaimana prosedur yang harus dilakukan saat kebakaran terjadi. Para guru ribut menenangkan para siswa yang histeris. Sedangkan yang tidak histeris, saling berebutan keluar dari kelas masing-masing. Banyak yang terjatuh dan terinjak-injak. Mereka berkumpul di dekat gerbang sekolah yang telah disepakati tanpa musyawarah sebagai titik kumpul jika sesuatu terjadi di sekolah.


Reagan menjadi satu-satunya orang yang masih belum sadar dari syok sebelumnya. Ia hanya menatap kosong teman-teman sekelasnya yang berlarian keluar dalam gerak lambat. Kelas porak-poranda seperti habis kena ****** beliung. Hanya Reagan yang masih tertinggal di kelasnya, berdiri mematung tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Reagan baru tersadar saat melihat Selena dengan santainya lewat di depan kelasnya yang sepi.


'Semua orang berkumpul di gerbang. Tidak ikut?' Selena menyandarkan bahunya di pintu.


Reagan tergagap lalu mengambil tasnya untuk menghampiri Selena. 'Apa yang terjadi?'


'Aku menyalakan alarm kebakaran untukmu. Kita impas.' Jawabnya datar.


Reagan sukses melongo,'Apa?'


'Sebaiknya rokok itu cepat kamu buang sebelum ada yang melihat.' Selena membetulkan letak tasnya di pundak. Saran darinya disambut kecurigaan oleh Reagan. Kedua mata Reagan berkilat marah. Melihat perubahan ekspresi Reagan, Selena memutar bola mata sebelum menjelaskan.


'Wenda. Perempuan yang tadi siang kamu tolak yang melakukannya. Dia bermaksud untuk menjadikanmu pacar agar kamu bisa membantunya mengerjakan tugas. Setelah kamu tolak, dia jadi marah dan ingin membuatmu terkena masalah. Dia meletakkan rokok itu di dalam tasmu sebelum melaporkan pada Kepala Sekolah ada siswa yang merokok.'


Reagan mengerjap beberapa kali tanpa bisa berkomentar.


'Kita impas.' Lagi-lagi Selena mengatakan itu, seakan segala keributan yang ia timbulkan barusan berdasarkan dorongan dari Reagan.


'Bagaimana kamu tahu kalau pelakunya adalah Wenda?'


'Aku selalu punya cara.'


'Mau kemana?' Cegat Reagan saat melihat Selena akan pergi.


'Menyerahkan diri. Ulahku tertangkap kamera CCTV. Sebaiknya aku mengaku sebelum Kepala Sekolah menyuruh orangtuaku datang untuk menyidangku bersama Komite.' Selena melambaikan sebelah tangannya dengan gaya acuh.


Reagan tiba-tiba tersadar, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang akan dia lakukan dengan sepeda ini?


Di satu sisi dia merasa kesal dan malu karena harus mendapat belas kasihan orang kaya seperti Selena. Namun di sisi lain, dia juga butuh sepeda itu. Jarak antara rumah ke sekolah tidaklah terlalu jauh. Tapi jika setiap hari jalan kaki, maka akan cukup merepotkan. Belum lagi jika bapak sedang butuh orang untuk mengirimkan pesanan buah ke pelanggan. Akhirnya Reagan memutuskan untuk menerima saja sepeda itu. Toh, tadi siang Selena sudah bilang akan melupakan semua hutang budi yang pernah ia terima jika mengambil sepeda itu sebagai hadiah. Reagan tidak rugi apa-apa.


"Kenapa bengong di sini? Segitu sukanya sama sepeda baru?" Bapak menepuk pundaknya dari belakang, membuyarkan lamunannya.


Tentu saja bapak tidak tahu tentang darimana sepeda ini berasal. Reagan hanya bilang kalau dia menang undian berhadiah karena sering mengumpulkan tutup botol minuman ringan. Bapakpun menduga kalau sepeda ini harganya tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah. Bapak malah bersyukur karena Reagan mendapat sepeda pengganti karena sepeda lamanya yang usang sudah hilang. Reagan berbohong dengan mengatakan kalau sepeda lamanya dicuri orang saat ia sedang parkir untuk membeli minuman di minimarket.


Saat sepeda itu tiba di depan rumahnya, Reagan sempat tak percaya. Tidak banyak orang di lingkungan ini yang tahu tentang seberapa berharga sepeda itu. Awalnya Reagan juga tidak tahu berapa harganya, namun setelah meng-google merk dan tipe sepeda barunya, ia sampai harus menampar wajahnya berkali-kali untuk memastikan kalau sepeda itu nyata dan bukan mimpi. Dari situlah ia menduga kalau sepeda ini adalah pemberian Selena, mengingat betapa gigihnya dia mengejar Reagan demi memberikan dia hadiah dengan kartu kredit mengkilap yang ia miliki.


"Reagan berangkat dulu ya, pak." Reagan mencium tangan bapak buru-buru. Ia ada jadwal mengajar les privat sore ini. Tasnya penuh dengan buku-buku materi.


"Tolong kirimkan pesanan bu Tari di gang sebelah, ya?" Bapak menyerahkan bungkusan buah-buahan yang sedari tadi ia bawa kepada anaknya. Setelah menghirup napas dalam-dalam, Reagan mengantisipasi semangatnya agar tak terlalu berlebihan saat mencoba sepeda baru untuk pertama kali.


***