SOLAR & The Specialists

SOLAR & The Specialists
Adaptasi



Solar menghela napas lega begitu pintu kamarnya ditutup. Sepeninggal Ivanka, ia langsung merangkak menuju kamar mandi. Tubuhnya lemas sekali karena perjalanan jauh. Sesekali ia berubah menjadi wujud aslinya tanpa sengaja. Di dalam kamar mandi, Solar masuk ke dalam bath tub lalu menyalakan pancuran dengan kecepatan penuh di suhu dingin. Kran air juga ia buka. Solar minum dengan rakus begitu tetes pertama air keluar.


Bath tub tak pernah terisi penuh sejak Solar membuka kran pertama kali. Ia menenggelamkan tubuh Grenoiavenya di dasar bak mandi sambil beristirahat. Selama waktu pemulihannya itu, Solar memikirkan cara untuk mengatur sebuah kecelakaan agar semua orang menganggapnya mati. Dengan begitu, ia bisa kembali ke koloni dengan tenang. Jika ia tiba-tiba menghilang dalam wujud Selena, semua orang yang dikenalnya pasti akan gempar. Apalagi Selena bukan berasal dari keluarga sembarangan. Ditambah masalah Theo dan tim penelitinya yang telah menemukan Jazho. Solar tak mau ambil resiko jika mereka mulai mengaitkannya satu sama lain.


Perlu waktu satu jam baginya agar bisa kembali pulih seperti sedia kala. Selesai berpakaian dan mengikat rambutnya, Solar langsung turun ke bawah menemui orangtua Selena. Mereka sedang duduk santai sambil menonton TV saat ia tiba. Orangtua Selena yang Solar tahu sedang mengurus perpisahan resmi mereka, namun yang dilihat Solar saat ini cukup membuatnya bertanya-tanya tentang hubungan antar manusia.


Apakah ada yang dilewatkannya selama ia pergi?, pikirnya.


Solar mengambil tempat di kursi dekat mereka, memperhatikan kedua orangtua Selena diam-diam. Namun tak berapa lama, keduanya langsung menyadari kehadirannya.


"Kamu ingin makan dulu?" Tanya Ivanka.


Solar menggeleng, "Apa ada yang terjadi?" Tanyanya penasaran.


Edgar mematikan TV lalu mengatur duduknya agar lebih nyaman. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Ivanka. Keduanya juga sudah memakai cincin kawin mereka lagi. Solar menebak kalau mereka sudah rujuk kembali.


"Kami ingin bicara denganmu." Ujar Edgar memulai. Ia memandang istrinya, meminta dukungan. Ivanka mengangguk agar Edgar meneruskan. "Sebelumnya Papa dan Mama ingin meminta maaf karena selama ini telah bertindak egois. Kami tidak tahu harus mulai darimana." Ivanka mengelus punggung tangan suaminya, diam-diam memberi dukungan lewat sentuhan.


"Kalian akan bercerai. Benar, kan?" Solar membantu mereka untuk memulai.


"Kami sudah putuskan untuk rujuk kembali. Perceraian bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Papa dan Mama sangat terkejut ketika tahu kalau selama ini kamu menyadarinya. Jika saja Opa tidak memberitahu kami kalau kamu menginginkan rumah ini alih-alih hak asuh salah satu dari kami... mungkin kami tak akan pernah tahu, sayang. Papa dan Mama merasa sangat malu padamu."


"Tidak seharusnya kamu mencemaskan hal lain selain pendidikanmu. Kami merasa sangat menyesal telah membuatmu khawatir dan sedih. Jika saja ada hal yang bisa membuatmu merasa lebih baik saat ini, kami siap melakukannya untukmu, nak." Sambung Ivanka. Kedua matanya berkaca-kaca. "Mama berencana untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah." Lanjutnya.


"Apa? Bagaimana dengan klinikmu?" Edgar agak terkejut. Mereka belum membicarakan hal ini.


"Aku mempekerjakan banyak karyawan yang kompeten. Akan kuusahakan untuk pulang tepat waktu dan tidak bekerja pada akhir minggu. Sebagai gantinya, kamu juga harus lebih sering tidur di rumah. Tidak ada acara menginap di rumah sakit lagi! Apapun alasannya! Kita harus bekerja sama untuk memperbaiki semua ini." Ivanka menatap suaminya dengan senyum merekah di bibir, meskipun air mata terus mengalir di pipinya.


Edgar kehabisan kata-kata. Ide Ivanka merupakan hal yang selama ini ia inginkan. Tentu saja dia senang dengan keputusan itu.


Solar terdiam cukup lama, memberi waktu kedua orangtua Selena untuk bertukar pandangan penuh arti. Pada akhirnya Solar menarik senyum tipis di bibir.


"Terima kasih karena kalian sudah berbaikan." Pikiran Solar langsung dipenuhi oleh Selena. Jika saja Selena melihat ini, mungkin dia akan senang.


Tentu saja dia akan senang. Tidak ada keraguan mengenai itu.


***


SMA HARAPAN PERTIWI


Ini adalah hari ketiga Selena tak masuk sekolah. Wali kelas mencatatnya sebagai alpha. Bahkan Mindy, satu-satunya teman Selena di kelas ini juga tidak tahu alasan kenapa Selena tak muncul di sekolah selama tiga hari berturut-turut. Reagan merasa konyol karena menyadari kalau dirinya cemas. Ia selalu mendapati dirinya sedang memandangi pintu selama jam pelajaran berlangsung. Reagan tidak bisa konsentrasi seharian.


"Reagan! Kemari!" Pelatih memanggilnya dari pinggir lapangan.


"Ya, coach?" Reagan mengelap keringat di wajah dengan menggunakan bagian bawah kaosnya.


"Ada apa denganmu? Ada masalah di rumah? Mainmu kacau sekali!" Tegur pelatihanya dengan dahi berkerut.


Reagan memandang timnya yang lanjut bertanding tanpa dirinya. Kali ini Christian yang memegang bola. Setelah mengelabui beberapa pemain lawan, ia melakukan lemparan three-point, Bola masuk ke ring tanpa hambatan. Suara peluit dari wasit menandakan kalau Christian sukses mencetak angka.


"Saya kurang fokus, coach." Jawab Reagan kemudian.


"Kalau itu aku sudah tahu. Yang ingin kutanyakan, apa alasannya?"


Reagan mengedikkan bahu, membuat pelatihnya menghela napas.


"Kurang dari seminggu kita ada pertandingan. Kamu harus fokus, dong! Singkirkan dulu masalah-masalah yang tidak relevan dengan pertandingan sampai kita memenangkan kejuaraan! Kalau kita masuk final, kesempatanmu untuk mendapatkan sponsor akan lebih besar."


Giliran Reagan yang menghela napas. Menjadi seorang atlet profesional bukanlah mimpinya. Ia menekuni basket karena membutuhkan prestasi di bidang non-akademik sebagai tambahan portofolionya agar bisa diterima di Universitas terkemuka. Ia tak bisa hanya mengandalkan piagam-piagam olimpiade saja. Rasanya tidak benar. Berbeda dengan Christian yang menjadikan basket sebagai hobi dan minatnya. Motivasi Reagan untuk mendapatkan sponsor tidak mungkin sebesar motivasi Christian.


"Jika tak ada perubahan baik, pilihanmu satu-satunya adalah duduk di bangku cadangan!" Ancam pelatih. Kemudian ia meniup peluit miliknya. "Istirahat sepuluh menit!!" Serunya untuk membubarkan latihan.


Reagan duduk di pinggir lapangan. Ia menuangkan sebotol air dingin ke kepalanya. Namun tiba-tiba ia teringat Selena yang terobsesi pada air. Menyadari kekonyolannya sendiri, Reagan melempar botol itu ke tanah dengan geram. Christian menghampirinya. Ia memungut botol itu dan menghabiskan sisanya.


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri! Kemampuanmu memang tidak sebaik aku." Ucapan Christian terdengar amat menyebalkan di telinga Reagan, tapi ia memilih untuk mengabaikannya.


"Temanmu sudah dua hari ini absen. Dia kemana?" Reagan memutuskan untuk mengakhiri rasa penasarannya.


Christian tersenyum sinis, "Kalau aku tidak mau jawab, apa yang akan kamu lakukan?"


"Terserahlah." Reagan mendengus kesal. "Aku tidak sepenasaran itu."


"Karena kita sedang membahasnya, ada yang ingin kukatakan." Christian memandang Reagan sambil berdiri. "Jauhi. Selena!"


"Kamu kira aku tidak mau?"


Christian mengernyit, "Kamu tidak kelihatan ingin menjauhinya." Bantahnya.


Reagan memutar bola mata. "Lagipula, sejak kapan pergaulanku jadi urusanmu?"


Giliran Christian yang mendengus, "Aku tidak peduli dengan pergaulanmu."


Reagan mendecakkan lidah. Bicara dengan Christian rasanya sama seperti bicara dengan tembok. Reagan tak mengerti apa yang membuat sosok Christian begitu diidolakan cewek-cewek di sekolah, padahal dia cuma jago pamer. Otaknya-pun kosong.


"Aku mengawasimu." Lanjut Christian setengah mengancam. Ia mengakhiri pembicaraan dengan melemparkan botol kosong pada Reagan. Reagan berhasil menangkapnya sebelum botol itu menabrak wajahnya. Ia meremas botol kosong itu untuk menyalurkan emosinya yang memuncak.


***


Adam menghempaskan tubuhnya di atas kursi meja makan. Ia kelelahan setelah mengobrak-abrik rumah Theo untuk mencari toples kecil berisi inti dari makhluk asing yang ditemukan Theo di laut. Toples itu menghilang. Ia merasa agak bersalah karena menurut Theo, ia menitipkan toples itu padanya terakhir kali. Tak lama, Profesor dan Theo menyusul ke meja makan. Keduanya juga lesu karena tak mendapat hasil.


Asisten rumah tangga meletakkan hidangan terakhir di meja makan. Kini hidung mereka dipenuhi oleh aroma makanan. Kelesuan mereka tergantikan oleh rasa lapar. Tanpa dikomando, mereka mulai mengisi piring masing-masing.


"Ayam mentega! Kesukaanku!" Ujar Adam senang. Ia mengambil dua sendok ke atas piringnya.


"Jika kita tak mendapatkan inti itu, apakah mereka tidak mau membantu kita?" Tanya Profesor.


"Mereka akan tetap membantu. Inti itu seperti informasi tambahan bagi kita. Jika kita memilikinya, maka penelitian akan lebih lengkap." Theo menyuapkan nasi ke mulut.


Kedatangan Christian mengalihkan perhatian mereka sejenak. Ia berjalan lesu melewati meja makan. Kancing seragamnya dibiarkan terbuka karena ia mengenakan kaos putih di baliknya. Tasnya tergantung di sebelah pundak, sedangkan tangannya menenteng bola basket.


"Duduklah, Christian!" Adam menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. "Kita makan bersama."


Christian mendengus. "Jadi sekarang aku tamunya?" Gerutunya.


Adam berpandangan dengan Profesor. Seharusnya mereka tahu kalau karakter Christian mungkin lebih parah dari Theo.


Kakaknya bangkit untuk menghampiri Christian.


"Telepon Selena! Ajak dia makan malam di sini." Theo memang perlu melihat Selena lagi. Entah apa yang akan dilakukannya jika bertemu, ia hanya ingin memastikan Selena tak memiliki sangkut paut dengan mayat dalam perut Billie.


"Selena tidak ada di rumah. Dia tak masuk sekolah."


"Kenapa? Dia sakit?" Alasan liburan sampai bolos sekolah sangat tidak cocok dengan sifat Selena yang ambisius. Bahkan Theo tahu hal itu.


Kemudian ia pergi ke kamarnya, lalu membanting pintu, mengagetkan semua orang. Theo hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Apa mereka pacaran?" Adam tidak dapat menahan rasa penasarannya. "Adikmu dan Selena, maksudku."


"Aku tidak tahu. Tapi kedua orangtua kami berharap untuk menjodohkan mereka."


"Ide yang bagus. Kulihat Christian juga menyukainya."


"Jangan katakan apa-apa padanya! Dia anak pembangkang. Kalau tahu ternyata dia dijodoh-jodohkan begitu, dia akan berulah sampai perjodohannya batal, tidak peduli sebesar apapun dia menyukai Selena."


"Perjodohannya belum resmi?"


Theo menggeleng. "Baru rencana. Mamaku merencanakan perjodohan mereka berdua dengan Mama Selena saat Selena lahir. Mungkin saja batal sebelum dimulai."


Theo kembali ke kursinya untuk meneruskan makan. Sekarang kepalanya dipenuhi oleh Selena yang tiba-tiba menghilang. Menurutnya momen menghilang Selena terlalu kebetulan jika terjadi bersamaan dengan menghilangnya inti dari makhluk asing yang ia temukan.


"Aku penasaran dengan usia Mamamu saat melahirkan Christian. Berapa usianya sekarang?" Lanjut Adam.


"Tahun ini enam puluh, kurasa. Orangtuaku melakukan program bayi tabung untuk mendapatkan Christian. Mereka ingin anak perempuan. Setelah Christian lahir, mereka menyerah."


"Kenapa tidak adopsi saja?" Profesor ikut menimpali.


"Jika mereka tidak bisa punya anak perempuan sendiri, satu-satunya anak perempuan yang ingin mereka adopsi di dunia adalah Selena. Kami tidak bisa melakukannya. Kakek dan nenek Selena semuanya menyeramkan."


"Menyeramkan bagaimana?"


"Kakek Selena adalah pemilik yayasan yang menaungi banyak grup Rumah Sakit dan Sekolah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus. Neneknya dokter gigi. Keduanya sama-sama disiplin. Mereka sering menghukum Selena jika anak itu melakukan kesalahan. Contohnya waktu Selena masih Sekolah Dasar. Anak itu ingin bermain seharian dengan Christian dan tidak mau pulang. Dia menangis dan terus merengek. Akhirnya Selena dikurung di kamar selama tiga hari tanpa makan malam."


"Wah!" Kedua mata Adam melebar saat mendengar cerita Theo. "Bagaimana dengan kakek dan nenek dari pihak ayahnya?"


"Mereka lebih menyeramkan. Kakek Selena punya firma hukum terbesar se-Indonesia. Kliennya para pejabat dan pengusaha. Menteri Pertahanan yang sekarang menjabat adalah teman main golf­nya. Beliau dan istrinya adalah pasangan Guru Besar Terbaik di bidang hukum. Nenek Selena jadi salah satu orang yang membawa Revisi Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Manusia menuju pengesahan."


"Aku mengerti jika mereka ahli hukum. Apa yang membuat mereka menyeramkan?"


"Aku pernah bertemu mereka berdua sekali saat makan malam waktu masih SMP. Hanya duduk di satu ruangan yang sama dengan mereka, aku ngompol di celana. Jantungku terus berdetak kencang sampai makan malam selesai. Aku benar-benar takut jika mereka mengajakku bicara."


"Semenakutkan itu?"


Theo mengangguk. "Mereka menyayangi Selena. Anak itu bisa saja mencuri dan menganiaya orang, tapi kakek nenek dari pihak ayahnya akan tetap menganggapnya seperti kristal yang mudah retak. Aura mereka saja yang terlalu kuat untuk orang lemah sepertiku."


***


Solar merasa sudah terbiasa hidup sendirian di rumah ini. Ia hampir tak menyadari jika sesungguhnya ada kerinduan pada diri Selena yang tertanam dalam memorinya. Kerinduan akan kasih sayang orangtuanya yang sudah beberapa bulan tak ia rasakan. Selena selalu membayangkan dirinya bagai isian roti sandwich dalam kehidupan orangtuanya. Sebagai pelengkap dan satu-satunya alasan mengapa mereka masih bersama. Walaupun tak banyak bicara, sebenarnya Selena dapat merasakan empati. Hanya saja dia tak pernah menunjukkannya. Ia menyimpannya saja tanpa pernah tahu bagaimana cara mengeluarkannya.


Jadi begitu orangtua Selena mengantarnya tidur malam ini, Solar dapat merasakan lubang menganga di hatinya. Ia tak dapat menemukan ekspresi apa yang tepat untuk menggambarkan keadaannya sekarang. Orangtua Selena kelihatan agak canggung karena tak biasa melakukan ini. Akhirnya Solar memutuskan untuk meringankan beban mereka dengan berpura-pura tertidur cepat. Ketika mereka pergi, ia menyelinap keluar lewat jendela.


"Syukurlah kamu akhirnya pulang!" Kepala Christian tiba-tiba muncul dari balik dahan pohon. Ia kelihatan agak kepayahan saat mencoba memanjat atap kamar dari cabang pohon sambil membawa sebuah kantong plastik berisi minuman. Solar membantunya agar mereka bisa segera duduk dengan nyaman.


"Kok tahu aku ada di sini?"


"Aku naik ke sini setiap malam, menunggumu pulang. Kulihat lampu kamarmu menyala, jadi aku datang."


Christian mengeluarkan sebuah botol air mineral, lalu memberikannya pada Solar. Dua kaleng bir dingin juga ia keluarkan untuk dirinya sendiri. Solar terus memandanginya aneh, saat ia berusaha membuka kaleng bir untuk diminum.


"Aku mencurinya dari kamar Theo. Kadarnya cuma lima persen. Aku tidak akan mabuk. Jadi tenang saja, oke?" Ujar Christian saat menyadari arti pandangan Solar. Ia meneguk hampir separuh isi kaleng. "Kamu menghilang beberapa hari." Christian menengadah ke langit kosong tanpa bintang.


"Ada yang harus kulakukan." Jawab Solar sekenanya.


"Kenapa tidak memberitahu kami?" Kini Christian memandangnya lekat-lekat. Seutas rambut menutupi alis kanannya yang terpotong akibat pernah terluka saat kecil dulu. Mendiang Selena selalu tahu kapan saat Christian sedang kesal padanya. Tatapan matanya akan setajam pisau seperti halnya saat ini. Wajahnya bersemu kemerahan. Solar tak tahu apakah itu karena alkohol atau emosi berlebihan. "Kamu menghilang seakan tak peduli dengan perasaan kami. Asal kamu tahu, Mindy jadi sangat gelisah sejak kamu pergi tiba-tiba."


"Itulah sebabnya aku kembali." Sahut Solar setengah menggumam.


"Kamu bilang apa?"


Solar buru-buru menggeleng, "Apa yang terjadi di sekolah?"


"Hmm... selain wali kelasmu yang selalu menanyakanmu, kamu tidak ketinggalan banyak. Mereka akan memanggil orangtuamu besok jika kamu tidak muncul lagi di sekolah. Jadi, lakukan sesuatu tentang itu!"


Solar membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Apa terjadi sesuatu padamu, Sel?" Christian berniat untuk bertanya sambil lalu. Seakan tak akan ada yang membuatnya terkejut, bahkan jika Solar mengaku habis membunuh orang selama kepergiannya. Padahal sesungguhnya, ia sibuk mengantisipasi apa yang akan Solar katakan. Ekspresi santai palsu itu ia tunjukkan dengan membuka tutup botol air.


"Orangtuaku tidak jadi bercerai." Hanya itu yang dapat dikatakan Solar padanya. "Mereka memberitahuku tadi sore." Ujarnya melanjutkan.


"Kamu senang?" Christian tidak merasakan empati sama sekali jika itu menyangkut tentang hubungan dengan orangtua. Ia tak merasakan banyak kasih sayang seperti Selena yang dicintai keluarganya. Orangtuanya lebih suka pesiar. Kakak-kakaknya juga sibuk dengan karir masing-masing. Baginya, kata perceraian tak berarti banyak.


"Entahlah. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana." Solar menghela napas. "Seharusnya aku senang. Iya, kan?"


Alih-alih menjawab, Christian meneguk habis sisa birnya. Kemudian ia membuka kaleng kedua. "Kamu belum menjawab pertanyaanku." Christian menatap kedua matanya. Solar tak bisa menahan senyum. Christian sangat kukuh jika sedang penasaran tentang sesuatu. "Kamu pergi kemana, Sel?"


"Aku pergi ke resort tempat kita karyawisata dulu." Solar tak sedang berbohong. Ia memang transit kesana sebelum pergi menyelam untuk menyeberangi Samudera Hindia yang hangat menuju kutub terdingin di bumi.


"Memangnya apa yang kamu lakukan di sana?"


"Tidak banyak. Merenung dan berkeliling."


Christian menghela napas. "Benar. Itu lebih terdengar seperti dirimu. Kurasa aku harus berhenti khawatir." Christian bergumam pada dirinya sendiri.


"Christian," ujar Solar memulai. "Apa yang akan kamu lakukan jika aku yang sekarang bukanlah Selena yang kamu kenal selama ini?"


"Orang berubah. Itu wajar, kurasa."


"Perubahan itu mungkin akan mengharuskanku pergi suatu hari."


Christian tersenyum. Ia menggenggam tangan kiri Solar.


"Meskipun tidak kamu katakan, aku juga sudah tahu. Tenang saja, aku dan Mindy akan mengikutimu kemanapun." Balasnya.


"Kehidupan kalian ada di sini."


"Tidak akan sama kalau tidak ada kamu."


Solar memandang tangan mereka. Ia merasakan sebuah emosi sendu yang terasa baru baginya. Jika Christian dan Mindy tahu kalau Selena yang asli sudah tewas, bagaimana dia akan menghadapi mereka? Bagaimana dia akan menjelaskan situasinya pada kedua sahabat Selena itu? Bagaimana ekspresi mereka setelah tahu kalau selama ini ia mencuri identitas Selena?


"Ngomong-ngomong, kamu akan datang menonton pertandinganku, kan?" Pertanyaan Christian membuyarkan lamunan Solar.


Solar mengangkat kepala dan mendapati Christian sedang menatapnya penuh harap.


"Tentu saja aku harus datang." Jawabnya kemudian.


***